PENGEMBANGAN IAIN MELALUI IDB




Bahwa mengembangkan institusi pendidikan di lingkungan kementerian agama dengan hanya mengandalkan dana DIPA rutin, rasanya sangat menjadi sangat sulit, terlebih bilamana menyangkut pembangunan gedung dana peralatn yang dibutuhkan, seiring dengan perkembangan pendidikan itu sendiri.  Sebab untuk bisa  merealisasikan keinginan  mengembangkan lembaga pendidikan yang meliputi berbagai aspek, seperti pembangunan gedung kuliah, laboratorium dengan segala peralatannya, perpustakaan, perkantoran dan sarananya, pusat-pusat pelatihan dan lainnya, setidaknya dibutuhkan dana yang cukup besar, bahkan mungkin tiga sampai empat tahun dana operasional sekalipun baru bisa diwujudkan.

Kita membayangkan kalau saat ini IAIN mendapatkan dana DIPA sebesar 100 milyar untuk seleuruh operasional selama satu tahun, maka dalam empat tahun dikumulkan mejadi satu baru terkumpul sekitar 400 milyar.  Sedangkan pembangunan sarana yang dibutuhkan dalam upaya pengembangan kelembagaan tersebut diperkirakan juga  mencapai angka hamper mendekati nya.  Tetapi hal itu hanya angan-angan belakan, sebab sangat tidak mungkin untuk melakukan hal tersebut.  Karena disamping seluruh kegiatan kampus libur, para pegawaipun juga tidak mendapatkan gaji.  Dan hal itu sekali lagi merupakan hal yang mustahil dilakukan.

Perlu diketahui bahwa anggaran DIPA yang sedemikian besar atau bahkan mungkin dapat dikatakan sedemikian kecil,  merupakan kumpulan dari dana APBN dan dana ex PNBP atau dana BLU yang didapatkan dari selain APBN, sehingga tidak akan mungkin untuk menggunakannnya selain peruntukan yang telah ditetapkan.  Artinya sekali lagi untuk mengembangkan sebuah institusi perguruan tinggi semacam IAIN agar menjadi perguruan tinggi yang representative, memang diperlukan dana-dana semacam  pinjaman dari IDB.

Pada saat ini memang ada kebijakan yang dapat dianggap berbeda dengan masa lalu, dimana pada waktu itu masing-masing perguruan tinggi langsung mendapatkan bantuan dan mempertanggung jawabkannya secara mandiri pula, tetapi saat ini rencananya  akan digabungkan anttara beberapa perguruan tinggi di bawah koordinasi kementerian agama.  Jadi IDB langsung berhubungan dengan kementerian agama dan tidak langsung berhubungan dengan masing-masing perguruan tinggi yang mendapatkan bantuan pinjaman.

Kebijakan ini didasarkan kepada pengalaman dimasa lalu dimana ada sebagian perguruan tinggi yang mendapatkan pinjaman tersebut ternyata  bermasalah, walaupun masalah tersebut dapat ditangani dan diselesaikan.  Dalam pandangan saya kebijakan baru tersebut juga memungkinkan adanya masalah, seperti  kalau diantara beberapa perguruan tinggi yang mendapatkan pinjaman tersebut ada yang bermasalah maka keseluruhannya juga akan terkena dampaknya.  Misalkan rencana bantuan IDB untuk lima IAIN yang saat ini sedang diproses, yakni IAIN Walisongo semarang, IAIN SU Medan, IAIN  mataram, IAIN Palembang dan IAIN Banten, bisa jadi akan sedikit terhambat disebabkan salah satu diantaranya belum masuk ke blue book.

Sangat boleh jadi juga ada diantaranya yang lahan tanahnya belum tersertifikasi sehingga belum memenuhi syarat atau  persiapannya yang belum matang, sehingga akan menjadi pengambat keseluruhan IAIN yang sesungguhnya telah siap.  Jadi dalam system five in one saat ini disamping ada segi positifnya, yakni kementerian agam dapat memerankan diri sebagai kooordinator yang dapat berhubungan langsung dengan IDB, dan mumudahkan IAIN  untuk mengikuti kebijakan kebijakan yang ditempuh, namun sekali lagi  disana tetap ada kemungkinan hambatan yang bakal terjadi seprti yang saya gambarkan tersebut.  Pada kenyataannya saat ini IAIN Walisongo misalnya yang telah masuk blue book sejak tahun 2009, masih tetp harus menunggu IAIN Banten yang sampai saat ini belum masuk kedalam blue book, walalaupun akan diupayakan sedemikian rupa agar bisa cepat masuk.

Tetapi yang jelas saat ini telah diambil keijakan five in one, dan k arena itu kita sebgai pimpinan IAIN berlima harus terus berupaya secara maksimal untuk memenuhi persyaratan yang diharuskan oleh IDB, sehingga  diantara kita tidak ada yang menjadi penghambat.  Kita yakin bahwa kita semua membutuhkan bantuan IDb tersebut untuk lebih mengembangkan dan memajukan institusi kita.  Jangan sampai karena kelalaian kita sendiri akan menyebabkan terhambatnya proses realisasi bantuan IDB terseut.

Kita harus selalu berusaha dengan berbagai cara untuk dapat mengegolkan bantuan IDB tersebut, tentu cara yang kita tempuh harus tidak melangar peraturan perundangan yang ada, dan tetap menghormatikepada setiap peraturan dan instansi yang dilalui.  Sebab kita semua menyadari bahwa  upaya pinjaman IDB tersebut untuk tujuan baik, yakni mengembangkan pendidikan tinggi, yang tidak saja meliputi pembanguna fisik, tetapi juga mencakup pembangunan sumber daya manusia, baik dosen maupun tenanga administrasinya, dan bahkan aspek mahasiswanya.

Jauh-jauh hari kita telah merencakan pembangunan aspek manusia dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk meningkatkan kapasitas mereka melalui training, short cours, dan pendidikan studi lanjut, baik di dalam maupun di luar negeri.  Kita semua tidak ingin bahwa rencana yang sudah amatang tersebut kemudian tidak menjadi kenyataan, hanya disebabkan kelalaian kta sendiri atau karena ketidak seriusan kita.  Untuk itu semua harus mempunyai semangat dan sikap yang sama dalam merealisasikan bantuan IDB tersebut.  Kita harus selalu evaluasi diri, apa yang kurang dari kita, terutama mengenai persyaratan mutlak yang dibutuhkan, semacam sertifikat tanah atau hal lainnya.

Yang jelas dengan IDB kita akan bisa membangun kampus kita dan melengkapi beberapa kekurangan yang saat ini ada seperti kelengkapan laboratorium, baik bangunannya yang terpadu maupun peralatannya,  pusat training dan segala fasilitas yang dibutuhkannya,  perpustakaan dan sistemnya,  serta pengembangan kapasitas  sumberdaya manusianya.  Pembanguan yang demikian diharpakan akan dapat menunjang tercapainya keinginan untuk meningkat pendidikan  dan sekaligus akan menambah kualitas lulusannya.

Semua orang tahu bahwa  kualitas pendidikan di perguruan tinggi kita, terutama di beberapa perguruantinggi di lingkungan kementerian agama masih dianggap kurang atau bahkan dinilai cukup rendah.  Dan atas kenyataan tersebut kita memang tidak bisa banyak berargumentasi untuk membelanya, karena memang  realitasnya demikian, tetapi itu tidak semuanya, sebab banyak diantara perguruan tinggi di bawah pembinaan kementerian agama yang saat ini justru menghasilkan alumni yang cukup berkualitas dan  bahkan banyak yang berkiprah di tingkat nasional.

Untuk mrnjawab beberapa pernyataan miring seperti itu kita harus mengupayakan pengembangan dan peningkatankualitas alumni yang kita hasilkan, dan semuanya itu tidak akan terwujud dengan  berpangku tangan tanpa ada uasha nyta dalam hal pengelolaan perguruan tinggi kita.  Peningkatan kualitas sdm terutama dosen, mutlak dilakukan dengan memberikan fasilits kepada mereka, baik melalui studi lanjut, maupun kursus dan pelatihan singkat dalam berbagai hal yang menjadi kebutuhan mereka.  Kita sangat memimpinkan bahwa para dosen kita menjadi orang yang produktif dalam menulis dan menghasilkan karya ilmiah, baik berupa tulisan imiah yang dimuat dalam jurnal maupun dalam bentuk buku ilmiah.

Saya sangat yakni bahwa sesungguhnya mereka itu mampu melakukan semua itu, namun memang harus ada support dari pimpinan.  Salah satu bentuk support tersebut ialah dengan memberikan kesempatan kepada mereka sekaligus membiayainya untuk mengadakan penelitian di beberapa Negara dan hasil dari penelitian tersebut harus menjadi sebuah buku ilmiah , atau memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengkut short cours dalam upaya peningkatan kinerja, atau bentuk lainnya, tetapi yang jelas ialah dalam upaya mendorong mereka agar mau melakukan peneitian dan kemudian dapat menghasilkan karya ilmiah.

Dengan IDB kita dapat merencanakan dan sekaligus melakukan semua yang kita inginkan, termasuk pembangunan kapasitas dalam arti yang luas.  Dan menurut saya, inilah kesempatan yang sangat berharga dan dapat mengubah wajah dan kualitas perguruan tinggi kita kedepan.  Untuk itu kita sekalilagi harus terus berusaha untuk meloloskan bantuan IDB tersebut secepatnya, karena saat ini pintu untuk itu sangat terbuka, dan kita semua tidak tahu kondisi masa mendatang, apakah kebijakan utang luar negeri masih akan terus dilakukan atau justru sebaliknya distop dan tidak lagi akan pernah dibuka. Wallahu a’lam.

Tentu kita harus terus berdoa kepada Allah SWT, disamping berusaha secara maksimal, karena kita menyadari bahwa  semua keputusan tetap berada di tangan Tuhan, dan kita hanya terbatas berusaha, tetapi yang harus tertanam dalam diri kita ialah keyakinan bahwa kita bisa, karena Tuhan pasti akan menolong hamba-Nya yang mempunyai tujuan dan niat baik.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.