SERTIFIKASI GURU, SEBUAH HARAPAN DAN KENYATAAN

Menurut undang undang tentang guru dan dosen, proses sertifikasi guru pada tahun 2015 ini akan berakhir, meskipun tentu masih banyak guru yang belum tersertifikasi.  Hal tersebut disebabkan jumlah guru di negera kita sungguh luar biasa banyaknya, sehingga untuk mensertifikasi guru secara keseluruhan, akan memakan waktu panjang dan ongkos yang sangat mahal.  Proses selanjutnya  pendidikan profesi guru.

Kita tahu bahwa meskipun guru yang sudah tersertifikasi cukup banyak, lebih dari setengah juta  guru, namun yang belum tersertifikasi juga masih cukup banyak, bahkan juga masih lebih dari  lima ratus ribu guru.  Itupun baru yang berada dalam lingkungan kementerian agama, belum  yang di lingkungan kementerian pendidikan dan kebudayaan. Karena itu seharusnya  ada program penerus yang setara, sehingga proses sertifikasi guru akan tetap berlangsung.

Namun kalau mengingat amanah undang undang, memang  sertifikasi guru dalam bentuk PLPG harus berakhir pada tahun 2015 ini, untuk kemudian hanya dilakukan melalui mekanisme PPG atau pendidikan profesi guru, yang tentu akan memakan  waktu cukup lama.  Kita tahu bahwa kalau  PLPG hanya dilaksanakan selama 9 hari dan dapat dilaksanakan secara massal sehingga dalam satu tahun anggaran saja dapat dilakukan puluhan ribu orang guru.

Nah,  setelah nanti berbentuk PPG tentu akan sangat berkurang, mengingat kapasitas LPTK dalam menampung  para guru yang mengikuti PPG sangat terbatas.  PPG dilaksanakan secara lebih terprogram dengan bagus, dan dilaksanakan selama satu tahun.  Secara hasil memang akan lebi bagus dibandingkan dengan PLPG, namun untuk mengatasi kekurangan guru profesional, memang akan  lambat, karena tidak dapat dilaksanakan secara massal sebagaimana PLPG.

Melihat kenyataan tersebut ada kemungkinan bahwa  pemerintah memang harus memikirkan apakah akan ada  penambahan kuota dalam PLPG  sebagaimana sebelumnya, ataukah tetap pada prinsip dialihkan kepada PPG, semuanya masih serba mungkin.  Tetapi mengingat kondisi saat ini  semuanya harus dipikirkan lebih matang sehingga  para guru tidak akan menjadi korban atas kebijakan yang akan ditempuh.

Sambil menunggu kebijakan dari pemerintah mengenai apakah ada penambahan  kuota sertifikasi guru untuk tahun mendatang, sebaiknya memang harus ada evaluasi terhadap para guru profesional tersebut untuk  mengukur apakah proses sertifikasi yang menghabiskan dana trilyunan rup[iah tersebut dapat mengubah pendidikan kita ke arah yang lebih bagus dan berkualitas, ataukah masih sama saja.

Sudah barang tentu harapan kita ada perubahan signifikan, baik dalam hal proses pembelajaran, maupun hasil pembelajaran itu sendiri, sehingga kualtas pendidian  yang kita harapkan, akan tercapai.  Kalaupun misalnya ada beberapa yang masih lemah, harus dcarikan jalan keluarnya, semisal dilakukan penguatan metodologi pembelajaran bagi mereka dan  workshop peningkatan kapasita  para guru profesional yang dipandang masih memerlukan  tambahan.

Jumat malam tanggal 4 Desember 2015 ini memang kementerian agama melaksanaka kegiatan ekspose sertifikasi guru, sebagai penenda  telah usainya  program sertifikaso guru melalui PLPG, dan ke depan akan dilaksanakan melalui PPG. Namun sekali lagi  sisa guru yang belum tersertifikasi ternyata masih sangat banyak, yakni lebih dari 500 ribu guru.  Mereka juga  meminta agar secepatnya  disertifikasi melalui pola PLPG.

Hanya saja tentu pemerintah, dalam hal ini kementerian agama tidak akan mampu jalan sendiri, tanpa adanya  kesepakatan  dengan seluruh  unsur pemerintah, seperti DPR untuk merevisi UU guru dan dosen, sehingga  semua  dapat berjalan dengan aman.  Memang ada tarik ulur kepentingan, yakni  kepentingan pemerintah yang selama ini terus merasa kekurangan dalam hal finansial untuk  memberikan  tunjangan mereka yang sudah tersertifikasi, sementara itu  kepentingan para guru yang belum tersertifikasi sangat kuat untuk segera dilakukan sertifikasi bagi mereka.

Barangkali yang mungkin dilakukan di masa depan ialah memperbanyak LPTK yang menyelenggarakan PPG dengan pengawasan yang ketat.  Artinya jangan sampai keinginan kita untuk mendapatkan banyak guru yang bersertifikat, kemudian dikalahkan oleh ambisi tertentu sehingga  mengabaikan aspek kualitas.  Kalau PLPG selama ini dinilai kurang dapat  memberikan sumbangan  beararti bagi peningkatankualitas guru dan hanya formalitas saja, maka PPG jangan sampai engulangi hal yang sama.

Sudah banyak kritik yang dialamatkan kepada pemerintah bahwa  hasil guru yang dianggap prosesional yang ditandai dengan sertifkat, ternyata masih sama dengan mereka yang belum tersertifikasi.  Kita memang menyadari sepenunya  bahwa tidak mungkin dalam waktu  siktar 9 hari, kemudian dapat mengubah para guru menjadi profesional, terkecuali  mereka itu sebelumnya memang sudah profesional.

Sedangkan bagi guru yang masih konvensional, baik  cara pembelajarannya maupun dalam hal pengetahuannya, sepertinya mustakhil akan  mampu  disulap menjadi profesional, terkecuali hanya tahap awal saja, yang kemudian harus ditindak lanjuti dengan berbagai training penguatan terhadap mereka serta pengawasan yang ketat terhadap kinerja mereka.  Nah, kalau haltersebut yang dilakukan, maka pada saatnya  akan ada harapan untuk menyaksikan mereka  benar benar menjadi guru ang profesional.

Saya sendiri sebagai seorang pendidik merasakan betapa masih banyak diantara kawan kawan pendidik, utamanya dari kalangan guru yang  masih sangat memperihatinkan, baik dalam penguasaan materi maupun metodologi, sehingga  seolah mereka itu semata mata hanya  bekerja mencari nafkah dan sama sekali tidak ada keingian untuk mencerdaskan anak anak bangsa.  Bukti  atas hal tersebut cukup gamblang, semisal tidak pedulian mereka untuk mendidik anak anak, dan hanya mengajar, itupun sekedarnya saja.

Padahal tujuan utama dalam sertifikasi tersebut ialah bagaimana  meningkatkan kualitas pendidikan kita agar  dapat bersaing dengan  pendidikan lain dari negara lain.  Kita tidak semata mata  menyikapi keberlakuan masyarakat ekonomi Asean, melankan memang menjalankan amanah yang sangat kuat dari undang undang kita, yakni mencerdasakan kehidupan bangsa.  Tentu ada misi  khusus bagi kita umat muslim, yakni agar  umat menjadi cerdas dan juga dapat  memberikan manfaat  yang bedar bagi lainnya.

Disamping itu juga dalam upaya kita menjadikan umat muslim dan bangsa Indonesia  sebagai bangsa bermartabat dan dihargai oleh umat lainnya di dunia.  Bukan  karena apa apanya, melainkan semata mata karena karya nyatanya  dan  berbagai prestasi yang telah dicapai,  baik dalam hal inovasi maupun dalam hal menghasilkan karya ilmiah serta ekonomi dan lainnya.

Sebagaimana kita tahu bahwa  kemajuan dalam bidang apapun, akan dimulai dari  pendidikannya.  Bangsa yang maju sudah pasti akan  menjadikan pendidikan sebagai hal nomor satu untuk dikerjakan dan ditingkatkankualitasnya, sebab dengan kemajuan dalam bidang tersebut akan mendorong kemajuan dala bidang bidang lainnya, seprti ekonomi, keilmuan dan juga kebudayaan.  Bahkan tertib hukum dan aturan yang selalu kita dambakan juga akan ditentukan oleh tingkat pendidikan  anak bangsanya.

Kebanyakan sebuah bangsa yang  kualitas  pendidikannya rendah, ialah bangsanya tidak tertib,  termasuk kebersihannya juga tidak terjaga, dan keamanan serta kenyamanan menjadi sangat jauh.  Itulah kenapa kita  harus menjadikan pendidikan  tersebut sebagai hal yang  utama untuk diperbaiki dan ditingkatkan.  Semoga kedepannya memang ada solusi untuk para guru yang belum tersertifikasi dan sekaligus  pelaksanaan sertifikasi tersebut akan mampu megubah  kualitas pendidikan kita. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.