MEMBINA SANTRI BERPRESTASI




Sejak kemarin hingga besuk, rencananya  akan dibahas berbagai macam hal berkaitan dengan santri berprestasi.  Sebagaimana kita katahui bahwa kementerian agama RI melalui Direktoral Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren selama ini telah melakukan upaya nyata dalam membina santri melalui pemberian beasiswa kepada mereka yang dianggap berprestasi untuk melanjutkan studi mereka di perguruan tinggi terkemuka dan favorit di tanah air.  Dan salah satu agenda yang dibahas di hotel marina Ancol Jakarta tersebut ialah bagaimana mempersiapkan rekrutmen santri tersebut untuk tahun ajaran 2011/2012.

Menurut saya system rekrutmen santri yang selama ini ditempuh cukup baik dan dapat menjaring santri-santri yang memang berprestasi.  Namun memang ada berbagai pertimbangan yang selalu muncul dalam setiap pembahasan mengenai rekrutmen tersebut.  Salah satu pihak menghendaki bahwa  rekrutmen memang harus murni berdasarkan hasil seleksi yang dilaksanakan secera serempak di seluruh Indonesia,  tetapi ada pihak lain yang menghendaki seyogjanya ada beberapa pertimbangan lain, yakni pemerataan terhadap santri di berbagai wailayah di Nusantara.  Karena sebagaimana diketahui secara luas bahwa  beberapa pondok pesantren yang ada di luar jawa tentu tidak akan dapat berkompetensi dengan pondok-pondok pesantren yang ada di jawa.

Kalau didasarkan hanya semata-mata dari hasil ujian seleksi, maka yang terjaring hanyalah santri-santri yang dari jawa, terutama jawa Timur, dan santri-santri dari luar jawa akan sangat sulit mendapatkan kesempatan menikmati beasiswa yang diediakan oleh kementrian agama tersebut.  Untuk usulan pemerataan tersebut selalu muncul dan tidak pernah surut.

Menurut hemat saya, kalau toh ususlan mengenai pemerataan tersebut dikabulkan oeh kementerian, maka yang harus diingat ialah jangan sampai kebijakan tersebut kemudian mengorbankan kualitas.  Bolehlah ada sedikit pemerataan, tetapi harus ada batas tertentu, baik mengenai nilai yang didapatkan maupun jumlah kuantitasnya.  Artinya beberapa santri dari luar jawa memang perlu diberikan kesempatan, tetapi khusus bagi mereka yang kemungkinan dapat dikembangkan lebih lanjut dengan melihat hasil tes, terutama dalam hal potensi akademiknya.  Demikian juga jumlah mereka yang diberikan kesempatan tersebut jangan sampai lebih dari  7 % dari keseluruhan santri yang diterima dan diberikan beasiswa.

Usulan saya ini semata-mata hanya untuk memberikan kesempatan kepada santri-santri dari luar jawa yang memang dalam kenyataannya masih di bawah santri dari jawa,  Tetapi sekaligus tidak akan mengorbankan kualitas santri itu sendiri.  Karena memang program ini didesain untuk memberikan pendidikan yang lebih kepada santri yang selama ini dianggap sebagai orang-orang pinggiran dan tidak dapat bersaing dengan masyarakat kota pada umumnya.  Imaj bahwa santri itu identik dengan kekolotan, jorok, reaktif dan lainnya harus segera dihilangkan, tidak dengan orasi, melainkan dengan bukti nyata, yakni melalui peran santri dalam kehidupan di masyarakat.

Untuk kepentingan itulah pemilihan santri yang benar-benar berprestasi memang sangat diprioritaskan.  Selanjutnya yang harus dilakukan oleh kementerian agama ialah memantau dan terus melakukan pembinaan kepada mereka yang sudah terjaring dan melaksanakan perkuliahan di beberapa perguruan tinggi mitra.  Jangan sampai mereka kemudian dibiarkan begitu saja dengan hanya memberikan beasiswa, tetapi tidak melakukan upaya-upaya pembinaan nyata di lapangan.

Saya termasuk yang merasa khawatir dengan keberadaan para santri tersebut setelah mereka menyebar di berbagai perguruan tinggi, terutama perguruan tinggi di lingkungan diknas.  Pada saat ada pertemuan para pimpinan perguruan tinggi mitra kemenag di Denpasar Bali, beberapa waktu yang lalu sempat terjadi pembiicaraan ringan ketika makan malam, bahwa ada indikasi bahwa sebagian diantara santri di beberapa perguruan tinggi tertentu ternyata tidak mendapatkan pembinaan dari kementerian, sehingga mereka kemudian masuk dalam barisan kelompok tertentu yang dapat dimasukkan kedalam kelompok garis keras.  Meskipun jumlah tidak banyak, tetapi kondisi tersebut menurut saya sunggunh sangat memprihatinkan.

Kementerian agama harus segera mengadakan evaluasi menyeluruh dan kemudian ditindaklanjuti dengan upaya nyata  dalam membina mereka.  Kementerian agama harus  melakukan langkah kongkrit untuk mengajak bekerja sama dengan  pondok pesantren terdekat untuk membina mereka, terutama di perguruan tinggi  di lingkungan diknas.  Kalau perguruan tinggi di lingkungan kementerian agama, saya kira sangat mudah untuk melakukan hal tersebut.  Dan telah terjadi memanglah demikian. Di IAIN Walisongo Semarang, misalnya, seluruh santri ditempatkan di satu pondok pesantren, sehingga kehidupan kesehariannya juga  ala pesantren dan pembinaan terhadap merekapun juga akan sangat mudah, baik  dalam urusan yang berkaitan dengan studi mereka maupun dalam hal amaliah sehari-harinya.

Memang harus diakui bahwa akan sangat sulit untuk melakukan pembinaan bagi santri yang tersebar di beberapa fakultas dan program studi.  Namun menurut saya masih sangat mungkin untuk dapat dikoordinasikan, karena  kementerian agama mempunyai senjata yang sangat ampuh yakni beasiswa itu sendiri.  Dengan ikatan yang demikian, sesungguhnya sangat mudah untuk mengendalikan mereka  dan sedikit “memaksa” mereka untuk berada dalam satu tempat yang sama, yakni pondok pesantren.  Dengan tempat tinggal yang satu atau dua tempat yang ditentukan, akan memudahkan pembinaan kepada mereka dan sekaligus mengotrol akyifitas mereka.

Kita tentu tidak akan rela kalau kementerian agama yang membiayai mereka, tetapi kemudian ada pihak lain yang menagkap dan memanfaatkannya untuk kepentingan tertentu.  Para santri yang diberikan beasiswa tersebut rata-rata masih sangat rentan untuk diajak bergabung dengan berbagai kelompok, karena mereka hakekatnya masih labil dalam berpikir dan dalam bersikap.  Bahkan mereka  masih banyak yang dihinggapi keingina  untuk mencoba sesuatu yang baru, yang belum pasti bahwa yang baru tersebut sesuai dengan karakternya sebagai santri maupun tidak.

Inilah yang harus disadari oleh kementerian agama dan segera melaksanakan program pembinaan tersebut.  Kalau sekiranya untuk bekerjasama dengan pondok pesantren tersebut kemenag kesulitan dana, mungkin  bisa meniru program bidik misi dilingkungan diknas, yakni dengan memberikan alokasi dana yang diberikan kepada para santri untuk dikelolan oleh para pengelola biasiswa tersebbut, yang meliputi pihal perguruan tinggi mitra dan juga pondok pesantren.  Dengan petunjuk teknis  yang seperti itu, nantinya tidak akan temuan yang dianggap salah dan menyalahi peraturan yang ada.

Para pengelola beasiswa santri berprestasi pun juga tidak akan ragu melangkah dalam mengelola dana tersebut untuk kepentingan santri.  Tetapi kalau tidak ada petunjuk teknis seperti itu, kemungkinan ada sebagian pengelola yang berani melakukan pembinaan dengan mengambil sebgian dana beasiwa tersebut untuk pembinaan mereka, tetapi sangat mungkin ada yang tidak berani mengambil resiko, sehingga akibatnya kebijakan masing-masing pengelolan beasiswa tersebut menjadi berbeda, dan pola pembinaan terhadap santripun juga berbeda.

Menurut saya kementerian agama harus berani mengambil langkah yang mengarah kepada kemungkinan melakukan pembinaan dengan mudahkepada para santri tersebut, yakni melalui kerjasama dengan pesantren terdekat untuk membina santri. Belum terlambat untuk melakukan semua itu, karena kalau informasi seperti yang saya sampaikan tadi dibiarkan, dapat dipastikan kementerian agama akan dirugikan, kerena  sebagai penyandang dana, tetapi malah tidak mendapatkan manfaat dari pengeluaran dana tersebut, dan justru yang akan mengambil manfaat ialah pihak lain yang tidak sepaham dengan misi kementerian agama itu sendiri.

Semoga dengan diskusi yang dilakukan dalam pertemuan pengelola beasiswa santri berprestasi dari beberapa perguruan tinggi mitra ini akan dapat memberikan inspirasi dan sekaligus gairah serta keberaniankepada kementerian agama untuk segera mengambil langkah kongkrit dalam menyelamatkan para santri yang selama ini diberikan beasiswa.  Dengan begiru kita masih dapat berharap bahwa tjuan utama program pemberian beasiswa santri berprestasi ini akan benar-benar membawa manfaat yang besar bagi umat Islam secara keseluruhan.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.