KECURANGAN UAN

Setiap kali diadakan Ujian Akhir Nasional atau UAN, setiap kali itu pula muncul persoalan yang cukup serius.  Tidak saja persoalan kenakalan sebagian siswa yang ingin mendapatkan nilai baik dengan tanpa susah payah, tetapi sudah menjadi persoalan moral dan masalah pendidikan itu sendiri.  Meskipun telah dinerikan counter berkali-kali, tetapi faktanya menunjukkan bahwa memang di sana masih ada kecurangan yang justru dilakukan oleh para pendidik itu sendiri.

          Kalau berita yang disampaikan di beberapa daerah di Sumatera itu memang benar, dan menurut keyakinan saya itu benar,  maka dunia pendidikan kita sudah sedemikian bobroknya.   Dan hal tersebut  terjadi secara bernatai, dan yang menjadi sebab utamanya ialah kesadaran moral dan menmtal pendidik belum sepenuhnya ada dalam diri mereka.  Kita dapat merasakan betapa tertekannya para kepala sekolah pada saat UAN seperti ini, karena setiap ada UAN p[astilah ia harus mempertaruhkan jabatannya sebagai kepala sekolah.  Sebabnya ialah ada semacam ancaman dari dinas untuk memutasikan atau mencopot statusnya sebagai kepala sekolah, manakala dalam UAN ternyata banyak siswa yang tidak lulus.

          Nah untuk mencapai target yang diinginkan, yakni mayoritas siswa harus lulus atau bahkan kalau bisa seluruhnya lulus, tidak dilakukan dengan memperbaiki kinerja dan sistem pembelajaran yang lebih baik, tetapi dengan upaya  curang, yakni dengan menyuruh para guru untuk mengerjakan UAN yang kemudian hasilnya dibagikan kepada para siswa untuk disalin dalam lembaran jawaban yang disediakan.  Setali tiga uang, para penmgawas juga sudah tidak lagi berdaya menghadapi kejadian yang semacam ini.  Atau barangkali sangat mungkin bahwa para kadis juga mengatahuinya dan membiiarkan, karena kalau prestasi UAN di daerahnya bagus, ia juga akan mendapatkan  imbasnya.

          Sungguh sekali lagi kalau hal tersebut memang benar terjadi, maka  kita  tidak bisa bilang apa-apa lagi.  Yang dapat kita lakukan ialah mengelus dada sambil  mengucapkan inna lillahi wa inni ilaihi rajiun.

          Perdebatan tentang UAN itu sendiri sesungguhnya telah banyak dilakukan oleh hampir seluruh elemen masyarakat, termasuk para anggota dewan, tetapi masing-masing bertahan dengan argumentasinya masing-masing, bahkan ketika dahulu dewan melarang untuk dilaksanakannya UAN, diknas tampaknya tidak peduli, karena menganggap bahwa UAN itu mutlak diperlukan sebagai  evaluasi akhir dan sekaliguis untuk mengetahui prestasi peserta didik.

          Dalam hal ini saya sesungguhnya sangat setuju diadakannya UAN, tetapi harus dengan beberapa catatan yang harus dipatuhi oleh pelaksana dan penanggung jawab pendidikan di tingkat paling tinggi.  Artinya, sebagaimana dimaklumi bersama bahwa pendidikan yang ada di negeri kita ini relatif heterogin, baik mengenai sarana prasarana yang dimiliki sekolah, maupun SDM, terutama guru dan juga tenaga kependidikan lainnya.  Sehingga kondisi seperti itu menyebabkan tidak seragamnya proses pembelajaran dan daya serap para peserta didik.

          Kita dapat mebayangkan bagaimana mungkin akan dianggap sama kalau ada sekolah yang tidak punya laboratorium, tidak mempunyai perpustakaan, tidak mempunyai guru yang profesional.  Sementara sekolah lainnya dilengkapi dengan laboratorium, perpustakan, sarana dan prasarana yang cukup memadahi.  Jelas  hal tersebut tidak mungkin dianggap sama dan tidak mungkin diperlakukan sama.

Untuk itu, sebagaimana yang dahulu pernah saya tawarkan ialah, UAN tersebut tetap dilaksanakan, tetapi bukan sebagai penentu kelulusan peserta didik, tetapi hasil dari UAN tersebut dijadikan bahan untuk melakukan berbagai kebijakan menyangkut perbaikan pendidikan itu sendiri.  Artinya, dengan hasil UAN tersebut pemerintah dapat mengetahui secara pasti tentang tingkat keberhasilan pendidikan di tingkat satuan pendidikan.  Dari sana kemudian pemerintah akan dapat melakukan perbaikan dan mensupport sekolah-sekolah yang tertinggal, sehingga akan dapat menyusul sekolah lainnya.

Tentu upaya dan kebijakan perbaikan segala hal, menyangkut perbaikan sarana prasarana, SDM, dan lainnya harus terus menerus dilakukan dengan konsisten dan dengan semangat memperbaiki kondisi pendidikan kita.  Dan dalam waktu yang ditargetkan, pemnerintah harus dapat mencapainya, bersama dengan masyarakat.  Dalam kondisi  yang relatif sama itulah UAN benar-benar diberlakukan sebagai standar kelulusan.  Kalau proses ini dilaksanakan dengan baik, saya sangat yakin bahwa pro kontra tentang UAN akan segera selesai, semua orang akan menganggap bahwa pelaksanaan UAN itu adil dan memang harus.

Sementara itu faktor lainnya yang tidak kalah penting ialah mental para pejabat dan pendidik yang harus terus dibenahi, jangan sampai berpikir pragmatis dengan mengorbankan sistem dan juga pendidikan itu sendiri.  Kita harus tegas dan menindak siapapun yang berlaku curang dalam persoalan ini, terlebih kalau yang melakukannya tersebut justru dari kalangan guru dan pejabat yang seharusnya memberikan teladan baik dalam upaya menciptakan pendidikan yang baik.

Memang kalau kita berbicara masalah manusia tidak akan ada habisnya.  Jika pada masa yang lalu kalau ada oknum guru melakukan perbuatan tercela dengan menggelapkan uang SPP misalnya, maka masih ada pembelaan dari sebagian masyarakat, yakni dengan mengatakan bahwa kesejahteraan guru memang sangat tidak imbang dengan tugas dan tanggung jawabnya mendidik anak bangsa.  Tetapi saat ini pemerintah telah menggelontorkan banyak uang untuk kesejahteraan mereka melalui sertifikasi guru, ternyata masih saja ada pelanggaran yang muaranya ialah karena faktor uang.  Kalau begitu bukan masalah uang semata, melainkan sudah merupakan persoalan moral yang sangat memprihatinkan.

Kalau mental telah terkontaminasi dengan persoalan dunia, maka apapun dapat dilakukan, termasuk  dengan alasan untuk menjaga nama baik sekolah atau untuk mengamankan jabatan atau alasan lainnya, seseorang akan dapat melakukan berbagai perbuatan tidak terpuji, bahkan dapat merusak sistem yang telah dibangun dengan susuah payah oleh negara atau masyarakat.  Dan itulah kenyataan yang saat ini terjadi, dimana sekolah, tentu yang paling bertangung jawab adalah kepala sekolahnya, dengan sengaja dan sadar mengerahkan para guru untuk mengerjakan soal UAN untuk kemudian dibagikan kepada para siswa yang sedang mengikuti UAN.  Sungguh merupakan perbuatan yang sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang pendidik.

Kita semua sangat berharap bahwa pemerintah, dalam hal ini mendiknas  dapat bersikap tegas dengan menindak mereka yang terbukti bersalah, dan bahkan memberikan sanksi yang berat dengan memutasikan mereka ke kantor dan tidak lagi diperbolehkan menjadi guru.  Sanksiseperti itu semestinya masih cukup baik, karena kesalahan yang dilakukannya sudah sangat merusak pendidikan secara umum, serta merusak citra pendidik itu sendiri..

Di masa depan kita tidak ingin mendengar lagi cerita tentang guru yang mengerjakan soal UAN  kemudian dibagikan kepada peserta ujian, kita juga tidak ingin mendengar lagi ada kecurangan apapun dalam pelaksanaan UAN, dan kita ingin bahwa semua sekolah di Indonesia ini  berkualitas  relatif baik, dan didukung dengan pemnyediaan sarana prasarana yang memadahi dan juga SDM yang profesional.  Harapan seperti ini sesungguhnya sangat wajar karena saat ini, dana pendidikan cukup banyak, yakni 20% dari jumlah APBN yang berarti lebih dari 200 triliyun rupiah setiap tahunnya.

Ujian akhir nasional yang sampai saat ini masih menyisakan persoalan, perlu segera ditangani dengan tepat.  Tetapi selama persoalan mendasar pendidikan yang benyangkut berbagai aspek, seperti sarana prasana, dan fasilitas serta SDM, masih timpang  dan tidak imbang diantara sekolah di nusantara ini, maka selama itu pula persoalan UAN akan selalu muncul.  Belum lagi ditambah persoalan moralitas yang rendah dari beberapa  oknum pendidik dan pejabat, yang hanya akan merusak sistem yang ingin kita tegakkan dan kembangkan.

Tentu saya mengusulkan seperti yang saya tuangkan di atas, agar dibenahi dahulu seluruh pendidikan di semua jenjang secara serius dan bersunguh-sungguh.  Disamping itu pembinaan moral para pendidik dan pejabat terkait haus terus dilakukan dengan pemberian sanksi tegas bagi yang  masih berada dalam akhlak yang rendah dan merusak sistem yang kita tegakkan. Dan kalau semua itu telah dilakukan, dan semua pendidikan dianggap telah setara, maka ujian akhir nasional untuk menentukan standar kelulusan memang harus diterapkan.  Dan ini semua  menjadi sangat adil dan tidak akan menyisakan protes seperti yang saat ini marak.

Semoga Tuhan senantiasa memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua, termasuk para guru dan tenaga kependidikan serta para pejabat terkait, agar semuanya dapat segera menyadari pentingnya menyelesaikan persoalan ini, demi masa depan pendidikan yang kita cita-citakan bersama. Amin.

 

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.