VISI DAN MISI CALON REKTOR IAIN/UIN WALISONGO 2011-2015

Pendahuluan

          Pemahaman baru bahwa al-Qur’an menjadi sumber inspirasional dan etik bukan saja bagi pengembangan ilmu-ilmu keislaman tetapi juga ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) tak pelak lagi melahirkan kesadaran kolektif di kalangan sivitas akademika IAIN Walisongo untuk melakukan integrasi dan interkoneksi dua disiplin ilmu tersebut. Integrasi dan interkoneksi dua disiplin ilmu yang selama ini terbedakan secara dikotomis tersebut digambarkan dalam paradigma keilmuan berlian (scientific diamond) yang memiliki karakteristik: Pertama, non-dikotomik, artinya tidak ada pemisahan secara diametral antara agama dan ilmu pengetahuan, melainkan saling berhubungan yang semuanya diinspirasi oleh al-Qur’an. Kedua, integrasi dan interkoneksi bukanlah humanisasi ilmu keislaman semata yang cenderung anthroposentris dan juga bukan Islamisasi ilmu pengetahuan yang cenderung theosentris, melainkan gabungan dari keduanya yang bercorak theo-anthroposentris.

          Kesadaran kolektif di kalangan sivitas akademika IAIN Walisongo untuk melakukan integrasi dan interkoneksi dua disiplin ilmu bercorak theo-anthroposentris inilah yang telah memunculkan kesadaran akan pentingnya transformasi IAIN Walisongo menjadi UIN Walisongo, disamping adanya tuntutan perkembangan riil dari lingkungan eksternal dan para pemangku kepentingan (stakeholders) IAIN Walisongo yang perlu segera direspon secara strategis, salah satunya yang mendasar adalah transformasi institutional tersebut.

Transformasi IAIN Walisongo menjadi UIN Walisongo tersebut memerlukan pengawalan dan perhatian secara serius dari seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) IAIN Walisongo, baik unsur pimpinan institut dan fakultas, para dosen, tenaga administrasi, para mahasiswa, alumni, tokoh masyarakat dan pihak-pihak lain yang selama ini secara langsung atau tidak langsung memberikan support. Transformasi IAIN Walisongo ke UIN Walisongo dalam bentuknya sangat ideal tidak akan mungkin terealisir kecuali dengan mengoptimalkan peran seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) IAIN Walisongo yang dikawal oleh managemen lembaga yang terbuka, kuat dan solid. Kata kuncinya adalah kebersamaan, di mana seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) secara bersama-sama melibatkan diri dan mengambil peran   sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya secara profesional dan bertanggung jawab demi terwujudnya UIN Walisongo yang paling ideal.           

 

Visi

Menjadikan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo sebagai kiblat pengembangan studi Islam dan Ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemanusiaan.

 

Misi

  1. Menyelenggarakan pendidikan tinggi yang profesional dengan memperhatikan aspek pemerataan dan perluasan akses bagi masyarakat
  2. Menyelenggarakan kegiatan penelitian untuk pengembangan ilmu atau teori (building theory) dan terapan (applied research) yang bermanfaat bagi pengambilan kebijakan dan masyarakat
  3. Menyelenggarakan kegiatan pengabdian pada masyarakat yang kreatif dan inovatif
  4. Mengembangkan jaringan kerja sama (network) dengan pihak luar untuk peningkatan kapasitas dan daya saing institusi

 

Tujuan

  1. Menghasilkan lulusan yang professional dan kompeten dalam studi Islam dan Iptek yang mampu bersaing pada level global.
  2. Mengembangkan kajian ilmu keislaman dan Iptek serta terapannya untuk  peradaban dan kemanusiaan
  3. Meningkatkan peran dalam membantu pemerintah dan masyarakat melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat
  4. Mengembangkan inisasi kerja sama dan jejaring dengan pihak lain baik dalam maupun luar negeri

 

Isu-isu Strategis (Strategic Issues)

a.       Keinginan sivitas akademika Institut Agama Islam Negeri (IAIN)  Walisongo untuk melakukan transformasi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo meniscayakan adanya upaya-upaya penataan organisasi dan peningkatan kapasitas sivitas akademika secara serius karena menyangkut pembukaan fakultas-fakultas  dan program-program studi yang baru

b.      Rencana bantuan sebesar USD 35.340.000,00 (tiga puluh lima juta tiga ratus empat puluh ribu dollar Amerika) dari Islamic Development Bank (IDB) untuk IAIN Walisongo pada durasi proyek 2012-2015 memerlukan pengawalan dan perhatian serius karena bantuan IDB yang tinggal menunggu proses appraisal tersebut merupakan instrumen penting merealisasikan gagasan dan usaha transformasi IAIN Walisongo menjadi UIN Walisongo, mengingat keberhasilan transformasi tersebut sangat ditentukan oleh sejauh mana institusi ini berhasil mengimplementasikan trilogi pengembangan. Implementasi trilogi tersebut membutuhkan biaya besar  yang tidak mungkin diperoleh melalui anggaran rutin APBN. Di sinilah anggaran IDB menjadi sangat strategis untuk mensupport implementasi trilogi pengembangan tersebut yang meliputi:

1.       Pembangunan fisik kampus yang berupa pembangunan gedung kantor dan kelas untuk perkuliahan, laboratorium, laboratorium agama (masjid), pusat bahasa, pusat teknologi informasi dan komunikasi (Information and Communication Technology (ICT) Center), planetarium, pusat kegiatan mahasiswa (student center), training center, theatre class, balairung (hall),  perpustakaan pusat (central library)

2.     Peningkatan kapasitas sivitas akademika dengan mengirimkan mereka ke luar negeri untuk mengikuti post-doctoral research bagi para guru besar, studi S-2/S-3, short-course dan program pertukaran bagi para dosen, training untuk para pejabat institut dan fakultas, para ketua program studi, tenaga administrasi, pustakawan dan laboran.

3.     Perumusan visi lembaga dan perumusan kurikulum baik untuk program-program studi yang telah ada maupun yang baru dibuka yang diperlukan untuk memperjelas arah dan mempercepat pencapaian visi lembaga.    

c.       Menjamurnya perguruan tinggi, baik PTAIN/PTAIS maupun PTUN/PTUS di sekitar IAIN Walisongo, akan mengurangi tingkat animo calon mahasiswa yang mendaftar. Ketidakmampuan meningkatkan daya saing dan keunggulan komparatif-kompetitif akan mengakibatkan IAIN/UIN Walisongo perlahan-lahan mati tergerus perguruan tinggi lainnya.

d.       Perubahan status IAIN Walisongo menjadi PPK Badan Layanan Umum (BLU), memungkinkan IAIN/UIN Walisongo memiliki kemandirian dalam pengelolaan anggaran DIPA PNBP dan memiliki kesempatan mengembangkan sayap bisnis dalam kerangka enterprising goverment. Hal ini membutuhkan terobosan-terobosan kreatif dan inovatif agar status tersebut bisa dimanfaatkan secara signifikan untuk lompatan kemajuan IAIN Walisongo. Perubahan tersebut menuntut tidak saja perubahan struktur tetapi juga perubahan mindset dan kultur birokrasi dan manajemen IAIN. Terlebih dengan dikabulkannya uji materiil (judicial review) UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU No. 9 Tahun 2009 Tentang Badan Hukum Pendidikan (BHP) yang berarti pembatalan status Badan Hukum Milik Negara (BHMN) untuk lembaga-lembaga pendidikan, maka IAIN Walisongo semakin mantap dalam statusnya sebagai SATKER BLU.

 

Analisis SWOT

          Dalam upaya merumuskan program unggulan dan kebijakan-kebijakan strategis, analisis SWOT merupakan sebuah keniscayaan. Analisis tersebut dilakukan dengan mengidentifikasi kekuatan (strengths), kekurangan (weaknesses), kesempatan (opportunities) dan ancaman (threats) yang ada secara komprehensif.

          Secara umum, kekuatan-kekuatan (strengths) yang dimiliki oleh IAIN Walisongo adalah sebagai berikut:

1.       Letak geografis kampus IAIN Walisongo yang sangat strategis di ibukota propinsi Jawa Tengah sehingga memudahkan untuk menjangkau fasilitas-fasilitas publik

2.     Memiliki area pertanahan yang mencukupi untuk pembangunan sarana prasarana yang diperlukan

3.     Memiliki jumlah dosen dan tenaga administrasi yang bisa dikembangkan untuk penguatan program studi yang sudah ada dan pembukaan program-program studi yang baru

4.     Sebagian besar dosen berpendidikan S-2 dan S-3 berusia muda dan potensial

5.     Memadainya sarana dan prasarana peningkatan kemampuan bahasa asing dan teknologi informasi

6.     Adanya jaringan kerjasama yang telah terbangun antara IAIN Walisongo dengan pihak lain baik dalam maupun luar negeri.

7.     Tersedianya media jurnal akademik bagi para dosen dan mahasiswa

8.     Tersedianya sarana perpustakaan baik pada tingkat fakultas maupun institut

9.     Tersedianya dana beasiswa dari berbagai institusi bagi dosen dan mahasiswa

 

Sedangkan kekurangan-kekurangan (weaknesses) yang dimiliki oleh IAIN Walisongo adalah sebagai berikut:

  1. Belum lengkapnya sarana prasarana yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan pendidikan
  2. Kurangnya tingkat keragaman kompetensi dosen, di mana pada satu bidang mengalami penumpukan dan bidang yang lain mengalami kekurangan
  3. Kurangnya kapasitas dosen dalam penguasaan bahasa bahasa asing dan teknologi informasi
  4. Rendahnya etos kerja dosen, tenaga administrasi dan mahasiswa yang mengakibatkan proses pembelajaran tidak berjalan secara maksimal
  5. Rendahnya tradisi intelektual di kalangan dosen dan mahasiswa yang berimplikasi pada minimnya karya-karya ilmiah yang bermutu tinggi  
  6. Masih belum optimalnya implementasi Standard Operating Procedure (SOP) dan Standard Pelayanan Minimum (SPM) sesuai tuntutan BLU.
  7. Pembelajaran masih berorientasi ruang kelas sentris

 

Sedangkan kesempatan-kesempatan (opportunities) yang dimiliki oleh IAIN Walisongo adalah sebagai berikut:

  1. Kesempatan untuk memperoleh bantuan Islamic Development Bank (IDB) untuk pembangunan fisik dan non-fisik
  2. “Lampu hijau” dari Kementerian Agama yang diberikan pada IAIN Walisongo untuk melakukan transformasi menjadi UIN
  3. Tawaran kerja sama dari berbagai pihak luar untuk peningkatan kapasitas lembaga dan peningkatan kesejahteraan sivitas akademika
  4. Kebijakan resource sharing antar perguruan tinggi negeri memungkinkan kekurangan SDM dan fasilitas pendidikan (terutama prodi atau fakultas baru yang akan dibuka dalam kerangka transformasi menjadi UIN Walisongo) dapat terpenuhi
  5. Terbukanya kemungkinan bagi perguruan tinggi untuk pengelolaan keuangan secara mandiri

 

Sedangkan ancaman-ancaman (threats) yang dihadapi oleh IAIN Walisongo adalah sebagai berikut:

  1. Menjamurnya perguruan tinggi, baik PTAIN/PTAIS maupun PTUN/PTUS di sekitar IAIN Walisongo, yang akan mengurangi tingkat animo calon mahasiswa yang mendaftar
  2. Ketatnya kompetisi lapangan pekerjaan bagi sarjana yang mengakibatkan masyarakat hanya akan melirik pada perguruan tinggi yang menjanjikan kemudahan kerja bagi lulusannya
  3. Menurunnya kualitas input mahasiswa IAIN Walisongo
  4. Berkembang pesatnya ideologi transnasional radikal berbasis agama

 

Program dan Kebijakan Strategis untuk Peningkatan Mutu Institut/Universitas

  1. Reformulasi visi, misi dan rencana strategis (renstra) universitas
  2. Reformulasi kurikulum program studi
    1. Reformulasi kurikulum program studi yang sudah ada
    2. Formulasi kurikulum program studi baru
  3. Penataan kembali organisasi kelembagaan
    1. Mengusahakan pembentukan struktur baru pimpinan IAIN Walisongo, yaitu Pembantu Rektor IV Bidang Kerjasama dan Alumni
    2. Mengusahakan pemekaran Biro menjadi dua, yaitu Biro Administrasi Umum dan Administrasi Akademik
    3. Pemangkasan mata rantai birokrasi yang terlalu panjang
  4. Pengembangan model pembelajaran jarak jauh (teledukasi)
    1. Penyiapan regulasi pembelajaran jarak jauh (teledukasi)
    2. Formulasi E-Learning
  5. Pengembangan sistem administrasi akademik, administrasi kepegawaian dan administrasi keuangan terpadu berbasis teknologi informasi
  6. Optimalisasi fungsi kehumasan (public relation)
    1. Penataan kembali website universitas dalam tiga bahasa: Indonesia, Arab dan Inggris
    2. Penterjemahan makalah-makalah terpilih dosen dalam bahasa asing dan uploading ke dalam website universitas
  7. Pengembangan standar mutu akademik
    1. Pengembangan format standar mutu akademik berkelanjutan
    2. Pengawasan standar mutu akademik melalui internal quality assurance

 

Program dan Kebijakan Strategis untuk Peningkatan Kualitas, Kreatifitas, Prestasi dan Akhlak Mulia Sivitas Akademika

1.   Peningkatan Kapasitas dan Kompetensi Sivitas Akademika

    1. Pengawalan program IDB untuk peningkatan kapasitas pimpinan, dosen, tenaga administrasi, pustakawan dan laboran di luar negeri: Visiting professors untuk para guru besar: 15 orang, Studi S-2/S-3 : 15 orang, Training Management IDB: 8 orang, Training Manajemen bagi Pejabat Rektorat dan Fakultas: 10 orang, Program Akselerasi Doktor: 20 0rang, Training pustakawan dan laboran 10 orang, Training Manajemen Pengembangan Prodi bagi Kaprodi: 30 orang, Training Management Administrasi Universitas: 5 orang, Pertukaran Dosen: 10 orang
    2. Pengawalan program IDB untuk peningkatan kapasitas pimpinan, dosen, tenaga administrasi, pustakawan dan laboran di dalam negeri
    3. Peningkatan kapasitas bahasa asing bagi dosen (Dana DIPA UIN)
    4. Peningkatan kapasitas teknologi informasi bagi dosen dan tenaga administrasi (Dana DIPA UIN)
  1. Peningkatan kualitas dan kuantitas penelitian untuk pengembangan ilmu dan terapan
    1. Penyelenggaraan training/workshop penelitian pada tingkat awal maupun lanjutan
    2. Peningkatan jumlah biaya dan satuan penelitian
  2. Peningkatan publikasi karya ilmiah dosen dan mahasiswa
    1. Workshop peningkatan mutu jurnal mahasiswa dan dosen
    2. Peningkatan biaya dan satuan penerbitan buku dosen
  3. Pengembangan metodologi pengajaran bahasa asing
    1. Workshop pengembangan metodologi pengajaran bahasa Arab
    2. Workshop pengembangan metodologi pengajaran bahasa Inggris
  4. Pengembangan jaringan kerjasama dengan pihak lain untuk peningkatan kapasitas dan kesejahteraan lembaga
  5. Pengupayaan paten dan hak atas karya intelektual (HaKI)
  6. Pengembangan minat, bakat dan seni

 

 

 

 

Program dan Kebijakan Strategis untuk Penciptaan Lingkungan dan Suasana Asri, Islami dan Ilmiah

  1. Perintisan pendirian pesantren tingkat tinggi (Ma’had ‘Aly) bagi mahasiswa baru UIN Walisongo
    1. Pengadaan gedung pesantren tingkat tinggi (Ma’had ‘Aly)
    2. Optimalisasi pengembangan bahasa asing di Ma’had ‘Aly
    3. Perintisan gerakan tahfidz al-Qur’an
    4. Penggalakan kajian turats
  2. Peningkatan aktifitas keagamaan para dosen, tenaga administrasi dan mahasiswa di lingkungan kampus
  3. Peningkatan aktifitas kajian-kajian ilmiah bagi para dosen dan mahasiswa di lingkungan kampus
  4. Peningkatan aktifitas praktek bahasa asing bagi para dosen
    1. Penyelenggaraan diskusi dalam bahasa asing bagi para dosen
    2. Penyelenggaraan Arabic and English Day bagi para dosen
  1. Penataan kampus hijau (the green campus) yang aman dan nyaman
    1. Penghijauan kembali (reforestasi) lingkungan kampus
    2. Pengadaan galery-galery belajar bersama
    3. Optimalisasi dan revitalisasi Satpam

 

Tentu program program pembinaan yang selama ini telah dilakukan, akan tetap dilanjutkan dengan berbagai inovasi.  Sekali lagi seluruh program tersebut akan dapat direalisasikan dengan baik, manakala seluruh komponen dalam institusi ini dapat bekerjasama untuk maju dan berkembang.

Demikianlah visi dan misi saya selaku calon rektor periode 2011-2015.

 

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.