KISRUH KONGGRES PSSI

Sesungguhnya kejadian seperti yang tidak diinginkan oleh masyarakat bola Indonesia kemarin, sudah dapat diprediksi sebelumnya, karena memang tanda-tanda untuk hal itu telah ada  sejak  beberapa saat sebelumnya, bahkan jauh-jauh hari sebelumnya juga sudah ada sinyal yang mengsyaratkan akan terjadinya kekisruahn tersebut.  Andai toh misalnya konggres berlangsung muluspun tentu akan menyisakan berbagai persoalan yang sangat pelik, mengingat konggres yang digelar di Pekanbaru tersebut sarat dengan aroma tidak sedap.

          Barangkali baru kali ini ada sebuah konggres milik masyarakat sipil yang  dikerumuni oleh TNI dengan seragam lengkap.  Tidak jelas apa maksud kehadiran banyak tentara dalam sebuah perhelatan sepakbola tertinggi di tanah air tersebut.  Kalau dimaksudkan sebagai upaya untuk menjaga keamanan dan ketertiban konggres, tentu sangat tidak wajar, karena urusan keamanan itu menjadi tanggung jawab polri, dan di sana juga sudah tampak beberapa anggota polri yang siap mengamankan konggres.  Lantas apa keperluan TNI datang ke arena konggres?.  Tentu ini menyisakan  berbagai pertanyaan yang harus dijawab  dengan bijak, agar masyarakat tidak menjadi antipati terhadap persoalan tersebut.

          Memang sejak munculnya LPI (liga primer Indonesia) beberapa waktu yang lalu, tampaknya pengurus PSSI yang saat ini berkuasa tampak kebakaran jenggot, karena merasa kedudukannya terancam, padahal kalau pengurus tersebut lwbih mementingkan persepakbolaan nasional ketimbang kedudukan, tentu mereka akan menyambut baik kehadiran LPI tersebut dan kemudian dibicarakan dengan baik, bagaimana caranya LPI itu bisa bergulir dan justru tidak bertabrakan dengan ISL yang telah lebih dahulu berjalan.

          Kalau mereka mau melakukan hal tersebu, pasti di sana banyak jalan untuk mewadahi LPI tersebut, apalagi LPI yang digagas oleh pengsaha Arifin Panigoro tersebut tidak akan ngrusoi uang pemerintah atau APBD, tetapi di desain dalam kerangka sepakbola yang benar-benar professional.  Tentu semua itu akan semakin memajukan sepakbola nasional.  Namun ya lagi-lagi karena kepentingan gengsi dan kedudukan, maka kehadiran LPI justru dianggapnya sebagai saingan dan mesti harus dimatikan, dengan berbagai cara, termasuk menyingkirkan para pemainnya, meskipun sudah jelas berkualitas.

          Jadilah kemudian ontran-ontran di persepakbolaan kita, yang terus berlarut, karena LPI meskipun tidak diakui PSSI dan bahkan konon tidak diakui oleh FIFA, tetapi LPI justru tidak butuh itu, yang penting sepak bola nasional dapat maju dan berkembang.  Dalam perjalanannya kemudian ternyata diketahui bahwa  ada permainan di internal pengurus PSSI itu sendiri dan FIFA yang selama ini dianggap tidak mengakui dan bahkan menganjurkan dimatikannya LPI, ternyata tidak demikian.  FIFA ternyata justru menganjurkan kepada PSSI untuk merangkul LPI sehingga menjadi bagian dari PSSI, dan banyak masalah lainnya yang tidak sesuai dengan yang selama ini digembar gemborkan PSSI.

          Kemuakan masyarakat bola tanah air kemudian memuncak dengan diadakannya berbagai unjuk ras di berbagai daerah di tanah air untuk mereformasi PSSI.  Muncul banyak keinginan dari masyarakat bola Indonesia.  Ada yang kemudian menginginkan ada PSSI tandingan untuk menyelenggarakan konggres dalam upaya  memilih pengurus baru.  Tetapi ada juga yang tetap menginginkan PSSI tetapi seluruh pengurus lama yang dianggap gagal dalam membina sepak bola tanah air, harus diganti dengan tenaga baru yang benar-benar fres dan mampu membawa prestasi sepakbola  ke level yang lebih baik.

          Dengan berbagai pandangan dan ontran-ontran yang telah terjadi, akhirnya kemarin direncanakan diselenggrakan konggres PSSI dengan agenda memilih komite pemilihan dan komite banding, untuk persiapan konggres berikutnya dalam memilih pengurus baru, sesuai dengan a ketetapan FIFA.  Namun karena belum tuntasnya persoalan yang melilit di PSSI, konggres akhirnya kisruh dan terpaksa harus digagalkan sampai waktu yang belum diketahui.

          Setelah konggres dinyatakan batal, ternyata ada 78 pemilik suara yang kemudian menyelenggarakan konggres "tandingan" dan  kemudian telah memutuskan suatu keputusan penting dalam mempersiapkan konggres pemilihan pengurus yang akan digelar 29 April mendatang.  Keputusan tersebut aialh dengan dipilihnya Harbiansyah sebagai Ketua Komite Banding dan Ahmad Riyadh sebagai Ketua Komite Pemilihan.

          Namunapakah hasil konggres dadakan ini akan diakuioleh FIFA atau AFC, itu tergantung waktu, sebab mereka menganggap bahwa konggres yang diadakan tersebut bukan atas nama KPPN (Komite Penyelamatan Persepakbolaan Nasional), melainkan atas nama PSSI, dan mereka akan terus mengkomunikasikannya dengan FIFA dan AFC, sehingga mereka dapat mengakui hasil tersebut.

          Tampaknya kisruh di PSSI ini belum akan selesai, karena para pihak saling mengklaim dan mengangap benar.  Lebih-lebih adanya berbagai kepentingan yang berbeda dari para pihak tersebut, sehingga kalau toh nantinya ada salah satu yang dianggap sah oleh FIFA, tetapi tidak dibarengi dengan adanya  rekonsiliasi dari semua pihak, saya khawatir, persepakbolaan nasional justru tidak akan beranjak dari kondisi saat ini, dan bahkan sangat mungkin malah lebih terperosok lebih dalam lagi ke level yang sangat rendah.

          Bahkan berita yang tarakhir juga menyebutkan bahwa  sebagian anggota Dewan yang mebidangi oleh raga ini juga ikut bersuara yang justru menambah persoalan.  Pasalnya kalau yang diuber-uber oleh masyarakat ialah Nurdin Halid yang dianggap sebagai orang paling bertanggung jawab dalam prestasi sepak bola nasional dan sekaligus menumpuknya dosa pada dirinya, kini muncul tudingan yang berbeda, yakni bahwa yang berdosa atas kekisruhan di PSSI bukan hanya Nurdin Halid seorang, dan tentu dengan seluruh bala dan pengikutnya, melainkan juga seluruh pemilik suara atau seluruh pengurus pengda di seluruh Indonesia.

          Tuduhan ini didasarkan kepada kenyataan bahwa seharusnya sejak tahun 2007 mereka menyelenggarakan konggres luar biasa, karena ketua umumnya tidak lagi memenuhi syarat. Tetapi kenyataannya sampai saat ini mereka justru membiarkannya, bahkan sebelum terjadinya ontran-ontran di PSSI, seakan mereka akan mengegolkan kembali Nurdin Halid.  Bukti dari itu semua sangat jelas, bahwa dari bursa calon ketua umum yang diajukan, ternyata Nurdin Halid mendapatkan dukungan mayoritas, sedngkan calon lainnya, yakni Nirwan D Bakri. George Sutta dan Arifin Panigoro hanya kebagian beberapa suara, bakan ada yang hanya diusulakn oleh satu suara.

          Untuk itu dosa yang ada dipersepakbolaan nasionalkita  dianggung secara bersama oleh pengurus PSSI dan seluruh pngurus pengda di seluruh Indonesia.  Untuk itu, kalau kita menginginkan reformasi menyeluruh, ya tidak hanya Nurdin Halid dan pengurus PSSI saja yang diganti, tetapi hamper seluruh pengurus daerah juga harus diganti.  Namun kalau hal ini yang diinginkan, sungguh merupakan sesuatu yang sangat sulit diwujudkan, dan bahkan hamper merupakan mission imposible.

          Sebagai salah satu penggemar serta penikmat sepak bola di tanah air, saya merasa perlu urun rembuk dalam memecakan persoalan ini.  Menurut hemat saya, saatnya kita dan seluruh insane sepakbola nasional coolling down, menenangkan pikiran sambl memikirkan hal terbaik bagi persepakbolaan nasioanl dimasa mendatang.  Dengan hati dan pikiran yang jernih dan terjauhkan dari kepentingan pribadi dan jabatan, tentu akan melahirkan  kesimpulan yang cukup baijak dan  bermanfaat bagi semuanya.

          Barangkali yang paling realistis ialah dengan rekonsiliasi yang difasilitasi oleh pihak yang benar-benar netral.  Semua pihak harus mengedepankan profesinalitas dan mendahulukan kepentingan sepakbola nasioanl ketimbang persoalan ego dan kedudukan. Dalam rekonsialisais tersebut perlu dicanangkan program prioitas  jangka pendek, menengah dan panjang.  Untuk melaksanakan seluruh program tersebut dibentuklah kepengurusan yang terdiri dari orang-orang yang tidak terlibat dalam konflik antara berbagai kubu.  Jadi kepengurusan tesebut memang diisi oleh orang-orang yang meman professional dalam organisasi serta mempunyai pengalaman dalam mengelola klub dan sepakbola, tetapi sekali lagi bahwa mereka itu tidak terlibat dalam berbagai kepentingan dan konflik yang selama ini terjadi.

          Dengan begitu diharapkan bahwa sepakbola nasional kita akan bisa beranjak dari keterpurukan dan dapat berbicara dalam level asia bahkan pada saatnya nanti akan dapat berbicara di tingkat dunia.  Tetapi sebaliknya, kalau hanya mencari menang-menangan, maka yang akan menjadi korban ialah sepak bola itu sendiri, dan kita harus bersabar untuk menyaksikan sepak bola kita terus menjadi bulan bulanan Negara tetangga.  Semua terserah kepada kita, semoga kita dan mereka diberikan petunjuk oleh Tuhan untuk dapat memikirkan kepentingan yang lebih besar ketimbang kepentingan sesaat.  amin.

         

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.