UPAYA MEMFUNGSIKAN DAN MENGEMBANGKAN MASJID Sebuah gagasan alternatif

I

Ketika  Rasulullah saw. membangun masjid, baik untuk yang pertama di Quba’ maupun di Madinah,  tidak hanya dimaksudkan untuk sarana beribadah kepada Allah swt. semata.   Lebih dari itu masjid juga digunakan sebagai sarana  mencerdaskan umat, sebagai sarana  berkomunikasi antara umat dan sekaligus sebagai pusat kegiatan umat secara positif dan produktif.  Kondisi ini  kemudian juga dilestarikan oleh para  penggantinya (khulafa’ al-Rasyidun).   Namun seiring dengan  berlalunya zaman, masjid  mulai  ditinggalkan umatnya, kecuali hanya untuk  beribadah semata.  Masjid hanya dijadikan tempat untuk melaksanakan  shalat, pengajian dan kegiatan-kegiatan ke”agama”an saja. Kondisi inilah yang dapat kita lihat saat ini, termsuk di Indonesia. Barang kali termasuk masjid-masjid besar tingkat kabupaten/kota,  walaupun harus diakui sudah ada upaya-upaya yang dilakukan oleh sebagaian umat Islam untuk menjadikan masjid tidak saja sebagai  sarana beribadah semata, tetapi juga  sebagai sarana kegiatan umat Islam yang lain, seperti kegiatan sosial, pendidikan, dan lainnya,  namun uapaya-upaya tersebut belum banyak dan maksimal.

          Dalam rangka untuk melestarikan  dan mengembangkan masjid, kiranya  diperlukan pemikiran dan gagasan inovatif dan sekaligus kemauan semua pihak, terutama  para pengelolanya.  Beberapa  gagasan, sebagai sumbangan dalam rangka tersebut, berikut ini akan dikemukakan secara serba ringkas, dengan harapan akan disempurnakan dalam seminar ini.

II

          Syarat mutlak yang harus dilakukan dalam rangka  upaya melestarikan dan sekaligus mengembangkan masjid adalah pemberdayaan masjid dengan  memperbaiki manegement pengelolaannya.  Masjid tidak boleh hanya dikelola dengan  management “pasrah dan kepercayaan” belaka.  Masjid harus dikelola secara benar sesuai dengan prinsip-prinsip managemant yang benar, sejak  planning, organising, actuiting sampai dengan controlling.  Pengelolaan masjid secara profesional berdasarkan prinsip-prinsip management tersebut akan mengantarkan masjid menjadi pusat kegiatan umat dan sekaligus sebagai tempat yang menyenangkan bagi mereka.  Masjid tidak lagi  sebagai tempat yang harus didatangi secara “terpaksa”, karena kewajiban agama, tetapi masjid justru menjadi tempat yang menyenangkan dan dirindukan, yang membuat kerasan bagi orang-orang yang  berada di dalamnya.  Ini sekaligus dapat memberikan kontribusi yang maksimal bagi upaya  membantu umat dalam menggapai keinginan seperti  yang diinformasikan oleh Nabi saw., yang diriwayatkan oleh al-Bukhari ndan lainnya (seseorang itu akan medapatkan perlindungan Allah dihari kiamat nanti apabila  hatinya selalu terpaut dengan masjid), yakni :

قال النبي  صلى   الله  عليه وسلم : سبعة   يظلهم    الله  في ظله يوم لا ظل إلا ظله الإمام العادل وشاب نشأ في عبادة ربه ورجل قلبه معلق في المساجد ورجلان تحابا في   الله  اجتمعا عليه وتفرقا عليه ورجل طلبته امرأة ذات منصب وجمال فقال إني أخاف   الله  ورجل تصدق أخفى حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه ورجل ذكر   الله  خاليا ففاضت عيناه

Lebih dari itu dengan pengelolaan yang  tepat, masjid dapat dijadikan  pusat kegiatan umat, seperti pembinaan mental  dan moral bagi umatnya, terutama para generasi muda.  Sebagaimana diketahui bahwa  saat ini penyakit yang mengancam generasi muda kita adalah obat-obatan terlarang,  pergaulan yang terlalu bebas,  kekerasan,  kejahatan dan pornografi.  Penyakit-penyakit tersebut dengan mudahnya menjangkiti  generasi muda kita, sementara tempat-tempat pendidikan yang ada  tidak lagi mungkin untuk  diandalkan sebagai  penangkalnya.  Karena itu alternatif yang sangat mungkin adalah melalui masjid yang telah difungsikan secara maksimal. 

Masjid juga dapat dijadikan  pusat  pendidikan umat.  Artinya dengan pengelolaan yang profesional dimana  umat, utamanya para generasi muda,  merindukan masjid,  kiranya akan  memudahkan untuk mencerdaskan mereka,  dalam berbagai  hal yang berhubungan dengan kebutuhan positif mereka.  Seperti  dimaklumi  bersama, bahwa pendidikan tidak hanya  didapatkan  melalui bangku sekolah saja, tetapi justru lebih dari itu harus dilaksanakan diluar sekolah, terutama di rumah dan  dalam lingkungan.  Masjid dapat menjadi lingkungan yang  positif bagi mereka dan sekaligus menjadi  sarana pendidikan yang cukup berpengaruh.

Disamping itu, masjid dengan kelebihan yang ada dan lingkungan sekitar yang sangat mendukung, juga dapat dijadikan sarana untuk mengelola wisata religi.  Dunia wisata saat ini sangat potensial untuk  dikembangkan,.  Lebih-lebih apabila dihubungkan dengan  spiritual dan keagamaan.  Bidang ini sangat mungkin untuk dikelola dan dikembangkan dengan baik, tentu saja dengan  polesan dan sentuhan kreasi wisata yang handal, disamping substansi religi yang di desain secara marketebel.  Upaya untuk menjadikan masjid sebagai pusat pengelolaan wisata  religi, sangat tepat, karena disamping akan memberikan  wawasan yang benar mengenai  berbagai  kebudayaan  (Islam) yang ada, juga  sekaligus akan memberikan dorongan positif bagi penataan  pusat-pusat budaya Islam serta pengelolaannya secara serius.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya  adalah  upaya  menjadikan masjid sebagai pusat pelatihan bagi umat, baik yang langsung berhubungan dengan keaganaan, seperti pelatihan pengelolaan TPQ,  pelatihan Management ta`mir masjid dan musholla, pelatihan pengelolaan perpustakaan masjid,  maupun yang yang tidak langsung berhubungan kengan keagamaan, seperti, pelatihan pengelolaan koperasi, pelatihan pengelolaan dan peningkatan ekonomi, pelatihan pengelolaan organisasi, pelatihan ketrampilan-ketrampilan yang dibutuhkan oleh umat, dan lainnya  Masjid harus dapat merespon secara positif kebutuhan umat, kalau tidak ingin ditinggalkan.  Kebutuhan umat pada saat ini, misalnya, dapat difokuskan dalam upaya perbaikan ekonomi  dan menciptakan kondisi tidak bergantung kepada  orang lain.  Upaya ini dapat dilakukan dengan berbagai  pelatihan yang serius dan terfokus.  Dan  ini sangat mungkin dilakukan oleh masjid.

III

Lantas apakah yang dapat diperbuat oleh masjid dalam  rangka  mewujudkan keinginan dan ide-ide tersebut.  Atau bagaimana cara memulai agar  keinginan tersebut dapat direalisasikan ?.  Sesungguhnya cukup banyak alternatif yang dapat dilakukan oleh masjid ( para pengelolanya).  Seperti  diketahui bahwa  hampir semua  masjid, lebih-lebih  masjid-masjid besar, mempunyai tanah wakaf yang cukup luas.  Tanah wakaf ini sangat potensial untuk dikelola dan dikembangkan  dengan  baik dan menghasilkan  cukup banyak modal.  Dengan  pengelolaan yang transparan, baik menegementnya,  hasil income dan pengeluarannya, maupun pemanafaatan serta program prioritasnya,  tanah wakaf akan  benar-benar menjadi dana umat sebagaimana  keinginan dan tujuan  yang terkandung dalam wakaf itu sendiri. Audit publik mutlak diperlukan dan keterlibatan  publik dalam   pemanfaatnanya juga  sangat dianjurkan. Pengelolaan yang  tidak jelas,  pemanfaatn yang cenderung konsumtif, dan pertanggung jawaban yang semu sudah saatnya untuk  ditinggalkan.  Kalau hal ini dilakukan  maka  dana dari wakaf ini akan sangat  potensial untuk dijadikan modal utama dalam rangka melaksanakan  aktifitas sebagaimana yang di inginkan tersebut, tentunya disamping dana-dana lain, seperti  sumbangan dan partisipasi  umat,  dana zakat, infaq dan shadaqah dan lainnya.  Dengan dana yang cukup, masjid akan dapat memberikan sumbangan nyata bagi umat ini, termasuk pemberian pinjaman modal bagi para pedagang kecil, pemberian beasiswa bagi yang tidak mampu, sampai  kepada  pembinaan kelompok ekonomi lemah.

Langkah lain yang  dapat dan harus ditempuh oleh  masjid (pegelolanya) adalah dengan mengadakan  kerjasama dengan bebagai pihak, seperti perguruan tinggi, Pemerintah Kabupaten/kota, Pengusaha, perbankan, perhotelan dan  lainnya.  Kerjasama yang dilakukan ini tentunya dalam rangka  mewujudkan dan menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan umat yang menjanjikan dan dirindukan tersebut.  Untuk melaksanakan  pembinaan mental dan moral, dan pendidikan, misalnya, dapat bekerja sama dengan perguruan tinggi, pondok pesantren dan organisasi keagamaan;  Untuk pengelolaan  wisata religi, dapat bekerja sama dengan perguruan tinggi, pemerintah (dinas pariwisata), perhotelan dan pengusaha;  dan untuk  pelatihan-pelatihan, dapat bekerjasama dengan perguruan tinggi dan pemerintah kota/kabupaten, dan lainnya.  Intinya  kerjasama dengan  semua puhak yang berhubungan dengan kepentingan  pengelolaan masjid, perlu dijalin dan  kembangkan.  Tentu saja kerjasama ini adalah kerjasama yang saling menguntungkan dan tidak mengikat  serta tidak  merugikan  masjid secara keseluruhan.

Alternatif lain yang dapat dilakukan oleh masjid adalah dengan membuka  usaha-usaha prosuktif.  Usaha ini dapat dilakukan secara mandiri dan juga dilakukan dengan  memanfaatkan  sekaligus membina pengusaha kecil dan menengah.  Seperti dapat kita saksikan bahwa disekitar masjid, pada umumnya cukup banyak pedagang dan pengusaha kecil dan menengah..  Kondisi ini akan sangat mendukung usaha masjid dalam rangka  mengelola dan mengembangkan  usaha produktif tersebut, disamping  mengupayakan  pengembangan  ekonomi  lewat home industri masyarakat binaan masjid, misalnya.  Alternatif ini  nampaknya belum  banyak dilakukan oleh masjid, walaupun prospeknya sangat cerah dan menjanjikan.  Sekali lagi ini akan dapat terwujud dan berkembang apabila dikelola dengan profesional dan transparan.

IV

Kalau masjid dapat melakukan upaya-upaya tersebut dengan profesional dan transparan, maka  kita bisa berharap bahwa masjid kedepan akan menjadi rumah bagi umat Islam.  Masjid tidak lagi hanya sebagai transit dan “buang hajat” secara gratis  serta melepas lelah bagi musafir, juga tidak menjadi tempat yang harus didatangi secara terpaksa oleh Umat,  melainkan masjid akan menjadi rumah mereka sendiri. Artinya disamping mereka akan betah berada di dalamnya, mereka juga akan  merawat dan menjaganya serta berusaha untuk  selalu memperbaikinya.  Dengan pengelolaan yang  jitu, masjid juga akan menjadi tempat rekreasi yang menyenangkan bagi umat, serta dapat pula menjadi tempat pendidikan yang dapat diharapkan menelorkan pribadi-pribadi yang handal dan bermoral.  Lebih dari itu, dengan pengelolaan yang  tepat, masjid juga dapat  menjadi tempat dan sarana berkomunikasi yang potensial bagi umat.  Kondisi masjid seperti ini, oleh sebagian orang masih dinadang sebagai sesuatu yang berada  di alam ide, dan belum berada dalam dataran realitas,  Namun  kita  dapat  memastikan bahwa  kalau ada kemauan yang didasari  dengan keikhlasan, semua keinginan tersebut akan menjadi kenyataan.

            Menyimak gambaran masjid masa depan tersebut mengingatkan kita pada  fungsi masjid mada masa Rasul saw.  Masjid pada saat itu merupakan pusat segala kegiatan umat.  Orang Islam  dapat  menyampaikan aspirasinya dengan bebas kepada Nabi dan begitu pula sebaliknya, Nabi dapat memberikan informasi penting bagi umatnya. Dari masjid inilah strategi pengembangan Islam mulai digulirkan dan dari masjid inilah  kekompakan umat Islam dibangun.

Ketika kita kemudian menyaksikan  kondisi umat Islam  Indonesia saat ini, hati ini rasanya  ingin menjerit dan berteriak “ mari kita kembali ke masjid sebagaimana dituntunkan oleh Rasul saw.. Kita yakin bahwa umat Islam yang saat ini saling menyerang, lepas kontrol dan moral, bahkan saling “memfitnah”,  akan  dapat diislahkan  melalui masjid.  Dari masjid inilah kiranya  dapat diharapkan munculnya kekuatan  dan kekompakan umat Islam yang sesungguhnya.  Dengan kondisi ini, sesungguhnya kita telah melaksanakan upaya preventif dalam rangka melestarikan dan sekaligus mengembangkan masjid.  Semoga Allah swt. senantiasa meridlai usaha kita ini. Amin.

                                                                       

 

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.