RENUNGAN AWAL TAHUN 2011

Biasanya pada awal tahun seperti sekarang ini, banyak orang melakukan kegiatan yang bersifat rekreatif bersama keluarga untuk memanfaatkan waktu libur dan sekaligus dalam rangka refresing.  Dan itu pulalah yang saya saksikan pada hari kemarin, ketika saya menemani anak-anak saya rekreasi ke obyek wisata Sekatul  Limbangan Kendal.  Mulai dari Ngalian, jalan begitu ramai dan padat sehingga kendaraan tidak bisa berjalan dengan cepat, lebih-lebih stelah masuk cangkiran hingga lokasi yang memang jalannya masih sempit.  Dan setelah sampai di lokasi pun saya merasakan keriuhan yang demikian sangat, terutama tawa dan canda anak-anak.

            Menurut saya kegiatan tersebut cukup positif dan akan memberikan kenangan manis kepada seluruh keluarga di awal tahun baru seperti saat ini.  Namun yang lebih penting dari itu ialah kesadaran yang lebih untuk merenungkan segala hal yang berkaitan dengan aktifitas kita, baik yang sudah kita lakukan selama tahun kemarin maupun aktifitas  yang akan kita lakukan dihari-hari mendatang.  Setidaknya kita harus merancang program yang akan kita wujudkan di tahun ini, mengenai berbagai hal yang berhubungan dengan nasib kita dan keluarga, atau setidaknya yang menyangkut kepada diri sendiri.

            Dalam merancang kegiatan yang akan kita lakukan tentunya kita juga harus mengacu kepada pengalaman kita selama ini untuk kita jadikan  pijakan dan sekaligus  perbaikan terhadap hal-hal yang dierasa kurang bermanfaat.  Secara umum, barangkali kita dapat menghadirkan pesan Nabi Muhammad SAW untuk dijadikan pegangan dalam memprogram kegiatan di tahun ini.  Pesan Nabi tersebut sesungguhnya telah banyak diketahui orang, dan bahkan pernah dinyanyikan oleh Rhoma Irama, yaitu agar kita memanfaatkan lima kondisi yang memungkinkan dengan berbagai aktifitas positif sebelum datangnya lima kondisi yang sulit dan  tidak memungkinkan kita melakukan hal-hal yang kita inginkan.  Secara lebih detail pesan tersebut dapat dijelaskan sebagi berikut:

            Pertama: manfaatkan waktu  mudamu sebelum engkau menjadi  tua dan pikun.  Waktu muda merupakan waktu yang sangat berharga, namun biasanya orang justru melewatkannya begitu saja.  Kebanyakan mereka mengira bahwa mereka masih akan hidup dalam waktu yang lama sehingga tidak perlu melakukan hal-hal yang berkonotasi investasi pahala untuk kehidupan akhirat.  Mereka lupa bahwa ajal dan kematian orang itu tidak ada yang tahu, dan hanya Tuhanlah yang mengetahuinya.  Kematian itu bisa datang kepada siapa saja, kapan saja dan dimana saja, baik dalam usia muda maupun usia tua dan lanjut.  Karena itu sangat tidak tepat kalau mereka menganggap bahwa mumpung  masih muda  gunakanlah untuk berhura-hura, sedangkan untuk urusan ibadah biarlah nanti dilaksanakan pada hari tua.  Ya kalau usia sampai tua, kalau masih muda sudah dipanggil tuhan, tentunya kita akan menjadi orang yang sangat rugi.  Disamping itu melakukan ibadah diusia muda justru akan terasa nikmat, dan bahkan dijanjikan oleh Tuhan akan diberikan perlindungan khusus yang tidak diberikan-Nya kepada yang lain.

            Waktu muda merupakan waktu yang sangat tepat untuk melakukan berbagai hal positif sebagai bekal nanti dihari tua.  Pandangan yang mengarah sebaliknya, yakni mumpung muda dimanfataatkan untuk  hura-hura adalah pandangan orang yang tidak berpikir dan malas.  Orang seperti ini kalau toh sempat menikmati usia panjang, maka hidupnya tidak akan pernah sukses.  Kesuksesan seseorang itu akan ditunjukkan dengan kerja keras dalam usia produktif, yakni usia muda, karena disitulah orang akan dapat melakukan segala sesuatu secara maksimal.  Tentu hal ini akan sangat berbeda manakala kegiatan tersebut baru dilakukannya pada saat usia tua, disamping tidak akan maksimal juga keberhasilannya mungkin  akan tidak bertahan lama.  Karena itu sekali lagi pesan Nabi agar memanfaatkan waktu muda untuk berbuat sesuatu yang memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi diri dan orang lain tentunya  akan membawa keberuntungan bagi mereka yang menyahutinya dengan penuh semangat dan energik serta kepercayaan yang maksimal.

            Kedua: manfaatkan waktu sehatmu sebelum dating sakit kepadamu.  Artinya bahwa selagi kita masih sehat dan dapat melakukan aktifitas apa saja, mari manfaatkan kondisi itu untuk berbagai kegiatan yang bermanfaat, baik bagi diri, keluarga, maupun masyarakat.  Kondisi sehat  merupakan karunia Tuhan yang paling besar dan harus kita syukuri dengan cara menggunakannya untuk melakuakn pengabdian yang sebanyak-banyaknya bagi kepentingan umat.  Sebab kalau kondisi sehat tersebut dicabut oleh Tuhan dan kita menjadi sakit, maka kita akan sangat terbatas manakala ingin melakukan sesuatu, lebih-lebih perbuatan amal untuk kepentingan orang lain.   Boro-boro melakukan kegiatan untuk kepentingan orang lain, untuk melakukan hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan diri sendiri saja  harus meminta bantuan orang lain.  Bahkan  bisa saja seluruh kekayaan yang kita miliki menjadi habis untuk pengobatan penyakit yang diderita. 

Sering kita menyaksikan  orang yang sebelumnya  sangat kaya  berlimpah dengan harta, namun dalam sisa hidupnya ia sangat menderita, karena seluruh hartanya habis untuk penyakit yang menggerogotinya.  Dalam kasus ini kita dapat  memperoleh hikmah yang sangat dalam bahwa seandainya orang tersebut ketika masih sehat mau memanfaatkan hartanya untuk kepentingan banyak orang,  tentunya kerugian yang akan diderita hanyalah kerugian sementara, karena ia masih mempunyai harta  yang tidak bias habis, yaitu pahala yang telah ia tanamkan sebelum ia sakit.  Bahkan ada kemungkinan Tuhan tidak akan mengujinya seperti itu, karena kesyukuran yang dia tunjukkan melalui pentasarrufan hartanya untuk kemaslahatanumat.  Oleh karena itu pesan Nabi tersebut sangat tepat, yakni pergunakanlah masa sehatmu untuk melakukan aktifitas positif dan bermanfaat sebelum datangnya sakit yang akan membuat kamu menjadi tidak  berdaya untuk berbuat sesuatu.

            Ketiga: Manfaatkanlah kekayaanmu sebelum  datangnya kemiskinan dan kefakiran.  Artinya bahwa  kita harus pandai-pandai memanfaatkan kekayaan yang dititipkan  oleh  Allah SWt kepada kita, karena kita yakin bahwa seluruh karunia yang diberikan oleh Tuhan kepada kita itu hakekatnya merupakan ujian, apakah kita dapat menempuh ujian tersebut hingga lulus ataukah justru kita malah tidak dapat mengerjakan ujian dan akhirnya jatuh.  Untuk itu sebelum segalanya terjadi, kita dapat melakukan berbagai hal menyangkut harta yang kita miliki yang muaranya ialah untuk kemanfaatan yang sebanyak-banyaknya bagi kepentingan masyarakat, tentunya disamping bermanfaat bagi diri dan keluarga.  Kalau kita bisa membantu sesama  yang kebetulan sedang menderita, tentunya kita akan merasa sangat senang, dan orang yang kita bantu juga akan merasa senang dan sangat mungkin  akan mendoakan kebaikan kepada kita.  Lain halnya manakala kita membiarkan sesama kita yang sedang menderita dan bahkan mungkin malah kita menolak memberikan bantuan, maka yang terjadi ialah rasa sakit dan kesal yang ada pada diri orang tersebut, dan bisa-bisa mereka justru akan mendoakan jelek kepada kita.  Itulah mengapa Nabi Muhammad SAW  berpesan kepada kita untuk memanfaatkan kekayaan kita sebelum kemiskinan menghinggapi kita.

            Kita sangat menyadari bahwa ada penyakit yang sering menghinggapi orang-orang  kaya, yakni penyakit kikir;  Semakin seseorang itu kaya, maka semakin kikir dia, karena ia mengira semua kekayaannya ialah dari hasil jerih payahnya dan bukan atas bantuan orang lain.  Kenapa orang tidak mau mencari harta sebagaimana ia mencarinya, sehingga tidak butuh bantuan orang lain.  Rupanya ia lupa bahwa sesungguhnya di dunia ini tidak ada seorangpun yang dapat bekerja secara sendiri, pasti ia butuh bantuan orang lain.  Kalau ia sebagai pengusaha yang mengelola perusahaan besar, pasti akan memperkerjakan orang lain, dan tidak mungkin segalanya dikerjakannya sendiri.  Namun itulah kenyataan bahwa orang kikir itu selalu mencari alasan untuk tidak mengeluarkan harta sedikitpun untuk sekedar membantu orang lain, meskipun alasannya sangat tidak rasional. Dari kenyataan itulah pesan Nabi untuk mempergunakan kekayaan yang  dititipkan oleh Tuhan bagi kebaikan dan investasi akhirat kiranya sangat  tepat untuk mengingatkan kita semua agar tidak menjadi orang kikir yang nantinya  dipastikan akan sangat rugi.

            Keempat: manfaatkan waktu luang dan sempat kita sebelum kesibukan mendera kita.  Artinya bahwa  kesempatan yang diberikan oleh Tuhan itu kadangkala hanya sekali dan tidak akan diulangi lagi, karena itu kita sangat dianjurkan untuk memanfaatkan setiap kesempatan untuk melakukan perbuatan baik dan bermanfaat, dan jangan sampai kita menunda-nudanya  hingga akhirnya tidak akan pernah mendapatkan kesempatan lagi.  Memang banyak orang yang  beranggapan bahwa kesempatan itu akan selalu ada dan datang silih berganti, tetapi kita harus ingat bahwa  adakalanya Tuhan itu memberikan kesempatan kepada kita hanya sekali saja.  Karena pada dasarnya kesempatan itu adalah karunia Tuhan  yang dianugerahkan kepada kita untuk kita manfaatkan dengan bijak, seperti kesempatan waktu, kondisi prima, kondisi lapang dan berada, serta keadaan baik lainnya. Kalau semua kesempatan yang diberikan Tuhan kepada kita tersebut tidak kita gunakan dengan semestinya, maka ada kemungkinan kita akan menyesalinya seumur hidup bahkan  sampai akhirat.

            Kelima: manfaatkanlah sisa hidupmu sebelum  engkau kedatangan maut.  Artinya bahwa kita semua yang hidup ini dipastikan akan mati, entah kapan kematian itu datangm hanya Tuhanlah yang mengetahuinya,  Namun sebagau hamba-Nya  yang percaya, kita harus selalu siap manakala sang Izrail dating menjemput.  Kesiapan kita itu ditandai dengan persiapan untuk kehidupan di akhirat, berupa investasi amal yang kita anggap cukup, karena kita selalu berusaha untuk melakukan kebaikan setiap saaatnya.  Kita menyadari bahwa masih banyak saudara kita yang  belum mengerti  atau bahkan tidak mau mengerti akan pentingnya kehidupan akhirat, sehingga pada saat hidup ini tidak dimanfaatkan untuk mempersiapkan kehidupan langgeng di akhirat.

            Kehidupan dunia ini  sesungguhnya hanya sementara, yaitu sampai kita mati,dan setelah itu berulah kita akan mengalami kehidupan lain di alam barzah, sampai nantinya dating hari akhir dan seluruh manusia akan diberikan balasan sesuai dengan aml perbuatannya ketika di dunia ini. Harta yang selama ini menjadi focus buruan kita sehari-hari, sesungguhnya bukan lagi milik kita pada saat kita mati, dan yang menjadi milik kita ialah yang kita tasarrufkan untuk kebaikan, termasuk untuk menafkahi keluarga.  Kalau ini menjadi pemikiran seseorang, maka dapat dipastikan ia akan selalu mengorientasikan hidupya untuk mempersiapkan  kehidupannya di akhirat nanti.  Toh seluruh kehidupan di dunia ini akan juga dapat bernilai investasi akhirat, tinggal kita mengelolanya dengan bijak. Kita berharap agar kita senantiasa diingatkan oleh Tuhan untuk selalu memikirkan kehidupan kekal di akhirat, dengan tanpa melupakan kehidupan di dunia saat ini.

            Dengan perenungan seperti ini, dan menjadikan lima kondisi yang diberikan oleh Tuhan kepada kita sebagai pijakan untuk  berbuat sesuatu yang terbaik, serta selalu berusaha untuk meningkatkan seluruh aktifitas kita di tahun yang baru ini, insya Allah kita akan termasuk Umat-Nya yang  akan menuai keberuntungan, baik di dunia maupun lebih-lebih nanti di akhirat. amin

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.