MENGHORMATI ORANG TUA

Ketika kita mengetahui tentang cerita M. Syarif, pelaku bom bunuh diri di masjid kompleks mapolresta Cirebon beberapa waktu lalu, kita menjadi sangat prihatin dengan  adanya beberapa ajaran yang mengatasnamakan kesucian agama, tetapi dimaknai sebaliknya.  Seperti yang diceritakan oleh orang tua M. Syarif, bahwa sudah beberapa lama anaknya tersebut mengikuti suatu ajaran Islam garis keras, yang bahkan kelakuannya sudah tidak lagi mencerminkan sebagai seorang muslim yang santun dan bermoral sebagiamana diajarkan oleh Islam itu sendiri.  Karena ternyata dari mengikuti ajaran garis kerasa tersebut, dia menjadi sangat pemarah, dan tidak mau mendengarkan  teguran dan nasehat dari siapapun juga.

          Dengan mengikuti ajaran keras tersebut, seolah dia menjadi orang yang sama sekali lain, bahkan sampai berani mengatakan  orang tuanya itu kafir dan diancam.  Itu semua  menjadi salah satu ajaran keras yang telah meresap dalam diri M. Syarif.  Dia meyakini bahwa seluruh ajaran yang tidak sesuai dengan yang ada dalam otaknya, dianggapmenyimpang, dan hanya ajaran seperti yang dianutnyalah yang benar.  Bahkan dalam keyakinannya tersebut diperbolehkan menyakiti dan membunuh orang lain yang dianggap sebagai orang kafir.

          Keyakinan yang demikian dominant dalam dirinya, sampai-sampai membuat dirinya menjadi pemberani, demi membela keyakinannya tersebut, bahkan kalau harus mati bunuh diri sekalipun, akan dilakukannya.  Sungguh merupakan suatu yang luar biasa, terutama desainer yang telah dapat memberikan keyakinan yang membuta, sehingga dapat mencuci habis otas seseorang untuk mau mengikuti instruksi apapun yang diberikan atas nama keyakinan tersebut.

          Namun sekali lagi, dalam ajaran syariat Islam, tidak ada keykinan yang membolehkan orang membunuh orang lain, terkcuali karena hak, seperti melaksanakan eksekusi atas keputusan pengadilan.  Jangankan membunuh, menyakiti orang atau pihak lain pun Islam sangat melarang keras.  Mengklaim bahwa dirinya saja yang benar dan yang lain salah, atau menglaim dirinya saja yang Islam, sedangkan selainnya kafir, juga sama sekali jauh dari ajaran Islam.

          Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah ajaran yang penuh kasih sayang, toleran terhadap keyakinan lain yang berbeda dan saling menghargaidalam menjalankan kehidupan di dunia.  Bahkan al-Quran dengan jelas menyatakan bahwa kalautoh ada orang tua yang berbeda keyakinan, maka si anak tidak boleh memperlakukan orang tuanya tersebut tidak layak, anak tersebut masih tetap harus menghormatinya dalam menjalani kehidupan di dunia.  Sedangkan untuk keyakinan tetaplah dalam koridor yang benar dan tidak perlu mengikuti keyakinan orang tua yang berbeda tersebut.  Itulah ajaran Islam yang seharusnya ditebarkan kepada seluruh umat manusia.  Bukannya malah menyebarkan rasa kebencian terhadap sesame manusia, hanya karena berbeda keyakinan, atau menyebarkan terror yang membuat masyarakat merasa takut dan terancam, dengan dalih  memerangi orang kafir dan lainnya.

          Orang tua adalah orang yang paling berjasa kepada kita, semenjak kita dalam kandungan seorang ibu, mereka telah memperlakukan kita dengan penuh kasih sayang.  Pada saat  mengandung, seorang ibu  harus merelakan seluruh perhatiannya hanya untuk menjaga dan memelihara kandungannya tersebut dengan penuh kasih, meskipn harus menjalani kehidupan yang sangat susah. Ketika melahirkan, seorang ibu juga harus berjuang sedemikian rupa, bahkan nyawa menjadi taruhannya.  Dan setelah melahirkan jura harus merawat kita hingga kita menjadi besar.  Semuanya itu dilakukannya dengan keikhlasan yang penuh.

          Kalau kita kemudian berusaha membalas seluruh kasih sayang mereka dengan apapun, kiranya belum akan mencukupi.  Artinya, kalau sepanjang hidup kita, kita gunakan hanya untuk memberikan perhatian khusus kepada mereka, itu belumlah sepadan dengan kasih sayang yang  mereka berikan selama ini.  Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW  pernah mengatakan bahwa ridlo Tuhan itu dalam ridlo kedua orang tua dan murka Tuhan juga pada murka kedua orang tua.  Artinya, kalau orang tua tidak meridloi kita, maka jangan berharap bahwa Allah akan meridloi kita, demikian juga kalau orang tua kita sampai marah kepada kita maka Tuhan juga demikian akan marah kepada kita.

          Sudah terlalu banyak contoh yang dapat kita jadikan pelajaran dalam hidup kita ini, dimana ada cerita seorang yang terhormat dan kaya raya, tetapi kemudian dia menjadi sombong dan bahkan tidak mau mengakui kedua orang tuanya yang dianggapnya sebagai orang kampungan, kemudian mengalami nasib yang sangat buruk.  Andai dia mau merawat kedua orang tuanya yang kampungan trsebut dengan baik, dan menjadikannya sebagai orang tua yang dihormati dan disanjung, niscaya kemuliaan dirinya akan tetap terjaga dan tidak akan mengalami nasib buruk seperti yang dialaminya.  Karena memang doa kedua orang tua kita itu sangat manjur dan mesti didengar dan dikabulkan oleh Tuhan.

          Sebaliknya banyak ceria sebagaimana  yang termaktub dalam banyak hadis shahih tentang seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, sedemikian rupa, sehingga mengalahkan  selain keduanya.  Bahkan ketika mau membangunkan mereka yang sedang ttidurpun  tidak berani dan tidak tega, apalagi sampai menyakiti mereka. Dan tindakannya yang demikian tersebut ternyata dicatat oleh Tuhan, dan pada saat dia mengalami kesulitan yang luar biasa dan mengancam keselamatan jiwanya, maka Tuhan kemudian memberikan jalan keluar, karena  perbuatan baiknya terhadap kedua orang tuanya tersebut

          Sungguh besar peran orang tua kepada kita semua, dan kalau kita akan menghitung kebesaran kasih sayang mereka, maka kita tidak akan dapat menghitungnya.  Itu pulalah kenapa Tuhan juga melarang kita untuk menyakiti kedua orang tua kita, bahkan hanya dengan mengucapkan kata-kata uf atau cih atau semacamnya.  Apalagi sampai menyakiti hati dan perasaanya dengan mengatakan bahwa mereka itu kafir hanya karena berbeda aliran, padahal mereka itu melaksanakan syariat dengan benar, menjalankan shalat, puasa pada bulan Ramadlan dan lain sebagainya.

          Kisah-kisah teladan tentang betapa mulianya orang tua, dan betapa murkanya Tuhan atas perlakuan anak yang tidak senonoh kepada kedua orang taunya, telah menghiasi banyak buku cerita, dan bahkan kenyataan di lapangan juga menujukkan bukti atas kebenaran cerita tersebut.  Itu semua menunjukkan bahwa  betapa agungnya ajaran akhlak yang yang dijunjung suatu ajaran atas dasar kemanusiaan dan  kebenaran, termasuk syariat Islam.  Siapapun yang mempelajari syariat Islam dengan benar, tentu tidak akan dapat menerima kelakuan M. Syarif, sebagaimana diceritakan sendiri oleh orang tuanya, dimana  dia selalu membantah dan temperamental, dan bahkan tidak segan-segan menyakiti secara fisik.

          Harus kita akui bahwa ada sebagian kelompok umat Islam yang memang masih memahmi ajaran syariat Islam sesuai dengan kemauan dirinya sendiri, dan bahkan sangat militan.  Artinya mereka tidak bisa menerima pemahaman orang lain yang justru lebih sesuai dengan maqasid al-syariah atau tujuan syariat.  Mereka memahami syariat tidak komprehensif, melainkan hanya parsial.  Celakanya yang dipahami tersebut justru beberapa teks, baik ayat amaupun hadis yang bisa diarahkan kepada pembenaran tindakan radikal dan keras tersebut.  Tetapi sayangnya mereka tidak mau memahaminya secara kontekstual, yang memungkinkan mereka dapat menjejerkannya dengan teks lain, sehingga akan dapat dipahami secara komprehensip dan tentu kesimpulannya tidak akan membenarkan keyakinan dan aliran mereka.

          Para ulama terdahulu juga telah megajarkan betapa seharsnya seseroarang  harus bersikap dalam memahami teks al-Quran maupun hadis.  Ada bebrapa metode yang telah dibakukan oleh mereka, namun tampaknya  mereka yang digolongkan sebagai aliran garis keras tersebut tidak maumenggunakannya.  Akibatnya mereka menjadi sangat berbeda dalam menafsirkan dan memahami teks-teks tersebut.

          Sesungguhnya secara mudah dapat dibuktikan bahwa ajaran dan keyakinan mereka tersebut tidak benar, karena dalam sejarah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat serta para salaf al-shalih, ternyata tidak pernah dijumpai ajaran yang seperti dianut mereka, yang keras, radikal, dan bahkan tidak toleran.  Yang justru kita temukan dalam sejarah mereka ialah sikap toleran, kasih sayang, dan saling menghormati dan bekerja sama dalam menjalankan kehidupan di dunia, sedangkan untuk urusan keyakinan itu menjadi urusan masing-masing.  Itu bukan berarti kita tidak melaksanakan dakwah, sama sekali bukan begitu.  Kita tetapi mempunyai kewajiban dakwah, tetapi bukan dengan cara kekerasan,pemeksaan kehendak, dan semacamnya, tetapi lebih diupayakan dengan cara damai, dan hikmah.

          Kedepan kita berharap bahwa mereka yang saat ini meyakini ajaran yang tidak sesuai dengan teladan Nabi tersebut akan segera menyadari dan kemudian beralih kepada aliran para ulama dan salaf al-shalih, sehingga kehidupan umat ini menjadi tenang dan tenteram, saling menghormati, terutama anak terhadap orang tua, dan saling menyayangi antara sesama sesuai yang kita cita-citakan bersama.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.