SERDOS NON PNS

Gaung serdos pada saat ini tampaknya menjadi berbeda  apabila dibandingkan dengan tahun yang lalu, lebih-lebih  jika dibandingkan dengan rahun 2009. Pada tahun 2009 yang lalu menjadi momentum pertama diselenggarakannya sertifikasi dosen, khususnya di kalangan dosen dalam lingkunga kementerian agama.  Bahkan untuk  pencairan tunjangan yang jelas-jelas diatur dalam berbagai peraturan perundangan saja menjadi sangat sulit, disebabkan adanya penafsiran yang berbeda dari berbagai pihak.

          Namun pada sertifikasi dosen kali ini sepertinya sudah tidak lagi menemui kendala yang berarti, teruama  berkenaan dengan pencairan tunjangan dan mekanisme pelaksanaan serdos itu sendiri.  Untuk persyaratan, memang masih sama, terutama dengan serdos tahun lalu, yani disampin berlakunya ketentuan sebagaimana diatur dalam berbagai peraturan yang memang mengatur tentang serdor, yakni dosen yang berhak mengikut serdos ialah mereka yang telah menjadi dosen paling sedikit selama dua tahu berturut-turut dan telah memperoleh ijazah S2, serta tidak sedang melaksanakan tugas belajar dan atau sedang dikenai sanksi.  Disamping itu juga masih diberikan kesempatan bagi dosen yang masih S1 dengan syarat telah mengabdi menjadi dosen  selama 30 tahun secara terus menerus dan telah berusia minimal 60 tahun.

          Saat ini telah dan sedang diproses persiapan serdos di lingkungan kementerian agama. Kuota yang direncanakan tahun ini ialah 4500 dosen, baik  PNS maupun NON PNS.  Bahkan sangat mungkin kalau pada tahun sebelumnya, serdos diperioritaskan kepada dosen PNS, namun saat ini karena jumlah dosen yang PNS hamper seluruhnya telah bersertifikat, maka tentunya kuota yang sebanyak itu akan lebih banyak diberikan untuk dosen-dosen NON PNS.

          Sebagaimana diketahui bahwa untuk tahun sebelum ini kuota untuk dosen non PNS hanyalah sejumlah 400 orang dan untuk dosen PNS sejumlah 4600.  Dan setelah berlangsung seros selama dua kali dengan jumlah kuota sama, saya sangat yakin bahwa peserta serdos dari dosen PNS menjadi sangat berkurang.  Keyakinan saya tersebut dibktikannya para dosen yang saat ini belum mengikuti serdos di IAIN Walisongo Semarang tinggal sekitar 22 orang dosen, dan saya juga yakin bahwa di perguruan tinggi lainnya juga kondisinya hamper serupa.

          Untuk itulah para dosen non PNS saat ini sangat perlu mempersiapkan diri untuk mengikuti serdos tersebut.  Artinya tidak saja siap dalam arti mengisi berbagai form yang disediakan oleh panitia, melainkan siap dalam arti luas yang mencakup perbaikan kinerja dosen dan disesuai kan dengan PP 37 tahun 2009 tentang dosen.  Dosen harus melakukan pekerjaan profesionalnya  sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, yakni melaksanakan tugas pokok tri dharma perguruan tinggi, dimana dharma pendidikan pengajaran dan penelitian harus dilakukan oleh dosen minimal setara dengan 9 sks, dan dharma pengabdian kepada masyarakat minimal setara dengan 3 sks.

          Disampng itu pelaksanaan tatap muka di kelas juga harus memenuhi standar minimal yang dipersyaratkan, yakni untuk mata kuliah yang 2 sks, harus melakukan tatap muka sebanyak 16 kali dalam satu semester, mempersiapakan kuliah dengan baik, memberikan dorongan kepada mahasiswa, menjadi teladan bagi mahasswa, dan melakukan berbgai aktifitas pembelajaran dan persiapannya, seperti menyusun silabi dan rencana pembelajaran atau satuan acara perkuliahan, dan lain sebagianya. 

          Kenapa sesuatu yang tentunya menjadi tugas rutin seorang dosen, harus saya sampaikan secara detail semacam ini.  Semua itu disebabkan masih adanyanya dosen, dan jumlahnya cukup banyak yang belum melaksanakan kewajiban sebagai bentuk kinerja dosen sebagaimana saya sebutkan di atas. Bahkan ada dugaan bahwa banyak perguruan tinggi swasta yang belum menerapkan kewajiban tersebut kepada dosenya.  Kalau hal tersebut benar, maka  sungguh merupakan sesuatu yang harus secepatnya diubah dan disesuaikan dengan peraturan perundangan yang ada.  Jangan sampai nantinya justru akan menjadi problem bagi para dosen dan juga perguruan inggi tersebut.

          Untuk itu  kiranya sangat tepat manakala saya harus memperingatkan para dosen khususnya dosen non PNS yang akan mengikuti serdos tahun ini, dengan harapan, bahwa seuruh dosen yang mengikuti serdos memang benar-benar memenuhi syarat untuk diusulkan  mengikuti proses serdos itu sendiri.

          Sebagai koordinator perguruan inggi Islam swasta di Jawa Tengah, saya merasa terpanggil untuk mengingatkan  seluruh dosen, sebagai bentuk pembinaan yang dapat dilalkukan terhadap seuruh perguruan tinggi Islam swasta di wilayah X jateng.  Dan untuk keperluan tersebut kemarin, hari Rabu tanggal 30 Maret kopertais mengundang pada dosen calon peserta sertifikasi dosen yang dianggap telah memenuhi persyaratan dan telah diusulkan kepada Direktur Jenndral Pendidikan Islam kementerian agama untuk mendapatkan persetujuan dan sekaligus kuota yang memungkinkan seluruh dosen yang memenuhi syarat tersebut dapat disertifikasi pada tahun 2011 ini.

          Untuk urusan dosen yang memenuhi syarat bagi dosen non PNS juga merupakan sesuatu yang menurut saya cukup rumit, karena memang ada beberapa dosen yang sesungguhnya secara normatif tidak memenuhi persyaratan, seperti mereka yang sesungguhnya merupakan PNS non dosen yang kemudian ikut mengajar di perguruan tinggi tertentu dan yang bersangkutan dianggap sebagai dosen tetap di yayasan.  Tentu dalam kasus yang seperti itu dosen tersebut tidak dibenarkan oleh peraturan yang berlaku, dan yang jelas dosen tersebut tidak berhak untuk mengikuti sertifikasi dosen.

          Demikian juga ada dosen non PNS yang sesungguhnya merupakan guru di sekolah, baik MA, SMA, SMK atau SLTA lainnya, dan kemudian yang bersangkutan juga ikut mengajar sebagai dosen di perguruan tinggi tertentu, padahal dosen tersebut sesungguhnya telah mengikuti sertifikasi guru dan dinyatakan lulus serta mempunyai sertifikat guru.  Dalam kasus yang seperti itu sesunguhnya dosen tersebut tidak memenuhi syarat untuk diikutkan sebagai salah satu peserta serdos.

          Ada juga kasus lainnya, yakni dosen swasta di salah satu perguruan tinggi tertentu yang memang diangkat oleh yayasan sebagai dosen tetap di perguean tinggi tersebut, namun pada saat akan mengikuti sertifikasi dosen, yang bersangkutan sedang menjalan tugas, yakni  tugas belajar  dengan dibiayai oleh Pememrintah, atau oleh yayasan dimana ia bertugas.  Dalam keadaan yang demikian sesungguhnya dosen tersebut sedang non aktif sebgai dosen, sehingga tidak memenuhi syarat untuk diikutkan sebagai peserta sertifikasi dosen.  Dan begitu seterusnya, masih banyak persoalan yang brkaitan dengan persyaratan mengiktui serdos, namun tidak atau kurang diperhatikan, sehingga akan menimbulkan kesulitan pada pendataan yang dilakukan oleh panitia.

          Dalam persoalan persyaratan ini, kita memang harus teliti dan tegas.  Artinya  kalau ada dosen yang memang tidak memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, maka kita tidak akan mungkin meloloskan dosen tersebut dengan alasan apapun diluar ketentuan perundangan.  Kita tidak ingin bahwa  sebagai aparat pemerintah yang harus menjalankan suatu amanah, kita ceroboh yang pada gilirannya akan dapat merugikan negara.

          Disamping itu yang lebih penting dalam pelaksanaan sertifikasi dosen tersebut ialah dalam upaya meningkatkan pendidikan tinggi kita dalam upaya mencerdaskan bangsa dan sekaligus enghindarkan masyarakat kita dari kebodohan dan keterbelakangan dalam berbagai aspek.  Kita sangat menginginkan bahwa seluruh dosen yang elah tersertfikasi, benar-benar mencerminkan sebagai dosen yang memang profesional dalam menjalankan tugas dan kewajibannya.  Sehingga dalam proses serdos yang dilakukan tidak ada pembohongan dan ketidak benaran dalam membeikan informasi, terutama dalam penyusunan diskripsi diri.

          Kejujuran seharusnya menempati urutan pertama dalam profesi dosen, karena kejujuran merupakan pangkal moral yang harus terus dipelihara dan dijunjung tinggi oleh dosen.  Sekali saja dosen melakukan kebohongan, maka dia akan selalu dituntut untuk melakukan kebohongan berikutnya, dan itu sangat jauh dari kepribadian seorng pendidik, terutama dosen.

          Semoga dengan serdos yang sedang kita proses ini akan benar-benar meloloskan dosen-dosen yang benar-benar mempunyai  kompetensi yang dibutuhkan, yakni kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian dan sosial.  Denag begitu sebagai orang dan sekaliugus sebagai koordinator PTAIS di Jawa Tengah, kami dapat merasa bangga dan tentu bersyukur, karena dengan kondisi seperti itu, nantinya diharapkan akan dilahirkan para alumni yang mumpuni dan memang memenuhi harapan masyarakat secara umum.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.