KOMITMEN IDB DALAM MENGEMBANGKAN PENDIDIKAN




Barangkali saat ini merupakan saat yang tepat untuk memfokuskan seluruh pikiran kita dalam upaya menyambut perhatian IDB dalam membangun dan mengembangkan pendidikan di beberpa Negara, khususnya di Indonesia.  Karena IDB memang berkomitmen untuk mengembangkan pendidikan di berbagai Negara, meskipun mereka tidak harus terus berada dalam Negara tersebut.

Hari Selasa kemarin presiden IDB DR. Ahmad Muhammad Ali memberikan kuliah umum di universitas Islam Negeri maulana Malik Ibrahin Malang.  Dalam kuliahnya tersebut beliau juga tetap menegaskan komitmennya untuk terus membantu mengembangkan pendidikan di Indonesia melalui dana yang dimili oleh IDB.  Kemudian Rabunya juga diadakan IDB Day di Hotel Lizt Carlton Jakarta.  Sementara itu sore harinya diteruskan perjalanan ke Aceh dalam upaya yang sama.

Tentu dalam kondisi seprti ini kita semua wajib menyambut baik dan terus memberikan dan meyakinkan kepada IDB  dan pemerintah bahwa kita sesungguhnya serius dalam  mengelola pendidikan, dan bahkan akan terus berupaya mengembangkannya lebih maju dan berkualitas.  Dalam mengelola pendidikan tinggi yang diamanatkan  kepada kita, memang tidak boleh main-main atau hanya sekedar mengerjakan rutinitas semata, ttetapi kita harus terus menerus mencari terobosan  agar perguruan tinggi kita bisa sejajar dengan perguruan tinggi yang terlebih dahulu maju dan bakan kalau bisa justru dapat melebihi mereka.

Saya berpikir dan yakin bahwa  siapapun yang mau berusaha, pastilah di sana akan ada jalan yang memungkinkan untuk meraih cita-cita tersebut, meskipun  harus melalui proses yang cukup panjang dan menemui banyak hambatan.  Untuk itulah diperlukan suatu semangat pantang menyerah yang harus terus kita gelorakan dan tidak boleh dipatahkan oleh  apapun.  Barangkali memang mungkin tidak  semua orang sama dalam  berpandangan; ada diantaranya yang  mengikti falsafah jawa kuno “alon-alon waton klakon” atau pelan-pelan saja asalkan selamat dan nantinya  berhasil, tetapi ada juga yang  menggunakan falsafah “sopo sing ora ngedan yo ora keduman” dalam arti yang positif.  Artinya  zaman ini adalah zaman kompetisif, siapa yang tidak mau menjemput bola maka jangan berharap akan endapatkan bola itu, karena yang berebut bola tersebut sangat banyak.  Bahkan ikut merebut bola sekalipun juga belum pasti mendapatkannya, apalagi tidak ikut merebutnya.

Demikian juga dengan mengelola perguruan tinggi, kita harus aktif mencari terobosan dan kesempatan untuk mendapatkan kesempatan dalam hal apapun, apakah dalam hal beasiswa bagi para mahasiswa dan juga dosen,  dalam hal bantuan dari berbagai pihak untuk pembangunan dan pengembangan perguruan tinggi dan lembaga kita, dalam hal kerjasama dengan berbagaii pihak untuk mendapatkan bebrpa keuntungan, maupun dalam hal-hal  lain yang dapat dimanfaatkan bagi pengelolaan dan pengembangan lembaga kita.

Kalau  komitmen IDB untuk mengembangkan pendidikan di  Indonesia begitu jelas, tentu kita juga harus mengimbanginya dengan penelolaan pendidikan secara baik, karena saya yakin kalau pengelolaan pendidikan tidak sesuai dengan keinginan dari semua pihak termasuk IDB, tentu kebijakan untuk membantu pengembangan pendidikan tersebut akan dihentikan, karena percuma mereka membantu  dengan pnjaman yang begitu besar, tetapi tidak  akan mengubah pendidikan yang ada.

Untuk itu menurut saya ada beberapa  hal yang harus mendapatkan prioritas  dalam mengelola pendidikan tersebut, yakni: Pertama aspek SDM.  Artinya aspek sdm ini harus mendapatkan garapan utama, terutama dosen.  Dosen merupakan unsure utama dalam perguruan tinggi.  Semakin berkualitas dosen di sebuah perguruan tinggi maka akan semakin baik mutu lulusannya, dan sebaliknya kalau mutu dosennya tidak baik, maka jangan berharap lulusannya akan menjadi baik.  Meskipun demikian dengan dosen berkualitas, belum menjamin lulusannya akan menjadi baik, untuk itu diperlukan aspek kedua, yakni kurikulum.

Kurikulum merupakan insur penting dalam proses belajar mengajar, termasuk di perguruan tinggi.  Kurikulum yang baik akan dapat mengantarkan peserta didik menjadi sosok yang kita inginkan.  Artinya bahwa kurikulum bukan sekedar deretan mata kuliah yang harus ditelan oleh  eserta didik, tetapi di sana  akan ditentukan kompetensi yang memang harus dimiliki setiap peserta didik.  Sosok yang akan kita hasilkan harus secara rinci tergammbar dalam kurikulum tersebut.  Denagn gambaran seperti itu dan didukung oleh dosen sebagai pelaksana kurikulum tersebut yang mumpuni, diharapkan para peserta didik akan benar-benar menjadi lulusan yang diharapka tersebut.

Namun demikian dengan sdm dan kurikulum yang baik juga belum menjamin terwujudnya sosok ideal yang diinginkan tersebut.  Untuk itu dibutuhkan aspek ketiga, yakni sarana prasarana yang memadahi.  Sarana prasana tersebut menyangkut berbagai hal, seperti tempat kuliah yang representative dan terhubung dengan internet,  perlengkapan perpustakaan yang memadahi, laboratorium dengan segala peralatannya yang  cukup lengkap, serta kemudahan dalam mengakses internet.  Berbagai kelenkapan untuk menujang keberhasilan studi tersebut memang mutlak disediakan, kalau kita menginginkan  lulusan kita berkualitas dan dapat bersaing  dalam dunia kerja  dan masyarakat.

Masih ada satu aspek lagi yang menuruut saya cukup urgen meskipun terkadang sering dilupakan, yakni aspek tenaga administrasi.  Untuk menunjang tertib administrasi terutama administrasi akademik dan juga keuangan, sangat dibutuhkan tenaga yang memang ahli dalam bidangnya.  Sebab kehadiran mereka  dalam bidangnya  sangat menentukan keberhasilan suatu perguruan tinggi.  Akuntas, misalnya mutlak dibutuhkan, meskipun sampai saat ini masih ada lembaga perguruan tinggi yang belum mempunyai akuntan, dan hanya mengandalkan tenaga biasa.

Kita tidak dapat membayangkan betapa semrawutnya pekerjaan keuangan yang ditangani bukan oleh ahlinya atau akuntan, dan dari kesemrawutan tersebut akan menjalar kepada ketidak beresan  aspek lainnya.  Pada akhirnya tentu kita semua akan dapat menebak, seperti apa pengelolaan perguruan tinggi tersebut.  Karena itu sangat perlu untuk lebih dini menyadari persoalan tersebut sebelum persoalan besar lainnya menghadang di hadapan kita.  Jika perlu harus dilakukan studi bading ke beberpa perguruan tinggi yang dianggap telah maju dan berhasil menjalankan fungsinya sebagai perguruan tinggi yang ideal, baik di lingkungan kementerian agama maupun  pergurun tinggi di lingkungan kementerian pendidikan Nasioanl.

Mengelola pendidikan sesungguhnya secara prinsipil sama dengan mengelolan  apapun, dan kalau kita berpedoman kepada prinsip manajemen secara umum, tentu akan dapat dirasakan hasilnya.  Sebagaimana kita ketahui bahwa prinsip menejemen secara umum meliputi planning, organizing, actuating dan controlling.  Prinsip prinsip tersebut  memang mempunyai kekhususan tersendiri dan harus kita sesuaikan dengan kondisi  dimana kita berada.  Planning misalnya, dapat dilakukan dengan meminjam beberapa cara dan metode  bagaimana kita merumuskan rencana, misalnya kita dapat memulainya dengan LEN’S Leadership Effectivness and New Strategy, dimana prosesnya melalui beberapa tahap, dimulai dengan mencanangkan visi yang kita inginkan.  Mimpi-mimpi apappun perlu kita tuangkan dalam daftar keinginan, kemudian setelah seluruh daftra keinginan telah terumuskan, maka harus dihadapkan dengan kendala yang mungkin kita temui selama menjalankan keinginan tersebut. 

Dengan mengedepankan kemungkinan adanya kendala tersebut, dengan sendirinya, keinginan-keinginan tersebut akan dapat tersaring sehingga akan dapat dilihat mana yang masih bertahan dengan kemungkinan adanya kendala tersebut dan mana yang secara otomatis akan gugur.  Nah setelah proses seperti itu kita akan dapat menentukan strategi apa yang akan kita lakukan dalam upaya merealisasikan keinginan tersebut.  Dan barulah yang terakhir kita  dapat merencanakan kegiatan dan program secara detail, termasuk diantaranya menentukan jumlah biaya yang dibutuhkan, peserta yang terlibat, dan berbagai hal menyangkut terlaksananya program tersebut.

Demikian juga dengan prinsip menejemen lainnya, harus kita racik sedemikian rupa sehingga akan menajadi efektif dan pengelolaan institusi yang kita lakukan  dapat sukses dan mendapatkan  hasil yang maksimal.  Tentu dlam persoalan ini saya tidk bermaksud mengajari, tetapi hanya sekedar mengingatkan saja kepada semua pihak, karena sesungguhnya kita memang harus dsaling mengingatkan dalam persoalan yang baik.

Pada akhirnya kita harus kompak untuk menata dan mengelola perguruan tinggi kita dengan baik, sehingga pada saatnya nanti ketika IDB benar-benar memberikan bantuan pinjamannya kepada kita, kita akan dapat meyakinkan dan sekaligus memberikan kepercayaan maksimal kepada mereka dan juga kepada pemerintah.  Lebih dari itu memang menjadi kewajiban kita untuk mengembangkan dan memajukan pendidikan terutama institusi kita.  Semoga.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.