SHALAT4

Ketika kita membicarakan tentang shalat, maka yang harus disampaikan memang al-hal yang mutlak ada, seperti syarat dan rukunnya,  tetapi sebagai kelengkapan, agar shalat kita menjadi lebih baik dan berkualitas, maka tidak ada salahnya manakala disampaikan pula hal-hal yang disunnahkan dalam shalat. Sebab Nabi dan para sahabatnya, serta orang-orang salih sejak dahulu sampai sekarang selalu menjalankan shalat dengan dilengkapi sunnah-sunnahnya, sehingga mereka bisa mendapatkan keuntungan yang sangat banyak dari shalat yang mereka lakukan.

            Sunnah yang dimaksudkan di sini sebagaimana  dikemukakan oleh para imam madzhab, seperti al-Syafi`i dan Hambali ialah sesuatu yang apabila dilakukan akan mendapatkan pahala dan apabila ditringgalkan tidak akan mendapatkan siksa.  Jadi maksud dari hal-hal yang disunnahkan dalam shalat ialah segala sesuatu yang patut dilakukan tetapi bukan merupakan sesuatu yang diwajibkan atau difardlukan.  Meskipun demikian sesungguhnya sunnah-sunnah shalat tersebut sepatutnya tidak ditinggalkan oleh orang yang melaksanakan shalat, karena memang sunnah-sunnah tersebut dimaksudkan untuk mendukung sepenuhnya  pelaksanaan shalat  pencapaian tujuan.

          Dalam masalah ini para imam madzhab berbeda dalam memandang sesuatu yang dianggap sunnah tersebut.  Ulama Hanafiyyah misalnya mengatakan bahwa sunnah-sunnah shalat itu ada  41 macam, yang antara lain meliputi  mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram hingga menepati kedua telinga bagi laki-laki dan menepati bahu bagi perempuan,  membaca doa iftitah atau al-Tsana’,  membaca ta`awwudz,  membaca basmalah secara  pelan,  mengucapkan subhana Rabbi al-Adhim sebanyak tiga kali ketika ruku’, membaca subhana Rabbi al-A`la sebanyak tiga kali ketiga sujud,  membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw. dalam tasyahhud akhir, membaca  surat al-fatihah untuk rakaat setelah kedua,  berdoa setelah membaca shalawat kepada Nabi dengan doa yang menyerupai al-Kitab dan al-Sunnah, dan lainnya.

          Para ulama dari kalangan Malikiyyah  membagi sunnah-sunnah shalat kedalam  14 saja, yang antara lain meliputi membaca al-Qur’an setelah al-fatihah pada rakaat yang pertama dan kedua, Membaca takbir selain takbiratul ihram dalam setiap peralihan rukun, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw setelah tasyahhud akhir,  menambah kadar kewajiban thumakninah, dan lainnya.

          Sementara itu para ulama dari kalangan Syafi`iyyah  lebih merinci dengan menyatakan bahwa sunnah-sunnah shalat yang di dalamnya terbagi menjadi dua, yaitu sunnah Hai`at dan sunnah Ab`adl.  Bagi mereka, sunnah Hai’at itu merupakan sunnah yang bukan rukun dan tidak masuk dalam sunnah Ab`adl.  Sunnah Ab`adl kewtika ditinggalkan, baik sengaja maupun tidak, disunnahkan untuk dilakukan  sujud sahwi (sujud karena lupa).

          Sunnah-sunnah Ab`adl sebagaimana dimaksud tersebut berjumlah  20, yaitu meliputi membaca qunut ketika I`tidal pada rakaat kedua  shalat subuh dan dalam shalat witir separo terakhir di bulan Ramadlan, berdiri sat membacanya, membaca shalawat kepada Nabi setelah qunut dan berdiri,  membaca salam setelahnya juga dengan tetap berdiri,  membaca shalawat kepada keluarga Nabi juga  dalam keadaan berdiri, membaca shalawat kepada para sahabat Nabi juga dalam keadaan berdiri, membaca salam kepada keluarga Nabi dengan berdiri, membaca salam kepada sahabat Nabi dengan tetap berdiri, Tasyahhud awal dalam shalat yang tiga dan empat rakaat, duduk untuk tasyahhud, membaca shalawat  kepada Nabi setelah tsyahhud dengan masih duduk untuk itu,  dan membaca shalawat untuk keluarga Nabi setelah tasyahhud kedua  dengan tetap dalam keadaan duduk untuk  itu.

          Adapun yang sunnah-sunnah Hai’at anrata lain membaca subhanallah bagi laki-laki, dan bertepuk tangan bagi perempuan ketika terjadi sesuatu yang ingin diingatkan dengan syarat tidak semata-mata  berniat mengingatkan, berlaku khusu` dalam keseluruhan shalat, membaca doa iftitah setelah takbiratul ihram, membaca ta`awwudz dalam setiap rakaat, membaca amin setelah al-fatihah, membaca surat atau ayat al-Qur’an, membaca tasbih subhana Rabbi al-Adhim pada saat rukuk, membaca subha Rabbi al-A`la dalam sujud,  meletakkan  kedua tangann di atas kedua  paha ketika sujud, dan lainnya.

          Sedangkan  di kalangan madzhab Hanabilah  mereka menyatakan bahwa sunnah-sunnah shalat itu ada  68 hal, yang secara keseluruhan dibagi dua bagian, yaitu sunnah yang qauliyyah dan yang fi`liyyah.  Sunnah yang qauliyyah ada  dua belas yang meliputi antara lain membaca doa istiftah setelah takbiratul ihram,  membaca ta`awwudz  sebelum membaca al-fatihah, membaca amin setelah al-fatihah, membaca surat-surat al-Qur’an setelah al-fatihah, membaca sgalawat kepada keluarga Nabi dalam tasyahhud akhir, membaca qunut dalam setiap shalat sunnah witir, dan lainnya.  Sedangkan yang sunnah fi`liyyah berjumlah  56, yang antara lain mengangkat tangan bersamaan dengan takbiratul ihram,  mengangkat kedua tangan ketika bangun dari rukuk,  menempatkan tangan kanan diatas tangan kiri ketika berdiri, melihat tempat sujudnya ketika  berdiri,  membaca jarh(keras) ketika takbiratul ihram,  mentartilkan bacaan,  duduk iftirasy (duduk dengan menjadikan kakinya sebagai tempat duduk) pada tasyahhud awal dan duduk tawaruk (duduk denngan menemukan pinggul pada tempat duduk dan mengeluarkan kaki kiri di baweah kaki kanan) pada tasyahhud kedua, memberikan isyarat dengan telunjuknya ketika membaca lafdh al-Jalalah (Allah) dalam tasyahhud, dan lainnya.

          Keseluruhan sunnah shalat sebagaimana dijelaskan tersebut, meskipun ada perbedaan diantara para ulama, ternyata ada beberapa yang tampak disepakati.  Beberapa sunnah yang  hampir disepakati oleh para ulama tersebut antara lain: Pertama mengangkat kedua tanggan ketika memulai shalat, hanya saja mereka berbeda mengenai cara mengangkat kedua tangan. Kedua, membaca amin setelah membaca al-fatihah.  Mereka hanya berbeda dalam hal  apakah dibaca secara pelan atau keras.  Namun dalam hal ini imam Malik tidak memasukkannya ke dalam sunnah, melainkan hanya mandub. Ketiga,  meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, baik di bawah maupun di atas pusat ketika berdiri melaksanakan shalat.  Dalam hal ini imam Malik juga hanya memasukkannya ke dalam mandub, bukan sunnah.  Keempat, membaca tahmid (Allahumma wa laka al-hamdu) dan tasmi` (samia Allahu liman hamidah) setelah rukuk. Kelima, membaca takbir dan tasmi`, serta salam dengan keras/jahr bagi imam dengan maksud agar para makmum mendengar dan dapat mengikutinya.  Hanya saja imam Malik juga hanya memasukkan hal ini sebagai mandub saja. Keenam, membaca takbir selain takbiratul ihram, yaitu takbir rukuk, takbir sujud, takbir bangun dari sujud, dan takbir berdiri.  Semuanya ini disepakati sebagai perbuatan sunnah. Ketujuh, membaca surat atau beberapa ayat al-Qur’an setelah membaca al-fatihah dalam  dua rakaat pertama.  Bacaan tersebut memang dianjurkan, kecuali  ulama Hanafiyyah, mereka menganggapnya sebagai kewajiban.  Kedelapan, membaca doa Iftitah atau al-Tsana’ setelah takbiratul ihram sebelum membaca al-fatihah.  Dalam hal ini Malikiyyah berbeda pendapat diantara mereka ada yang menganggapnya makruh dan sebagiannya menganggapnya sebagai mandub. Kesembilan, membaca ta`awwudz, meskipun Malikiyyah menganggapnya sebagai kemakruhan apabila dapam shalat fardlu, dan diperbolehkan dalam shalat sunnah. Kesepuluh, membaca basmalah dalam setiap rakaat sebelum mambaca al-fatihah.  Dalam masalah ini Syafi`iyyah memandangnya sebagai kewajiban, karena  lafadh basmalah itu termasuk bagian dari surat al-fatihah.  Sementara dari kalangan Malikiyyah justru menganggapnya sebagai perbuatan makruh.  Kesebelas, lebih memanjangkan bacaan (al-Qur’an) pada rakaat pertama  daripada rakaat kedua, kecuali dalam shalat jumat dan shalat `Id.  Kedua belas, tidak menghimpitkan kedua kaki ketika berdiri dalam shalat dan juga tidak terlalu menjauhkan  jarak antara keduanya. Ketiga belas, membaca tasbih dalam rukuk dan dalam sujud. Keempat belas, meletakkan  kedua tangannya (telapak( pada lutut saat  melakukan rukuk.  Kelima belas,  meluruskan antara punggung dan leher pada saat rukuk. Keenam belas, ketika akan sujud mendahulukan kedua lutut, kemudian kedua tangan dan baru dahi dan ketika bangun dimulai dari sebaliknya.  Ketujuh belas,  membaca jahr (keras), baik sebagai imam maupun ketika shalat sendirian pada dua rakaat pertama shalat maghrib, Isya’, dan  pada shalat subuh dan  jum’at.  Kedelapan belas, meletakkan kedua tangan diatas pupu dan ujung jari-jarinya diatas lutut pada saat duduk. Kesembilan belas, membaca shalawat kepada nabi Muhammad saw. pada tasyahhud akhir.  Kedua puluh, membaca doa setelah membaca shalawat kepada Nabi. Kedua puluh satu, menengok kearah kanan pada saat salam pertama dan kearah kiri pada salam kedua, dan lainnya.

          Demikian itulah beberapa amalan sunnah yang sangat dianjurkan pada saat kita menjalankan ibadah shalat, meskipun  kalau kita meninggalkannya juga tidak mengapa, dan shalat kita masih dianggap sah.  Namun sekali lagi kita sangat dianjurkan mengamalkannya dengan harapan kita akan mendapatkan kebaikan dan keuntungan yang banyak serta tentu akan mendapatkan ridla dari Tuhan.  Semoga kita dapat mengamalkannya pada setiap melaksanakan shalat.  Amin.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.