KARTINI ZAMAN INI

Ketika saya masih kecil, setiap memperngati hari Kartini, semua perempuan berdandan dengan kebaya dan sanggul, khas penampilam perempuan dewasa dalam acara resmi  dan adat Jawa dan barangkali juga Nusantara.  Tetapi pada saat memperingati hari kartini , kita sudah akan kesulitan mendapatkan pemandangan seperti itu, khususnya di daerah perkotaan.  Mungkin di beberapa daerah masih mudah ditemukan, meskipun kadarnya  sudah pasti berkurang.

          Saya tidak tahu mengapa saat ini pakaian kebaya dengan sanggulnya tidak lagi menjadi trend dalam memperingati hari Kartini?.  Apakah ini pertanda  generasi kita sudah tidak lagi menghormati dan mewarisi budaya luhur yang diwariskan oleh para pendahulu?.  Ataukah  saat ini sudah terjadi pergeseran pemaknaan terhadap Kartini, sehubungan dengan pekembangan zaman, atau ada kemungkinan-kemungkinan lainnya?.  Semua pertanyaan tersebut menurut saya perlu mendapatkan jawaban dan analisa mendalam, sehingga kita dapat mengetahui secara pasti kondisi tersebut.

          Untuk mendapatkan jawaban yang pasti memang agak sulit, karena diperlukan penenlitian mendalam, tetapi kalau hanya sekedar menganalisanya, mungkin dapat diberikan penjelasan yang cukup rasional.  Bahwa generasi perempuan sekarang yang tidak menjadikan kebaya dan sanggul sebagai lambang dalam memperingati Kartini, dapat dikategorikan kepada dua kemungkinan, yakni memang mereka tidak lagi akrab dengan persoalan adat semacam pakaian dan menganggapnya bahwa pakaian kebaya tersebut sudah tidak lagi cocok dengan zaman yang serba cekatan dan lincah dalam bertindak.  Pakaian kebaya hanya cocok bagi mereka yang hidup di keraton dan acara adat saja, sementara untuk perempauan modern, pakaian tersebut tidak lagi cocok.

          Pemikiran semacam ini  tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak bisa dibenarkan seratus prosen. Ya, karena bagaimanapun juga kalau sebuah tradisi itu menjadi kebanggan suatu bangsa, maka perlu diwarisi dan diuri-uri, agar tidak musnah, walaupun tidak harus dipraktekkan setiap hari. Kebaya dan sangul memang bukanlah sebuah pilihan utama dalam  berbusana, terutama dalam keseharian. Lebih-lebih bagi mereka yang aktif dalam karir yang mengharuskannya bertindak anergik dan lincah,  tetapi bagaimanapun juga pakaian kebaya dan sannggul masih perlu dijaga dan diwarisi, terutama dalam berbagai acara yang membutuhkan simbul keperempuanan yang anggun dank has ketimuran.

          Sedangkan untuk pertanyaan apakah telah terjadi pergeseran pemikiran terhadap sosok Kartini yang dianggap sebagai lambang emansipasi perempuan itu, tentu ini juga harus dijelaskan bahwa memang sangat mungkin ada beberapa perempuan yang memandang Kartini tidak hanya sekedar sebagai lambing perempuan Indonesia yang meperjuangkan kesamaan derajat dengan kaum laki-laki, tetapi lebih dari itu Kartini dimaknai sebagai inspirator  bagi perjuangan perempuan untuk mendapatkan hal-haknya.  Dengan demikian Kartini tidak identik dengan kebaya dan sanggul, yang justru berkonotasi hanya sebagai perempuan dan bukan sebagai perjuangan untuk memperoleh status yang sesungguhnya.

          Kartini memang dikenal sebagai sosok pejuang emansipasi perempuan, karena dia yang hidup dalam zaman "kegelapan perempuan", justru berani mendobrak adat kebiasaan yang sudah mengakar semenjak dahulu, bahwa perempuan itu ya hanya sebagai pendamping suami dan cukup berada di rumah untuk mengurus rumah tangga, tanpa ada kesempatan untuk memerankan dirinya dalam ranah public.  Jasa perjuangannya tersebut saat ini telah banyak dinikmati oleh perempuan Indonesia.  Mereka tidak lagi hanya sebagai "konco wingking" tetapi mereka dapat berperan dalam berbagai bidang, seperti menjadi lurah, camat, bupati, gubernur, menteri, anggota dewan, hakim, dan bahkan presiden. Singkatnya, dalam hal peran di ranah public, perempauan zaman ini sudah setingkat dengan laki-laki, dan mempunyai kesempatan yang sama.

          Kondisi inilah yang dilihat oleh sebagian orang bahwa peran Kartini yang sesungguhnya ialah dalam perjuangan untuk mendapatkan derajat yang sesunggunya bagi perempuan.  Dasar pemikiran inilah yang kemudian saat ini mereka tidak lagi mementingkan kebaya dan sanggul dalam memperingati hari Kartini, melainkan justru lebih menitik beratkan kepada upaya upaya nyata dalam rangka memperjuangkan harkat perempuan yang di sebagian wilayah dan daerah di Indonesia masih sangat  memperihatinkan.

          Setidaknya mereka masih memandang bahwa perjuangan perempuan di Indonesia untuk mendapatkan hak-haknya, belum selesai.  Berbagai upaya selalu mereka lakukan, termasuk mengupayakan regulasi yang memungkinkan perempuan dapat berperan lebih banyak dalam berbagai aspek kehidupan.  Salah satu  yang sampai saat ini masih menjadi PR besar ialah pandangan kebanyaka masyarakat Indonesia yang masih mengangap perempauan itu hanya sebagai warga Negara kelas dua.  Mereka selalu dianggap remeh dan selalu dijadikan obyek dalam berbagai hal. Persoalan TKW, baik di dalam maupun di luar negeri juga selalu saja menjadi persoalan yang tidak kunjung selesai.

          Melihat kondisi seperti ini, saya lebih cenderung kepada pemikiran yang lebih menitik beratkan kepada persoalan pemaknaan semangat dan keteladanan dalam bersikap dan berpikir kepada sosok Kartini yang harus lebih dikedepankan, ketimbang  hanya sekedar meniru cara berpakaiannya.  Meskipun menurt saya, neguri-uri pakaian kebaya juga penting, tetapi jangan sampai hal tersebut justru kemudian menenggelamkan  semangat dan cita-cita Kartini itu sendiri.

          Kehadiran Kartini harus diartikan sebagai momentum kebangkitan perempuan Indonesia menuju kepada derajat dan martabat perempuan yang sesunguhnya, baik dalam bersikap, dalam berpikir, dan dalam berperan dalam keluarga dan masyarakatnya. Sesungguhnya masih banyak cita-cita Kartini yang belum terwujud, walaupun sebagian besarnya sudah terealisasi dan dapat dinikmati oleh perempuan Indonesia pada umumnya.

          Kita harus menyadari bahwa Karti itu juga seorang manusia, karena itu dia juga tidak sempurna.  Tetapi dalam memperingati Kartini, kita harus mengungkapkan sisi positif dari sosok Kartini dengan segala pemikiran dan cita-cita yang luhur dalam memajukan kaumnya.  Secara umum Kartini menginginkan bahwa  kaumnya "perempuan" harus merdeka dalam arti yang sesungguhnya.  Kemerdekaan yang dimaksudkan oleh Kartini pada saat itu boleh jadi hanya sebatas mengentaskan mereka dari kungkungan adat yang kurang meguntungkan, seperti adanya pingitan, tidak boleh sekolah, tidak boleh berperan dalam ranah public dan lainnya.  Namun saat ini tentunya harus lebih dimaknai lebih luas, karena memang kita sedang  berada dalam dunia yang berbeda.  Semangat Kartini untuk membebaskan kaumnya dari belenggu kehidupan itulah yang harus kita tarik sebagai benang merah cita-cita Kartini.

          Seperti kita ketahui bahwa  sampai saat ini beberapa peran perempuan masih sangat terbatas dan dibatasi, baik atas nama adat maupun atas nama ajaran agama.  Barangkali pembatan peran atas nama adat, akan  mudah untuk diterjang, seiring dengan kemajuan peradaban umat manusia, namun pembatasan yang diatas namakan agama, tentu akan lebih sulit untuk ditembus.  Beberapa  pembatasan peran perempuan yang sesungguhnya merupakan produk suatu anak manusia yang kebetulan merupakan tokoh dan menjadi panutan pada suatu kurun waktu tertentu, ternyata  dipahami sebagai produk agama yang mengikat kepada semua umat di manapun juga.

          Produk pemikiran tersebut, dapat berupa penafsiran terhadap suatu teks yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang sedang dihadapi ditempatnya, dan juga dapat berupa pemikiran murni seorang tokoh, disebabkan tidak ada referensi yang jelas dalam teks wahyu maupun ijtihad Nabi.  Namun seiring dengan  vakumnya pemikiran dan daya ijtihad yang dikembangkan oleh para tokoh, besamaan dengan terus dikajinya hasil pemikiran tokoh tersebut oleh generasi setelahnya, maka pimikuan tokoh tersebut seolah menjadi penafsiran tunggal dan pemikiran tunggal yang dianggap paling sah dalam persoalan tertentu tersebut, padahal boleh jadi argumentasinya sudah tidak lagi cocok dengan zaman ini.

          Beberapa hal berkenaan dengan peran perempun yang sangat terbatas atau dibatasi tersebut dapat saya  contohkan, misalnya dalam hal menjadi wali, baik wali dalam arti umum maupun wali dalam arti khusus nikah.  Semua menjadi monopoli laki-laki, dan perempuan sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk mendapatkannya, padahal pembatasan tersebut hanyalah merupakan produk penafsiran ulama pada saat itu  dan bukan produk jadi dari Tuhan.

          Demikian juga dalam hal beribadah, dimana  Tuhan sama sekali tidak memberikan perbedaan dalam menjalankan dan memerankan dirinya dalam mengabdi kepada Tuhan.  Laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama dalam beribadah, tetapi  sampai saat ini masih kita temukan beberapa pembatasan dalam pelaksanaan ibdah tersebut, semacam  tidak diperkenankannya seorang perempuan menjadi imam shalat bagi makmun laki-laki, meskipun  perempuan tersebut lebih pandai dan lebih fasih dalam membaca al-Quran,  atau dengan kata lain bahwa peempuan harus menjadi makmun terhadap laki-laki yang tidak fasih membaca al-Quran.  Jadi ukurannya bukan lagi kefasihan dan kepandaian seseorang, melainkan hanya diukur dari jenis kelamin, padahal sangat jelas Tuhan tidak pernah membedakan jenis kelamin dalam beribadah.

          Tentu masih banyak lagi contoh yang dapat dikemukakan di sini, namun yangbterpenting ialah bagaimana cita-cita Kartini dalam memerdekan kaumnya itu harus tersu diupayakan, agar seluruh hak perempuan akan didapatkannya, etntu tidak melalui kekerasan atau pemaksaan, melainkan melalui dialog dan adu argumentasi yang sehat dan ilmiah.  Tetapi  memang harus diingatkan juga bahwa jangan sampai cita-cita Kartini yang mulia tersebut dijadikan alat untuk merusak martabat dan keberadaan perempuan itu sendiri, karena terlalu kemajon dan tidak sesuai dengan kodrat keperempuanan.

Kita berharap bahwa perjuangan Kartini kedepan akan dapat diraih dan diwujudkan oleh bangsa ini, sehingga laki-laki dan perempuan akan dapat bekerja sama secara harmonis, baik di dalam rumah tangga maupun dalam kehidupan social dan kenegaraan.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.