HARTA DAN ANAK SEBAGAI UJIAN DARI TUHAN

Sering orang membanggakan harta atau anak-anak yang dia punya, bahkan sering juga disebabkan sikapnya yang demikian justru pada akhirnya malah membuatnya menjadi kecewa dan jatuh  kedalam jurang yang sangat mengerikan. Harta memang merupakan sesuatu yang membuat orang menjadi gandrung  dan bahkan dapat membuat orang menjadi gila dengan melakukan apa saja, bahkan termasuk harus melakukan sesuatu yang melanggar aturan hukum sekalipun.

          Keterpurukan kebanyakan orang juga disebabkan oleh  harta.  Orang pada umumnya menginginkan mendapatkan harta, karena kebanyakan manusia menganggap bahwa  hartalah yang akan membuat mereka dapat bahagia dan dengan harta itu pulalah mereka akan bisa melakukan dan mendapatkan apa saja yang mereka kehendaki.  Barangkali mereka tudak terlalu salah, tetapi tidak dapat dibenarkan, karena harta bukan merupakan satu-satunya sarana untuk meraih kebahagisan, bahkan justru terkadang harta malah mejadi sumber kesengsaraan.

          Kalau dilihat dari  sisi sempit, mungkin anggapan bahwa harta akan membawa seseorang menjadi  bahagia, dapat dibenarkan, apalagi kalau mereka kemudian mengkaca dengan kelakuan Gayus Tambunan beberapa waktu, dimana dengan harta dia dapat membeli hukum, dapat membeli oknumpolisi dan oknum lembaga pemasyarakatan, oknum imigrasi dan lainnya.  Atau bahkan  mungkin sebagian orang  juga mengaca kepada  Artalita yang dapat hidup mewah di dalam penjara bahkan dapat bepergian kemana saja bilamana dia menghendaki.  Namun semua itu sesungguhnya hanya gambaran  sepintas yang tidak menggambarkan hal yang sesungguhnya.

          Karena walaupun tampaknya merka yang dijadikan contoh tersebut secara materi tampak berlimpah, tetapi dalam kenyataannya mereka itu sama sekali tidak dapat menikmati kebahagiaan.  Mereka malah sebaliknya terus berada dalam siksaan yang tiada henti disebabkan  dosa dan kesalahan yang telah mereka lakukan.  Bahkan siksaan tersebut akan terus berlangsung sampai di akhirat nanti.

          Itulah harta yang menurut Tuhan hanyalah sebagai ujian bagi kita.  Jadi memang ada harta yang dapat membuat seseorang menjadi bahagia, tetapi tidak jarang  harta justru merupakan hal yang menyebabkan seseorang menderita.  Jadi sesungguhnya harta itu bersifat netral dan hanya  manusialah yang akan dapat menentukan dan mengendalikan, apakah harta itu dapat membuat kita bahagia ataupun justru sebaliknya, harta akan membuat kita menjadi sengsara, bahkan sampai di alam baka.

          Untuk itulah dibutuhkan menejemen  yang baik dalam memperlakukan harta dan sekaligus dalam hal mendapatkanya.  Kalau menurut  bahasa agama, pada saatnya nanti semua hal akan ditanyakan oleh Tuhan di akhirat, termasuk umur. Kita habiskan untuk apa.  Namun khusus untuk harta, Tuhan bahkan tidak hanya menanyakan satu hal melainkan dua hal sekaligus, yakni dari mana kita mendapatkan harta tersebut dan sekaligus  dipergunakan untuk apa harta yang berada dalam genggaman kita.  Jadi menurut agama kita, harta itu pertanggung jawabannya ganda.

          Banyak orang yang salah dalam hal mendapatkan harta, mereka mendapatkannya dengan melakukan kecurangan, menipu, dan bahkan merampas milik orang lain dan korupsi, serta bebagai hal bususk lainnya.  Mereka mengira bahwa dengan harta, segalanya akan didapatkan, mereka juga mengira bahwa harta itu ialah segala-galanya, karena itu apapun caranya mereka mesti mendapatkan harta tersebut walaupun harus melanggar aturan yang ada.

          Di sisi lain ada juga manusia yang meskipun hartanya didapatkan secara benar, tetapi  dalam mempergunakannya, ternyata mereka terjebak pada sesuatu yang mengantarkannya kepada keterpurukan, baik material maupun spiritual.  Artinya Dalam menggunakan harta yang didapatkannya, tidak dikontrol dengan moral dan agama, seperti untuk berjudi, untuk foya-foya, bermain wanita, dan lain sebagainya. Prinsipnya banyak orang yang karena salah dalam mentasarufkan hartanya, akhirnya malah menjadi bangrut dan bahkan banyak menanggung beban hutang yang sedemikian banyak, bahkan hingga akhir hayatnya tidak dapat terbayarkan.    Dan tidak sedikit yang tidak tahan dengan derita yang harus ditangung, sehingga mereka kemudian melakukan bunuh diri.  Lengkaplah penderitaannya yang diakibatkan oleh harta tersebut bahkan sampai di akhirat kemudian hari.

          Demikian juga dengan anak yang dititpkan Tuhan kepada kita sering membuat kita lupa diri dengan melakukan berbagai  hal yang bertentangan dengan norma sosial dan bahkan agama, sehingga pada akhirnya  justru dapat merugikan kita semua.  Sebagaimana  hrta, anak sesungguhnya juga merupakan titipan dan amanah Tuhan kepada kita yang harus kita perlakukan dengan baik, karena pada saatnya nanti kita akan dimintai pertanggung jawaban atas penanganan anak-anak kita.

          Kenapa anak menjadi ujian dan sekaligus amanah kepada kita, jawabannya tentu ya, karena diantara salah satu kesenangan dan kecenderungan manusia ialah cinta kepada anak.  Bukan berarti cinta atau mencintai anak itu dilarang, sama sekali tidak, tetapi kecintaan kepada anak tidak boleh melebihi cinta kita kepada Tuhan dan Rasul.  Sebab kalau cinta kita kepada anak sedemikian besar hingga mengalahkan cinta kita kepada yang lain, maka disitulah awal dari sebuah kehancuran.  Kalau demikian keadaannya tentu seseorang akan lebih mendahulukan kepentingan anak ketimbang kepentingan lainnya. Bahkan bisa-bisa dengan mengatasnamakan kecintaannya kepada anak, dia bisa melakukan apa saja yang dapat menyenangkan anak, meskipun harus melanggar norma  sosial dan juga agama.

          Sehingga dengan demikian cinta kepada anak, sebagamana cinta kepada harta haruslah dibatasi hanya sekedar kesenangan duniawi yang bersifat sementara, yang karenanya harus tetap ditempatkan  pada porsi yang benar.  Artinya kecintaan kita kepada harta dan anak, serta keluarga, haruslah ditempatkan pada tingkatan  yang kesekian kalinya.  Hanya cinta  kepada Tuhan, kemudian Nabi Muhammad SAW, dan orang tua, tetap harus didahulukan, dalam arti hak-hak mereka harus kita penuhi terlebih dahulu ketimbang memenuhi hak-hak anak dan keluarga kita.

          Demikian juga, status anak sebagai amanah Tuhan kepada kita, harusnya diperlakukan dengan baik, diberi pendidikan yang baik, diperkenalkan dengan syariat Tuhan, diberikan pendidikan moral yang benar, sehingga mereka kemudian bisa mengenal Tuhan dan mengabdikan dirinya nuntuk Tuhan.  Namun dalam kenyataannya masih banyak  orang tua yang membiarkan anak-anaknya berkeliaran, bergaul dengan anak-anak nakal dan tidak memperdulikan pendidikan mereka. Artinya  masih banyak diantara kita yang  tidak memperhatikan pendidikan anak-anaknya, demikian juga pergaulannya, sehingga  ketika mereka kemudian sudah menjadi sedemikian rusaknya, barulah kemudian terasa bahwa  anaknya telah salah jalan.

          Sesungguhnya anak itu tergantung kepada orang tuanya; kalau orang tua menghendaki ia tumbuh menjadi baik, tentu akan dididik di tempat yang memungkinkan untk itu, dan saat ini cukup banyak lembaga pendidikan yang mendasari dengan akhlak dan pengenalan kepada Tuhannya.  Sebab lingkungan dimana anak-anak tumbuh dan berkembang, akan sangat mempengaruhi keseluruhan jiwa dan pikiran anak-anak tersebut.  Untuk itu sangat tepat apa yang pernah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa  setiap anak yang dilahirkan itu sesungguhnya dalam keadaan bersih, dan kedua orang tuanyalah yang akan berperana menjadikannya sebagai Yahudikah, atau Nasranikah, atau Majusikah, dan tentu atau menjadi orang muslim yang beriman dan taqwa selaras dengan potensi awal yang  fithrah tersebut.

          Sehingga dengan demikian peran orang tua dalam membentuk anak-anak kedepannya sangat strategis dan menentukan. Oleh karena itulah orang tua menjadi bertanggung jawab dan akan dimintai pertanggung-jawaban atas amanah titipan anak tersebut.  Kalau  anak-anak dididik dan diarahkan  sesuai dengan syariat Tuhan, tentu akan dapat memberikan manfaat dan kebanggan bagi orang tuanya, tetapi sebaliknya kalau anak-anak dibiarkan atau dididik tetapi di tempat yang memungkin untuk menjadi selain muslim yang beriman, maka anak tersebut justru akan menjadi beban dan menjadi madlarat yang akan menyengsarakan orang tua tersebut.

          Kesimpulannya ialah bahwa memang harta dan anak merupakan sebagian hal yang disenangi  oleh manusia, untuk itu Tuhan menjadikannya sebagai ujian bagi manusia, apakah manusia bisa mengelolanya dengan baik sesuai aturan yang telah ditetapkan oleh syariat ataukah sebaliknya, manusia lepas kendali sehingga tidak dapat mengelolanya dengan baik.  Semua itu akan langsung berakibat kepada manusia itu sendiri.  Artinya kalau manusia dapat mengelola keduanya dengan baik, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan juga di akhirat,  tetapi kalau  manusia tersebut tidak dapat mengelolanya dengan baik, maka kesengsaraanlah yang akan menimpanya, di dunia dan diakhirat.

          Itulah makna dari sebagian amanah atau ujian Tuhan kepada manusia, untuk mengetahui sejauhmana kepatuhan dan kesanggupan manusia melaksanakan amanah dan mengerjakan ujian.  Dengan begitu Tuhan  akan  mengetahui mana manusia yang benar-benar beriman dan taqwa  dan mana manusia yang tidak.  Bukan berarti Tuhan tidak mengetahui tanpa mengetes dan menguji manusia, bukan itu maksudnya, tetapi dengan memberikan ujian tersebut Tuhan akan bertindak adil dalam memberikan  pahal ataupuk siksa kepada umat manusia, yang didasarkan atas kinerja manusia itu sendiri.

          Semoga kita senantiasa diberikan petunjuk oleh Tuhan, sehingga kita akan dapat melaksanakan amanah dan sekaligus ujian Tuhan tersebut dengan baik.  Dan pada akhirnya kita akan selalu mendapatkan kebahagiaan, baik ketika kita berada di dunia ini maupun nanti saat kita berada di akhirat.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.