TETAP SEMANGAT UNTUK UIN




Pada saat semangat seluruh keluarga besar IAIN Walisongo Semarang untuk menjadi UIN begitu membara, tiba-tiba ada hal yang dapat dikatakan sebagai penghalang proses konversi IAIN ke UIN, yang justru datang dari pihak yang seharusnya memberikan support untuk percepatan konversi tersebut.  Seperti diketahui bahwa seluruh keluarga besar IAIN Walisongo Semarang  telah sepakat bulat untuk beralih dari IAIN menjadi UIN dengan berbabagi alasan, baik alasan keilmuan dalam upaya integrasi ilmu yang selama ini dianggap dikotomis, sampai alasan perluasan  pelayanan yang nantinya dapat dilakukan oleh UIN kepada masyarakat.

Bahkan beberapa even untuk menegaskan keinginantersebut telah digelar, baik melalui workshop, lokakarya, seminar nasional, sampai kepada sosialisasi melalui mas media.  Bahkan Ketika dilaksanakan seminar yang memang didesain untuk konversi IAIN ke UIn tersebut juga dihadiri oleh Menteri Agama yang diwakili oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan serta  Diklat Kementerian Agama, dan juga Dirjen Diktis, prof Joko Santoso serta Prof Imam Suprayogo.  Dalam seminar tersebut semua sepakat dan mendukung rencana konversi  yang sedang dip roses oleh IAIN Walisongo Semarang.

Tetapi rupanya keinginan yang demikian mengggebu harus diredakan oleh sebuah kebijakan yang emang tidak menghendaki IAIN berkonversi ke UIN dengan berbagai alasan.  Salah satu alasannya ialah bahwa saat ini sedang digodok undang-undang tentang pendidikan tinggi yang dalam konsepnya dinyatakan bahwa seluruh  lembaga pendidikan tinggi di luar kementerian pendidikan Nasional disebut sebagai pendidikan khusus.  Artinya  kalau nantinya undang-undang tersebut disahkan dan berlaku, maka secara otomatis lembaga pendidikan yang berupa universitas harus berada di lingkungan pembinaan kementerian pendidikan nasional, dan bukan lagi di bawah pembinaan kementerian agama.

Untuk itu seluruh IAIN  diminta untuk bersabar dan tidak lagi berpikir untuk mengubah dirinya menjadi universitas.  Menurut saya, alasan seperti itu tidak perlu muncul, dan kalautoh ada semacam ketakutan bahwa nantinya beberapa perguruan tinggi yang selama ini menjadi garapan kementerian agama akan beralih ke kementerian pendidikan nasional, bukannya menjadi menyerah dan menunggu keputusan apapun yang akan dikeluarkan oleh DPR bersama presiden dalam sebuah produk undang-undang, tetapi seharusnya terus mengadakan advokasi kepada dewan yang saat ini masih menggodok rencana undang-undang tersebut.  Bahkan kalau perlu seluruh rector UIN dan IAIN, dan ketua STAIN diajak untuk menggelar dialog dengan DPR dalam upaya memberikan penjelasan tentang posisi pendidikan di lingkungan kementerian agama.

Menurut hemat saya  jalan ini yang harus ditempuh, dan bukannya menyerah dan menunggu produk yang sangat mungkin akan merugikan kementerian agama.  Sesungguhnya kita juga dapat berinisiatif untuk menyampaikan beberapa masukan, tentu dengan dilandasi oleh argumentasi yang kuat, termasuk di dalmnya ialah tentang pendidikan tinggi.  Kita harus dapat menjelaskan secara rasional kepada mereka yang mempunyai kewenangan untuk menetapkan peraturan perundangan bahwa keberadaan lembaga pendidikan di lingkungan kementerian agama merupakan sesuatu yang niscaya dan tidak dapat begitu saja dinafikanm bahkan diupayakan untuk digabungkan dengan kementerian pendidikan nasional.

Barangkali untuk kasus dari beberapa Negara memang sangat berbeda dengan kondisi di negeri kita, sehingga kalau dengan alasan di beberapa Negara, seluruh urusan pendidikan ditangi oleh satu kementerian, yakni kementerian pendidikan, maka akan terjadi ketidakstabilan di masyarakat.  Masih banyak persoalan di bangsa ini yang memerlukan perhatian serius dari kita semua, termasuk para anggota dewan yang terhormat.   Persoalan pendidikan, baik yang ditangani oleh kementerian pendidikan nasional maupun yang ditangani oleh kementerian agama, sesungguhnya sudah cukup baik, dan hanya memerlukan beberapa  perbaikan saja, sehingga tidak perlu memgadakan perubahan yang radikal, yang hanya akan menambah persoalan bangsa yang saat ini sudah terlalu banyak masalah.

Justru yang saat  ini sangat perlu perhatian ialah bagaimana  agar pendidikan di lingkungan kementerian agama tersebut dapat memerankan dirinya sebagai lembaga pendidikan yang dapat menghasilkan lulusan berkualitas dalam upaya memajukan dan mengembangkan bangsa dan Negara kita.  Persoalan mendasar bangsa kita adalah persoalan moralitas.  Nah, lembaga pendidikan di lingkungan kementerian agama tentu akan dapat menjawabnya dengan baik, karena bagaimanapun juga seluruh lembaga pendidikan di lingkungan kementerian agama akan  memebawa misi mencetak para aluni yang disamping memepunyai kemempuan dalam bidang ilmu yang dipelajari dan menjadi spesialisasinya, juga sebagai alumniyang bermoral tinggi.

Untuk itu menurut saya justru kementerian agam harus mendorong kepada seluruh lembaga pendidikan tinggi di lingkungannya untuk terus memperkuat kelembagaan serta lebih memperkuat aspek SDM dalam upaya menyahuti  keadaan tersebut,  Bahkan kalau mungkin seluruh IAIN dan juga STAIN didorong untuk mempersiapkan  diri menjadi universitas, dengan alasan bahwa keilmua islam itu menyeluruh, dan bukan saja hal-hal yang berkaitan dengan persoalan ibadah, melainkan juga termasuk persoalan duniawi yang dibutuhkan umat manusia saat berda  di dunia ini.

Kita dapat menjelaskan kepada siapapun tentang persoalan ini, disamping sejarah juga telah membuktikan bahwa  pada zaman dulu, ilmu itu satu dan tidak dibedakan antara  ilmu agama sendiri dan ilmu umum  secara sendiri juga.  Krena memang Tuhan tidak pernah membedakan dan memandang berbeda terhadap ilmu pengetahuan.  Al-Qurna tidak pernah sekalipun memandang secara dikotomis terhadap ilmu pengetahuan yang ada, sehingga para ulama terdahulu dapat mewujudkan integrasi ilmu tersebut, dengan bukti bahwa banyak diantara mereka yang ahli dalam bidang ilmu astronomi  sekaligus juga ahli dalam ilmu tafsir, hadis dan fiqh.  Demikian juga banyak mereka yang ahli dalam bidang ilmu kedokteran, sekaligus ahli dalam bidang fiqh dan tafsir, dan begitu seterusnya.

Nah dengan mendorong seluruh perguruan tinggi agama Islam menjadi universitas, sesungguhnya kita sedang berupaya mengembalikan kejayaan Islam yang telah tenggelam sekian lamanya.  Rintisan untuk melahirkan sosok yang ah;I da;am bidang keilmuan tertentu, semisal matematika, kimia, biologi, fisika, astronomi, teknologi  informasi, dan lainnya yang sekaligus juga ahli dalam bidang ilmu tafsir dan fiqh.  Memang pada saat ini masih ada sebagian orang yang pesimis dengan tujuan mulia tersebut, tetapi kita tetapharus terus berusaha denagn sungguh-sungguh dan konsisten.  Saya sangat yakin manakala usaha kita tersebut terus kita lakukan, maka pada saatnya nanti akan dapat dilahirkan sosok yang kita impikan tersebut.

Krena itu kita harus percaya  dan tidak patah semangat, meskipun banyak kendali yang siap menghadang perjalanan kita. Khusus  bagi seluruh keluarga besar IAIN Walisongo Semarang yang saat ini telah sepakat untuk tetap melakukan konversi IAIN ke UIN kita tudak usah terpengaruh dengan kebijakan apapun  yang diambil oleh kementerian agama, karena kita sangat yakin bahwa  keinginan kita tersebut merupakan keinginan mulia dan dalam upaya memajukan pendidikan serta dalam menjalankan amanat undang0undang juga yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, maka Tuhan pastilah akan senantiasa mencarikan jalan yang baik buat kita semua.

Untuk kementerian agama, dalam hal ini direktorat jendral pendidikan Islam, kita berharap bahwa  sebelum semua menjadi ke[utusan yang tidak kita harapkan, kita mohon untuk mengupayakan secara maksimal kepada pihak-pihak berweanang untuk memperhatilan aspirasi kita.  Kita tidak usah khawatir bahwa lembaga pendidikan kita akan dialihkan ke kementerian pendidikan nasional, sebab kalau itu terjadi maka costnya terlalu mahal, dan saya sangat yakin bahwa hal tersebut tidak akan pernah terjadi.

Untuk kepentingan yang lebih luas, justru kementerian agama harus terus mendorong kepada beberapa IAIN yang telah memproses dirinya untuk berlih status menjadi UIN, untuk dipercepat dengan memberikan beberapa fasilitas dan kemudahan yang diperlukan.  Kita juga tidak usah takut kalau menjadi UIN kemudian prodi-prodi agama akan menjadi terpinggirkan atau bahkan menjadi mati.  Persoalan tersebut sesungguhnya merupakan persoalan yang  debatebel, karena kenyataannya pada saat ini ketika masih IAIN maupun STAIN, beberapa prodi juga sangat langka peminatnya, dan itu jelas-jelas bukan karena UIN tetapi memang masyarakat sendiri yang kurang berminat.

Kalau saya justru malah berpikir sebaliknya, yakni bahwa pada saat ini kecenderungan masyrakat memang sudah menginginkan adanya program studi yang menurut mereka memberikan harapan cerah di masa depan, dan prodi tersebut tidak ada di IAIN maupun STAIN. Nah untuk menyahui keinginan mereka itulah UIN menjadi sesuatu yang niscaya,  Karena sesungguhnya cukup banyak masyarakat yang menginginkan kuliah di lingkungan pergurun tinggi Islam, tetapi mereka tidak menemukan prodi yang diinginkan, maka jadilah mereka kemudian mencari di universitas umum yang dapat menyediakan prodi yang menjadi tujuannya.

Dengan berbagai pertimbangan sebagimana saya sebutkan tadi, saya mengajakkepada semua pihak, terlebih kepada seluruh warga besar IIN Walisongo Semarang untuk tetap istiqomah dalam memperjuangjan konversi IAIN menjadi UIN dan tidak usah terpengaruh oleh apapun.  Kepada kementerian agama, saya menghimbau agar tetap memberikan kesempatan kepada IAIN untuk  bisa memperluas dan mengembangkan diri menjadi lebih besar dan maju melalui perubahan kelembagan menjadi universitas.  Dan kepada Tuhan, kita senantiasa memohon pertolongan agar keinginan mulia untuk berkhidmah kepada umat melalui UIN tersebut dapat menjadi kenyataan. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.