BERIMAN SECARA TOTAL

Barangkali mendengan kata iman, kita sudah sangat sering, tetapi bagaimana merealisasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari, terkadang diantara kita masih belum sepenuhnya menyadari.  Bahkan orang yang sering mengucapkan kata iman dan menyuruh orang lain untuk melakukannya, terkadang juga belum sepenuhnya secara konsisten mempraktekkannya. Bagaimana bisa demikian, ya, karena untuk benar-benar iman itu harus secara total keseluruhan jiwa, hati dan pikiran menyatu dalam kepercayaan yang penuh kepada Allah SWT dan segala hal yang ditentukan-Nya.

          Orang-orang sufi mendefinisikan iman itu dengan membenarkan dalam hati, mengucapkan dalam lisan dan mempraktekkan dalam kehidupan.  Jadi menurut definisi ini, iman itu tidak cukup hanya diucapkan saja, tetapi harus diyakini sampai ke lubuk hati yang paling dalam dan sekaligus juga dipraktekkan dalam kenyataan.  Dengan demikian kalau ada orang yang hanya menyatakan iman saja, tetapi dalam praktek kesehariannya tidak mencerminkan keimanan, maka orang tersebut sesungguhnya belum beriman secara sempurna.

          Bagaimana caranya mempraktekkan iman tersebut, tentu dapat dilihat dari cara dan gaya hidup keseharian  seseorang, karena Nabi Muhammad SAW sendiri telah menyatakan bahwa iman itu banyak cabangnya, bahkan sampai lebih dari tjuh puluh.  Dan diantara cabang iman tersebut ialah hidup secara bersih, disiplin dan teratur. Banyak riwayat yang berkaitan  dan membicarakan tentang persoalan ini. Cabang iman lainnya yang diceritakan dalam beberapa riwayat ialah menghormati dan memperlakukan secara baik kepada tetangga, pada tamu dan lainnya.  Bahkan rasa kepedulian untuk sekedar melakukan sesuatu agar orang lain tidak celaka, juga termasuk bagian dari iman, apalagi perbuatan membantu orang fakir, miskin, orang yang sedang dalam kesusahan, mengurus anak yatim, dan berbagai aktifitas positif lainnya, tentu semuanya itu termasuk bagian dari iman.

          Dengan melihat persoalan iman yang seperti ini, tentunya kita dapat menggambarkan bahwa sosok orang yang beriman tentu akan melakukan perbuatan baik dan sekaligus meninggalkan perbuatan jelek dan tidak manfaat.  Nah dengan mempertimbangkan  semua ini kita juga dapat menyaksikan betapa banyak orang yang sementara ini mengaku beriman, tetapi ketika  kita menyaksikan sepak terjangnya, ternyata tidak sesuai dengan berbagai macam cabang iman tersebut, kiranya kita dapat menyimpulkan bahwa  sosok tersebut pasti belum beriman secara sempurna

          Disamping cabang iman yang sangat banyak dan seharusnya kita amalkan terseut, iman juga menuntut kita untuk percaya secara total, baik dalam hati, pikiran dan juga perbuatn.  Tidak satunya pikiran dan hati serta perbuatan, akan menyebabkan iman yang kita miliki tidak akan sempurna dan sekaligus tidak akan mendapatkan berbagai karunia yang dijanjikan oleh Tuhan.

          Saya ambil contoh saja, misalnya Allah SWT telah berfirman dalam  Surat al-An’am ayat yang ke 160, yang maksudnya kurang lebih: Barang siapa yang datang dengan atau berbuat kebaikan, maka ia akan mendapatkan balasannya sepuluh kali lipat, dan barang siapa yang berbuat kejahatan, maka ia akan dibalas setimpal dengankejhatannya, dan sama sekali ia tidak dirugikan (tidak didhalimi).  Firman Tuhan tersebut sesungguhnya merupakan hal yang sangat jelas, dan kalau kita percaya secara penuh kepada Tuhan, tentunya akan percaya penuh pula kepada firman-Nya, yakni siapapun juga yang  melakukan perbuatan baik kepada siapa saja dengan dilandasi keyakinan yang penuh dan tentu dengan keikhlasan, pasti Tuhan akan membalasnya sepuluh kali lipat.  Dan balasan Tuhan tersebut tidak usah menungggu nanti di akhirat, melainkan di dunia ini saja Tuhan akan memberikannya, dan tentu di akhirat Tuhan juga akan memberikannya.

          Namun sayangnya masih banyak diantara kita yang belum mempercayai sepenuhnya akan janji Tuhan tersebut, sehingga tidak akan mampu memotivasi dirinya  untuk selalu berbuat kebaikan, termasuk juga kebikan bersedekah. Berbagai kebaikan yang dapat kita lakukan dalam kehidupan keseharian kita sebenarnya tidak terlalu sulit, kita dapat melakukannya dengan peduli terhadap lingkungan sekitar, semisal membersihkan lingkungan, menyapa kepada orang yang lewat, memberikan senyum bagi orang lain ketika berpapasan, menolong orang yang lagi membutuhkan, sampai menolong orang miskin dan tergusur, serta mengurusi anak-anak terlantar.

          Kebaikan yang kita lakukan tersebut harus disertai dengan ketulusan dan penuh dengan kepercayaan kepada Tuhan, sebab kalau kita tidak penuhi syarat tersebut, Tuhan tentunya tidak akan memberikan balasan yang dijanjikannya.  Karena itu yang harus kita lakukan saat ini ialah membangun kepercayaan yang utuh dan total, baik hati, pikiran dan seterusnya diwujudkan dalam perbuatan.  Kita sangat yakin bahwa penyatuan hati, pikiran dan perbuatan inilah yang akan menentukan sikap dan perilaku kita.

          Kalau pada saat ini kita belum bias mersakan balasan Tuhan terhadap perbuatan baik yang kita lakukan, tentu ada yang kurang dalam diri kita, dan kekurangan tersebut  kemungkinan ialah iman kita yang belum total.  Bahkan hamper semua manusia itu selalu akan mempertimbangkan untung rugi dalam setiap melakukan suatu perbuatan dan pertimbangan tersebut tentu selalu dikaitkan dengan kehidupan saat ini, di dunia ini.  Dan karena kebanyakan dari kita tidak yakin bahwa janji Tuhan tersebut akan diwujudkan di duniaini, dan kalau toh ada keyakinan dalam dirinya, ia lebih meyikini kalau balasan Tuhan tersebut akan dilaksanakan di akhirat nanti, maka kebiakan yang dilakukannya tentu kurang greget, terbukti kalau kebaikan tersebut berupa sedekah, maka aka nada rasa eman dan kurang ikhlas.

          Tetapi kalau berbuat sesuatu dan ia yakin bahwa di dunia ini ia akan mendapatkan balasan, apalagi balasannya berlipat ganda, tentu ia akan melakaukannya dengan penuh antusias dan tidak aka nada rasa eman sedikitpun.  Contoh nyata dalam persoalan ini ialah  apabila seseorang mempunyai uang banyak, dan kemudian dia mengetahui bahwa ada suatu bank yang akan memberikan keuntungan sekian persen yang ia anggap cukup menguntungkannya, maka dengan penuh antusias dan tidak ada keraguan sedikitpun, ia akan menabung di ank tersebut. Tetapi sebaliknya meskipun ia mengatakan iman tetapi kepercayaannya tersebut tidak total bahwa Tuhan akan membalas kebaikan yang dilakukannya tersebut sepuluh kali lipat di dunia ini, maka kebaikan yang dilakukannya tidak total.

          Padahal kalau ia yakin bahwa Tuhan akan membalas sepuluh kali lipat terhadap kebaikannya tersebut di dunia ini, maka ia akan tumbuh menjadi orang yang dermawan, ringan tangan untuk membantu sesamanya dan akan menjadi manusia yang punya rasa peduli terhadap lingkungan.  Sehingga ia akan benar-benar menjadi manusia yang ideal dan disayangi oleh Tuhan.

           Sementara itu Tuhan juga telah berjanji untuk memberikan balasan infaq yang kita berikan di jalan Allah tujuh ratus kali lipat di akhirat nanti,dan bahkan bias lebih banyak lagi.  Janji tersbut diungkapkan dalam firman-Nya dalam surat al-Baqarah ayat yang ke 261, yang maksudnya kurang lebih: Perumpamaan orang yang menginfaqkan hartanya di jalan itu seperti satu biji yang kemudian tumbuh menjadi tujuh tangkai dan setiap tangkai tersebut akan berbuah seratus biji, dan Allah akan melipat-gandakan balasan bagi siapa saja yang dikenhendaki-Nya dan Tuhan itu Maha Luas dalam kasih sayang dan Pemberian-Nya dan Maha Mengetahui.

          Firman Tuhan ini juga sangat jelas bahwa infaq harta yang kita salurkan di jalan Allah dengan disertai keikhlasan dan keimanan, akan dibalas oleh Allah SWT di akhirat nanti dengan balasan yang sangat banyak, sampai tujuh ratus kalilipat dan bahkan dapat lebih banyak lagi.  Tetapi karena balasan tersebut masih harus menunggu di hari kiamat nanti, maka antusiasme umat  manusia untuk melakukannya juga kurang, karena sebagaimana saya sebutkan tadi bahwa kecenderungan amnesia itu menginginkan sesuatu yang instan dan sekaligus dapat dinkmati di dunia ini.

          Namun sebagai umat Islam yang meyakini bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara saja, sedangkan yang abadi itu di akhirat, tentunya juga harus tidak larut dengan kecenderungan-kecenderungan duniawi saja, melainkan harus berlaku seimbang, untuk dunia dan sekaligus untuk akhirat.  Disamping itu kita juga harus dapat memahami perintah Tuhan secara benar sehingga kita akan dapat mengerjakannya secara benar pula. Kalau Tuhan memberitahukan kepada kita tentang amalan yang akan dibalas oleh Tuhan di dunia ini, maka kita juga harus meyakinnya demikian, dan ketika Tuhan menjanjikan balasana atas amalan kita tersebut akan diberikan nanti di akhirat, maka kita juga harus neyakininya sebagaimana dijanjikan Tuhan.  Dengan demikian kita akan dapat mejadi manusia dan hamba  Allah yang dapat melakukan perintahNya dan sekaligus beruntung, di dunia dan di akhirat.

          Memang untuk menjadi orang beriman yang sempurna, sangatlah sulit, tetapi bukannya tidak mungkin,  kita tetap bias menjadi mukmin yang sejati, setidaknya hal-hal yang tampak jelas negatifnya, tentu harus dapat kita hindari, dan demikina juga semua hal yang posisitif kita upayakan agar dapat dilakukan.  Dengan begitu kita akan menjadi manusia yang bermanfaat dan sekaligus taat.

          Semoga Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan, kekuatan dan hidayah  kepada kita sehingga kita akan terus berada dalam jalannya untuk menjadi manusia yang beriman secara total.  Amin.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.