WISUDA

Barangkali kalau di dunia ini ada orang yang paling bahagia, maka para wisudawan adalah salah satunya. Kebahagiaan yang ada pada mereka seakan tidak dapat dilukiskan, karena sejak mereka menginjakkan kaki di perguruan tinggi pilihannya, yakni Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang, mereka sudah membayangkan saat-saat seperti itu, yakni dengan memakai toga kebanggan dan menteng  ijazah, serta disaksikan banyak orang.  Itulah impian mereka dan saat ini telah terwujud.

          Itulah sebagian gambaran yang mungkin dapat dipotret dari para wisudawan IAIN Walisongo Semarang, yang hari ini, Kamis 27 Januari 2011 mereka menjalani prosesi wisuda.  Tentu kebahagiaan tersebut tidak milik para wisudawan semata, tetapi para orang tua dan seluruh keluarga juga merasakan hal yang sama.  Perjalanan dan jarah tempuh yang begitu jauh, bahkan mungkin harus menyeberang lautan, harus dijalani  hanya untuk menyaksikan anak ataupun suami atau isteri  mereka diwisuda.  Seolah mereka tidak boleh ketinggalan  dengan peristiwa sakral dan paling mengesankan  bagi keluarga mereka.

          Ya, wisuda memang membawa kenangan tersendiri bagi siapapun yang menjalaninya, tidak terkecuali mereka yang sudah sepuh dan bahkan telah bercucu.  Dan untuk tidak melewatkan peristiwa tersebut, mereka juga mengabadikannya dalam bentuk video camera maupun setidaknya dengan kamera saja.  Sejenak memang seakan mereka melupakan segala hal yang berkaitan dengan problem kehidupan yang sedang dijalaninya, mereka hanya ingin menikmati kebahagiaan tersebut sepuas-puasnya.  Karena memang selama menjalani proses perkuliahan, dengan segala dinamika dan romantika masing-masing, mereka  selalu memimpikan kondisi seperti ini.  Dan pada saat seperti inilah rasanya telah rontok segala beban yang selama ini dipikulnya, seperti tugas-tugas dosen, skripsi ataupun tesis yang tidak kunjung selesai, dan berbagai  macam persoalan seputar perkuliahan.

          Hampir seluruh wisudawan  merasa puas telah dapat menyelesaikan studinya di IAIN Walisongo Semarang, meskipun dengan bervariasi waktu yang ditempuh; Mereka yang  di S1, ada yang cepat dan bahkan kurang dari delapan semester, tetapi juga ada yang sampai tiga belas semester.  Demikian juga mereka yang di S2, ada yang  tepat waktu dan ada yang molor hingga hampir di DO.  Tetapi sesungguhnya kepuasan yang ada pada mereka sebenarnya hanya bersifat sementara, sebab setelah mereka  diwisuda dan keluar dari perguruan tinggi almaternya tersebut, mereka akan segera dihadapkan kepada kenyataan yang justru lebih rumit ketimbang  tugas-tugas kuliah ketika mereka masih menempuh pendidikan di IAIN Walisongo.

          Masalah yang menghadang didepan mereka ialah apa yang mesti dikerjakan dan akan berbuat apa mereka  setelah lulus.  Pada umumnya mereka kemudian menjadi bingung, dan stress serta tidak tahu arah.  Dengan kondisi seperti ini sesungguhnya mereka telah ikut andil dalam  menambah deretan jumlah pengangguran intelektual. Kebanyakan mereka mengharapkan bahwa begitu selesai kuliah, akan ada yang membutuhkannya sebagai tenaga dalam lembaga atau institusinya, atau setidaknya kalaupun mereka mencari pekerjaan, akan dengan mudah mendapatkannya, serta segera akan menjadi orang yang sukses.  Mimpi yang demkian sesungguhnya harus dibuang jauh-jauh,  dan semua orang, termasuk mereka yang baru menyelesaikan kuliahnya, harus realistis dalam menghadapi kehidupan ini.

          Kita harus yakin bahwa kesuksesan itu tidak akan datng dengan sendirinya, atau dapat diperoleh dengan cepat,  tetapi kesuksesan itu memerlukan kesabaran dan ketabahan berusaha yang terus menerus tanpa kenal putus asa.  Kalau kita telah memilih suatu bidang yang akan ditekuni, maka tidak boleh main-main dan coba-coba.  Karena kalau hanya mencoba-coba, maka seseorang akan kehilangan waktu dan kesempatan yang sungguh sangat berharga.  Apapun bidang yang kita pilih dan geluti, sesungguhnya  sama saja,  persoalannya  kembali kepada kemauan dan kesungguhan masing-masing, tentu harus juga dipertimbangkan mengenai ketrampilan yang terus harus diasah dan dipraktekkan.

          Untuk sekedar memberikan gambaran kepada semua pihka dalam mengatasi persoalan tersebut, ada beberapa solusi yang barangkali dapat dipertimbangkan, khususnya bagi mereka yang baru saja diwisuda, yakni:

  1. Bagi mereka yang mampu untuk melanjutnya studi ke jenjang yang lebih tinggi, tentunya akan sangat bagus dan dianjurkan, manakala mereka mau melanjutkan studi ke S2 dan S3.  Kalau terkendala persoalan biaya misalnya, maka  ada baiknya mereka memperdalam bahasa, terutama bahasa Inggris melalui kursus secara intensif, karena saat ini cukup banyak tawaran beasiswa ke luar negeri yang pada umumnya mempersyaratkan toefl dengan score sekitar 550.  Dan akan sangat baik dan kompetitif, kalau  bisa mendapatkan score 600.  Saya sangat yakin dengan kemampuan bahasa seperti itu, akan dengan mudah mendapatkan sponsor untuk membiayai kuliah sampai selesai S3. Yang jelas kalau ada kemauan kuat, insya Allah akan ada jalan.
  2. Bagi mereka yang tidak mampu melanjutkan studi, karena berbagai alasan, misalnya memang  tidak lagi bisa fokus  dalam belajar, atau karena  alasan berkeluarga, ataupun alasan lainnya, dan sudah bulat untuk bekerja dan mengamalkan ilomunya, sebaiknya tidak memelihara mimpi untuk menjadi pegawai negeri.  Saya menganjurkan untuk segera mengubur mimpi menjadi PNS, dan secepatnya memutuskan untuk berusaha.  Sebab siapapun yang melakukan usaha apapun bidangnya, dengan ulet dan tentu harus menjaga kepercayaan yang diberikan oleh siapapun kepada mereka, pasti akan mendapatkan hasilnya.  Keuletan dan kesabaran merupakan modal yang mutlak dimiliki, demikian juga dengan memelihara kepercayaan pihak lain, sebab kepercayaan itu juga merupakan  modal utama untuk sukses, disamping dua modal yang saya sebutkan tadi.  Dan dalam memulai usaha, jangan membayangkan akan mendapatkan kesuksesan secara instan, karena kalau hal itu yang dipikirkan maka ketahuilah bahwa saat itulah dimulainya awal kegagalan.  Mungkin sekali Tuhan akan menguji ketabahan dan kesabaran yang ada, tetapi dengan keseriusan dan kesungguhan yang ada, saya yakin bahwa usaha yang ditekuni tersebut akan membuahkan hasil yang gemilang.
  3. Bagi mereka yang masih diselimuti keraguan dalam melangkah, saya menyarankan untuk segera menentukan langkah, sebab begitu kita menyia-nyiakan waktu, maka disitulah kita akan ketinggalan beberapa langkah yang nilainya  setara dengan beberapa tahun.  Untuk itu jadilah orang yang cepat mengambil keputusan, dan tentu harus tetap disertai kewaspadaan dan pertimbangan yang bijak.  Kita harus yakin dan selalu mengingat bahwa peragu itu tidak akan pernah sukses, dan sebaliknya benari itu merupakan salah satu piranti kesuksesan.

Wisuda memang bukan  akhir perjalanan kita, tetapi justru merupakan awal babak baru yang  lebih berat.  Bukan saja karena berhadapan langsung dengan dunia nyata masyarakat, tetapi juga karena tanggung jawab yang kita pikul sebagai orang terpelajar dan alumni sebuah perguruan tinggi  negeri Islam.  Kita semua menyadari bahwa  negara kita saat ini sedang dilanda berbagai krisis, yang mengakibatkan perekonomian menjadi tidak stabil.  Akibat lebih lanjut ialah minimnya papangan pekerjaan, dan terus bertambahnya pengangguran serta kemiskinan.  Dalam menghadapi situasi yang demikian, langkah yang paling bijak ialah dengan berupaya menciptakan pekerjaan sendiri melalui berbagai usaha yang memungkinkan, meskipun secara sekilas tidak sesuai dengan kompetensi dan keilmuan kita.  Tetapi menurut saya tidak mengapa, toh pada saatnya kita juga dapat mengamalkan ilmu kita di masyarakat dalam rangka pencerahan  dan dakwah.

Disamping itu kita juga sangat menyadari bahwa masyarakat akan memandang kita, sebagai sarjana IAIN, yang tentunya mumpuni dalam berbagai persoalan keagamaan.  Untuk itu mereka akan selalu menjadikan kita sebagai rujukan dan referensi dalam setiap persoalan yang muncul, yang kadangkala sulit untuk dipecahkan.  Berkaitan dengan keadaan yang demikian, kita juga harus terus menerus melakukan upaya untuk menambah pengetahuan kita melalui membaca, meskipun  disibukkan oleh persoalan pekerjaan yang menyita hampir seluruh waktu kita.  Yang harus kita upayakan ialah menyediakan waktu secara konsisten untuk dimanfaatkan sebagai sarana menambah wawasan keilmuan kita.

Dengan demikian kita akan dapat melewati satu episode dalam kehidupan kita dengan selamat.  Semoga Tuhan senantiasa memberikan bimbingan dan keteguhan kepada kita dalam mengabdikan diri kita sepeunuhnya kepada-Nya dan berderma untuk masyarakat.  amin

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.