MANCING

Hari Minggu kemarin memang merupakan hari libur bagi sebagian besar orang, termasuk saya, meskipun bukan berarti kemudian dapat beristirahat secara total, karena  justru saya harus menamani anak-anak saya yang tiba-tiba kepengin dan mengajak mincing.  Tetapi jangan dibayangkan bahwa memancing seperti yang dilakukan sebagian orang hanya sebagai hobi dan justru dapat menghilangkan dan melupakan peroalan sehari hari.  Memancing yang saya lakukan bersama dengan anak-anak justru merupakan persoalan tersendiri. Bayangkan, anak-anak saya yang mengajak mancing itu baru kelas 4 dan 2 sekolah dasar, dan mereka berdua juga cewek, lantas bagaimana bisa memancing dengan tenang?.

          Sesungguhnya tiga hari terakhir ini, saya memang harus momong anak, karena isteri kebetulan baru ke Palembang untuk mengantar keponakan yang melaksanakan pernikahan di sana. Untuk menghibur anak-anak saya harus mencarikan sesuatu yang memang diminati oleh mereka.  Pada awalnya saya sama sekali tidak menyangka kalau mereka ternyata menginginkan mancing, karena sebelumnya mereka juga belum pernah melakukannya, dan yang kedua, mereka itu kan perempuan.  Tetapi itulah kenyataannya, mereka meminta saya mengantarkan memancing di tempat pemancingan.

          Ternyata benar bahwa aktifitas memancing yang seharsnya menjadi refresing untuk menghilangkan kepenatan dan melupakan berbagai pekerjaan yang selama satu minggu dilakukan, ternyata malah mejadi beban tersendiri.  Itu karena selama memancing tersebut saya hanya dirbutkan dengan persoalan pancing yang selalu saja nyangkut atau putus yang selalu bergantian antara dua anak saya tersebut.  Hingga selama 3 jam saya tidak pernah menikmati bagaimana  memancing dengan santainya, melainkan justru sibuk dengan memperbaiki dan membenarkan pancing  itu sendiri.

          Kondisi ini sesungguhnya telah memberikan penyadaran yang lebih bagi saya, bahwa mengurus anak, terutama mereka yang masih kecil itu ternyata memang tidak mudah, dan memerlukan kesabaran dan ketulusan yang penuh. Mungkin kita tidak pernah membayangkan bagaimana  kalau mengurus anak tersebut bertahun-tahun sebagaimana yang selama ini dilakukan oleh oleh istri kita.   Bagaimana seandainya yang mengurusi anak-anak tersebut kita, tentu kita tidak akan sangggup melakukannya.  Saya yang mempraktekkannya selama tiga hari saja dapat menyimpulkan bahwa  sesungguhnya kita kaumlaki-laki ini memang terlalu enak dalam mengurus rumah tangga, tetapi terkadang masih ada diantara kita yang menyalahkan dan bahkan memojokkan  isteri kita  dengan berbagai alasan.

          Melihat kenyataan seperti itu seharusnya kita tidak boleh menyalahkan para isteri kita, meskipun mungkin mereka ada sedikit kesalahan atau kehilafan dalam  melalukan tugas sebagai seorang isteri.  Kita mestinya tidak akan pernah maedo mereka dalam kapasitasnya sebagai ibu rumah tangga.  Sungguh sangat keterlaluan, kalau tugas kita lebih ringan dibandingkan dengan tugas istri kita, tetapi kita masih menuntut lebih banyak lagi kepadanya dan bahkan terkadang sampai meremahkannya.

          Menurut saya sungguh berdosa kiranya manakala kita tidak menghargai dan menghormati kaum ibu, karena merekalah sesungguhnya yang telah berjasa mendidik dan memberikan kasih sayang lebih banyak kepada anak-anak kita.  Kasih sayang mereka jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang kita berikan, meskipun terkadang kita juga masih mengkalim bahwa  kitalah yang lebih mengasihi dan menyayangi anak-anak ketimbang mereka.  Seharusnya kita malu kalau sampai mengkalim bahwa jasa kita lebih banyak dibandingkan dengan para ibu dan kasih sayang yang kita berikan kepada anak aanak juga lebih besar ketimbang yang diberikan oleh mereka.

          Demikian besar jasa dan peran seorang ibu terhadap anak-anak dan keluarga mereka, kiranya layak kalau Nabi Muhammad SAW pernah ditanya oleh sahabat tentang siapakah orang yang harus kita perlakukan dengan sangat baik, dan kemudian beliau menjawa: ibumu.  Lalu ketikan ditanyakan lagi kemudian siapa ya Rasul?, Nabi masih menjawab ibumu. Dan ketika ditanyakan kembali untuk yang ketiga kalinya, Nabi juga tetap menjawab dengan jawaban yang sama, yakni ibumu.  Baru setelah itu ketika ditanya untuk yang keempat kalinya Nabi mengatakan bapakmu.

          Cerita tentang pertanyaan sahabat kepada Nabi Muhammad tersebut menggambarkan betapa besar jasa seorang ibu, bahkan besarnya itu tiga kali lipat dibandingkan dengan jasa seorang bapak. Dan pernyataan Nabi sebagai jawaban atas petanyaan sahabat tersebut sangat tepat, mengingat jasa yang diberikan oleh seorang ibu kepada anak dan keluarganya.

          Saking pentingnya peran seorang ibu, sampai-sampai dalam cerita petuah yang banyak dilestarikan dalam kehidupan nyata kita mengungkapkan bahwa ibu itu idu geni.  Artinya  setiap pernyataannya akan dikabulkan oleh Tuhan untuk menjadi sebuah kenyataan.  Karena disarankan kepada semua anak untuk tidak menyakiti kepada seorang ibu, sebab kalau ibu tersebut sampai marah dan tidak rela, maka doanya senantiasa akan dikabulkan oleh Tuhan dengan cepat dan bahkan seketika.

          Kalau kita telusuri betapa jasa seorang ibu, sungguh sangat luar biasa.  Coba kita bayangkan semenjak mereka itu mengandung selama sembilan bulan dengan penuh kesusahan, namun tetap tabah dan bahkan memperlakukan jabang bayi yang dikandungnya dengan penuh kasih sayang.  Setelah itu mereka harus berjuang bahkan harus mempertaruhkan nyawa ketika mereka melahirkan, serta harus banyak megorbankan berbagai keinginannya ketika mereka menyusui anak-anak mereka selama dua tahun.  Bahkan setelah tidak menyusui pun mereka masih harus mengurus anaka-anak dengan kerewelan dan kebandelannya sampai  mereka besar.  Sungguh sebuah kenyataan yang tidak bisa kita bayar atau samakan dengan apapun.

          Namun kisah-kisah nyata disekitar kita ternyata masih banyak kaum laki-laki yang memperlakukan kaum perempuan dengan tidak senonoh.  Mereka diperlakukan seolah sama sekali tidak pernah berjasa, bahkan kadang-kadang hanya  kesalahan yang tidak berarti saja mereka harus rela dimaki dan direndahkan sedemikian rupa, seakan tidak berarti atau makhluk yang  tidak berguna.

          Kembali kepada cerita saya kemarin bahwa dengan momong anak yang meskipun tidak serewel ketika masih kecil saja  sangat terasa berat dan melelahkan, seharusnya dapat menjadi pelajara kepada semua kaum laki-laki bahwa betapa beruntungnya kita kaum laki-laki yang tugasnya ringan tetapi selalu yang mendapatkan penghargaan, manakala anak-anak kita mendapatkan prestasi.  Sementara itu kaum ibu yang tugsanya sangat berat, justru sering dilupakan dan tidak pernah diberikan penghargaan yang semestinya.

          Dengan demikian saya dapat menyatakan bahwa siapapun yang tidak mengahargai kaum ibu atau tidak memberikan hormat kepada mereka, dapat dianggap sebagai orang yang tidak tahu diri dan tidak tahu berbalas budi.  Apalagi kalau sampai memperlakukan kaum ibu dengan seenaknya sendiri bahkan merendahkannya, tentu mereka itu termasuk golongan orang yang berdosa dan sangat keterlaluan.  Artinya kkita harus selalu menghormati kaum ibu dan memperlakukan mereka secara wajar dan bijak, sehingga  bisa  menjadi orang yang bermoral dan tahu berbalas budi.

          Saya merasa sangat beruntung karena dengan kejadian ini ternyata semakin menjadikan saya lebih menyadari bahwa kita ini sesungguhnya sangat kecil. Peran kita dalam kehidupan rumah tangga juga tidak seberapa dibandingkan dengan peran seorang ibu yang dengan tulus dan sabar serta penuh dengan kesungguhan, telah melaksanakan tugas yang sangat berat dan tidak pernah mengharapakan imbalan atau penghargaan dari siapapun juga.

          Dengan keadaan ini saya menjadi malu dan demikian juga seharusnya semua kaum laki-laki atas  perlakuannya selama ini kepada para ibu.  Kita tidak pantas  mengharapkan pelayanan yang lebih dari yang telah diberikan oleh mereka kepada kita, bahkan seharusnya kitalah yang harus melayani kepada para ibu, dan bukannya kkita yang meminta untuk dilayani mereka.

          Saya berharap bahwa kejadian yang saya sadari ini akan menjadi pelajaran bagi  semua kaum laki-laki, sehingga  akan tercipta keharmonisan dalam rumah tangga yang kita bina selama ini.  Dengan menyadari kondisi seperti ini dn kemudian mau melakukan sesuatu yang saya sampaikan sebagaimana di atas, keluarga yang selama ini sudah tenteram dan damai, pasti akan semakin harmonis dan tenteram lagi.  Amin.

         

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.