AYO MEMILIH

Bagi bangsa Indonesia mungkin merupakan sejarah bahwa ada pemilihan kepala daerah secara serentak.  Motivasi awalnya memang untuk menkan pembiayaan agar murah dan sedapat mungkin meminimalisasi  maraknya politik uang.  Sebagaimana kita tahu dalam setiap pemilihan kepada daerah dan juga presiden,  dan juga pemilihan anggota legislative, dapat dipastikan akan muncul politk uang, yang meskipun sudah dilakukan upaya pencegahannya, namun tetaplah jalan terus.

Memang ada keuntungannya  dengan p[emilihan kepala daerah secara serentak, karena  pilkada yang  ternyata memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit, tidak dilakukan secara berulangkali sebagimana yang slama ini terjadi.  Masyarakat sangat mungkin juga terganggu dengan kondisi demikian.  Untuk itu hal tersebut perlu diakhiri dengan menerapkan system baru yang meminimalisasi semua yang dianggap pem,borosan tersebut.

Hanya saja secara riil di lapangan masih banyak hal yang perlu dibenahi, karena ternyata kondisinya  tidak jauh berbeda dengan pilkada sebelumnya.  Ongkos yang harus dikeluarkan juga sangat besar, baik oleh negara melalui KPU dan Panwas, mauipun yang harus dikeluarkan oleh para calon.  Praktek politik uang, yang meskipun sangat sulit dibuktikan, tetapi sangat jelas dapat dilihat dan masyarakat juga menyaksikannya.

Alhasil pelaksanaan pilkada, baik  sebegaimana biasanya maupun melalui serentak,. Tetaplah menyisakan persoalan yang harus terus duiupayakan pembenahannnya.  Itu kalau ada niat kita untuk memperbaiki keadaan dan  mermangkas kemungkinan dan potensi untuk melakukan tindakan koruptif bagi mereka yang menang dan berkuasa di sebuah daerah.

Sementara itu bagi masyarakat, kiranya  dapat melihat bagaimana proses pemilihan kepala daerah tersebut berjalan, dan sekaligus dapat mengevaluasinya.  Kampanye para kandidiat juga kurang jelas, sehingga banyak masyarakat yang tidak mengetahui calon yang ada.  Akibatnya  pada saat pemilihan atau pemungutan suara, mereka asal saja menentukan pilihannya.  Bahkan ada yang  mengetengahkan semboyan, siapapun yang  berani membayar banyak, itulah yang akan dipilih.

Alasan merka ssngat sederhana, yakni siapapun yang jadi kepala daerah pasti mereka akan melakukan korupsi, lantas apa yang dapat diharapkan dari para calon tersebut.  Mungkin diantara mereka ada yang menyuarakan anti korupsi, tetapi dalam kenyataannya, mereka tetaplah  akan menggaron uang negara atau uang rakyat dengan berbagai modus ataus cara.  Jadi masyarakat sudah sampai pada taraf jenuh dan apatis terhadap pemimpinnya.

Atas dasara pemikiran tersebut, mereka kemudian menjadi sangat pragmatuis, yakni akan memilih mereka yang memberikan  uang lebih banyak.  Kalau pada akhirnya sama saja, yakni para pemimpion akan melakukan tindakan koruptif, maka  memilih siapapun, akan sama dan tidak akan mampu melakukan perubahan ke arah kondisi yang lebih baik.  Itulah mereka kemudian bersikap realitis dan  rasional menurtut mereka yang akan memberikan suaranya yang mampu memberikan imbalan lebih besar.

Bagi kita orang orang yang bermoral, sesungguhnya sikap pragmatis sebagaimana yang ditunjukkan oleh kebanyakan masyarakat tersebut, sangat disayangkan, karena bagaimanapun diantara para calon, pastil;ah ada yang lebih rasional dan mempunyai komitmen untuk membangun dan berintegritas.  Cuma persoalannnya ialah bagaimana kita kemudian mampu melakukan pengawasan kepada mereka, sehingga mereka akan tetap pada jalan yang lurus.

Kita memang menyadari bahwa masih banyak mafia di sekitar pemrintahan, karena itu jika seorang pimpinan tidak kuat godaan, pastilah dia akan melakukan sebagimana dikehendaki oleh para mafia tersebut, demi mendapatkan keuntungan.  Nah, ketika pimpinan yang memp[unyai komitmen bagus dan terus dipantau serta diawasi dengan konsisten oleh masyarakat, maka pimpinan tersebut masih akan kuat untuk memeprtahankan integritasnya di tengah tengah para penggodanya.

Kondisi  seperti itu tentu akan terus terjadi, jika kita sendiri terus bersikap apatis dan tidak berusaha untuk mengubahnya.  Dengan keyakinan bahwa diantara para calon, ada  yang lebih bagus dan mempunyai komitmen untuk melakukan pembangunan dan mensejahterakan rakyat, maka kita harus bern=ani memilih calon yang berkomitmen tinggi untuk mengubah kondis tersebut.  Kalaupun calon tersebut sama sekali tidak memberikan  uang kepada kita, justru itu merupakan awal yang ditunjukkan bahwa dia memang berlkomitmen untuk menjalankan sesuatu yang bagus.

Lantas bagaimana dengan para calon yang membeli suara dengan uang dengan berbagai alasan?.  Mungkin bagi masyarakat bolehlah menrimanya, tetapi bukan dengan janji akan memilih yang memberikan aung tersebut, melainkan hanya sekar diterima  saja, dan selebihnya tetap akan memilih yang terbaik dan dapat diharapkan akan membuat kebaikan bagi masyarakat dan daerah.  Dan jika pihak yang memberikan uang tersebut meminta janji atau komitmen untuk memilihnya, maka l;ebih baik uang tersebut dikembalikan saja.

Hari ini merupakan hari yang  menentukan masa depan kita semua.  Artyinya kalau kita salah dalam menentuikan pilihan, maka kita akan semakin lama mendapatkan kondisi sebagaimana yang kita cita citakan.  Tepai kalau kita tepat dalam menentukan pilihan,  tentu ada harapan bahwa  pada saatnya  kita akan menyaksikan  kemudahan dan kemajuan daerah kita, bersama dengan pimpinan yang baik dan terus kita awasi tersebut.

Bagaimanapun kita memang harus memilih pimpinan, apapun calon yang ada.  Dengan berpartisi[asi dalam pemilu kada tersebut, sesungguhnya kita sudah melakukan tenggung jawab dalam memilih pimpinan, dan hal tersebut  tentu akan berimplikasi pada kebijakan pemimpin tersebt pada saatnya.  Kalaun kita memang memlih, maka kita juga sekaligus dapat menuntutnya untuk berbuat baik dan adil dalam kepemimpinannya, serta senantiasa memperhatikan  kesejahteraan rakyat secara menyeluruh.

Waktu yang hanya  dua detik dalam menentukan pilihan tersebut ternyata mempunyai implikasi yang sangat luas, karena pilihan kita tersebut akan menentukan masa depan kita dan daerah kita semua.  Kita berharap dan terus berdoa, agar pimpinan yang terpilih nanti, dapat bersungguh sungguh dalam memimpin dan terus memperhatikan kesejahteraan masyarakat.  Mereka juga tidak akan melupakan janji  pada saat berkampanye, jika kita terus menaguihnya dan selalu mengawasi setiap sepak terjangnya.

Ayo kita datangi TPS terdekat untuk  memberikan suara kita, hingga jam 13.00 WIB, karena kalau kita datang setelah jam tersebut, akan percuma asaja kedatangan kita, karena  TPS sudah ditutup dan berganti dengan penghitungan suara yang sudah dilakukan sejak jam 07.00.  Memang  semua orang mempunyai hak dan suara yang nilainya sama, walaupun orang berpangkat, berstatus soaial tinggi, dan lainnya, tetaplah dia hanya mempunyai satu suara, sebagaimana yang dimiliki oleh orang maiskin.

Mari berikan suara kita untuk  masa depan yang lebih baik, bukan untuk menyenangkan mereka yang punya duit, karena dapat membayar mahal.  Secara rasio, kalau seseorang mengeluarkan modal banyak, pastilah ada kalkulasi untuk mendapatkan kembali modal yang sudah dikeluarkan tersebut. Nah, kalau hanya mengandalkan  bayaran sebagai kepala daerah, maka tidak mungkin selama lima tahun akan dapat kembali modal.

Nah, salah satunya ialah bagaimana mereka berusaha  mendapatkan  uang negara dengan berbagai cara.  Sebagiannya ada yang memakai cara mengakali projek projek, yakni dengan memnitip kepada pengusaha tertentu yang dimenangkan tendernya, sebagian bahkan memiliki perusahaannya sendiri yang kemudian dimenangkan dalam tender, dan mungkin juga melalui cara yang konvensional, yakni korup[si dengan cara melakukan kegiatan fiktif dan sejenisnya.

Untuk itu semua yang terkait dengan pengakalan keuangan negara, harus dihentikan, yakni melalui cara memilih calon pemimpin yang tidak memngeluarkan modal terlalu banyak, sehingga rasional, jika mereka tidak melakukan praktek koruptif.  Semoga pilihan kita tepat. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.