DEMO BURUH

Negara kita tercinta ini memang dapat dikatakan akrab atau bahkan identik dengan demo.  Hampir setiaphari di mana-mana terjadi demo atau unjuk rasa dengan tema yang bermacam-macam, bahkan ada demo yang didesain dengan membayar sejumlah orang untuk melakukan demo tersebut.  Jadi demo terkadang merupakan suatu pekerjaan rutin; siapa yang mau membayar, maka demo akan dilaksanakan, sehingga demo yang demikian tidak membawa aspirasi mereka sendiri, melainkan hanya untuk melaksanakan tugas sesuai dengan imbalan yang diberikan.

          Kemarin, demo buruh secara besar-besaran yang dialaksanakan di berbagai tempat di Indonesia.  Aspirasinya sama ialah menginginkan perbaikan nasib buruh yang selama ini menjadi obyek bagi para pemilik  perusahaan atau modal dan para cukong.  Ironisnya regulasi yang mengatur buruh yang seharusnya berpihak kepada buruh, karena regulasi tersebut disusun oleh para wakil rakyat,  ternya justru malah sebaliknya,yakni malah seakan semakin menambah deretan penderitaan para buruh secara terstruktur dan legal.

          Memang ada saja slentingan bahwa mana mungkin regulasi tentang  buruh berpihak kepada buruh, sama sekali tidak akan mungkin, karena yang membiayai pembuatan regulasi tersebut ialah para pengusaha dan orang berduit, meskipun sesungguhnya untuk pembuatan undang-undang telah disediakan dana yang cukup dari Negara melalui anggaran di dewan.  Dan bukankah para anggota dewan dibayar dan diberikan fasilitas yang sedemikian besar, dumaksudkan untuk melaksanakan tugas legislasinya.  Namun semua itu hanya sebuah teori, sebab pada kenyataannya, hamper seluruh peraturan peundangan yang dibahas dan dibuat oleh dewan, masih memerlukan energi tambahan.

          Kondisi seperti itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh mereka yang mempunyai kepentingan, seperti para pengusaha yang mempunyai kepentingan terhadap para buruh.  Akibatnya para wakil kita yang didewan tidak lagi dapat mendengarkan aspirasi buruh secara jernih, tetapi malah ikut memberikan argumentasi pembenaran terhadap keinginan para pengusaha tersebut.  Akibat lebih jauhnya, semenjak regulasi hasil racikan dewan tersebut dimunculkan, terus mendapatkan  kritikan dan  pertentangan dari banyak kalanagan, utamanya dari para buruh, yang merasa kepentingannya terkebiri, dan kebebasan dan hak-haknya menjadi terpangkas sedemikian rupa.

          Rupanya masih banyak orang, termasuk pemerintah, yang menganggap remeh buruh dan menempatkannya sebagai pihak yang lemah, padahal kalau tidak disikapi dengan bijak, ketidak puasan para buruh tersebut lama kelamaan akan mengkristal dan sewaktu waktu  akan dapat menjadi bom waktu yang akan merugikan bangsa secara menyeluruh.

          Persoalan buruh adalah persoalan ekonomi, dan persoalan ekonomi ialah persoalan perut bagi rakyat, karena itu dapat dikatakan bahwa persoalan buruh merupakan persoalan serius yang harus segera mendapatkan perhatian.  Persoalan yang sesungguhnya justru terletak pada keikhlasan para pengusaha dan pemerntah dalam bekerjasama untuk mencapai kesejahteraan secara menyeluruh.  Berbagai peraturan yang selama ini digugat, disebabkan sangat merugikan buruh, padahal meekalah yang selama ini memberikan kontribusi nyata dalam membantu menyejahterakan para pengusaha  dan para pemilik modal lainnya.

          Sikap yang mengarah kepada eksploitasi tenaga buruh dengan sedikit saja memberikan kebebasan kepada mereka, juga merupakan sikap yang kurang manusiawi.  Kalau semua pihak menyadari atas kebutuhan mereka masing-masing dan kemudian dilengkapi dengan keinginan untuk saling bekerjasama dan saling membantu, maka persoalan buruh akan selesai, tetapi sayangnya sikap ingin menang sendiri, sikap ingin menguasai, dan sikap ingin menjadi kaya sendiri, justru yang selalu mendominasi para pihak, dengan mengorbankan para buruh yang memang dikondisikan sebagai pihak yang lemah.

          Hak-hak buruh, seperti gaji yang layak, jaminan social dan jaminan masa depan yang jelas, tunjangan kesehatan untuk keluarga dan lainnya, tampaknya memamng belum didapatkan oleh kebanyakan buruh kita.  Anehnya para pengusha seakan tidak peduli dan tidak mau mengerti kondisi para buruh yang  sesungguhnya bekerja untuk mereka.  Bahkan tidak sedikit para pihak, termasuk para pengusaha yang menganggap bahwa mereka sesungguhnya telah membantu para buruh dengan diterimanya mereka bekerja di perusahaan mereka.  Toh masih banyak yang ngantri dan tidak mendapatkan kesempatan untuk bekerja sebagaimana mereka.

          Memang terkadang ada suatu penyakit yang sulit dihilangkan atau disembuhkan, ialah penyakit selalu menganggap diri sebagai pihak terbaik dan pihak lainnya dianggap telah banyak dibantu olehnya.  Penyakit seperti itulah yang kemudian menyebabkan banyak pihak merasa benar, padahal sesungguhnya terkadang malah telah merugikan pihak lain dengan mengeksploitasi tenaga mereka untuk keuntungan para pihak tersebut.

          Celakanya memang kondisi para buruh dan rakyat kita sangat lemah.  Mereka sangat membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi diri dan keluarga mereka, sehingga hamper-hampir tidak ada bargaining sedikitpun antara mereka dengan para pengusaha.  Memang tuntutan ekonomi yang begitu mendesak dapat menyebabkan seseorang kehilangan pikiran untuk menata masa depannya.  Yang terpenting bagi mereka ialah mendapatkan pekerjaan dan hal tersebut dapat mengatasi masalah yang sedang dihadapinya.  Padahal kelau seandanya rakyat kita sedikit kuat dan bisa melakukan bargaining dengan para pengusaha, tentu nasib mereka tidak akan separah saat ini.

          Lebih celaka lagi di negeri kita ini, para pemodal dan pengusaha justru menjadi pihka yang paling kuat dan berkuasa, bahkan pemerintah saja takut kepada mereka.  Mereka seakan dapat mengatur apa saja yang mereka kehendaki, termasuk dalam hal menentukan dan  mengatur soal peraturan perundangan yang berlaku di dalam dunia usaha dan dalam hubungannya dengan para buruh.  Sehingga lengkaplah keperkasaan mereka dan tidak berdayanya rakyat dan buruh.  Kondisi semacam ini seharusnya segera dihentikan dengan menyadarkan mereka melalui berbagai upaya pencerahan, dan upaya nyata pemerintah dalam memperbaiki regulasi yang selama ini dianggap merugikan para buruh.

          Sebagai seorang muslim tentu kita menginginkan bahwa kondisi di negeri kita yang  timpang antara kepentingan buruh dan pengusaha tersebut dapat diselesaikan dengan mengacu kepada tatacara dan sifat yang langsung ditunjukkan oleh pembawa risalah Islamiyah itu sendiri, yakni Nabi Muhammad SAW.  Kita tahu bahwa Nabi telah banyak mengajarkan berbagai hal yang berkaitan dengan persoalan kerjasama antara berbagai pihak, termasuk hubungan buruh atau pekerja dengan yang memberikan pekerjaan.

          Kalau kita mengacu kepada kehidupan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW tentu ada hal yang sangat perlu kita contoh dan terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.  Bahwa Rasulullah sangat menekankan bahwa setiap orang yang melakukan pekerjaan kepada kita ,maka  kita diharapkan sesegera mungkin membayarkan hak mereka, bahkan dengan istilah sebelum keringat mereka kering.  Kemudian perlakuan kita terhadap para pekerja kita ialah bahwa mereka itu sesungguhnya mitra kita yang tetap harus kita hormati hak dan kebebasan mereka, sebab  sesunggunya kita telah mendapatkan manfaat dari tenaga dan pikiran mereka dan itu sudah cukup,sehingga kebebasan mereka harus tetap diberikan dan dibiarkan, karena itu bukan termasuk wilayah yang diperbolehkan kita menguasainya.

          Melihat dari sikap yang ditunjukkan oleh Rasul yang sangat menghormati para pekerja atau buruh dan tetap menganggap mereka itu sejajar dengan para pengusaha yang memperkerjakan mereka, sungguh merupakan hal yang asasi dalam hubungan kerja antara buruh dan pengusaha.  Disamping itu hak yang seharusnya diterima oleh para pekerja juga harus segera diberikan, sesuai dengan kelayakan, yang memungkinkan mereka dapat hidup bersama dengan keluarga mereka secara baik.

          Melihat kondisi  nyata di perburuhan  kita, persoalannya justru ada pada sikap dan akhlak para pengusaha, karena merekalah yang sesungguhnya sangat menentukan. Kalau mereka mau sedikit berbaik hati dan tidak mementingkan dirinya, tetapi juga mementingkan kepentingan mitranya, yakni para buruh, maka hubungan kerja mereka akan menjadi baik dan menguntungkan semua pihak.  Atau kalau pemerintah benar-benar menginginkan bahwa perekonomian di Indonesia dapat stabil dan bahkan berkembang, maka harus ada keberanian untuk  menengok kembali regulasi yang saat ini berjalan, karena ternyata  regulasi itulah yang selama ini menjadi titik ketidakpuasan para buruh.

          Kalau para buruh mendapatkan apa yang menjadi haknya secara proposional yang didasarkan kepada keadilan dan saling menguntungkan, maka kondisi ekonomi akan semakin bisa tumbuh  dan berkembang, karena para buruh akan melaksanakan tugas dan kewajibannya secara baik.  Tetapi kalau kondisinya seperti ini terus menerus, maka kondisi ekonomi kita akan bisa terganggu dengan beberpa  aktifitas  para buruh dalam upaya mendapatkan hak dan keadilan.

          Semoga semua pihak menyadari semua ini dan kemudian mau introspeksi dan melakukan langkah-langkah nyata untuk menghindarkan terjadinya kondisi yang tidak kita inginkan bersama.  Saya percaya bahwa masih ada harapan untuk itu, karena mereka semua mempunyai nurani dan nurani tersebut akan selalu membimbing mereka kepada sesuatu yang benar dan bermanfaat bagi umat secara menyeluruh. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.