MENJADI SEMAKIN MANTAP

Cita-cita dan mimpi untuk mengubah IAIN Walisongo Semarang menjadi Universitas Islam Negeri Walisongo kini semakin mendekati kenyataan.  Memang meskipun sebelumnya juga kita semua sudah sangat yakin dengan keberhasilan usaha seluruh keluarga besar IAIN Walisongo, namun pada waktu itu secara formal belum diekspos.  Dan hari ini melalui seminar nasional bertajuk  konversi IAIN menuju UIN, secara terang-terangan sudah diikrarkan dan diketahui oleh semua  orang, bahwa IAIN Walisongo Semarang, tidak lama lagi akan berubah menjadi UIN.

          Perubahan yang diingnkan bukan merupakan bentuk kelatahan dan hanya ingin berubah saja, sama sekali tidak, tetapi sebagaimana yang sering saya ungkapkan ialah ada alasan yang sangat fundmental, yakni bagaimana perguruan tnggi ini dapat mengintegrasikan keilmuan yang saat ini menjadi atau dipandang secara dikotomis, padahal al-Quran yang menjadi kitab suci bagi umat Islam sendiri tidak mengenal dikotomi ilmu seperti itu.

          Kita ingin membuktikan dan mengembangkan bahwa seluruh ilmu yang saat ini ada dan dikaji serta dikembangkan di dunia ini, sesunguhnya ada dalam cakupan dan petunjuk al-Quran.  Karena itu kita menjadi sangat heran kenapa ketika umat Islam mengkaji tentang berbagai ilmu, kemudian bisa melupakan al-Quran.  Isyarat dan petunjuk yang dimuat dan dikandung al-Quran  justru sangat kaya dan memerlukan pengkajian dan penelitian yang mendalam  tentu  dibarengi dengan berbagai alat dan instrument serta teori yang telah dirumuskan oleh penemuan riset.

          Berbagai ilmu, baik ilmu social maupun eksakt juga  diisyaratkan oleh al-Quran yang sampai saat ini belum banyak disentuh oleh sarjana muslim, padahal pada masa yang lalu, para cendekiawan muslim telah mengupayakannya sedemikian rupa sehingga dapat mengangkat peradaban mereka begitu tinggi.  Betapa kita mengenal para ulama zaman dahulu yang disamping ahli dalam berbagai ilmu yang berkaitan langsung dengan kajian agama, juga mereka ahli dalam ilmu matematika, fisika, kedokteran, dan lainnya.

          Mengingat itu semua kita menjadi sangat merindukan hadirnya para ulama yang juga ahli dalam ilmu-ilmu lain, seperti matematika, fisika, biologi, astronomi, kimia, dan lainnya.  Nah, untuk mewujudkan mimpi tersebut, salah satunya ialah dengan membangun sarana yang memungkinkan untuk itu, yakni menjadikan lembaga pendidikan IAIN Walisongo Semarang  berubah menjadi Universitas Islan Negeri Walisongo.  Dengan alasan filosofis seperti itu kita berharap bahwa dalam kurun waktu sepuluh tahun kedepan universitas kita akan menjadi universitas maju dan berkembang serta dapat mewujudkan berbagai kajian berbagai ilmu yang integrative dalam warna  Islam dan keindonesiaan.

          Dengan begitu maka tujuan kedua atas perubahan IAIN menjadi UIN tersebut juga akan dapat kita raih, yaitu kita dapat berhidmat lebih luas kepada masyarakat dan para user untuk memilih program-program studi yang menjadi tujuan dan keinginan mereka.  Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa ketika  masih IAIN seperti saat ini, program studi yang dapat kita bina dan kembangkan, tentu sangat terbatas, sehingga masyarakat tidak mempunyai banyak pilihan ketika harus memasuki IAIN.  Lain halnya ketika nantinya telah menjadi UIN, dimana kita bisa dengan leluasa membka dan mengembangkan program studi yang kita inginkan, tentu masyarakat akan dapat menentukan pilihan dengan leluasa.

          Tentu program studi yang akan kita buka dan kembangkan juga disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan yang didasarkan atas kondisi dan situasi lingkungan dan masyarakat Indonesia secara umum.  Ketika kita sudah UIN, maka program studi apa saja, asalkan  dipenuhi beberapsyarat yang butuhkan, maka program studi tersebut dapat dibuka, bahkan  dalam upaya untuk melestarikan kekayaan local, adakalanya suatu prodi malah dianjurkan untuk dibuka di suatu tempat, semisal prodi batik sangat dianjurkan dibuka di Pekalongan, Solo, dan Yogyakarta.

          Ketika hari ini kita mendengarkan dan sekaligus dapat berbincang dengan prof Joko Susilo, Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional, yang memberikan banyak informasi dan pencerahan, khususnya  yang berhubungan dengan perubahan IAIN ke UIN, maka kita menjadi semakin mantap untuk berubah dsn berkonversi.  Meskipun sebelumnya kita juga telah mendapatkan support dari berbagai kalangan, namun kehadiran dirjen Dikti ke kampus IAIN Walisongo tersebut akan dapat menambah serta memompa semangat seluruh warga besar IAIN Walisongo Semarang untuk semakin dekat dengan mimpi-mimpi yang selama ini dirindukan.

          Support yang tidak kalah pentingnya ialah dari Menteri Agama  RI itu sendiri, dimana pintu untuk berubah itu dibuka dengan lebar sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.  Karena pada dasarnya Kementerian Agama sangat berharap bahwa perguruan tinggi yang menjadi tanggung jawabnya, akan dapat maju dan berkembang sehingga akan menjadi perguruan tingi kebanggan dan berdaya saing tinggi.  Sementara itu esensi perubahan dari IAIN menjadi UIN itu sendiri ialah dalam rangka memajukan dan mengembangkan pendidikan, dan bukan hanya sekedar  berubah.

          Support yang sangat menarik dan simpatik juga diberikan oleh Prof Imam Suprayogo, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dengan pengalamannya yang segudang, terutama dalam upaya perubahan STAIN ke UIN, telah memberikan inspirasi dan sekaligus dorongan untuk maju dan berubah.  Menurut beliau sangat tidak mungkin kalau kita masih IAIN atau STAIN untuk maju dan berkembang mengikuti perkembangan zaman.  Justru yang terjadi ialah sebaliknya, kita akan semakin ketinggalan dan sulit untuk mengejar mereka yang telah maju.

          Pengalaman yang telah dilalui UIN Malang, sehingga bisa menjadi seperti saat ini, tentu penuh dengan liku-liku dan perjuangan yang luar biasa.  Karena untuk memadukan antara berbagai kepentingan yang berkembang pada saat itu sungguh  sangat sulit.  Namun sesulit apapun kalau ada niat dan tekad yang bulat serta ikhlas dan jujur, maka segala rintangan tersebut akan dapat dilalui dengan baik dan hasilnya akan berkesan serta memuaskan.

          UIN Malang seperti yang kita ketahui, saat ini telah berhasil memadukan antara perguruan tinggi dan pesantren.  Tradisi perguruan tinggi dengan kajian ilmiahnya tidak dilupakan, tetapi tradisi pesantren dengan amaliah ibadah, seperti shalat berjamaah, baca al-Quran, wiridan, dan kajian kitab kuning juga tetap dilaksanakan.  Barangkali UIN yang akan kita kembangkan di UIN Walisongo juga tidak akan berbeda jauh dari kondisi UIN Malang tersebut.  Tetapi tentu ada perbedaannya, karena disamping tradisi pesanten tetap kita pelihara, UIN Walisongo Semarang, nantinya akan lebih intensif dalam kajian-kajian keilmuan dalam berbagai disiplin, tetapi tetap dalam warna Islam dan keindonesiaan.

          Kita menginginkan bahwa di UIN Walisongo Semarang akan tumbuh dan berkembang pemikiran yang moderat, toleran, inklusif, dan tetap  mengikuti dan dalam jalur ilmiah.  Sehingga dengan mengembangkan tradisi seperti itu, tidak akan tumbuh pemikiran yang eksklusif, radikal dan semacamnya.  Justru Islam yang rahmatan lil alamin lah yang akan dikembangkan, sehingga seluruh alumninya diharapkan akan dapat berguna bagi pengembangan masyarakat dan bangsa secara lebih merata.

          Dengan demikian perubahan dari IAIN ke UIN harus dapat meningkatkan kualitas dan manfaat serta perannya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.  Bagaimanapun juga UIN sangat diharapkan akan melahirkan generasi yang cerdas, berwawasan luas, berpikiran moderat, toleran, jujura, ikhlas, dan berakhlak mulia.  Misi tersebut harus terus dijaga secara konsisten, sehingga kedepan UIN akan menjadi salah satu alternative utama  dan bahkan menjadi tujuan utama dari masyarakat muslim Indonesia, khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

          Jadi dengan beberapa support dari orang-orang yang memang mempunyai pengaruh tersebut, kita sangat lega dan dapat berharap bahwa perubahan yang kita proses tersebut akan lebih cepat terealisasi, mengingat pengalaman mereka yang berproses  untuk berubah tersebut ada ang memakan aktu hinga 6 tahun, ada yang empat tahun, maka kita akan bisa berharap  dalam waktu satu tahun hingga dua tahun ke depan kita akan bisa mewujudkannya.  Semua itu juga tergantung kepada kita; apakah kita mau cepat dengan bekerja keras ataukah kita menunggu bola dan harus bisa bersabar hingga sampai waktu yang lama.

          Ketikan jalan di depan mata telah terkuak dan kesempatanpun telah tersiabk, maka tinggal kesungguhan kita untuk menerobos maju dan mendapatkan apa yang kita inginkan dengan segala romantika dan pernik-pernik persoalan yang menyertainya.  Tetapi saya sangat yakin bahwa seluruh keluarga besar IAIN Walisongo Semarang telah menyadari hal ini dan  telah membulatkan tekad untuk bersama bekerja keras demi meraih mimpi tersebut serta telah bersiap-siap untuk menyongsong lembaga baru yang bernama Universitas Islam Negeri Walsongo Semarang.

          Semoga Tuhan senantiasa memberikan kekuatan, kesabaran dan keteguhan serta semangat pantang menyerah kepada seluruh keluarga besar IAIN Walisongo Semarang untuk terus bekerja keras dan ikhlas dalam menggapai cita-cita luhur sebagaimana dirindukan selama ini.  Am

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.