BERBEDA SIKAP DALAM MENGHADAPI RADIKALISME




Adalah merupakan hal yang sangat wajar manakala dalam menghadapi radikalisme atau terorisme sekalipun ada perbedaan sikap.  Namun bukan berarti  ada yang sepakat atau sekedar membolehkan tumbuhnya radikalisme di kalangan kita, lebih-lebih di kampus kita, sama sekali bukan itu maksudnya, melainkan dalam hal merespon persoalan yang saat ini sedang marak dibicarakan oleh hamper seluruh masyarakat Indonesia itu.  Kalau soal sepakat dan tidaknya, saya kira kita semua sepakat tentang perlunya penindakan dan pemberantasan radikalisme dan terorisme tersebut dari bumi pertiwi yang sangat kita cintai ini, namun dalam hal merespon  persoalan tersebut sekali lagi masing-masing orang berbeda.

Ada diantara mereka yang secara agresif dan bahkan tampa panic menyikapinya sehingga harus buru membentuk berbagai tim yang bertugas meneliti dan sekaligus memberikan solusi terbaik bagi penyelamatan generasi muda.  Kalau hal tersebut dialamatkan pada kampus, maka tim tersebut bertugas untuk mengadakan pembinaan kepada mahasiswa dan sekaligus mendeteksi sejauhmana keterlibatan mahasiswa dalam masalah tersebut, dan upaya-upaya penaggulangannya.  Tetapi di lain pihak ada yang tenang-tenang saja, karena merka ini sesungguhnya sangat yakin bahwa  system pengajaran yang dilakukan dikampusnya tidak akan memungkinkan terjadinya radikalisme tersebut.  Dan kalau toh nantinya ditemukan ada satu dua mahasiswa yang terlibat dan masuk edalam kelompok radikal tersebut, maka itu bukan hasil dari pembelajaran di kampus, tetapi itu pengaruh dari luar. Sehingga solusinyapun harus dilakukan sedemiian rupa yan pada akhirnya tidak akan merugikan kepada institusi kita dan seluruh warga besar kampus.

Memang meskipun saat ini semua pihak mendengungkan pemberantasan terhadap  radikalismeyang mengarah kepada terorisme, namun  sebaiknya kita tidak grusa grusu dalam menyikapinya.  Kita memang harus mengantisipasi timbulnya aliran radikalisme di lingkungan kita, lebih di kampus kita, tetapi kita harus bersifat santun  dan arif, sebab kalau sampai salah kta dalam menyikapi nya, saya justru malah khawatir akan bertambah parah dan tidak mengena.

Dalam berbagai bentuknya yang mengemuka, aliran radikalisme yang tumbuh di Indonesia, memang tidak dapat dipisahkan dari pemahman terhadap suatu teks.  Tetapi untuk dapat hanyut dalam aliran ini, biasanya seseorang yang sedang mengalami  ketidak puasan tergadap keadaan sekitar atau sedang mencari identitasnya, akan dengan mudah tertaris dengan aliran ini.  Untuk itu dalam upaya preventif mencegah menularnya aliran ini, diperlukan pembinaan intensif kepada para generasi muda kita, khususnya kepada para mahasiswa kita.

Saat ini bahkan tidak hanya radikalisme yang tampak nyata yang menjadi perhatian masyarakat kita, tetapi juga beberapa aliran yang Nampak santun, tetapimempunyai  tujuan yang bertentangan dengan cita-cita bangsa, yakni ingin mendidirikan atau tepatnya menghidupkan kembali cita-cita Negara Islam Indonesia. Berbagai cara diciptakan, bahkan ada yang saat ini terkenal dengan istilah cuci otak, untuk kemudian diisi dengan paham yang sangat jauh dari pemahmana sebelumnya.  Bahkan seseorang yang dicuci otaknya, sama sekali sudah tidak mengenal keluarga dan kawannya lagi, yang diingatnyaialah hanya ajaran tertentu yang dimasukkan  kedalam otaknya.  Ka lau kenyataan ini memang-benar-benar terjadi, maka perbutan tersebut dapat digolongkan sebagai perbuatan biadab dan tidak berperikemanusiaan.

Secepatnya kita harus  melakukan sesuatu  untuk mengetahui secara dini tentang penyebaran aliran tersebut, sehingga kita tidak akan kecolongan yang hanya akan menyisakan penyesalan bagi kita semua.  Saat ini disinyalir bahwa gerakan ini juga menysup dalam berbagai lembaga pendidikan kkita termasuk ke pondok pesantren.  Mungkin kita belum sepenuhnya percaya tentang informasi tersebut, namun tidak ada jeleknya kalau kita  dalam rangka ikhtiyath untuk mendeteksinya,  siapa tahu informasi tersebut ada benarnya, sehingga kita dapat mengadakan dan menemukan solusi terbaik untuk mengatasi masalah tersebut.

Karena pentingnya maslaah ini, sampai-sampai  kementerian agama, sebagai  pihak yang secara moral bertanggung jawab atas pembinaan umat di negeri ini, harus mengadakan berbagai  pertemuan koordinasi dengan semua pihak, termasuk perguruan tinggi dan kanwil kementerian agama, dalam upaya mengatasi persoalan tersebut.  Memang apa yang dilakukan oleh kementerian agama tersebuttampak berlebihan dibandingkan kasus yang muncul, tetapi kalau dilihat dari sisi upaya preventif, tentunya  upaya yang dilakukan oleh kementerian gama tersebut menjadi sangat wajar dan bahkan memang harus dilakukan.

Jadi meskipun secara riil ada perbedaan dalam menyikapi munculnya radikalisme, tetapi sesungguhnya ada kesamaan dan kesepahaman tentang bahaya radikalisme tersebut dan sama-sama menginginkan bahwa aliran tersebut harus segera diberantas dari bumi pertiwi ini demi menyelamatkan generasi, bangsa dan Negara kita. Berbeda dalam menyikapi bukan berarti berbeda pandangan dalam  setuju dan tidaknya  keberadaan gerakan radikal tersebut, tetapi hanya berbeda dalam persoalan bagaimana  mengatasi aliran radikalisme tersebut, apakah secepatnya diberantas dengan jalan apapun termasuk  kalau harus berlaku keras sekalipun, ataukah dilakukan dengan cara lembut dan mencari titik kelemhannya dahulu, setelah itu baru dilakukan upaya pemulihan, sehingga mereka akan dapat kembali kepada jalan yang benar.

Dengan demikian perbedaan dalam menyikapi gerakan radikalisme tersebut hanya terletas pada bagaimana mengatasinya, dan bukan dalam mentoleril keberadaan aliran dan gerakan radikalisme tersebut.  Kalau  seperti ini persoalannya, maka memang dapat dimengerti, karena pada dasarnya semua telah sepakat untuk menghindarkan bangsa ini dari aliran radikal tersebut, baik dengan cara menghilangkan melalui cara menghukum para pelakuknya maupun dengan cara menyadarkan mereka dan mengembalikannya ke jalan yang benar.

Namun pada saat ini perbedaan dalam menyikapi aliran radikalisme tersebut juga terletak pada  cara memandang terhadap gerakan tersebut.  Sebab penempakannya terkadang tidak terlihat bahkan yang kelihatan ialah sebaliknya, yakni bukan lagi sikap radikal, tetapi sikap lembut dan sopan.  Sehingga menjadikan orang yang menyaksikan langsung menjadi ragu, apa benar yang sedang dihadapinya tersebut memang aliran radikal yang sedang melakukan sandiwara untu berbuat dan beraksi sebaliknya,  atau jangan-jangan tuduhan seperti itu hanyalah merupakan tuduhan yang tidak berdasar dan bahkan hanya untuk menfitnah atau lainnya.

Apa yang saat ini ramai dibicarakan di seputar pondok pesantren al-Zaitun menjadi bukti atas kenyataan ini.  Satu pihak, seperti Majlis Ulama Indonesia pusat yang merekomendasikan kepada pemerintah untuk menyelamatkan al-Zaitun dan mengganti pengasuhnya Panji Gumilang yang dianggap tersangkut persoalan NII, serta memeriksanya untuk kemudian diproses secara hokum.  Tetapi di lain pihak, misalnya menteri agama Suryadharma Ali yang langsung berkunjung ke pondok pesantren al-Zaitun dan sekaligus bertemu dengan pengasuhnya Panji Gumilang, justru tidak menemukan tanda-tanda radikalisme di sana, bahkan yang ditemukannya  sama dengan yang ada di beberapa pesantren lainnya.  Di sana ditemukan merah putih, juga lagu kebangsaan Indonesia Raya.  Kurikulum yang diajarkan juga tidak menyimpang dariketentuan yang ada.  Jadi kesimpulannya bahwa tudingan al-Zaitun dan pengasuhnya tersangkut NII, perlu dibuktikan lagi.

Saya menjadi  bingung dengan kenyataan ini, sebab sudah banyak informasi tentang keterlibatan al-Zaitun dan Panji Gumilang dengan gerakan NII, bahkan saksi juga sudah cukup banyak,  Namun dalam kenyataannya kehidupan di al-Zaitun sendiri tenang-tenang saja.  Benarkah bahwa kondisi seprti ketikan menteri agama dating di al-Zaitun, kondisinya  disetting sedemikian rupa, sehingga membuat menteri berkesimpulan yang berbeda dengan hasil penelitian MUI.  Tentu semuanya masih harus kita tunggu berita dari kepolisian yang telah berjanji untuk menindak-lanjuti beberapa laporan sekitar persoalan tersebut.

Logikanya, penelitian itu tentu akan lebih akurat, apabila dilakukan dengan metode yang benar, karena dapat dipastikan peneliti akan terus aktif mengikuti beberapa kegiatan yang seharihari dilakukan di al-Zaitun, dibandingkan dengan kesimpulan yang didasarkan kepada pengamatan sebentar, yang lebih cenderung kepada kesan belaka.  Persoalannya,kenapa kelau penelitian tersebut telah dilakukan sejak tahun 2002, kok sampai saat ini baru diumumkan.  Ini juga menjadi pertanyaan tersendiri untuk MUI.  Kalau bener bahwa al-Zaitun menyimpang, kenapa tidak pada saat itu getol diperjuangkan untuk dipersoalkan dan dibeberkan kepada umat, sehingga mereka tidak akan terus mempercayakan pendidikan anak-anaknya kepada al-Zaitun yang dinilai menyimpang itu. Jawbannya hanya MUI yang dapat memberikan.

Menurut saya, dalam kondisi seperti ini, kita memang harus tenang dan tidak grusa grusu untuk memberikan statmen ataupun kesimpulan, tetapi kita harus meyakinkan semua pihak bahwa gerakan radikalisme, apapun bentuknya, sangat membahayakan kepada generasi muda kita , bangsa dan Negara.  Untuk itu kita harus terus berusaha menghapuskannya dari lingkungan kita dengan cara yang baik dan maslahah.  Untuk urusan yang berkaitan dengan pelanggaran terhadap atruan perundangan, biarlah keloplisian yang menanganinya, sedangkan yang dapat kita lakukan ialah dengan usaha preventif dengan membrikan pembinaan,pencerahan dan pengawasan terhadap seluruh masyarakat sekitar, seluruh mahasiswa di perguruan kita masing-masing dan tentu lingkungan sekitar kita.

Dengan begitu persoalan ini akan dapat segera diatasi dan tidak menimbulkan suudzdzan yang berkepanjangan.  Artinya kita akan dapat menyelamatkan generasi muda dan mahasiswa kita, serta  ketenangan di masyarakat tetap bisa kita jaga.  Semoga Tuhan senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada mereka yang saat ini terpengaruh aliran yang  merugikan tersebut.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.