HARDIKNAS SEPI SEPI SAJA

Tanggal 2 Mei telah disepakati sebagai hari Pendidikan Nasional bagi bangsa Indonesia.  Tentu sebagai sebuah bangsa, kita menjadi bangga karena urusan pendidikan mendapatkan perhatian dari seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintah,  dan salah satu perhatian tersebut ialah dengan menetapkan 2 Mei sebagai hardiknas.  Namun semenjak bergulirnya reformasi pada tahun 1988 yang lalu, gaung peringatan hari Pnedidikan Nasional tersebut semakin tidak terdengar, bahkan di lembaga-lembaga pendidikan itu sendiri.

          Hingga saat ini, setidaknya kita tidak lagi dapat menyaksikan  peringatan hardiknas tersebut seperti yang dapat kita saksikan pada masa lalu. Di lembaga pendidikan, termasuk di dalamnya perguruan tinggi seperti IAIN Walisongo Semarang juga tidak menyelenggarakan peringatan hari Pendidikan Nasional tersebut.  Seolah hardiknas tersebut hilang ditelan bumi dan tidak lagi sanggup muncul lagi.  Padahal reformasi bukannya menghilangkan berbagai aktifitas yang bernilai sejarah, melainkan seharusnya dapat menguri-uri warisan sejarah, apalagi hal tersebut merupakan sebuah kesepakatan nasional.

          Mungkin ada yang mempertanyakan apakah arti peringatan hari Pendidikan Nasional tersebut, yang terpenting ialah meningkatkan kualitas pendidikan itu sendiri.  Pernyataan tersebut tidak seluruhnya dapat dibenarkan, karena memperingati sebuah peristiwa, terutama yang ada kaitannya dengan sesuatu yang menjadi kebanggan, adalah merupakan suatu hal memang seharusnya dipelihara.  Hari Pendidikan Nasional, menururt saya  merupakan hari yang patut di peringati, khususnya oleh kalangan pendidikan, dengan harapan dan tujuan agar anak didik kita dapat menghargai para pahlawan pendidikan kita yang telah berjasa merintis dan memajukan pendidikan di tanah air.

          Kita semua tahu bahwa merintis pendidikan di tanah air pada saat itu tidak mudah, dan memerlukan perjuangan panjang dan tenaga serta biaya yang tidak sedikit.  Hanya ketulusan mereka lah rintisan mereka akhirnya dapat berkembang hingga sampai saat ini.  Artinya memberikan apresiasi terhadap perjuangan para pendahulu  dan pahlawan kita, terutama dalam dunia pendidikan, menjadi mutlak, agar para generasi muda kita mampu memberikan penghargaan dan sekaligus dapat mencontoh perilaku dan ketulusan serta keseriusan mereka.

          Tetapi kenyataannya saat ini hamper semua instansi dan juga lembaga pendidikan tidak lagi memperingati hari Pendidikan Nasional tersebut.  Boleh jadi kenapa mereka tidak melaksanakan peringatan tersebut mempunyai alasan yang dianggap kuat dan rasional.  Tetapi apapun alasan dan argumentasinya, alasan memperingati hardiknas jauh lebih kuat dan rasional.  Barangkali ada yang beralasan, kenapa hardiknas tidak lagi diperingati, bahwa untuk urusan peringatn seperti itu merupakan masa lalu, sedangkan masa kini dan masa depan harus lebih mementingkan substansi ketimbang acara peringatan dan ceremonial lainnya.  Atau barangkali juga ada yang beralasan bahwa karena tidak ada instruksi dari atas untuk mengadakan peringatan, maka kenapa kita capek-capek mengadakannya, dan alasan lainnya.

          Memang kalau melaksanakan sesuatu tidak atas dasar suatu keyakinan yang dipercaya  dan memberikan manfaat, dan hanya didasarkan kepada sebuah perintah semata, maka ketika pihak yang memberikan perintah itu lupa atau sudah tidak memerintahkannya lagi, maka  sesuatu tersebut juga akan tidak dilaksanakan.  Begitu juga dengan memperingati hardiknas misalnya, kalau pada saat dahulu memperingati hardiknas disebabkan oleh sebuah perintah, maka sangat wajar kalau saat ini ketika perintah tersebut tidak ada, kemudian memperingati hardiknas juga  ikut-ikutan sirna.

          Sebagaimana diketahui bahwa pada  zaman dahulu, semua instansi apalagi lembaga-lembaga pendidikan dari semua jenjang, selalu mengadakan peringatan hari yang spesial dalam dunia pendidikan di Indonesia, meskipun hanya sekedar mengadakan upacara bendera.  Bahkan tidak jarang pada waktu itu setiap hardiknas diadakan berbagai kegiatan, semacam lomba dan pertandingan dalam berbagai cabang olah raga dan seni, serta berbagai kegiatan lainnya.  Dengan aktifitas yang sedemikian marak dan ditunjang dengan berbagai kegiatan yang khusus berkenaan dengan hardiknas dan maknanya, menjadikan peserta didik menjadi sangat bangga dapat mempunyai tokoh seperti Ki Hajar Dewantoro.

          Pada saat itu semua orang, terutama yang berada di dalam lingkup lembaga pendidikan, dapat dipastikan mengenal tokoh Ki Hajar Dewantoro. Namun saat ini saya menjadi ragu, apakah para siswa di SD atau bahkan di SLTP dan seterusnya masih mengenal tokoh pendidikan tersebut.  Tetapi mudah-mudahan keraguan saya tersebut  salah dan di lingkup  pendidikan masih terus diperkenalkan para tokoh penting dalam pendidikan di Nusantara ini, bahkan termasuk para tokoh pendidikan di dunia.

          Memang bukan peringatannya yang menjadi substansi dari hardiknas ini, melainkan peringatan itu sendiri hanya sebagai sebuah sarana untuk mengingat segala hal yang berkaitan dengan pendidikan, baik para tokoh yang berjasa dalam merintis dan mengembangkan pendidikan, sampai pada betapa pentingnya pendidikan bagi setiap anak bangsa, khususnya dalam menyongsong masa depan.  Kita harus dapat meyakinkan kepada semua peserta didik bahwa hanya melalui pendidikanlah seseorang akan dapat meraih keinginananya di masa depan, karena tanpa pendidikan, seseorang akan bodoh dan tertinggal serta tidak mengetahui berbagai informasi penting dalam upaya peningkatan kesejahteraan hidup.

          Islam sendiri sesungguhnya sangat concern dengan persoalan pendidikan ini.  Kita tahu bahwa Nabi kita Muhammad SAW ketika pada awal mengajak dakwah kepada penduduk  Arab  selalu menekankan pentingnya pendidikan bagi mereka, terutama para generasi mudanya.  Bahkan kita dapat mengetahui  betapa pedulinya Nabi terhadap persoalan ini, ketika Nabi  membebaskan tahanan perang dengan syarat mereka mau mengajarkan baca tulis kepada para sahabat yang belum bisa baca tulis.  Seringkali Nabi juga memberikan motivasi  kepada umatnya untuk mencari ilmu dengan berbagai  keuntungan, termasuk jalan mudah memasuki pintu surga.

          Al-Quran sendiri juga sangat concern dengan masalah pendidikan ini, terbukti baik dengan cara perintah langsung maupun berupa contoh, ia  telah memberikan gambaran betapa pentingnya pendidikan.  Bahkan terkadang Tuhan memberikan pertanyaan yang pengertiannya mengarah kepada wajibnya mencari ilmu tersebut, seperti firman-Nya:"apakah sama antara mereka yang mengetahui dan  mereka yang tidak mengetahui?".  Tentu jawabannya sudah pasti tidak akan sama, sebab orang yang mengetahui dan mempunyai ilmu, ia akan bisa mempertimbangkan setiap persoalan yang ada dihadapannya dan bersikap bijak, sedangkan orang yang tidak tahu, pasti tidak akan dapat berbuat yang demikian, dan bahkan sebaliknya. Tuhan juga memberikan motivasi dan bahkan menjanjikan tempat dan derajat yang tinggi dan  berbeda dengan yang tidak mempunyai ilmu.

Demikian juga banyak hadis yang memberikan dorongan dan motivasi kepada umat untuk meningkatkan pengetahuannya.  Nabi SAW sangat mendorong umatnya menjadi umat yang pintar dan mengetahui berbagai persoalan sehingga akan dapat bertindak adil dan bermanfaat bagi sesama makhluk Tuhan.  Bahkan Nabi pernah mengatakan bahwa "barang siapa yang menempuh perjalanan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, maka Allah akan memudahkannya untuk mendapatkan jalan menuju surga".  Dan masih banyak lagi metivasi dan jaminan masa depan yang lebih baik bagi para penuntut ilmu dan orang-orang yang berilmu.

Bahkan beberapa ulama juga menganjurkan dan menekankan betapa pentingnya pendidikan bagi umat.  Dianara ereka bahkan ada yang menggambarkan bahwa "barang siapa yang menginginkan menguasai dunia maka syarat utamanya ialah penguasaan terhadap ilmu, dan siapapun yang menginginkan mendapatkan keberuntungan di akhirat, maka syarat utamanya juga dengan ilmu, dan karena itu kalau seseorang menginginkan meraih kebahagiaan di kedua tempat tersebut, maka otomatis ia harus menguasai ilmu".

Tentu tidak ada seorangpun yang menganggap bahwa pendidikan itu tidak penting, tetapi persoalannya kembali lagi kepada apakah kalau pendidikan itu penting, lalu memperingati moment-moment penting yang berkaitan dengan pendidikan itu sendiri juga penting?.  Menurut saya memperingati moment penting dalam dunia pendidikan tersebut dengan tujuan untuk mengingatkan  semua pihak akan pentingnya pendidikan, juga merupakan hal penting yang tidak boleh dilupakan dan dilewatkan. Sehingga moment hari Pendidikan Nasional yang telah diputuskan bangsa  ini perlu terus dilestarikan, bukan karena perintah, melainkan karena kesadaran dan ketulusan.

Namun kiranya sangat penting bahwa pemerintah, dalam hal ini kementerian Pendidikan Nasional, haus menjadi pendorong dan pemberi motivasi kepada anak-anak bangsa untuk peduli dengan pendidikan, termasuk megingat  dan memperingati hardiknas.  Jangan sampai pada saatnya nanti hardiknas menjadi tenggelam dan hilang sama sekali.  Kalau pada saat ini tampak sepi tanpa gairah, seakan tidak ada satu pihakpun yang mempedulikannya, tetapi kita berharap tahun-tahun mendatang akan lebih diperhatikan dan menjadi semarak kembali.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.