EVALUASI PELAKSANAAN PENERIMAAN MAHASISWA BARU

Meskipun agak terlambat, tetapi tetap penting untuk dilaksanakan, yakni evaluasi terhadap pelaksanaan  penerimaan calon mahasiswa baru melalui jalur SPAN dan UM PTKIN sebab di sana pasti ada beberapa hal yang dianggap lemah sehingga perlu ditingkatkan, khususnya bagi ketua baru yang akan segera melaksanakan penerimaan calon mahasiswa secara nasional pada tahun 2016 nanti.  Bahkan semua PT KIN juga merasa perlu untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan penerimaan  calon mahasiswa baru tersebut, utamanya apakah ada sisa yang dapat digunakan untuk modal awal panitia yang baru.

Namun keingin tahuan tersebut bukan disertai kecurigaan, melainkan hanya semata mata  untuk mengetahui saja, karena bagaimanapun pada setiap kegiatan besar seperti pelaksanaan penerimaan mahasiswa baru, pastilah ada hal yang  santgat penting untuk diketahui sehingga secara bersama akan mengupayakan perbaikannya.  Termausk jika  ada kekurangan pembiayaan oleh kementerian, maka secara bersama pula kita akan emngusulkannya ke kementerian.

Namun jika dalam hal UM PTKIN ternyata  masih ada sisa anggaran sebagai saldo transito, maka itu sangat penting untuk disampaikan kepada seluruh pimpinan PTKIN agar  mereka  dapat mengusulkan untuk apa.  Namun yang justru lebih penting ialah bagaimana  kita meningkatkan kualitas dan kuantitas  penerimaan calon mahasiswa baru tersebut, melalui sosialisasi yanglebih gencar.  Tentu untuk daerah luar Jawa tidak akan mudah disebabkan kondisi  lapangan yang terpencar di berbagai pulau.

Akan sangat bagus jika  keberadaan  sisa anggaran tersebut digunakan untuk sosialisasi, sehingga  para calon pendaftarnay akan semakin banyak dan seleksi akan dapat dilakukan dengan labih bagus.  Itupun kalau ternuyata masih ada saldo transito, kalau ternyata tidak ada, maka kita harus segera mengusulkan jkepada kementerian agar disediakan anggaran yang lebih banyak untuk proses seleksi penerimaan  mahasiswa baru tersebut.  Tentu termasuk  sosialisasinya juga yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari proses penerimaan calon mahasiswa baru tersebut.

Memang tidak semua pimpinan PTKIN akan sepakat dengan penggunaan dana saldo transito tersebut, namun  panitia tentu akan dapat memberikan alternative yang terbaik bila memang saldo tersebut ada, yakni untuk kepentingan awal panitia, seperti mempersiapkan segala sesuatunya, dan juga  memperkuat IT.  Jika nantinya untuk keprluan awal tersebut masih ada, itulah yang kemudian kita usulkan untuk melaklukan socialisasi kepada masyarakat secara lebih  luas.

Namun yang terpenting dalam evaluasi tersebut ialah bagaimana kita  merencanakan sesuatu ke depan yang lebih baik dengan pengalaman sebelumnya.  Artinya kalau kita memang berkeinginan untuk meningkatkan kinerja kita dalam penerimaan calon mahasiwa baru, tidak ada kata lain ialah bagaimana menjadikan pengalaman  tahun sebelumnya untuk menatap tahun depan.

Nah, selama ini  persoalan penting yang terlupakan atau memang senagaja tidak dilakukan, ialah persoalan socialisasi yang massif kepada masyarakat. Tidak dilakukannya sosialisasi tersebut bukan karena sesuatu hal, melainkan semata mata karena tidak adanya dana untuk melaksanakan hal tersebut.  Mungkin kalau di Jawa, akan sangat mudah dan mungkin juga murah, karena  kondisi lapangannya yang memungkinkan dilakukan dengan mendatangi sekolah sekolah secara langsung.

Akan tetapi jika hal tersebut di luar Jawa, semisal di  Papua, Ambon dan daerah lainnya yang relative sama, maka untuk melakukan sosialisasi tersebut harus menempuh perjalanan yang sangat panjang dan memelahkan serta ongkos yang sangat besar.  Selama ini sosialisasi yang dilaksanakan hanya melalui  media  internet dan sedikit dengan media lainnya.

Padahal kita juga menyadari  masih banyak diantara rakyat kita yang ada di kepulauan dan pelosok, mereka  belum mengenal internet, sehingga  seharusnya mereka didatangi  agar mereka benar benar tahu tentang apa yang kita tawarklan dalam  studi.  Kalaupun pada tahun ini belum maksimal, setidaknya sudah ada upaya untuk melakukan sosialisasi secara langsung dengan mendatangai sekolah sekolah dan masyarakat.

Kita yakin bahwa  kalau masyarakat mengetahui  apa yang ada  dan ditawarkan melalui  SPAN dan UM PTKIN maka mereka  akan berminat untuk mendaftar dan berkinginan bergabung dengan kita.  Sayangnya memang  mereka belum banyak mengenal kita, sehingga kurang berminat atau bahkan sama sekali tidak mengerti harus berbuat apa.  Misi kita untuk mencerdaskan  anak anak bangsa tentu tidak boleh hanya pada anak di perkotaan saja, melainkan juga harus  menjangkau pula yang diperdesaan dan pelosok.

Untuk itulah dalam evaluasi penerimaan calon mahasiswa baru kali ini, kita benar benar berharap ada  pembicaraan mengenai bagaimana kita  mensupport  PTKIN yang ada di daerah terjauh seperi di Papua, Ambon dan lainnya, yang selama ini peminatnya  sangat sedikit, bahkan mungkin kurang dari kuota yang disediakan.  Barangkali  kita dapat menyetujui jika nanti ada dana sosialisasi, maka untuk daerah tertentu yang sangat berat, dapat diberikan lebih ketimbang yang dari daerha mudah.

Kebersamaan memang  menjadi  sesuatu yang niscaya.  Artinya bagaimana kita membesarkan PTKIN secara bersama sama melalui cara yang dapat kita tempuhndan lakukan.  Ada kalanya memang  PTKIN di suatu daerah sangat membutuhkan pencerahan  dari PTKIN yang sudah relative maju, sehingga menjadi kewajiban kita untuk memberikan bantuan kepada mereka, dengan cara yang memungkinkan, termasuk dalam hal penerimaan calon mahasiwa baru.

Bahkan untuk memberikan support kepada PTKIN yang masih relative kecil dan lemah, kita harus mampu  untuk saling memberikan tenaga dan pikiran agar mereka cepat bangkit dan besar bersama.  Caranya mungkin diantara kita menyediakan diri untuk memberikan pencerahan di PTKIN terjauh dengan gratis.  Kita para pimpinan PTKIn dapat memakai SPPD untuk mendatangi mereka  sehingga mereka tidak harus repot menyediakan  segala sesuatu, cukuplah menjemput danmengantar pulang hingga airport saja.

Nah, untuk  memberikan sumbangan yang nyata dalam mendongkrak peminat masuk di PTKIN yang jauh tersebut, mungkin kita dapat memberikan kelonggaran bagi mereka untuk melaksanakan PMB tersendiri melalui jalur mandiri, tetapi disupport dana  untuk sosialisasinya.  Kalau selama ini mereka berjuang sendiri untuk membesarkan dan mensosialisasikan kepada masyarakat, dan ternyata tidak  ada perubahan yang signifikan, maka sudah waktunya kita  memberikan  bantguan kepada mereka melalui berbagai hal yang memungkinkan.

Barangkali ada hal lain yang penting yang  ditemukan oleh ppara pimpinan PTKIN terjauh tersebut yang kita belum mengetahuinya, sehingga dalam evaluasi kali ini  sangat perlu mereka diberi kesempatan untuk menyampaikan berbagai masalah seputar seretnya peminat ke PTKIN, apakah memang hanya semata mata persoalan sosialisasi ataukah ada persoalan lain yang memerlukan pemecahan kita semua.  Kalau sekiranya ada persoalan  krusial selain sosialisasi tersebut yang sulit untuk ditangani, sebaiknya  para pimpinan lainnya  turut memberikan jalan keluar agar mereka dapat menjalani  PMB sebagaimana yang kita jalani.

Pendeknya, sudah saatnya kita  memperkokoh keberadaan PTKIN kita  dengan saling membantu dan bukannya saling  berkompetisi secara tidak sehat.  Semua pimpinan harus  saling mendorong agar PTKIN yang ada semakin  besar dan berkualitas, termasuk juga dalam hal mahasiswanya.  Semoga ke depan kita  benar benar mampu untuk membesarkan PTKIN kita dan  bahkanmenjadikannya sebagai kiblat bagi kajian keislaman di muka bumi ini. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.