MENAKAR KEMAMPUAN KITA

Seringkali orang mengalami berbagai kesulitan dalam hidup ini, hanya semata-mata disebabkan oleh kurang pandainya orang tersebut dalam mengukur kemampuan dirinya. Kata orang dahulu hal seperti itu diibaratkan sebagai besar pasak daripada tiang.  Artinya keinginan yang ingin diraih tidak disesuaikan dengan kemampuan yang ada pada dirinya, sehingga ia akan menjadi orang yang  selalu mendapatkan  masalah yang seolah tanpa ada hentinya. Bahkan kebanyakan orang yang seperti itu, hidupnya tidak akan pernah tenang dan sama sekali jauh dari kesuksesan.

          Kalau dipikir memang sangat masuk akal, yakni bahwa kalau ada orang yang tidak melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuannya, hanya akan menjadikan dirinya semakin mengalami kesulitan.  Kita dapat membayangkan  bahwa seandainya ada orang yang  kekuatannya hanya dapat membeli sepeda ontel, lalu ia memaksakan dirinya untuk membeli sepeda motor dengan cara kredit.  Sementara itu penghasilannya memang tidak mencukupi untuk menunjang semua itu, maka ia dipastikan akan mengalami banyak kesulitan.  Diantara kesulitan tersebut ialah bagaimana caranya ia membayar cicilan kredit, kemudian  dengan apa ia kemudian membeli bensin untuk setiap harinya, dan bagaimana dia akan mengganti onderdil motornya yang rusak serta ongkos bengkelnya, dan seterusnya.

          Atau kalau ada seseorang yang kemampuannya hanyalah membeli sepeda motor, tentu dengan segala resikonya, seperti perawatan terhadapnya.  Namun dia kemudian memaksakan diri untuk membeli mobil dengan mengambil kredit di bank atau langsung kredit di dealer mobil, apa yang kemudian akan terjadi pada diri seseorang tersebut?.  Sudah dapat diduga dia akan mengalami kesulitan dalam hidupnya.  Kesulitan untuk melunasi kredit, kesulitan untuk merawat mobil dan kesulitan untuk membeli bahan bakarnya setiap hari.

          Dengan dua contoh tersebut kiranya kita dapat mengerti bahwa apabila ada orang yang mengingnkan sesuatu diluar kemampuannya, maka hanya akan membuatnya menemui banyak kesulitan.  Akibat dari kesulitan yang diderita tersebut, terkadang orang kemudian melakukan sesuatu yang justru akan membahayakan dirinya, seperti melakukan kecurangan, penipuan, atau bahkan pencrian dan lain hal yang bertentangan dengan ketentuan hokum yang berlaku.  Kalau ini yang dia lakukan, maka ia akan semakin mendapatkan kesulitan yang akan membuatnya menanggung kesengsaraan yang lebih banyak dan panjang.

          Ini semua sebagai contoh dari  orang yang melakukan sesuatu  dengan melebihi kemampuan yang ada  pada dirinya, khusunya dalam bidang yang berkaitan dengan persoalan ekonomi. Demikian juga dalam bidang lainnya, orang harus tetap memperhitungkan kemampuan yang ada pada dirinya, sebab kalau memaksakan sesuatu yang di luar kesanggupannya, maka akibatnya akan sama, yakni bahwa ia akan mendapatkan banyak kesulitan, seperti  seseorang yang kesanggupannya hanya membawa beban 30 kg, tetapi ia memaksakan untuk membawa barang seberat 50 kg, tentu ia akan mengalami kesulitan.  Kalau toh misalnya ia kemudian kuat dengan terpaksa, maka akibatnya ia akan merasakan kesakitan dan bahkan akibatnya dapat fatal.

          Termasuk juga dalam hal mengerjakan sesuatu yang sesungguhnya sangat positif, tetapi kalau dilakukan  diluar kemampuannya, maka tetap saja akan mendatangkan kesulitan dan bahkan bahaya terhadap diri seseorang tersebut.  Misalnya ada orang yang melakukan puasa setiap hari dan juga shalat malam setiap malamnya tanpa ada hentinya, maka meskipun perbuatan tersebut baik, tetapi justru tidak akan baik akibatnya bagi seseorang tersebut, karena ia akan tidak dapat melaksanakan  kewajiban lainnya, seperti mencari rizki, bergaul dengan istrei dan anak-anaknya secara harmonis, dan lainnya.

          Nabi Muhammad SAW sendiri dahulu pernah melarang orang yang demikian.  Artinya bahwa orang yang memaksakan kehendaknya diluar kemampuan yang dimilikinya, meskipun untuk perbuatan yang baik, tetaplah tidak diperkenankn, karena kalau hal tersebut tetap dilakukan, maka akan berakibat mengganggu sesuatu yang lain yang juga harus dipenuhinya.  Larangan Nabi tersebut berkenaan dengan keinginan  sahabatnya  yang akan selalu berpuasa di siang hari atau shalat di malam hari tanpa istirahat tidur atau akan membujang selamanya dalam upaya mendekat dirinya kepada Tuhan, namun Nabi kemudian melarangnya.

          Kisah pelarangan Nabi kepada sahabat-sahabatnya tersebut terekam dalam hadis yang diriwayatkan oleh para tokoh hadis terkemuka seperti al-Bukhari dan lainnya, yang secara garis besar dapat disampaikan sebagai berikut:  Pada suatu saat datanglah tiga orang kepada para isteri Nabi untuk menanyakan tentang ibadah Nabi.  Lalu setelah mereka diberitahu tentang  kondisi ibadah Nabi, mereka kemudian sama sama membicarakannya seolah-olah hanya terlalu sedikit, karena menganggap bahwa  bagaiman dengan kita, sedangkan Nabi kan diampuni segala dosanya  baik yang terdahulu maupun yang akan datang atau dengan kata lain ditanggung maksum dan tidak perlu beribadah sedemikian rupa sesuai dengan bayangan mereka, sehingga diantara mereka kemudian mengatakan kalau begitu saya akan  aku akan melakukan shalat malam selamanya tanpa tidur,  yang satunya lagi mengatakan aku akan puasa  selamanya tanpa berbuka, sementara yang satunya lagi mengatakan aku akan menjauhi perempuan dan tidak akan menikah selamanya.  Ketika sedang membicarakan demikian datnglah Nabi dan kemudian mengatakan : kalian yang mengatakan ini dan itu tersebut, ketahuilah bahwa demi Allah, sayalah yang paling takut dan paling taqwa kepada Allah diantara kalian, tetapi aku ini ya shalat malam tetapi saya juga tidur, akau berpuasa tetapi aku juga berbuka atau tidak berpuasa dan aku juga menikahi perempuan.  Barang siapa yang tidak suka dengan sunnahku ini, maka ia bukanlah termasuk golonganku.

          Kisah panjang tersebut sesungguhnya menunjukkan bahwa  dalam menjalani kehidupan ini, seseorang memang harus memikirkan tentang keseimbangan antara kekuatan dan keterbatasan yang kita miliki dengan keinginan kita.  Semua itu harus kita selaraskan, sehingga akan membuat keseimbangan yang baik, yang pada akhirnya akan tetap bisa menjaga keberlangsungan sesuatu yang kita inginkan tersebut.  Sebab kalau seseorang memasakan kehendak dengan melampuai batas yang dapat dilakukannya, maka di sana tentu akan ditemukan berbagai persoalan yang bakal muncul dan akan menyulitkan dan bahkan akan membahayakan diri seseorang tersebut.

          Karena itu dalam meniti hidup di dunia ini akan sangat bijak manakala kita selalu mawas diri dengan mengukur dan menakar kemampuan yang kita miliki,  sehingga  ketika kita akan bertindak akan tetap mempertimbangkan kemampuan yang ada pada diri kita dalam bidang apapun.  Apakah  dalam bidang  ekonomi, pergaulan, ibadah, dan lainnya.  Selama kita tetap mempertimbangkan kemampuan kita dalam setiap menetapkan keinginan, tentu hal tersebut akan sangat membantu dalam mewujudkan keinginan tersebut, dan sebaliknya apabila dalam menetapkan keinginan tersebut  tidak disesuaikan dengan kemampuan yang kita miliki, maka akan dapat diprediksikan sangat sulit untuk diraih.

          Jadi dalam bidang apapun dan dalam kondisi apapun, mempertimbangkan kemampuan diri dalam meraihcita-cita itu mutlak diperlukan, kalau kita tidak ingin mendapatkan kesulitan.  Untuk itu kalau kemampuan kita tidak memungkinkan untuk meraih yang menjadi keinginan kita, maka kita harus  mencoba untuk mengurungkan niat mendapatkan sesuatu tersebut.  Tetapi kalau perhitungan kita masih ada kemampuan untuk itu,  maka tidak ada salahnya kalau kita  upayakan secara maksimal untuk mendapatkan keinginan kita tersebut, tentu tetap dengan cara yang baik dan tidak malnggar peraturan yang ada.

          Bahkan ketenangan hidup, kedamaian, dan kepuasan  itu akan didapat ketika seseorang dalam melakukan segala hal disesuaikan dengan kemampuan yang ada  pada dirinya.  Sebab semua itu, baik ketenangan, kedamaian maupun kepuasan hidup  tidak semata-mata didasarkan kepada apa yang kita dapatkan,  apalagi kalau dalam mendapatkan sesuatu tersebut dengan menggunakan cara yang tidak benar, atau didapatkan dengan sesuatu yang diluar kemampuan kita, meskipun kemudian berlimpah harta, melainkan dengan capaian atau raihan terhadap sesuatu yang kita  wujudkan dengan perjuangan yang disesuaikan dengan kemampuan diri kita.

          Untuk apa kalau kita hidup di dunia ini tidak bisa mendapatkan ketenangan dan kedamaian serta kepuasan, atau dalam bahasa lain kesejahteraan atau hasanah, meskipun dikerumuni oleh harta.  Karena sesungguhnya  tujuan kita hidup didunia ini disamping berinvestasi untuk akhirat dengan mangabdikan diri kita kepada Tuhan, juga agar kita dapat menjalani hidup ini dengan hasanah.  Artinya kita bisa hidup tenteram, damai, puas, karena kita dapat memerankan diri kita dengan baik dan memberikan manfaat  yang banyka bagi umat manusia dan lingkungan kita.

          Semoga Tuhan senantiasa memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap teguh dalam cita-cita hiduphasanah di dunia dan hasanah di akhirat, dengan melakukan segala sesuatu sesuai dengan kemampuan kita.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.