LOKAKARYA PELAYANAN PRIMA BAGI PEGAWAI IAIN WALISONGO

Upaya untuk meningkatkan kinerja para pegawai di lingkungan IAIN Walisongo Semarang memang terus dilakukan melalui berbagai kegiatan.  Salah satunya yang saat ini sedang berlangsung ialah dengan mengadakan lokakarya  yang bertajuk pelayanan prima yang Islamis.  Lokakarya itu sendiri didesain seperti pelatihan, yang bekerjasama dengan  Tim pemberdayaan sumberdaya insani Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.

          Kenapa harus  memberikan layanan prima kepada masyarakat?.  Jawabannya sangat jelas bahwa  sebagai aparatur negara, kita memang dituntut untuk terus mengembangkan diri kearah yang lebih baik.  Dalam hal pelayanan, tentu juga diharapkan akan terus diupayakan  sedemikian rupa hingga  kepuasan publik, dalam hal ini mahasiswa dan juga alumni, akan  tercapai.

          Lebih jauh daripada itu sesungguhnya kita menjadi terpacu dengan adanya kesimpulan  dari masyarakat yang menganggap bahwa pegawai negeri itu identik dengan pegawai yang malas dan tidak kreatif.  Kita ingin membuktikan bahwa sebagai PNS kita tidak seperti yang diduga oleh sebagian masyarakat tersebut, justru kita ingin menunjukkan bahwa  sebagai PNS yang digaji dengan uang negara atau uang rakyat, kita ini memang patut untuk diberikan gaji, karena  kita memang melaksanakan tugas dengan baik dan memberikan pelayana kepada masyarakat dengan layanan yang juga baik.

          Bahkan lebih-lebih setelah terjadinya penilaian masyarakat melalui survei  Indobarometer yang menyimpulkan bahwa  era orde baru masih lebih baik dibandingkan denganera reformasi ini.  Meskipun  hakekat sesungguhnya dari survei tersebut tidak dapat mewakili seluruh masyarakat Indonesia, namun hal tersebut harus kita jadikan pijakan untuk lebih serius lagi dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada kita.

          Kita tidak usah marah atau bahkan melakukan sesuatu yang justru akan menambah keruhnya suasana, yang penting ialah kita harus menunjukkan kepad masyarakat bahwa  kita bisa melakukan sesuatu yang lebih baik dibandingkan  yang pernah dilakukan di era orde baru tersebut.  Tentu kita harus terus meningkatkan ghirah dan ketrampilan sesuai dengan tugas yang kita emban,  serta ikhlas mewujudkannya.

          Disamping itu peningkatan kinerja kita juga didasarkan pada upaya kita untuk menyahuti keinginan kementerian agama untuk meningkatkan opini BPK dari  wajar dengan pengecualian, menjadi opini wajar tanpa pengecualian.  Hal ini kita lakukan bukan saja  dalam upaya mengejar iming-iming berupa remunerasi setelah kita benar-benar WTP, melainkan lebih dari itu memang kita sangat menyadari bahwa kementerian agama  adalah kementerian yang menjadi sorotan sangat tajam dari masyarakat.

          Idealnya memang kementerian agama merupakan kementerian yang paling baik, paling bersih dari praktek-praktek korupsi, suap dan semacamnya, kementerian yang menjadi teladan dalam berbagai hal, termasuk pelayanan, moralitas dan lainnya.  Untuk itulah  setiap ada sedikit saja persoalan yang nyerempet bahaya, seperti adanya indikasi kecurangan, pastilah akan dengan mudah diekspos oleh media.  Dan kenyataan tersebut memang harus kita terima, karena memang itulah resiko sebagai kementerian agama yang memang sangat diharapkan oleh masyarakat dapat menjadi contoh yang baik  untuk keseluruhan kementerian yang ada.

          Lebih jauh dari itu, seperti yang sama-sama kita ketahui bahwa saat ini kita sedang berupaya untuk  melakukan konversi kelembagaan kita dari IAIN menjadi universitas Islam negeri Walisongo Semarang.  Tentu  harus ada persiapan dari berbagai aspek, termasuk aspek sumber daya menusia.  Kita tidak mungkin berubah menjadi UIn  dengan SDM yang masih sama dalam hal sikap dan pemikirannya dengan saat ini.  Kita harus menyesuaikan diri dengan UIN  yang akan kita sama-sama masuki nanti.  Untuk itu mindset kita juga harus diubah kearah UIN, sikap kita, mental kita, dan seluruh perilaku kita hruas kita orientasikan sebagai UIN yang tentu harus lebih baik dan lebih prima dalam menjalankan tugas, baik sebagai pimpinan, sebagai dosen, maupun sebagai tenaga administrasi.

          Untuk itu lokakarya  dalam upaya pemberian layanan prima  yang diikuti oleh para pegawai IAIN Walisongo ini menjadi penting maknanya, manakala dikaitkan dengan berbagai hal seperti yang saya sebutkan di atas.  Kita sangat berharap bahwa lokarya kali ini tidak hanya sekedar  terlaksananya sebuah kegiatan, melainkan benar-benar akan memberikan manfaat yang banyak dan sekaligus memberikan nuansa baru dalam kegiatan semacam ini.  Tentu harapan ini bukannya sekedar harapan kosong, tetapi merupakan harapan yang serius, karena desain lokakarya kali ini berbeda dengan kegiatan sejenais pada waktu yang lalu.

          Artinya dengan bekerjasama dengan Tim pemberdayaan sumberdaya insani RSI Sultan Agung Semarang ini, kita berharap banyak, kegiatan ini akan memberikan sumbangan yang sangat kuat untuk  terciptanya manusia, dalam hal ini para pegawai di lingkungan IAIN Walisongo Semarang yang mempunyai kesadaran tinggi dan kepedulian yang penuh terhadap pelayanan kepada publik  yang dilandasi oleh semangat keikhlasan serta keyakinan  yang bersumber dari ajaran syariat Islam itu sendiri.

          Kedepan kita memang akan terus melakukan berbagai aktifitas dalam upaya  lebih meningkatkan kualitas SDM yang ada melalui berbagai training terfokus, sehingga nantinya akan didapatkan hasil maksimal  meskipun dengan modal yang sama. Model training dengan bekerjasama dengan berbagai pihak yang memang mempunyai kapsitas dan kapabilitas  dalam mentraining, memang menjadi pilihan utama, karena kita tahu bahwa dengan model training semacam ini akan dapat dilakukan dengan efektif efisien serta mendapatkan hasil maksimal.

          Nah, kembali kepada  kegiatan lokakarya dalam upaya memberikan layanan prima kali ini memang kita harapkan bahwa para pegawai kita akan mendapatkan berbagai pengetahuan dan sekaligus pengalaman dalam hal  pemberian layanan maksimal tetapi tetap masih bisa bercanda dan tersenyum.  Memang seharusnya setiap pegawai, yang mendapatkan status sebagai abdi masyarakat dan abdi negara, dengan sendirinya harus  memberikan layanan terbaiak untuk masyarakat dan negara, tanpa  harus di otivasi atau didorong dan bahkan tanpa diwajibkan.  Namun pada kenyataannya masih banyak pegawai yang belum menyadari sepenuhnya tentang perannya sebagai abdi masyarakat dan abdi negara tersebut.

          Justru yang terbanyak diantara para pegawai ialah motivasinya menjadi lemah, seiring dengan gaji tetap yang setiap bulannya diterima.  Kebanyakan mereka kemudian berkesimpulan untuk apa berkreatifitas dan bekerja dengan maksimal, toh pada kenyatannya, baik yang tekun dan yang malas, akan sama mendapatkan gaji setiap blannya.  Kesimpulan yang salah tersebut sampai saat ini justru yang mendominasi pikiran kebanyakan pegawai kita, sehingga kita dapat menyaksikan motivasi kerja yang sangat rendah, kreatifitas yang mandek, sehingga kinerja mereka juga menjadi sangat jelek.  Kalau hal seperti ini dibiarkan terus menerus, maka  negara dan masyarakat yang akan dirugikan, termasuk lembaga kita.

          Barangkali untuk menggugah semangat yang ssementara ini telah terpendam, ada baiknya kalau pimpinan dalam sebuah instansi memberlakukan sistemremunerasi berbasis kinerja.  Artinya bagi pegawai yang  rajin, kreatif dan kinerjanya sangat bagus, harus diberikan penghargaan yang memungkinkan ia dapat lebih meningkatkan lagi kinerjanya di masa mendatang.  Demikian pula bagi pegawai yang malas dan kinerjanganya sangat jelek, harus diberikan peringatan dan bahkan sanksi yang memungkinkan ia akan tidak mengulaginya lagi, dan untuk seterusnya aan lebih meningkatkan kinerjanya.

          Memang tidak mudah untuk mewujudkan hal semacam itu, tetapi menurut saya bukan merupakan hal yang mustahil untuk mewujudkannya.  Kita harus dapat mengubah mindset pegawai kita dari mental yang loyo, jumud dan sebagianya menjadi semangat, kreatif dan penuh tanggung jawab.  Kita juga harus bisa menjawab pertanyaan masyarakat yang berkesimpulan bahwa seluruh PNS itu malas, karena  berpedoman pada kondisi yang ada bahwa rajin dan malas akan mendapatkan gaji yang sama.  Kita harus buktikan bahwa  pegawai yang rajin, akan mendapatkan balasan sesuai dengan kerajinan dan ketekunannya, dan sebaliknya  bagi para pegawai yang malas  juga akan mendapatkan balasan sesuai dengan kemalasannya tersebut.

          Dengan demikian semua pegawai akan termotivasi untuk meningkatkan kinerjanya, khususnya dalam memberikan pelayanan yang prima kepada stake horders  yang memang sudah merindukan pelayanan terbaik tersebut.  Pada akhirnya kita tidak akan menyaksikan lagi  ada pegawai yang bekerja dengan santai dan bahkan malas, karena kalau itu terjadi, maka ia akan rugi sendiri.  Karena itu yang akan kita saksikan nantinya ialah kegairahan mereka dalam bekerja serta kreatifitas mereka akan timbul untuk menunjukkan bahwa mereka dapat melakukan pekerjaan engan baik dan bakan lebih baik.

          Semoga kondisi seperti itu akan dapat kita wujudkan di lembaga kita tercita, IAIN Walisongo Semarang dalam waktu yang tidak terlalu lama, dan kalau bisa sebelum kita berubah  menjadi universitas.  Tentu kalau hal itu dapat terwujud, kita aan merasa lega dan puas, karena disampng kita telah benar dalam melaksanakan kerja kita, juga sekaligus dapat menjawab pertanyaan dan tantangan masyarakat bahwa sesungguhnya kita sebagai PNS bisa bekerja dengan baik dan tidak seperti yang mereka kesankan ialah malas.  Semoga.

 

         

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.