PENGENDALIAN DIRI

Hari-hari ini di IAIN Walisongo Semarang sedang terjadi proses suksesi kepemimpinan ditingkat rektorat.  Artinya bahwa IAIN Walisongo saat ini sedang punya gawe besar, yang akan menentukan masa depan institusi ini kedepan.  Memang tidak seperti biasanya, dimana setiap ada suksesi kepemimpinan, baik ditingkat fakultas, lebih-lebih ditingkat institute, selalu saja riuh dengan dinamika "politik" ala kampus, dan bahkan terkadang malah terbawa kepada suasana politik praktis, seperti yang terjadi di luar kampus.

          Kita memang  menginginkan bahwa suksesi kepemimpinan yang ada di lembaga pendidikan, terutama IAIN Walisongo Semarang, dapat berjalan secara damai, tenang dan kondusif, sehingga tidak akan menimbulkan ekses yang berkepanjangan, yang hanya akan menyebabkan terhambatnya  perkembangan institusi tersebut.  Kita menginginkan bahwa kalau suksesi dapat berjalan dengan damai dan aman, maka setelah selesai suksesi, semuanya akan bersama-sama bergandeng tangan untuk menatap masa depan yang harus diraih bersama.

          Untuk itu, saya  sebagai salah satu kandidat calon rector untuk masa jabatan 2011-2015 akan mencoba menciptakan sejarah di institusi ini, bahwa kita sesungguhnya bisa melaksanakan suksesi dengan damai, aman, dan kondusif.  Kondisi pasca suksesipun  akan dapat diciptakan sedemikian rupa, karena jabatan rector  atau apapun lainnya hanyalah merupakan sebuah amanah, sehingga tidak perlu terlalu diperebutkan sedemikian rupa sehingga sampai mengorbankan berbagai hal yang seharusnya tetap dipertahankan.

          Kebersamaan merupakan syarat mutlak untuk sebuah kemajuan, karena itu kebersamaan seluruh keluarga besar IAIN Walisongo mutlak diusahakan.  Seluruh  komponen kampus, baik para pimpinan, para dosen dan karyawan harus  bersama-sama bekerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing, tanpa harus mempertanyakan tugas dan tanggung jawab pihak lainnya.

          Melihat pemaparan visi dan misi serta program para kandidat calon rector yang telah dilaksanakan kemarin, tentu kita semua menjadi sangat lega, karena ternyata komitmen ketiga calon rector yang ada semuanya sepakat untuk melakukan pembenahan di beberapa sector yang saat ini dianggap kurang.  Suasana pemaparan visi misi pun juga berjalan dengan sportif dan bahkan dinilai oleh salah seorang panelis Prof Eko Budiarto sebagai pelaksanakan pilrek yang cukup kondusif dan damai serta  menyejukkan.

          Memang proses pelaksanaan pilrek belum selesai, karena pemilihannya sendiri baru  akan dilaksanakan siang hari ini.  Untuk semua pihak harus dapat bersabar dan bisa mengendalikan diri, baik yang berkaitan dengan keinginan-keinginan tertentu maupun karena dorongan lainnya.  Yang terpenting ialah semua pihak menyadari bahwa suksesi seperti saat ini hanyalah merupakan sebuah proses alami yang mesti akan dialami setiap empat tahun sekali.  Dan yang terpenting ialah semua pihak tidak memaksakan kehendaknya untuk suatu tujuan tertentu, melainkan semuanya harus lebih mementingkan kepentingan lembaga dan institusi secara umum.

          Kita semua berharap agar kita  memegang teguh kepada aturan yang berlaku, sehingga semuanya akan selamat dan keinginan untuk memajukan dan mengembangkan IAIN kedepan bahkan dalam upaya transformasi IAIN ke UIN akan cepat terlaksana.  Tetapi kalau semua pihak tidak menyadari kerja besar lembaga kita kedepan tersebut dan hanya memikirkan kepentingan sesaat, walaupun harus melanggar aturan misalnya, maka itulah awal dari mandeknya kreatifitas dan hanya akan mejadi penghambat dari keseluruhan mimpi kita untukmaju dan berkembang.

          Momentum pergantian kepemimpinan di lembaga pendidikan, termasuk IAIN Walisongo Semarang yang empat tahunan, seharusnya menjadi sesuatu yang dapat memberikan pendidikan kepada seluruh masyarakat, bahwa  bersaing itu merupakan hal yang sehat, tetapi tetap dalam koridor hukum dan sepakat untuk menciptakan kondisi damai dan kondusif, merupakan sebuah kondisi yang harus  dijadikan tujuan dari semua pihak.  Jangan sampai hanya karena sebuah amanah, justru malah terjadi permusuhan dan bahkan konflik yang berkepanjangan.

          Sesunggunya secara jujur saya harus mengatakan bahwa sebagai pimpinan IAIN Walisongo Semarang, saya merasa sangat senang karena sampai saat ini, suksesi kepemimpinan yang masih dalam proses menuju finis masih berjalan sebagaimana dikehendaki semua pihak, yakni berlangsung aman, tenteram dan sejuk.  Hanya saja sedikit rasa khawatir memang ada di benak sebagaian diantara kita, mengingat persoalan mahasiswa yang ingin dilibatkan dan dimasukkan  dalam keanggotaan senat, dan dapat ikut memilih calon rekotr.

Sebenarnya  secara substansial, untuk kondisi di kampus kita sangat mungkin untuk dapat diakomodasi, tetapi kjarena komposisi keanggotaan senat telah ditetapkan oleh menteri, maka secara aturannya tidak memungkinkan.  Nah, sebagai seorang pimpinan, saya selalu tekankan sebagai komitmen saya, bahwa  selama aturan perundangan memungkinkan, maka sama sekali tidak ada alasan untuk keberatan, namun manakala sebuah ketentuan melanggar aturan, maka prinsip yang tidak dapat digugat ialah kami akan selalu menjalankan  apapun sesuai aturan  main yang ada.

Namun setelah dijelaskan tentang peraturan dan komitmen kita untuk terus menegakkan peraturan, maka tujuan sesungguhnya dari keinginan mahasiswa ialah keterlibatan mereka dalam pengambilan keputusan penting, terutama yang menyangkut persoalan kemahasiwaan.  Memang untuk hal-hal yang berkaitan dengan persoalan kemahasiswaan aspirasi mahasiswa perlu ditampung dan diperhatikan, sepanjang  bermanfaat banyak bagi perkembangan mahasiswa itu sendiri dan tentu sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan yang ada.

Selama ini sesungguhnya keinginan mereka itu telah terwadahi dengan adanya beberapa  saluran, misalnya  adanya pembantu dekan bidang kemahasiswaan, dan juga pembantu rektor dalam bidang kemahasiswaan, serta unit unit yang memang dibentuk untuk menyalurkan aspirasi mereka.  Cuma persoalannya barangkali   mekanisme yang ada belum berjalan dengan maksimal.  Kalau persoalannya demikian, maka ya tinggal memaksimalkan saluran yang ada tersebut, disamping barangkali dicari format lain yang lebih dapat memungkinkan terslaurkannya aspirasi mahasiswa.

Dalam persoalan ini saya sepakat kalau seluruh aspirasi keluarga besar IAIN Walisongo Semarang, akan dapat sampai dan dipertimbangkan dalam pengambilan kebijakan ditingkat pimpinan sesuai dengn porsi dan persoalannya, baik pimpinan fakultas, maupun pimpinan institut.  Tetapi sekali lagi kita harus tetap komit untuk mempertahankan jalur yang benar melalui pelaksanakan aturan yang telah ditetapkan.

Untuk itulah saya dan seluruh warga besar IAIN Walisongo tentunya sepakat bahwa untuk dapat melangkah dengan tegap dan mantap serta maju dan berkembang, kita harus berjalan sesuai aturan yang berlaku.  Kita yakin selama kita berada dalam koridor peraturan yang berlaku, maka apapun hambatannya, akan dapat kita atasi dengan baik.

Ke depan masih banyak persoalan besar yang harus dipikirkan dan diselesaiakan bersama, seperti konversi IAIN ke UIN yang masih membutuhkan perjuangan dan keseriusan kita semua, baik menyangkut perijina pembukaan program-program studi baru maupun dalam hal substansinya, yakni alih kelembagaan, yang harus berhubungan dengan berbagai instansi terkait, semisal kementerian PAN, kementerian keuangan, setneg dan lainnya.

Untuk itu sekali lagi kita harus lebih mementingkan kepentingan menyeluruh kelembagaan kita ketimbang memikirkan persoalan pribadi dan kelompok yang hanya akan merugikan lembaga kita secara keseluruhan.  Artinya semua pihak harus menyadari kepentingan yang lebih luas ketimbang kepentingan sesaat dan hanya untuk beberapa  pihak saja.

Akhirnya kita semua  berdoa kepada Tuhan agar kita senentiasa dijauhkan dari perselisihan yang hanya akan menyebabkan kemunduran, dan pada saat yang sama kita selalu diberikan taufiq, hidayah, dan inayah-Nya, sehingga kita akan dapat melkasanakan tugas dengan baik dan sukses, demi kejayaan lembaga kita dan tentu saja demi kebesaran Islam itu sendiri.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.