MENGENAL AL-BUKHARI2

Sebagimana diketahui secara umum bahwa al-Bukhari dikenal sebagai ahli hadis yang sangat handal dan cerdas, sehingga hadis-hadis riwayatnya mendapatkan tempat yang sangat terhormat dan tinggi di kalangan umat Islam.  Namun disamping sebagai seorang ahli dalam bidang hadis, beliau juga ahl dalam bidang lainnya, seperti bidang fiqh, dan lainnya.  Yang jelas al-Bukhari sangat pantas untuk disebut sebagai ahli fiqh, disamping tentu sebagai ahli hadis.

Kesimpulan ini  didasarkan atas analisa terhadap kitabnya al-Jami` al-Shahih, yang antara lain:

   1.   al-Bukhari di dalam kitabnya tersebut telah mengemukakan beberapa masalah yang cukup penting mengenai masalah fiqh, ketentuan hukum dan juga etika.  Kecerdasan yang dimiliki, rupanya tidak disia-siakannya untuk menggali hukum dan masalah furu`iyyah (fiqh) yang terdapat dalam materi hadis yang disusunnya.

   2.   Dalam upaya untuk mendukung pendapat tentang masalah hukum tersebut, al-Bukhari juga menggunakan ayat Alquran,  sehingga di dalam al-Jami` al- Shahih dapat ditemukan beberapa ayat Alquran yang digunakan untuk  memperkuat terhadap pernyataan hadis yang disusunnya.

   3.   Al-Bukhari juga memasukkan beberapa pendapat sahabat Nabi dan tabi`in dalam upayanya untuk mendukung pendapat yang dituangkan di dalam al-Jami` al-Shahihnya.

   4.   Disamping itu beberapa komentar dan catatan al-Bukhari sendiri atas beberapa hadis di dalam al-Jami` al-Shahih, menjadi bukti atas  kefaqihannya.

   5.   Beberapa bab di dalam kitab al-Jami` al-Shahih yang bernada pertanyaan juga menjadi tanda bahwa al-Bukhari dapat digolongkan sebagai ahli fiqh.  Bab yang ditulisnya tersebut sebagai  suatu pendapat yang menurutnya  merupakan  masalah yang masih diperdebatkan oleh paraulama, dan  di antara berbagai pendapat tersebut  tidak terdapat pendapat yang  ra>jih; seperti  “bab apakah masalahnya seperti itu?”  dan “bab apakah ada yang berpendapat  seperti itu?”.

   6.   Bukti bahwa al-Bukhari dapat dimasukkan ke dalam golongan ahli fiqh yang tidak terbantahkan lagi adalah sistematika kitab al-Jami` al-Shahih.   Bab-bab yang disusunnya jelas merupakan sistematika fiqh.  Hal ini didukung pula oleh kenyataan bahwa  bab-bab/ kitab-kitab di dalam al-Jami` al-Shahih disusun oleh al-Bukhari terlebih dahulu sebelum dia mengisinya dengan hadis-hadis yang diseleksi selama  enam belas tahun.  Bahkan ada beberapa bab yang telah ditentukan tetapi tidak satu hadis pun  dimasukkan ke dalamnya.

         Itulah beberapa bukti bahwa  di samping sebagai  ahli hadis yang disegani, al-Bukhari juga dapat digolongkan ke dalam  ahli fiqh.   Sehubungan dengan  kefaqihannya ini ternyata  menarik perhatian para ulama, terutama tentang  asal-usul madzhab yang dianutnya.  Di antara para ulama ada yang  menganggap bahwa  al-Bukhari mengikuti madzhab Syafi`i, seperti al-Subki yang memasukkan al-Bukhari ke dalam al-Thabaqat al-Syafi`iyyahnya.  Sementara  ulama lain menganggap bahwa al-Bukhari sesungguhnya  merupakan seorang mujtahid mustaqil yang tidak mengikuti madzhab mana pun. Namun, boleh jadi, al-Bukhari pada awalnya  mengikuti madzhab Syafi`i, kemudian sejalan dengan perjalanan waktu dan kemampuannya, berupaya berijtihad secara mandiri, dan terbukti bahwa beberapa pendapatnya bertentangan dengan pendapat al-Syafi`i, misalnya tentang  kebatalan wudlu` karena  menyentuh lawan jenis.

Perjalanan panjang al-Bukhari dalam upaya memperkaya  khazanah keilmuan (hadis) memungkinkannya untuk bertemu dan sekaligus berguru kepada tokoh-tokoh hadis di berbagai belahan dunia  Islam, terutama  yang cukup punya nama pada saat itu.  Karena itu tercatat tidak kurang dari  1.080 orang guru telah dia temui dan memberikan riwayat hadis kepadanya.  Dalam al-Jami` al-Shahih saja  telah terabadikan  289 orang guru sebagai perawi hadis.

Kenyataan ini menunjukkkan kesungguhan al-Bukhari dalam menekuni ilmu hadis.  Dengan jumlah guru yang cukup banyak dalam suatu disiplin ilmu (hadis),  tentu akan menjadikannya seseorang yang mempunyai wawasan luas  dan pada akhirnya akan membawanya menjadi seorang yang bijak dalam  melihat kenyataan dalam bidang ilmu hadis tersebut. Di antara para guru al-Bukhari yang cukup terkenal ialah: `Ali bin al-Madini (w. 234 H./848 M.), Ahmad bin Hanbal (164 – 241 H.), Yahya bin Ma`in (158 – 233 H.), Ishaq bin  Rahawayh ( w. 238 H.), dan lainnya.

Sementara itu murid-murid atau  para ulama yang meriwayatkan hadis darinya secara hitungan tidak dapat dipastikan jumlahnya.  Menurut suatu riwayat yang diambil oleh  Ibn Hajar al-`Asqalani bahwa  kitab al-Jami` al-Shahih saja  telah didengar oleh tidak kurang dari 90.000 orang;  Namun beberapa nama dapat disebutkan di sini, antara lain: al-Tirmidzi (209-279 H), Muslim bin al-Hajjaj (206-261 H), Yahya bin Muhammad bin Sa`id al-Baghdadi, al-Nasa’i (215-303 H), dan lain-lainnya.

          Al-Bukhari semenjak  kecilnya tidak banyak berbicara, apalagi mengenai hal-hal yang sifatnya main-main.  Namun demikian  dia dapat digolongkan ke dalam  orang yang cukup ramah.  Sifatnya yang sangat menonjol  adalah suka menolong orang lain, harta dan kekayaan yang dimilikinya banyak disumbangkan, terutama kepada para pencari ilmu pengetahuan. Bahkan secara berlebihan diceritakan bahwa dia  pernah berkata:  “Setiap bulan saya berpenghasilan 500 dirham, dan semuanya saya belanjakan untuk kepentingan pendidikan”, sebab baginya apa yang ada di sisi Allah  itu lebih baik dan kekal.

          Dalam hal mengritik  ulama  dan pembawa hadis,  dia selalu berusaha melakukannya secara halus walaupun tidak mengambil dan  meninggalkan hadis tersebut.  Hal ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa cukup banyak hadis yang dia tinggalkan  bahkan jumlahnya mencapai ratusan ribu hadis, namun hampir tidak dijumpai kritiknya yang sampai menusuk hati, menghina dan merendahkan.  Untuk kritik-kritik tersebut, dia banyak menggunakan kata-kata seperti :

  فيه نظر, تركوه ,سكتوا عنه

dan paling paling kalau keterlaluan dia hanya mengatakan dengan : 

.منكــر الحد يث

          Dalam hal kecintaan dan hormatnya kepada ilmu pengetahuan, dia  bahkan sangggup untuk menderita asalkan ilmu tersebut tidak dihinakan atau dipandang hina.  Bahkan, hanya disandingkan dengan kekuasaaan yang menurut pengamatannya penuh dengan tipu muslihat pun  dia menolak dan tidak mengizinkannya.  Contoh konkrit  ketegaran pendiriannya dapat dilihat dalam kisah ketika dia diminta untuk mengajarkan  kitabnya kepada penguasa dan keluarganya sebagaimana yang telah disebutkan di atas.

          Sementara itu  cukup banyak komentar yang diberikan oleh para ulama dan tokoh serta kritikus hadis yang ditujukan kepada al-Bukhari, baik mengenai  keistimewaan dirinya, kekurangannya, maupun karya-karyanya.  Namun  kebanyakan  komentar tersebut bermuara kepada pujian terhadap al-Bukhari, dan hanya sedikit yang  mengritiknya.  Kalau  ada, itu pun terbatas pada sisi-sisi luar yang tidak menyentuh esensi yang lebih dalam.

          Untuk lebih jelasnya berikut ini  disebutkan beberapa komentar  mereka mengenai al-Bukhari sebagai berikut:

Abu al-`Abbas Sa`id mengatakan bahwa andaikata ada orang yang mampu menulis 30.000 hadis sekali pun, itu tidak akan mengalahkan  kitab tarikhnya al-Bukhari;  Hasyid bin Isma`il pernah menceritakan bahwa  ketika al-Bukhari datang berkunjung ke Bashrah, maka Muhammad bin Basyar (w. 252 H.), seorang tokoh terkemuka di sana berkomentar dengan mengatakan bahwa “kami telah kedatangan pentolan fuqaha’.  Pada kesempatan yang lain, Muhammad bin Basyar juga pernah mengatakan bahwa di dunia ini hanya ada empat  orang huffadh (penghafal seratus ribu hadis lebih beserta sanadnya) dan Muhammad bin Isma`il al-Bukhari merupakan salah satu di antara mereka.  Sementara itu al-Farbari (?) pernah menceritakan suatu kejadian di mana para murid  `Amr bin `Ali (w. 249 H.) pernah menanyakan suatu hadis kepada al-Bukhari dan dijawab dengan tidak tahu, kemudian mereka datang kepada `Amr bin `Ali dan menceritakan hal tersebut sambil bertanya tentang  hadis yang dimaksud tersebut kepadanya.  Dengan  tanpa  ingin tahu masalah hadis yang ditanyakan tersebut, `Amr bin `Ali berkomentar dengan mengatakan bahwa suatu hadis yang al-Bukhari tidak mengetahuinya, sesungguhnyalah itu bukan hadis.  Abu Mus`ab (?) bahkan pernah membandingkan secara personal antara al-Bukhari dengan ulama lain, seperti Ahmad bin Hanbal, yang intinya al-Bukhari lebih unggul dari lainnya.  Demikian juga para ulama  Kufah, Bashrah, Syam dan Hijaz, sebagaimana yang diceritakan oleh Muhammad al-Nadlar al-Syafi`i (?), selalu lebih mengagungkan dan mengunggulkan al-Bukhari daripada mereka sendiri.  Sementara ulama  lain seperti Shalih bin Muhammad al-Asad (w. 145 H.) pernah mengatakan bahwa al-Bukharilah  orang yang paling tahu atau `alim tentang hadis  Rasul.   Muhammad bin Idris al-Razi Abi Hatim (240-327 H.) bahkan berani memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang pernah masuk bumi Irak melebihi al-Bukhari dalam hal kealimannya terhadapa hadis  Nabi.  Sedangkan Yahya bin Ja`far (w. 243 H.) berandai-andai dengan mengatakan seandainya aku mampu untuk menambah umur al-Bukhari, pasti aku akan menambah umurnya.  Abu Huzaymah (?) juga pernah mengatakan bahwa di kolong langit ini, tak seorang pun ada yang lebih `alim dan hafal terhadap hadis-hadis Rasul daripada Muhammad bin Isma`il.  Ishaq bin Rahuyah (161- 238 H.) suatu saat menganjurkan kepada pemerhati hadis untuk mencatat hadis-hadis  dari  seorang pemuda yang tidak lain adalah al-Bukhari.  Sedangkan Hasyid bin `Abd Allah pernah mendengar al-Musnadi (?) berkata bahwa Muhammad bin Isma`il adalah seorang imam, dan barang siapa yang tidak menganggap dan menjadikannya imam, maka orang tersebut harus dicurigai.  Pernah juga al-`Aqili (?) mengatakan bahwa ketika al-Bukhari menyusun kitabnya al-Jami` al-Shahih, dia menyodorkannya kepada gurunya `Ali bin al-Madini (w.234 H.), Yahya bin Ma`in (158-233 H.), dan Ahmad bin Hanbal (164-241 H.) serta lainnya, kemudian mereka mengujinya dan akhirnya mereka berkesimpulan bahwa seluruh hadis di dalam kitab al-Jami` al-Shahih bernilai sahih kecuali hanya ada empat hadis saja yang tidak sahih;  Masih banyak lagi komentar yang diberikan oleh para ulama dan ahli mengenai diri al-Bukhari, tetapi dengan memaparkan sebagian di antara komentar-komentar tersebut, kiranya  dapat dianggap telah mewakili  pendapat mereka.   Pendapat-pendapat tersebut sebagaimana  dikatakan di awal memang kebanyakan hanya memuji  kepiawian al-Bukhari dan hanya sedikit yang  berani mengritiknya meskipun yang sedikit itu pun  belum menyentuh aspek yang cukup signifikan.

          Perlu disampaikan di sini bahwa sebagai seorang ulama yang hampir seluruh hidupnya di abdikan untuk ilmu pengetahuan, khususnya hadis, sudah barang tentu banyak  pemikiran dan gagasan yang telah ditelorkannya.  Namun yang harus disadari ialah bahwa tidak semua pemikiran dan gagasan tersebut dapat diabadikan dalam karya-karya yang dapat diwarisi oleh generasi berikutnya.  Akan halnya dengan al-Bukhari,  dia banyak menorehkan  pemikiran-pemikirannya dalam karya-karya yang cukup cerdas.  Namun karya-karyanya tersebut  belum seluruhnya  dapat diterbitkan;  ada di antaranya yang masih berupa manuskrip dan ada sebagian yang telah  dibukukan.  Di antara sekian banyak karya  al-Bukhari dapat disebutkan  sebagai berikut:

1.                al-Jami`  al-Shahih

2.               Adab al-Mufrad

3.               al-Tarikh al-Shaghir

4.               al-Tarikh al-Awsath

5.               al-Tarikh al-Kabir

6.               al-Tafsir al-Kabir

7.               al-Musnad al-Kabir

8.               Kitab al-`Ilal

9.               Raf` al-Yadayn fi al-Shalat

10.           Kitab Khalq  ‘Af`al al-`Ibad

11.             al-Jami` al-Kabir

12.           Musnad al-Kabir

13.           Kitab al-Hibbah

14.           Kitab al-Wijdan

15.           Kitab al-Mabsuth

16.           Kitab al-Fawa’id

17.           Birr al-Walidayn

18.           Kitab al-Asyribah

19.           al-Qira’ah khalf al-Imam

20.          Kitab al-Dlu`afa’

21.           Asami al-Shahabah

22.          Kitab al-Kuna  dan lain-lainnya.

          Demikianlah  riwayat secara serba singkat mengenai tokoh hadis yang disegani oleh hampir seluruh ulama dalam bidang ini dan juga  bidang lainnya.  Dengan melihat sejarah hidupnya tersebut, tentu saja  dengan segala karya dan juga pandangan para ulama terhadap dirinya, maka  akan  dapat dijadikan pertimbangan dalam memberikan kritik dan  analisis terhadap beberapa karya dan juga buah penanya.  Akan tetapi bukan berarti kritik yang nantinya akan disampaikan menjadi tumpul dan tidak kreatif, melainkan justru akan memberikan nuansa  perpaduan antara  kritik yang berlandaskan kaidah ilmiah dengan penghargaan atas kerja keras yang telah dilakukan.

          Dari sekian banyak karya al-Bukhari tersebut, salah satunya, yang bernama al-Jami` al-Shahih, ternyata merupakan kitab yang cukup dikenal dan bahkan menjadi rujukan utama bagi sebagian besar ulama sampai saat ini.  Karena itulah kitab ini sangat perlu untuk diketahui secara lebih detail oleh umat Islam, terutama para dai dan khatib serta siapa saja yang memang concern dengan hadis..

 

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.