MENYIKAPI ISU-ISU SOSIAL KEAGAMAAN

Barangkali dibandingkan dengan isu-isu yang berkembang di negeri kita ini, isu tentang social keagamaan menempati posisi teratas dalam perbincangan, baik di masyarakat, maupun di mas media. Semua itu tidak terlepas dari muculnya beberapa pandangan yang saling berbeda diantara para tokoh di negeri ini.   Seperti perbedan pandangan antara MUI pusat dengan Kementerian agama, yang keduanya sama-sama mendasarkan diri kepada  penelitian.  Memang sebelumnya banyak orang yang memberikan reaksi negative terhadap pernyataan menteri aama pada saat berkunjung pondok pesantren al-Zaitun beberapa waktu lalu.  Tetapi setelah beliau menjelaskan maksud yang sesungguhnya dari pernyataan beliau, bahwa ternyata balitbang kementerian agama telah juga melakuka penenlitian dan hasilnya dapat dikatakan berbeda dengan MUI, maka kita dibuat menjadi bingung.

Walaupun dalam keterangannya tersebut menteri memberikan penjelasan bahwa pendidikan yang ada di al-Zaitun tidak ada kaitannya dengan NII, hal tersebut dilihat dari para guru, system yang dikembangkan dalam pendidikan di sana dan juga kurikulum yang dipakai.  Dari penelitian yang dilakuakan oleh balitbang ternyata tidak ditemukan kaitan antara pendidikan pesaantren di al-Zaitun dengan NII,  sedangkan yang menjadi focus penelitian MUI ialah tentang hubungan antara pengelola al-Zaitun dengan NII, dan bahkan pengasuhnya sendiri, yakni Panji Gumilang dianggap sebagai ketua KW 9.

Dalam menanggapi kenyataan tersebut, kementerian agama menjelaskan bahwa  focus penelitian tersebut memang berbeda, sehingga kalau ada sebagain  guru atau pengurus ataupun pengelola al-Zaitun yang tersangkut dengan persoalan pidana maka itu bukan lagi menjadi urusan kementerian agama, tetapi menjadi wilayah kepolisian. Sehingga dengan demikian pesantrennya sendiri memang tidak ada kaitannya dengan NII, karena pesantren dan lembaga pendidikan yang ada di dalamnya memang dilakukan dalam upaya pencerdasan bangsa dengan cara-cara yang memang dibenarkan.

Semenetara ini system pengumpulan asset dan harta yang dianggap mirip dengan system yang dilakukan oleh NII,kementerian agama juga menyebutnya sama sekali tidak ada hubungan antara keduanya, sebab menurut kementerian agama, di al-Zaitun dengan  tanah yang  begitu luas, sangat memungkinkan untuk mengembangkan berbagai usaha termasuk pertanian dan juga peternakan.  Namun sekali lagi laporan berbeda memang muncul kecurigaan yang demikian kuat bahwa al-Zaitun memang ada hubungannya dengan NII.  Bahkan yang terakhir tersebut juga menyajikan berbagai bukti yang menunjukkan bahwa sudah banyak masyarakat yang menjadi korban dari al-Zaitun tersebut, atau barangkali lebih tepatnya menjadi korban oleh para pengelolanya.

Untuk itu menurut saya perlu diadakan penelitian ulang dengan melibatkan kedua lembaga tersebut, bahkan kalau perlu dengan melibatkan LIPI untuk mendapatkan hasil maksimal dan akurat, dan selanjutnya hasil tersebut harus menjadi kesepakatan bersama dan dijadikan acuan utama dalam menyikapi persoalan tersebut.  Kalau memang al-Zaitun terlibat dengan persoalan NII, ya harus segera dilakukan langkah-langkah nyata sehingga al-Zaitun dapat diselamatkan, terutama para santri yang berjemlah puluhan ribu tersebut.  Tetapi sebaliknya, manakala tidak terbukti adanya keterkaitan antara al-Zaitun dengan  NII, maka harus segra diambil sikap yang jelas serta upaya nyata dalam merehabilitasi nama al-Zaitun yang saat ini telah menjadi komoditi dalam persoalan NII tersebut.

Sementara itu isu lainnya yang uga tidak kalah pentingnya ialah tentang beberapa kelompok yang secara umum dapat digolongkan kepada dua, yakni kelompok yang berlabel kepentingan (politik dan suku), dan kelompok berlabel keagamaan.  Ciri yang menonjol dari kedua kelompok tersebut sangat jelas, ialah bahwa  cirri kelompok berlabel kepentingan berkeinginan untuk lepas dan melepaskan diri dari NKRI serta merdeka sendiri.  Ciri lainnya ialah mereka berupaya melakukan upaya perlawanan bersenjata  secar  bergerilya, dan bahkan terkadang juga disusupi oleh kepentingan yag disusupkan oleh Negara lain.  Beberapa contoh kelompok tersebut ialah semacam gerakan Aceh merdeka, Papua Merdeka, dan lainnya.

Sedangkan  untuk kelompok berlabel agama ditandai dengan  adanya idiologi fanatic sempit terhadap pemahaman sebuah agama, berusaha  dengan sunggguh-sungguhuntuk menerapkan hokum agama (sesuai dengan persepsi mereka) dalam Negara, adanya ajaran doktrin mati mulia dalam memperjuangkan tegaknya agama berdasarkan agama tertentu,  dan menganggap semua orang dan pihak yang berupaya menghalangi tegaknya Negara berdasarkan agama, sebagai musuh utama. Contoh dari keompok ini antara lain Negara Islam Indonesia.  Sementara itu kelompok semacam ini juga muncul dengan tidak membatasi dirinya dengan sebuah Negara tetapi justru semacam khilafah yang bersifat internasional.

Kelompok-kelompok yang bertujuan untuk mendirikan Negara tersendiri  dengan menumbangkan Negara yang telah ada tersebut  meniscayakan adanya usaha-usaha yang  pada intinya menghalalkan berbagai cara yang sesunggunya  berwujud pelangggaran terhadap berbagai aturan dan hak asasi manusia, namun selalu dicarikan justifikasi agama, sehingga menjadikan sesuatu yang tadinya jelek menjadi dianggap mulia.  Dan itulah yang dilakukan dan terus diupayakan untuk mendapatkan simpati banyak orang dan akhirnya mau membantu dan bergabung dengan mereka.

Isu Jihad menjadi salah satu yang dijadikan komoditi mereka. Jihad yang sesungguhnya bahasa yang suci dalam agama Isam, ternyata kemuudian disalahgunakan oleh kelompok tersebut untuk tujuan yang sangat bertentangan dengan jiwajihad itu sendiri.  Jihad secara arfiah dapat diarikan sebagai usaha keras, bersungguh-sungguh, mengerahkan seluruh kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau untuk tujuan tertentu.  Sedangkan juhad dalam terminology para ulama diartikan sebagai  mengerahkan segala kemampuan untuk menangkis serangan dan menghadapimusuh yang tidak tampak yaitu hawa nafsu setan dan musuh yang tampak yaitu orang kafir yang memusuhi Islam.  Dengandemikian juhad dalam penegertian ini tidak hanya mencakup pengertian perang melawan musuh yang memerangi Islam, tetapi juga meliputi berjuang sekuat tenaga dan kemampuan untuk mengalahkan  nafsu setan dalam diri manusia.

Dengan demikian jihad dalam arti perang itu hanya merupakan sebagian kecil dan itupun dengan syarat tertentu, yakni berperang melawan orang kafir yang jelas-jelas memerangi Islam dan umatnya.  Sementara itu dalam peperangan yang mungkin terjadi tersebut, umat Islam juga dibatasi agar tidak melakukan perbuatan yang diluar batas, seperti membunuh anak-anak dan perempuan, orang tua, orang yang lemah dan telah menyerah dan syarat lainnya.  Dengan pengertiannya yang demikian maka jihad yang saat ini dijadikan komoditi oleh sekelompok orang, jelas sangat berbeda dan tentu tidak sesuai dengan makna dan tujuan jihad itu sendiri.

Kalau kita merujuk kepada al-Quran dan hadis Nabi, maka istilah jihad tersebut malah dapat diartikan yang lebih luas lagi, seperti perang itu sendiri, meskipun dengan beberapa syarat  sebagiamana saya sebutkan tadi,  melaksanakan haji yang mabrur, berani menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang dianggap dhalim, berbakti kepada kedua orang tua, menuntut ilmu dan mengembangkan pendidikan, membantu fakir miskin dan lainnya.  Jadi makna jihad barangkali hamper mirip dengan perbuatan baik yang  memberikan manfaat bagi pihak lain, sebagai bentuk bakti atau pelayanan.

Sedangkan  jihad yang dijadikan alat untuk mencapai tujuan yang justru bertentangan dengan makna jihad itu sendiri, yakni dijadikan alat pembenar untuk melakukan kekerasan, sebagai bentuk balas dendam atau tujuan lainnya, malah lebih dekat dengan perbuatan yang  dilarang agama itu sendiri, dan bahkan dapat digolongkan sebagai bentuk terror yang sangat dilarang dalam Islam.

Maraknya pengeboman dan bahkan bom bunuh diri dengan tujuan dapat mendapatkan mati syahid, tentu sangat tidak dapat dibenarkan, karena term mati  syahid atau mati dalam keadaan mulia, tidak mungkin dicapai dengan membunuh diri sendiri dan juga kepada orang lain, tetapi seharusnya dimknai bahwa mati syahid itu sebagai mati yang disebabkan oleh adanya  pengorbanan untuk agama dan kemanusiaan sekaligus.

Tentu masih banyak isu-isu social keagamaan  lainnya  yang tidak dapat saya  sebutkan di sini, tetapi dengan  beberapa  bentuknya sebagaimana yang saya sebutkan tadi, tentu diharapkan kita semua dapat mengerti dan sekaligus dapat  berupaya mengantisipasi gejala yang ada, sehingga diharapkan  pula nantinya dapat melakukan usaha-usaha preventif agar tidak  membesar dan membayahakan kita semua.  Artinya bahwa kita memang harus waspada dan bersikap untuk memberantas  benih-benih yang akan  muncul dan menjadi  berbahaya, bahkan  diharapkan bahwa kita  seharusnya menjadikan  gerakan yang mengarah kepada kekerasan dan terror tersebut sebagai musuh dalam kehidupan kita.

Dengan sikap yang demikian, kita berharap bahwa kedepan kita akan dapat menyelamatkan  anak-anak kita dari kemungkinan buruk yang akan merugikan kita semua, bangsa dan Negara.  Semoga  Tuhan senantiasa memberikan taufiq, hidayah dan inyah kepada kita, sehingga kita  akan dapaat menjalankan dan sekaligus memerankan diri sebagai khalifah Tuhan di bumi yang akan membawa kedamaian dan kesejahteraan di muka bumi ini. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.