MENGENAL HADIS NABI

Banyak kalangan, terutama para mahasiswa yang  mengharapkan saya dapat menulis tentang hadis di web ini, dengan harapan mereka dan masyarakat luas akan dapat membaca dan mencerna berbagai informasi seputar hadis.  Mereka umumnnya menginginkan ada nuansa baru dalam mempelajari hadis.  Untuk itu saya akan mengusahakan, tetapi tidak dapat memastikan, namun yang jelas setiap ada kesempatan dan tidak ada hal lain yang menurut pemikiran saya lebih harus didahulukan, insya Allah akan saya lakukan.

          Barangkali kesempatan ini akan saya gunakan untuk sekedar memperkenalkan hadis kepada khalayak, terutama yang ada keinginan untuk mengenal dan memperdalam ilmu ini.  Saya tidak berpretensi bahwa semua yang akan saya sampaikan melalui web ini nantinya akan dipahami dan diterima secara sama, karna saya yakin banyak orang yang berpandangan berbeda dengan saya.   Untuk itu sekali lagi bahwa tulisan saya ini hanyalah sebagai salah satu pemikiran yang mungkin dapat menjadi bagian dari khasanah kajian  bidang hadis.

          Pada umumnya, masyarakat Islam telah mengenal apa itu hadis, kebanyakan mereka mengenal hadis itu sebagai sabda Nabi Muhammad SAW, baik yang berkaitan dengan persoalan ibadah maupun muamalah.  Pemahaman yang demikian sesungguhnya tidak salah, tetapi hanya kurang lengkap, sebab di kalangan ulama hadis, mendefinisikan hadis tidak saja perkataan atau sabda Nabi, melainkan meliputi segala hal, baik sabda , perbuatan, sifat, cita-cita, kebiasaan, kesukaan, dan semua hal yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW.  Jadi apapun yang disandarkan kepada beliau dapat dikategorikan sebagai hadis, bahkan termasuk hal-hal yang dikarang seseorang kemudian dinisbatkan kepada Nabi, itupun masih dinamakan hadis, tetapi karena  bikinan orang, maka hadisnya disebut sebagai hadis palsu.

          Namun yang  harus diketahui oleh semua orang ialah bahwa tidak semua yang disebut hadis tersebut bernilai shahih atau valid datang dari Nabi, sebab ternyata diantara ratusan ribu hadis yang saat ini tersebar dan terkodifikasi dalam berbagai kitab hadis, ada yang tidak benar atau hakekatnya tidak datang dari Nabi, melainkan sangat mungkin dipalsukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.  Dan sebagiannya lagi masih diragukan keabsahannya atau diragukan bahwa hadis tersebut datang dari Nabi.

          Berkaitan dengan kondisi itulah maka dalam menggunakan hadis harus hati-hati.  Artinya kalau kita mampu meneliti hadis sampai mendapat suatu kesimpulan yang meyakinkan tentang status hadis tersebut, maka itulah yang harus dilakukan.  Kalau kesimpulan kita ternyata mengatakan bahwa hadis tersebut shahih, maka kita dapat menggunakannya, sepanjang hadis tersebut tidak mansukh atau telah diganti hukumnya.  Dan sebaliknya kalau ternyata kesimpulan kita tersebut ternyata mengatakan bahwa hadis  dimaksud ternyata dlaif, maka kita akan meninggalkannya dan tidak menjadikannya sebagai dalil.  Namun kalau kita tidak mampu untuk melakukan penelitian hadis, maka boleh kita hanya mengikuti penelitian yang telah dilakukan oleh para ulama terdahulu yang telah melakukan penelitian, seperti mengikuti penelitian imam al-Bukhari, imam Muslim dan lainnya.  Dengan begitu, kita mencukupkan diri dengan mengambil hadis-hadis yang telah diseleksi oleh mereka dalam kitab shahih mereka, seperti shahih al-Bukhari, shahih Muslim dan lainnya.

          Disamping itu, hal penting lainnya yang harus diketahui ialah tentang ilmu hadis yang berkaitan dengan berbagai hal, semisal bagaimana memahami hadis, bagaimana membedakan hadis yang berkaitan dengan hokum dan mengikat kepada seluruh umat dan mana hadis yang hanya sebagai informasi tentang aktifitas nabi Muhammad sehari-hari dan sama sekali tidak mengikat kepada kita sebagai umatnya, seperti tentang makan, pakaian, hobi, dan lainnya.  Sebab kalau hal-hal  seperti ini tidak kita ketahui dan juga tidak kita pertimbangkan, maka sangat mungkin kita akan salah dalam menangkap pesan hadis  yang sesungguhnya.  Dan hal semacam ini bisa sangat berbahaya, karena boleh jadi justru akan merugikan kita, bahkan dapat merugikan Nabi dan Islam secara keseluruhan.

          Dalam praktiknya di masyarakat, kita dapat menyaksikan bahwa  banyak diantara umat Islam yang dengan keyakinan mereka menganggap bahwa apa yang dilakukannya ialah sesuai dengan tuntunan sunnah dan bahkan menganggap yang tidak seperti itu, maka dianggap keluar dari sunnah dan lain sebagainya.  Padahal semua yang diyakini tersebut hanyalah sekedar kebiasaan masyarakat Arab, dimana Nabi  dilahirkan dan besar, yang waktu itu dilakukan oleh Nabi, seperti pakaian gamis atau jubah, makan dengan jari langsung, dan lainnya.

          Termasuk hal yang sangat penting untuk diketahui ialah tentang hubungan dan fungsi hadis terhadap al-Quran al-Karim.  Pada umumnya kita  mengetahu bahwa al-Quran itu sebagai pedoman utama dan nomor satu, sedangkan hadis itu sebagai pedoman utama nomor dua, tetapi terkadang kita tidak mengetahui apa sesungguhnya maksud dari pernyataan tersebut, dan apa pula hubungan diantara keduanya serta fungsi masing-masing.  Dengan mengetahui tentang hubungan dan fungsi keduanya, akan dapat dihindarkan kesalahan mendasar dalam memahami dan mengungkapkan isi kandungan keduanya, dan bahkan akan didapatkan kesimpulan pemahaman yang akurat.

          Dalam kenyataan sehari-hari kadang kita menyaksikan berbagai hal yang disebabkan tidak mengetahui tentang hubungan dan fungsi antara al-Quran dan hadis, menjadi sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh para ulama, seperti hanya memahami hadis semata tanpa memperhatikan hubungannya dengan al-Quran.  Akibatnya banyak diantara mereka kemudian tidak melakukan kewajiban zakat atas berbagai hal yang sesungguhnya harus zakat, seperti mengenai hasil tambak, peternakan ayam, perkebunan, dan lainnya.  kondisi seperti inilah yang menjadi kekhawatiran para ulama, termasuk saya, kalau orang mengkaji hadis tetapi tidak memperhatikan hubungannya dengan al-Quran dan fungsi masing-masing.

          Tidak kalah penting untuk diketahi juga oleh kita semua yang ingin mengkaji hadis ialah tentang perbedaan yang ada di kalangan ulama ahli hadis mengenai penilaian shahih dan tidaknya hadis, sehingga akan juga mempengaruhi penggunaannya sebagai hujjah dalam menentukan hokum Islam.  Seperti dikatahui dalam keilmuan hadis, bahwa secara umum ada tiga madzhab yang diikuti oleh ulama ahli hadis, yakni, pertama, mereka yang digolongkan sebagai ulama yang mutasyaddid dalam menilai hadis.  Artinya mereka sangat ketat dalam menilai hadis, sehingga karena sikap mereka itu, banyak hadis yang kemudian tersingkirkan, alias dianggap sebagai hadis yang tidak shahih.

Kedua, ialah mereka yang digolongkan sebagai ulama yang mutawassith dalam menilai hadis.  Artinya mereka ini dianggap sedang sedang saja dalam menilai hadis.  Mereka masih memberikan toleransi terhadap hal-hal yang oleh golongan pertama dianggap sebagai penyebab kedlaifan sebuah hadis. Akibatnya hadis yang dianggap shahih menurut mereka  menjadi lebih banyak dibandingkan dengan yang dihasilkan oleh golongan pertama. 

Ketiga, ialah mereka yang digolongkan sebagai ulama mutasahil dalam menilai hadis.  Artinya mereka ini dianggap sebagai kelompok ulama yang  mempermudah dan longgar dalam menilai hadis, dan bahkan ada yang menganggap mereka ini terlalu sembrono dalam menilai hadis.  Akibatnya  sduah dapat diterka bahwa hadis yang dihasilkan dari mereka  akan lebih banyak lagi dibandingkan dengan golongan kedua, apalagi bila dibandingkan dengan golongan pertama.  Akibat lebih jauhnya ialah sebagaimana kita saksikan saat ini, bahawa suatu hadis dianggap sebagai hadis shahih oleh sebagian ulama, dan ternyata dianggap tidak shahih oleh ulama lainnya, dan akibat lebih jauhnya lagi ialah akan ada perbedaan perbedaan dalam praktik di lapangan, baik yang menyangkut persoalan ibadah maupaun lebih-lebih dalam hal muamalah.

Inilah yang saya maksudkan agar kita dapat memahami kondisi yang ada dan kita nantinya akan dapat bersikap bijak dalam mengkaji hadis.  Dan sesungguhnya masih banyak lagi hal-hal yang harus diketahui orang yang akan mengakji hadis, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama dalam bidang ini.  Untuk itulah saya menganjurkan dan mendorong kepada semua orang yang memang berkeinginan untuk mengkaji ilmu hadis ini untuk lebih banyak mempersiapkan perangkat keilmuan yang dipersyaratkan tersebut.

Dalam konteks ini saya hanya berkeinginan  agar semua orang mengetahui bahwa ilmu hadis ini penting dan ada kewajiban kifayat bagi umat untuk terus mengkaji dan memberikan penjelasan kepada umat dengan benar.  Kita tidak ingin bahwa ada orang yang begitu saja memahami dan menjelaskan hadis tetapi tidak berangkat dari dasar keilmuan yang benar, sehingga apa yang dijelaskan justru akan menyesatkan umat.  Tetapi sekali lagi ini bukannya menakut-nakuti umat sehingga mereka tidak tertarik kepada ilmu ini, tetapi semata-mata hanya ingin berbagi pengetahuan tentang kebenaran.  Saya masih yakin bahwa ilmu ini digemari oleh sejumlah banyak peminat, baik yang memfokuskan diri melalui perkualiahan maupun mereka yang mandiri.

Semoga Tuhan memberikan petunjuk kepada kita semua agar kita dapat lebih mengembangkan ilmu ini dan pada saatnya nanti ilmu ini akan dapat membumi dan menjadi tujuan dari para intelektual muslim yang ingin berkembang dan memberikan darma baktinya bagi pengetahuan dan sekaligus mendapatkan ridla dari Allah SWT. amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.