BAHAYA RADIKALISME

Akhir-akhir ini kita memang sedaang digegerkan  persoalan NII yang dulunya digagas dan dilaksanakan oleh Kartoswiryo.  Ada ada saja beritanya, mulai dari pencucian otak sampai ponpes Azzaitun.  Pro kontra terus  berjalan, dan berbagai dugaan dan tudingan juga saling mengalir begitu derasnya, seolah tidak akan ada habis dan hentinya.  Tetapi yang justru mengherankan ialah kenapa hanya sebatas wacana dan tidak ada penyelesaian yang tampak serius.

          Beberapa universitas sudah menjadi “korban” masalah ini, dan beberapa antisipasi yang mungkin dapat dikatakan “berlebihan” juga telah dilakukan oleh berbagai instansi, bahkan kementerian agama sendiri berencana untuk mengadakan kegiatan yang tujuannya juga dalam upaya mengantisipasi munculnya radikalisme dan NII secara khusus.  Entoh demikian sepertinya berita ini akan tetap berlanjut, karena hampir tidak ada gerakan yang serius untuk melakukan upaya-upaya penghentiannya.

          Memang ada beberapa kuli tinta yang sengaja memancing beberapa pertanyaan seputar NII tersebut, semisal apakah tidak diperlukan sesegera mungkin merombak kurikulum di PTAI sehingga akan menjauhkan faham radikal tersebut muncul di PTAI.  Menurut saya  sangat tidak berdasar kalau misalnya kita kemudian terpengaruh untuk merombak kurikulum.  Persoalan kurikulum, memang harus selalu di update secara terus menerus disesuaikan dengan tuntutan pasar, namun  sehubungan dengan munculnya NII tersebut, tidak perlu ada perubahan kurikulum.  Mengapa?  Jawabannya sangat jelas bahwa  kurikulum kita dan semua PTAI jelas-jelas tidak ada satupun yang mengarahkan pemikiran keras yang cenderung radikal.

          Justru keseluruhan kurikulum PTAI didesain untuk melahirkan pemikir kritis dan moderat,  serta sama sekali sangat jauh dari radikalisme.  Kalau seandainya ada satu dua mahasiswa PTAI yang kebetulan menganut aliran keras menjurus kearah radikalisme, itu bukan dari hasil penyerapan kurikulum kita.  Sebab kalau kurikulum kita didisain untuk menghasilkan yang seperti itu, maka yang menjadi radikal tentu akan sangat banyak dan mayoritas,  tepai buktinya tidak.

          Untuk itu sekali lagi kita tidak perlu khawatir terhadap mahasiswa kita apalagi sampai harus mengubah kurikulum, namun demikian memang kita harus waspada dan terus menerus melakukan pembinaan dan pengawasan, sehingga mereka nantinya tidak terseret kepada arus yang salah dan menjurus kepada kekerasan dan radikal.  Kita  menyadari bahwa pengaruh seperti itu akan selalu ada dan ditawarkan kepada siapa saja, tidak terkecuali kepada para mahasiswa, tetapi kalau mahasiswa  cukup kuat pegangan akidah dan syariatnya, tentu tidak akan mempan untuk dipengaruhi.

          Memang dalam sejarah Islam kita mengenal berbagai kelompok yang masing-masing mengklaim sebagai kelompok yang paling benar, bahkan sebagian dari mereka untuk menguatkan argumentasi, mereka harus memalsukan hadis, sebagaimana yang tercatat dalam sejarah.  Tetapi memang ada juga kelompok yang tidak pernah tercatat sebagai pemalsu hadis, tetapi mereka sangat keras dan radikal.  Mereka meyakini bahwa pemahaman mereka itulah yang paling benar.  Akibatnya selain pemehaman mereka dianggap salah.

          Dalam keadaan demikian mereka kemudian sampai menganggap kafir terhadap sesama muslim yang berbeda pandangan dengan mereka, dan akibat lebih jauhnya, mereka menghalalkan membunuh orang yang beda tersebut, karena dianggap kafir.  Kasus ini  menimpa sahabat Ali bin Abi Thalib yang bersamaa dengan Muawiyah bin Abi Sufyan dianggap telah keluar dari Islam, disebabkan mengadakan tahkim pada saat perang shiffin.  Karena itu mereka  merencanakan membunuh keduanya,  tetapi yang berhasil hanya terhadap Ali dan Muawiyah selamat.  Itulah kelompok yang dahulunya memihak kepada Ali dan kemudian keluar dan dinamakan dengan kelompok Khawarij.

          Meskipun kelompok radikal Khawarij tersebut telah begitu lama, namun watak dan bentuk yang sesungguhnya dari kelompok keras tersebut selalu muncul di mana saja, tak terkecuali di Indonesia. Kelompok ini cenderung keras dalam pendirian dan radial.  Kalau sudah memutuskan sesuatu kemudian sesuatu tersebut menjadi keyakinannya, maka hal tersebut akan diperjuangkannya sampai dapat, meskipun harus melalui kekerasan, bahkan perang  atau harus meradang nyawa sekalipun.  Sikap yang mereka tunjukkan ialah konsisten dalam keyakinan dan tidak dapat menerima perbedaan pemahaman dalam agama.

          Sesungguhnya sikap konsisten dan keyakinan yang sangat kuat merupakan modal yang sangat berharga bagi pengembangan suatu masyarakat, namun kalau kemudian dibarengi juga dengan menyalahkan pihak lain yang tidak sepaham dengan dia, maka hal itu merupakan awal dari sebuah permusuhan dan ketidaknyamanan dan ketidak-damaian.  Bagaimana mungkin prinsip kebenaran yang mutlak yang timbul dari pemahamannya sendiri dan menganggap pemahaman pihak lain salah, akan dapat berjalan bareng dan bergandeng tangan?, jelas tidak akan mungkin, justru yang akan terjadi ialah sebaliknya, akan selalu curiga dan bahkan permusuhan. Apalagi kalau  dalam persoalan agama, yang kemudian menganggap pemahaman pihak lain dianggap sesat dan digolongkan sebagai orang yang telah keluar dari agama, yang karena itu mereka merasa wajib membinasakannya.

          Kalau keyakinan semacam ini terus dipelihara, dan semakin  hari semakin kuat dan mengakar sedemikian rupa, maka tidak mustakhil mereka  akan sanggup membunuh orang lain tersebut dengan cara apapun, termasuk bunuh diri bersama dengan mereka yang akan dibunuhnya, karena dia menganggap membunuh pihak yang keluar dari agama, menurut mereka, adalah merupakan tugas suci agama, dan dia sangat yakin akan mendapatkan penghargaan dan surga.

          Menurut saya sikap dan kepercayaan yang demikian merupakan keyakinan konyol dan sama sekali tidak ada dasarnya, baik di dalam al-Quran maupun dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW.  Justru kalau kita mau berpedoman kepada kedua sumber utama Islam tersebut, yang akan kita dapatkan ialah sealiknya, yakni  keduanya sangat menganjurkan untuk hidup rukun, saling menghormati antara sesama makhluk Tuhan, meskipun berbeda keyakinan, memelihara persaudaraan, tdak saling  bermusuhan apalagi membunuh,  melakukan transaksi dengan cara yang baik, saling membantu, dan perbuatan positif lainnya.  Dan sama sekali tidak ada  yang memerintahkan untuk membunuh atau menyakiti pihak lain tanpa hak atau perintah lainnya yang bersifat negatif.

          Lantas bagaimana mereka dapat menyimpulkan seperti  keyakinan yang mereka pegang?.  Inilah yang menjadi tugas kita untuk memberikan pencerahan kepada umat, agar mereka tidak mudah terprovokasi dengan propaganda mereka dengan mengatas namakan kesucian agama.  Bagaimana mungkin agama memerintahkan membunuh sesama? Atau bagaimana mungkin  agama mengajak kepada perilaku keras dan kasar terhadap sesama, padahal Nabi sendiri telah memberikan contoh bagaimana kasih sayang yang beliau tunjukkan kepada semua umat, bahkan sampai kepada mereka yang membenci beliau.

          Pada akhirnya dengan melihat kenyataan tersebut, kita memang harus waspada dan menjaga keluarga dan lingkungan kita dari pengaruh negatif  seperti itu. Kekerasan dan sikap radikal merupakan pangkal  munculnya ketidak harmonisan dan pertikaian di masyarakat.  Biasanya orang yang radikal  cenderung tidak toleran dan selalu ingin menang sendiri dan mudah marah dan emosi, sehingga tidak ada sedikitpun yang tersisa darinya dirinya sifat kasih sayang terhadap sesama.

          Tetapi kewaspadaan harus terus kita lakukan, karena kelompok seperti yang saya gambarkan di atas dapat melakukan upaya-upaya  meyakinkan kepada orang dengan berbagai iming-iming dapat dapat menggiurkan, terutama bagi mereka yang belum kuat imannya dan sedang mencari identitas, lebih-lebih   bagi mereka  yang sedang merasa kecewa dengan keadaan di sekitar.

          Sementara itu di kampus-kampus, tidak terkecuali kampus di PTAI harus diakui masih ada sebagian mahasiswa yang dalam kondisi yang memungkinkan dimasuki dan dipengaruhi aliran atau kelompok  yang saat ini menjadi perhatian bangsa ini.  Untuk   itu sekalilagi kita berharap kepada seua pihak untuk terus mewaspadai  munculnya kelompok radikal dan keras tersebut di sekitar kita.  Ada beberapa hal yang barangkali dapat dilakukan sebagai upaya preventif mencega munculnya aliran tersebut, antara lain dengan pembinaan secara berjenjang melalui unit-unit terkait dan berkesimbungan, mendeteksi secara dini gejala yang mengarah kepada radikalisme dan mencarikan solusi yang terbaik dan juga himbauan moral secara terus menerus kepada seluruh keluarga beasar kampus.

          Saya sangat yakin bahwa dengan upaya-upaya nyata semacam itu,kemunculan kelompok  tersebut akan tidak mendapatkan tempat di lingkungan kita, terutama di kampus kita yang sangat kita cintai bersama.  Dan akhirnya kita tetap harus memohon kepada Tuhan agar senantiasa memberikan kekuatan kepada kita untuk menyelamatkan  generasi muda dan mahasiswa kita dari segala hal yang dapat merugikan dan menyuramkan masa depan mereka.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.