MENYIKAPI HASIL SURVEI INDOBAROMETER

Beberapa hari terakhir ini kita dikejutkan dengan adanya hasil survei  dari indobarometer yang menempatkan matan presiden Soeharto pada tempat teratas yang disukai rakyat.  Tentu saja hasil penelitian tersebut menjadi bahan pembicaraan, karena secara kasat mata perubahan-perubahan selama era reformasi menunjukkan kearah yang lebih baik dala berbagai bidang, meskipun harus diakui masih banyak yang harus terus diupayakan peningkatannya.

          Pembicaraan mengenai hasil survey tersebut berkisar kepada sejauhmana keabsahan survei tersebut menyangkut metodologinya, siapa respondennya, dan apasaja yang menjadi focus pertanyaannya, dan seterusnya.  Sebab bisa saja penelitian tersebut dilakukan untuk beberapa sisi saja yang "menguntungkan" rezim orde baru tersebut.  Atau bisa saja ada beberapa fakta tentang perubahan yang  belum dipahami leh masyarakat atau bahkan sengaja memang tidak diikutsertakan dalam penentuan survey.  Untuk itu kiranya sangat perlu ingatkan secara fair dan jernih, bahwa di jaman mantan presiden Habibie, keran demokrasi dibuka dan rakyat memiliki akses bagi politik secara leluasa, sekaligus cikal bakal perubahan ke arah yang lebih baik. Demikian halnya pada era mantan presiden Gus Dur, pluralisme diperkuat sebagai jaminan demokrasi, dan era Gus Dur pula mendorong politik supremasi sipil dan agar terjadi reformasi sektor pertahanan dan keamanan. Sementara era mantan presiden Megawati, dorongan untuk memperkuat kembali nasionalisme, serta ide-ide kerakyatan juga dilakukan. Pada era presiden SBY, gerakan pemerintahan bersih dengan pemberantasan korupsi kian marak, penegakan HAM dan pelembagaan ruang keterbukaan sipil juga terus digiatkan.

          Sebelum memberikan penilaian terhadap hasil survei tersebut, kita memang harus mengetahui tentang kondisi dan seluk beluk penelitian yang dilakukan itu sendiri, agar penilaian kita menjadi obyektif dan tidak didasarkan atas emosi dan perasaan semata.  Walaupun secara kasat mata sesunguhnya kita dapat saja menggugat atas hasil survei tersebut mengingat berbagai hal dan falta seperti yang saya sebutkan  di atas, Namun kita tetap harus menghargai sebuah penelitian yang dilakukan secara benar menurut prosedur ilmiah.

          Sebagaimana diberitakan oleh semua media bahwa hasil surveiindobarometer menunjukkan bahwa rakyat lebih memilih orba dan Soeharto ketimbang lainnya, termasuk SBY yang saat ini sedang menjabt sebagai presiden.  Tentu banyak pihak, terutama pihak istana dan keluarga para mantan presiden di era reformasi yang  merasa kepanasan, bahkan  langsung emberikan reaksi bahwa hasil suvei tersebut salah.  Bahkan salah seorang peneliti di LIPI sendiri menyarankan untuk mengkritisi hasil survei tersebut.

          Komentar atas hasil survei itu sendiri memang merupakan hak semua orang, Namur meuurut penjelasan dari yang mempunyai survei itu sendiri bahwa survei itu dilaksanakan dengan prosedur yang benar dengan tingkat kesalahan yang Sangay minim.  Oleh karena itu dari sisi penelitiannya itu sendiri barangkali tidak salah, namur  ada banyak sisi yang  masih harus dijelaskan, agar hasil survei itu menjadi  valid dan dapat dianggap mewakili keseluruhan  masyarakat Indonesia.

          Artinya  bisa saja hasil survei tersebut memang valid tetapi tidak dapat dianggap mewakili keseluruhan rakyat Indonesia, karena pemilihan responden yang  Sangay mungkin tidak mewakli masyarakat secara umum.  Beberapa waktu yang lalu memang ada semacam kesimplan yang agak mirip dengan hasil survei tersebut, yakni ada sebagian masyarakat yang merindukan orde baru, terutama pada sisi ekonomi kesetabilan di masyarakat.  Meskipun itu semua hanya sekedar diukur dari sisi pandangan beebrapa orang yang memang tidak mengetahui atau tidak peduli dengan kehidupan masyarakat secara umum.  Kesimpulan sebagian masyarakat tersebut terutama juga dibarengi kondisi  perekonomian  saat itu yang memang cukup memprihatinkan, dan juga kondisi masyarakat yang kurang aman, karena semua orang dapat berbuat semaunya.

          Jadi kesimpulan dari survei itu mungkin benar bagi sebagian masyarakat yang memang dalam tingkat pragmatis sesuai dengan pengalaman pribadinya yang Sangay terbatas, tetapi sejujurnya harus dikatakan bahwa  seandainya survei tersebut dilakukan pada masyarakat yang dapat berpikir secara jernih dan cerdas, maka dapat dipastikan hasilnya akan berbeda bahkan perbedaannya bisa sampai 180 derajat.

          Memang saya juga tidak sependapat bahwa Soeharto dengan orbanya semuanya salah dan jelek, sebagiaman yang dinyatakan oleh beberapa orang, termasuk ketua MPR, tetapi kita harus Jujur, bahwa sesuai dengan sejarah yang dilaluinya, orba dengan segala kekurangan dan kecurangannya, tentu ada  sisi baiknya.  Demikian juga era reformsi dengan segala kebaikannya tentu harus juga diakui masih banyak kekurangannya, karena saat ini juga masih marak kasus suap, korupsi dan berbagai macam perilaku tercela yang masih dapat leluasa melakukan aksinya di negeri kita ini.

          Tetapi persoalannya ialah bahwa kita sudah sepakat bahwa kita memang harus beralih dan menerima dengan keikhlasan era reformasi yang diperjuangkan dengan darah beberapa anak bangsa tersebut.  Dan kita semua  meyakini bahwa sistem yang saat ini sedang kita jalan ádalah lebih baik ketimbang era sebelumnya.  Meskipunpada awalnya dan mungkin  sampai saat ini keinginan kita Belem bisa menjadi kenyataan, Namur yang jelas fondasi sistem inilah yang akan memungkinkan kita membangun negeri ini dengan demokrasi yang memberikan ruang geark yang lebih luas bagi pengembangan kemanusiaan dan keadilan serta kesejahteraan.

          Jadi secara umum bangsa Indonesia memandang bahwa era reformasi ini memang lebih baik ketimbang era sebelumnya, meskipun memang secara detail ada bebrapa sisi yang saat ini barangkali belum memungkinkan untuk diperbandingkan dengan era sebelumnya.  Artinya membandingkan sebagian dari sisi kehidupan dalam berbangsa dan bernegara antara era Semarang dengan era sebelumnya, menjadi menjadi tidak relevan, karena memang bisa saja dengan mengambil beberapa sisi, justru akan mrugikan kita semua sebagai bangsa yang telah mengambil keputusan penting unuk memasuki era reformasi ini.

          Kalau survei semacam ini kemudian dijadikan alat untuk tujuan tertentu, akan sangat mungkin memperkeruh keadaan.  Walaupun saya juga yakin bahwa survei tersebut tidak dimaksudkan untuk tujuan tertentu yang berkonotasi jelek.  Hanya saja tentu perlu diingatkan bahwa survei seperti itu tentu kurang baik dan kurang obyektif, karena tidak memberikan desempatan kepada responden untuk memberikan penilaian secara menyeluruh, termsuk kondisi kemanusiaan yang sangat terasa.

          Namun bagaimanapun juga survei tersebut telah diumumkan kepada Publik, dan beberapa pihak juga telah memberikan tanggapannya.   Untuk itulah disamping kita harus memberikan pencerahan kepada masyarakat kita tentang kondisi masyarakat, bangsa dan negara kita pada saat itu dan saat ini, yang justru lebih penting ialah menjadikan hasil survei tersebut sebagai pemicu untuk meningkatkan kiberja kita, sehingga akan dapat memberikan pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat dan memberikan kesejahteraan serta keadilan yang lebih terasa dan merata.

          Lebih-lebih bagi pemerintah yang sedang berkuasa, tentu hasil survei tersebut patut dijadikan pijakan untuk lebih memacu lagi kinerja yang selama ini telah diupayakan serta mengupayakan penegakan hukum dan kepastiannya dan pemberantasan korupsi dan semacamnya secara lebih  baik lagi.  Sehingga dengan demikian bukan saja berusaha untuk terus mengcounter hasil survei tersebut tanpa menjadikannya sebagai upaya perbaikan di masa depan.

          Bagaimanapun juga sesuatu yang telh terjadi, walaupun itu tidak benar, tetapi kita harus mencari hikmah di dalamnya.  Dan menurut saya  hasil survei tersebut, meskipun sekali lagi dipandang oleh banyak kalangan sebagai survei yang tidak dapat mewakili sebagian beasar atau bahkan keseluruhan masyarakat  Indonesia, Namur tetap mempunyai makna yang perlu kita gali hikmahnya.  Dengan begitu kita akan dapat menjadikannya sebagai kritik membangun dan tantangan untuk bekerja lebi baiklagi.

          Jadi pada prinsipnya dalam menghadapi kritik atau segala hal yang sangat mungkin dapat merugikan kita, termasuk pemerintah yang mungkin menjadi target dari semua itu, sebagai orang yang berpendidikan dan cerdas, kita tidak boleh menanggapinya secara emosional dan justru malah akan mendatangkan penilaian negatif bagi kita, tetapi kita harus menyikapinya secara tenang dan bijak.  Dan yang terpenting dari semua itu ialah dengan menjadikannya sebagai alat untuk meningkatkan kinerja dan pengabdian kita untuk masyarakat, bangsa dan negara.

          Insya Allah dengan sikap seperti itu kita akan menjadi lebih baik dan bijak serta dinilai oleh banyak pihak sebagai pihak yang memang benar-benar bijak dan tulus dalam melaksankaan tugas yang menjadi kewajiban  dan tanggung jawab kita.  Semoga Tuhan senantiasa memberikan kekuatan dan ketabahan kepada kita  dalam menghadapi segala macam cobaan serta dapat menuntun kita untuk dapat berbuat yang terbaik bagi masyarakat, bangsa dan negara.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.