KODIFIKASI AL-QUR’AN PADA MASA ABU BAKAR DAN USMAN

Keotentikan al-Qur’an sesungguhnya merupakan  warisan intelektual Islam yang sangat berharga bagi umat Islam.  Meskipun Mushaf al-Qur’an yang ada pada saat ini secara terminologis disebut Mushaf Usmani, namun  sesungguhnya ide kodifikasinya muncul atas usul Umar Ibnu al-Khattab RA. pada zaman khalifah Abu Bakar.

          Upaya menjaga orisinalitas al-Qur’an secara historis sesungguhnya telah dilakukan sejak zaman Nabi Muhammad saw.  masih hidup dengan memerintahkan para sahabat beliau yang pandai menulis untuk menuliskan al-Qur’an tersebut, disamping menghafalkannya.

          Stelah Rasul saw. wafat, yakni pada masa Abu Bakar, keadaan masih relatif seperti  masa  Rasul, sampai suatu saat  Umar Ibnu al-Khattab mempunyai  pemikiran cemerlang yang kemudian diusulkan kepada Abu Bakr untuk menghimpun tulisan-tulisan al-Qur’an yang pada saat itu tersebar  dibeberapa tempat, untuk dijadikan satu mushaf, dengan tujuan agar mudah memeliharanya.

Ide cemerlang Umar ini sesungguhnya diilhami oleh kenyataan banyaknya korban yang menimpa pada huffadz al-Qur’an dalam peperangan  Yamamah[1].   Setelah melalui perdebatan yang cukup sengit, akhirnya usul Umar inipun  diterima.  Dan dalam waktu satu tahun kerja  mengumpulkan  tulisan al-Qur’an menjadi satu mushaf ini dapat diselesaikan.

          Merskipun pada saat itu, yakni pada zaman sahabat Abu Bakar , al-Qur’an telah dibukukan dalam satu Mushaf, namun ternyata hal itu tidak menjamin  sepinya perbedaan.  Ini terbukti pada saat Usman Ibnu Affan menjadi khaliah.  pada saat itu persoalan  mengenai qiraat muncul, terutama setelah Islam  menyebar keberbagai daerah, seperti Syiria, Armenia dan Azarbaijan.[2] Bahkan kondisi seperti ini  lebih membahayakan setelah perbedaan ini merember ke masalah fantisme golongan, yang masing-masing saling mengklaim kebenaran dan bahkan saling mengkafirkan.[3]  Namun al-hamdu lillah hal semacam ini  tidak berlarut-larut.  Ini semua karena adanya  upaya khalifah Usman untuk menyeragamkan mushaf al-Qur’an dan membakar seluruh tulisan  al-Qur’an yang tidak sesuai dengan Mushaf tersebut.  Upaya tersebut dilakukan berkat usulan yang diberikan oleh sahabat Huzaifah Ibnu al-Yaman.

          Semenjak saat itu umat Islam  telah mempunyai pedoman dalam hal mushaf al-Qur’an yang sama dan seragam untuk seluruh  umat, yakni Mushaf Usmani.   Dan al-Qur’an pada saat itu diajarkan dengan dua cara, yaitu dengan  lisan dan tulis sampai pada zaman tabi’in[4] bahkan sampai sekarang.

II

          al-Qur’an diturunkan oleh Allah swt. secara bertahap sedikit demi sedikit, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan, selama23 tahun atau tepatnya 22 tahun 2 bulan dan 22 hari.  Dalam masa selama itu   tercatat  lebih dari seratus sahabat yang menghafal al-Qur’an.

          Meskipun Nabi saw. dan para sahabatnya  telah menghafalkan al-Qur’an, namun dalam sejarah tercatat betapa Rasul sangat  berupaya  untuk memelihara al-Qur’an tersebut dengan cara menuliskannya.  Upaya ini  dilakukan segera setelah Nabi saw. menerima wahyu dari Allah swt.  dan biasanya beliau  memanggil  para sahabat yang pandai menulis  untuk menuliskan al-Qur’an tersebt disertai dengan petunjuk mengenai urutan setiap ayat dalam suratnya.   Karena kondisi, wahyu-wahyu tersebut ditulis dalam pelepah kurma, batu-batu, kulit-kulit ataupun tulang binatang.[5]   Para sahabat yang mencatat ( yang menjadi sekretaris Nabi saw.) cukup banyak untuk kondisi pada saat itu;  ada yang menginformasikan sebanyak 26 orang, tetapi ada yang memberikan keterangan sebanyak 42 orang.  Mereka itu disamping menuliskan al-Qur’an untuk Nabi saw. pada umumnya juga menuliskan secara pribadi.[6]

          Namun perlu diketahui bahwa  kepingan-kepingan yang berisi tuliaan wahyu tersebut belum disatukan dalam sebuah  mushaf, dan dalam kenyataannya  tulisan-tulisan tersebut berserakan ditempat yang berlainan, disamping ada yang ditempatnya Nabi saw.

III

          Setelah Nabi saw. wafat, kaum muslimin akhirnya sepakat m- setelah melalui perdebatan sengit di Saqifah Bani Sa’idah – untuk mengangkat sahabat Abu Bakar menjadi khalifah.  Pada masa awal pemerintahannya, ternyata banyak masalah yang perlu segera mendapatkan penanganan, seperti banyaknya orang Islam yang ingkar membayar zakat, munculnya nabi-nabi palsu dan  orang-orang yang menyatakan dirinya keluar dari Islam atau murtad.

          Setelah melalui berbagai pertimbangan dan musyawarah diantara para tokoh sahabat pada saat itu, maka Abu Bakar kemudian memerangi mereka dengan mengerahkan tentara yang dikomandoi oleh Khalid Ibnu al-Walid.  Peperanganpun tidak dapat dihindarkan .  Dan ini terjadi di Yamamah pada tahun 12 Hijriyyah.  Akibatnya dapat diduga bahwa  banyak kaum muslimin yang gugur menjadi syuhada’ disamping dari kalangan musuh.   Dan diantara sekian banyak syuhada’ tersebut tercatat sekitar 70 orang ternyata penghafal al-Qur’an.[7]

          Tragedi pertama pada zaman Abu Bakar terbut  dianalisa oleh Umar Ibnu al-LýKhattab RA.   Ia  khawatir, bahwa peristiwa semacam itu akan terjadi lagi pada masa-masa  berikutnya.  Dan kalau ini terjadi maka  nasib al-Qur’an bisa terancam.  Karena itu Umar kemudian mengusulkan kepada khlifah Abu Bakar untuk mengumpulkan tulisan-tulisan al-Qur’an yang berserakan diberbagai tempat itu kedalam satu mushaf yang utuh.

          Meskipun pada mulanya Abu Bakar berkeberatan atas usul Umar tersebut,  dengan alasan hal itu tidak pernah dilakukan oleh Rasul saw.  namun setelah diyakinkan dengan berbagai argumentasi, maka akhirnya Abu Bakar menyetujuinya.  Karena itu Abu Bakar kemudian membentuk suatu panitia untuk keprluan itu yang diketuai oleh Zaid Ibnu Sabit.  Zaid yang dijadikan  krtua dalam panitia ini pun pada awalnya  berkeberatan, namun akhirnya  dia dapat diyakinkan akan  manfaat dan kebaikan usaha tersebut.[8]

          Panitia tersebut  secara umum dalam rentang waktui satu tahun telah  dapat menyelesaikan  tugas tersebut.  Namun  tugas mengumpulkan tulisan al-Qur’an kedalam satu mushaf tersebut tidak berjalan mulus.  Panitia  mengalami hambatan yang cukup serius, misalnya ketika  akan mengumpulkan ayat:

لقد جاءكم رسول من انفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم با لمؤ منين رؤوف رحيم

mereka tidak menemukannya, padahal para sahabat nabi saw. saat itu masih banyak yang hafal ayat tersebut.  Namun berkat kegigihan panitia, tulisan ayat tersebut – yang tentunya ditulis  dihadapan  Nabi saw.- akhirnya dapat diketemukan ditempat sahabat  Abu khuzaimah al-Ansari.

          Panitia yang diketuai oleh Zaid Ibnu Sabit ini, tidak gegabah dalam menunaikan tugasnya.   Sebelum melangkah mereka  membuat kreteria terlebih dahulu.  Semua naskah tulisan wahyu tersebut didatangkan ke masjid untuk didiskusikan  mengenai kebenarannya.   Disamping itu untuk meyakinkan  kebenaran  naskah tersebut mereka juga mensyaratkan dua hal, yakni :

1. Naskah harus sesuai dengan hafalan para sahabat. dan

2. Naskah tersebut benar-benar ditulis atas perintah dan dihadapan Nabi saw.  Dan untuk ini dibutuhkan minimal dua orang saksi.

          Mushaf yang telah dikumpulkan tersebut kemudian di simpan ditempat Abu Bakar dan selanjutnya ditempat Umar dan kemudian ditempat Hafsah Bint Umar, isteri rasul saw..

          Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Umar adalah sebagai pelontar ide, Abu Bakar sebagai orang pertama yang memerintahkan pengumpulan al-Qur’an kedalam satu mushaf dan Zaid Ibnu Sabit adalah orang yang melaksanakan kerja besar tersebut.[9]

IV

          Pada pemerintahan khlifah Usman Ibnu Affan,  Islam telah meluas keberbagai daerah, seperti Tripoli, Armenia dan azarbaijan.  Sejalan dengan meluasnya Islam tersebut meluas pula penyebaran al-Qur’an kedaerah-daerah tersebut,  dan perbedaan bacaan pun akhirnya tidak terhindarkan[10], karena latar belakang bahasa pokok yang mereka gunakan.  Perbedaan tersebut lama-kelamaan menjadi meruncing dan tajam, bahkan mengarah kepada  klaim  atas kebenaran dan saling mengkafirkan[11].

          Melihat keadaan yang demikian memperihatinkan tersebut sahabat Hudzaifah Ibnu al-Yaman mengusulkan kepada khalifah Usman untuk  segera mengakhiri perbedaan tersebut sebelum menjadi bencana yang lebih parah bagi umat Islam, dengan cara menyatukan bacaan dan mushaf yang dipakai oleh seluruh umat Islam.

          Atas saran dan pertimbangan yang masak , akhirnya khalifah membentuk panitia yang terdiri dari empat orang; yaitu  Zaid Ibnu Sabit, Abdullah Ibnu Zubair, Sa’id Ibn ‘As  dan Abdul Rahman Ibnu al-Haris Ibnu Hisyam, dengan tugas  menyalin Mushaf standard[12] yang  saat itu berada di tangan Hafsh Bint Umar Ibn al-Khattab.

          Panitia empat tersebut akhirnya dapat menyelesaikan tugasnya, yakni menyalin Mushaf tersebut menjadi empat buah yang kemudian dikirimkan ke Syam, Kufah, Basrah dan satunya lagi disimpan ditangan khalifah, yang pada gilirannya dinamai dengan Mushaf al-Imam.[13] Dan Mushaf aslinya dikembalikan lagi kepada Hafsah.

          Penyebaran al-Qur’an dengan menggunakan  Mushaf hasil kerja panitia empat tersebut ke beberapa daerah diserta dengan perintah khalifah untuk memusnahkan segala  bentuk mushaf yang berbeda dengan mushaf  yang dikirim tersebut.

          Dengan demikian, sesungguhnya , kodifikasi al-Qur’an pada masa Usman ini  memiliki maksud yang berbeda dengan kodifikasi pada masa Abu Bakar, yakni:

1.  Penyatuan kaum muslimin kepada  satu macam mushaf  yang  sama ejaan tulisannya.

2. Penyatuan bacaan, dan kalaupun ada perbedaan, namun masih menggunakan teks dan ejaan Mushaf Usmani.

3. Dan upaya preventip dalam rangka  melestarikan penetapan urutan  ayat dan surat-surat  dalam al-Qur’an.

Demikianlah gambaran mengenai  kodifikasi al-Qur’an yang telah dilakukan oleh  umat Islam, baik yang terjadi pada masa khalifah pertama, yakni Abu Bakr, maupun yang terjadi pada  masa khalifah ketiga, Utsman bin al-Affan, dengan segala perbedaan nuansa dan tujuannya.  Apapun yang dilakukan  dan apapun motivasinya, barang kali yang paling  signifiokan sekarang ini adalah  adanya kesamaan mushhaf  al-Qur’an dan kemufakaan seluruh umat Islam dalam mengakui keabsahan  kitab suci ini.  Dan ini merupakan suatu  kekayaan yang tidak ternilai harganya bagi umat Islam.



                [1] Peperangan Yamamah terjadi pada tahun 12 Hijriyyah antara kaum muslimin dengan kelompok yang menamakan dirinya keluar dari Islam  dibawah pimpinan Musailimah al-Kadzdzab .  Dalam peperangan ini sekitar 70 orang penghafal al-Qur’an menjadi syahid, karena gugur  ditengah peperangan.

            [2] Lihat Subhi al-Salih, Mabahis fi Ulum al-Qur’an, Beirut: Dar al-Ilm li al-Malayin, l988, 78.

            [3] Ibid, h. 81

            [4] Lihat Muhammad Said Romdlon al-Buti, Min Rawa’i al-Qur’an,  ttp., Maktabah al-Farabi, l977, h. 121-122.

            [5] Lihat Subhi Salih, Op. Cit., h. 69-70.

            [6] Lihat  Mustafa Sadiq al-Rafi’i, I’jaz al-Qur’an, Beirut:  Dar al-Kitab al-Arabiyyah, 1973, h. 35.

            [7] Lihat Subhi al-Salih, Op. Cit., h. 74.

            [8] Ibid,h. 74-75.

            [9] Lihat Ibid., h. 77.

            [10] Lihat Ibrahim al-Ibyari,  Tarikh al-Qur’an, Kairo: Dar al-Qalam, l965, h. 88

            [11]Lihat Subhi al-Saleh, Op. Cit., h. 81.        

            [12] Lihat Ibrahim al-Ibyari, Loc. Cit..

                [13] Lihat Badr al-Dian Muhammad  Ibnu Abdullah al-Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum al-Qur’an, I,  Mesir : Isa al-Baby al-Halaby, l957, h. 240.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.