CAHAYA RUMAH

Sesibuk sibuknya orang dan selama-lamanya orang bepergian, pasti yang selalu diingat ialah rumah, walaupun sangat boleh jadi rumah yang dipunyai jauh lebih sederhana dibandingkan dengan penginapan yang biasa disewanyanya setiap pergi ke luar kota.  Rumah, walaupun belum penuh menjadi milik atau bahkan anya sekedar kontrakan, memang merupakan pangkalan terakhir untuk melepaskan segala kerinduan dan kepenatan.  Karena itu kita dapat membayangkan bagaimana rasanya bagi rang yang tidakmempunyai tempat tingal, meskipun hanya  untuk sementara.

          Tetapi meskipun demikian, rumah, terkadang juga dapat menjadi semacam neraka bagi penghuninya. Itulah sebabnya ada sebagian orang yang tidak tenang dan tidak kerasan tinggal di rumahnya sendiri, bahkan melihat keluarganya saja  sudah menjadi muak dan segera pergi lagi.  Pertanyaannya ialah  kenapa ada rumah yang menjadi surga  bagi penghuninya, dan kenapa pula ada sebagian rumah yang bagaikan neraka?. Jawaban dari pertanyaan ini sesungguhnyatidak sulit, karena rumah itu sesungguhnya merupakan tempat tinggal yang dapat didesain menurut selera penghuninya.

          Artinya kalau penghuni sebuah rumah menghendaki bahwa rumahnya  akan dijadiakn sebagai surga yang akan memberikan kesejukan dan ketenangan, maka rumahnya tersebut juga akan menjadi seperti surga.  Tetapi sebaliknya, kalau penghuninya menghendaki rumah huniannya tersebut bagaikan neraka,maka rumah yang sebaik apapun, akan terasa panas seperti di neraka.  Semuanya tersera kepada  penghuni rumah tersebut.

          Tentu bagipenghuni yang akan mendesain rumahnya sebagai surga, harus didasari dengan sebuah keimanan seluruh keluarga penghuni rumah tersebut.  Iman ini merupakan syarat mutlak bagi terciptanya keluarga yang harmonis, penuh kasing sayang diantara mereka, dan saling pengertian diantara mereka, serta tidak ada rasa curiga dan suuzzan.  Dengan dasar yang demikian tentu sebuah rumah tangga akan berjalan dengan normal dan bahkan dapat menjalani bahtera kehidupan dengan sangat tenang dan damai.

          Lebih-lebih kalau kemudian didesain dengan mengikuti petunjuk dari Rasul SAW, dimana Rasul pernah mengatakan bahwa "rumahku adalah surgaku".  Untuk lebih menguatkan keharmonisan dan ketenangan dalam rumah, sangat perlu dikumandangkan firman Tuhan di dalamnya.  Nabi sendiri pernah menganjurkan agar al-Quran selalu dibaca di dalam rumah, lewat sabdanya: " wahai umatku, hiasilah rumah-rumah kamu dengan bacaan al-Quran".

          Dengan demikian untuk mendapatkan rumah yang bagaiakan surga, diperlukan usaha-usaha nyata seperti yang saya sebutkan di depan, dan memperkuatnya dengan lantunan ayat-ayat Tuhan di dalamnya.  Karena kita sangat yakin bahwa bacaan al-Quran itu termasuk dzikir yang  sangat utama.  Artinya, ketika al-Quran di baca, disitulah akan muncul ingatan kta kepada Tuhan sang Pencipta alam semesta.  Dan dengan dzikir seperti itulah hati kita, pikiran kita dan nurani kita akan menjadi tenang dan tenteram.  Ketenangan dan ketenteraman itulah yang dimaksudkan dengan surga.

          Sementara itu bagi penghuni  yang akan mendesain rumahnya  sebagai neraka, atau setidaknya tidak ada usaha untuk mendesain rumanya agar menjadi surga, tentu tidak pernah memikirkan bagaimana menghadapi hidup ini dan hidup setelah mati nanti.  Sehingga mereka sama sekali idak medasari diri dan keluarganya dengan dasar iman dan ajaran syariat sebagai pegangan dalam mengarung kehidupan di dunia ini.  Akibatnya berbagai persoalan akan selalu muncul dan  mereka akan kesulitan menemukan solusi terbaiknya.

          Dalam keadaan yang selalu gundah, maka biasanya para penghuni rumah tersebut tidak akan merasa aman dan nyaman hidup di dalamnya,  dana akibat lebih jauhnya ialah timbulnya saling curiga dan menyalahkan diantara mereka, bahkan tidak jarang kemudian muncul pertengkaran yang menyebabkan retanya hubungan keluarga tersebut.  Itulah yang disebut sebagai neraka di rumah tersebut.

          Ketika kita menyadari betapa pentingnya sebuah rumah bagi kita, maka tentunya kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk  menjadikannya sebagai surga.  Kita upayakan rumah kita untuk menjadi cerah dan menyinarinya  dengan cahaya kasih sayang  dan ketaqwaan seluruh penghuninya. Lantunan ayat-ayat al-Quran juga dapat menjadi penyejuk kalbu seluruh keluarga, demkian pula percikan kasih sayang diantara penghunnya, akan dapat lebih memberikan ketenangan dan ketenteraman seluruh keluarga.

          Kita dapat membayangkan betapa nikmatnya, ketika kita hidup dalam lingkungan orang-orang yang taat menjalankan ibadah, berakhlak mulia, santun dalam bertindak dan saling menyayangi. Ketika datang shalat, semua keluarga menjalankannya secara bersama-sama, baik di rumah maupun di masjid atau mushalla.  Demikian juga ketika masing-masing akan menjalankan tugasnya, mereka selalu memohon doa restu kepada kedua orang tua, suami terhadap isteri dan  sebaliknya isteri terhadap suami.  Mereka suka berbagi cerita tentang pengalaman yang dialaminya, saling berkomunkasi untuk mendiskusikan sesuatu yang ringan hingga soal pelajaran anak-anak dan kebutuhan rekreasi bersama.  Sungguh merupakan keluarga  yang sangat menyenangkan, dan saya sangat yakin, manakala kita berada dalam suasana keluarga yang demikian, pasti akan kerasan tinggal dirumah, dan bahkan akan selalu merindukannya.

          Kita sering  mengucapkan tentang keluarga yang sakinan, mawaddah dan rahmah, tetapi sering kali juga kita tidak tahu maksud yang sesungguhnya dari pernyataan tersebut. Bahkan adakalanya seseorang selalu akrab dengan pernyataan tersebut, tetapi kenyataannya justru keluarganya  bertolak belakang dengan pernyataann tersebut.

          Keluarga sakinah ialah keluarga yang tenang dalam arti tidak ada masalah yang selalu melilitnya, karena seluruh penghuninya berperilaku kasih dan sayang terhadap sesamanya, saling percaya diantara mereka, tidak berburuk sangka, dan selalu dapat mengerti perasaan asing-masing, serta saling terbuka diantara mereka sehingga kalaupun ada persoalan, maka dengan cepat dapat diatasi dan tidak malah dipelihara, yang akhirnya akan menjadi besar dan mengganggu ketenangan.  Jadi keluarga sakinah itu harus didukung oleh kondisi yang memungkinkan untuk hidup secara damai dan tenang dalam suasana apapun, dan itulah yang memang kita cari dan usahakan.

          Sementara itu mawaddah ialah kasih dan sayang.  Artinya bahwa keluarga yang mawaddah itu  merupakan kondisi dimana seluruh anggota dan penghuni rumah mengerti hak dan kewajibannya, baik sebagai suami, sebagai isteri, sebagai anak, dan lain sebagainya.  Dengan kesadaran yang penuh, disertai dengan keikhlasan dalam setiap menjalankan tugas, akan menumbuhkan kecintaan terhadap pekerjaan yang kita lakukan.  Dan dari situlah akan timbul saling menghargai diantara mereka, bahkan semua penghuni rumah tersebut akan dapat mengerti dan menghargai pembantunya, dan akibatnya mereka tidak akan mengeksplotasi  dan memeras tenaga pembantu tersebut.  Sebaliknya mereka akan selalu memperlakukan pembantu dengan baik dan sayang.  Itu sesungguhnya makna dari kasih sayang yang benar, yakni saling menhargai dan mengerti tugas masing-masing dengan tanpa intervensi yang berlebihan.

          Sedangkan rahmah, meskiun juga berarti kasih sayang, namun maknanya jauh lebih mulia dari hanya sekedar mawaddah.  Artinya bahwa rahmah itu merupakan kata kunci untuk menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga.  Kalau mawaddah itu kasih sayang  yang disebabkan saling pengertian dan saling mendapatkan keuntungan, tetapi kalau rahmah itu merupakan kondisi dimana seseorang itu  akan tetap menyayangi meskipun salah satu pihak secara lahir sudah tidak lagi menyayanginya.  Di sini dibutuhkan pengorbanan dan keikhlasan yang tinggi, dan tetap akan mengingat kebaikan sedikit apapun yang pernah dicurahkan kepadanya.  Kalau dibaratkan  suami isteri, maka rahmah itu merupakan keikhlasan seorang suami atau isteri misalnya terhadap mereka sendiri atau keluarganya, walaupun ada persoalan diantara mereka, misalnya salah satu pihak menjadi cacat karena sebuah kecelakaan atau lainnya yang menyebabkan salah satu pihak harus berkorban untuk kondisi tersebut.

          Nah rahmah itu letakya di sini, yaitu masing masing pihak masih tetap menyayangi dan mengasihi seperti ketika mereka belum mendapatkan masalah tersebut.  Artinya pengendalian diri dan tidak mementingkan kebutuhan dirinya sendiri, tetapi  justru malah  dapat mengerti perasaan pihak lain itulah yang menjadi titik penting dalam membahasakan rahmah tersebut.

          Dengan demikian kalau keluarga itu dipenuhi dengan sakinah, mawaddah dan rahmah, itulah surga yang sangat kita rindukan.  Kiranya itulah yang dimaksudkan oleh Nabi bahwa rumaku adalah surgaku.  Karena kalau kita hidup dalam lingkungan dan suasana yang demikian, dapat dipastikan kita akan  merasa sangat damai dan nyaman, sekalipun  ada badai besar yang akan dapat meruntuhkan bangunan rumah tangga tersebut.  Tetapi sekali lagi dengan kekuatan  kasih sayang yang demikian kokoh, tentu badai tersebut akan lewat begitu saja dan sama sekali idak berpengaruh terhadap suasana keluarga tersebut.

          Akhirnya kita berdoa semoga Allah SWT senantiasa memberikan  kekuatan dan pertolongan kepada kita untuk  dapat mewujudkan rumah tangga kita  sebagai surga  seprti yang diungkapkan oleh Nabi tersebut.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.