MENYAKSIKAN ISLAM DI AMSTERDAM

Meskipun berada di tengah tengah masyarakat non muslim, tetapi ternyata  masih ada orang muslim yang tetap mempertahankan identitasnya sebagai seorang muslim, bukan dengan cara sembunyi sembunyi, melainkan justru dengan terang terangan.  Bahkan mereka juga  mendirikan sekolah muslim  dengan identitas yang jelas.  Walaupun tempat ibadah mereka bukan berbentuk masjid sebagaimana mestinya, tetapi ada tempat khusus yang sengaja diperuntukkan untuk tempat shalat, termasuk jumatan.

Justru dalam kesempitan tempat tersebut menjadikan mereka sangat kuat dalam persatuannya, dan tentu dalam komitmenenya untuk menjalankan ibadah dan mensyiarkan Islam.  Berbagai kegiatan pencerahan selalu diadakan,  baik dalam bentuk  kajian dan diskusi ilmiah maupun dalam bentuk pengajian  yang sifatnya umum.  Bahkan antusiasme mereka sangat luar biasa, termasuk pada saat mereka berniat untuk mendirikan tempat pusat kegiatan yang di dalamnya termasuk masjid.

Komunitas muslim yang  sesungguhnya tidak banyak tersebut sangat kuat dalam  menjalankan ibadah dan sekaligus dalam  upaya untuk mempertahankan  identitas mereka.  Karena itu dengan suka rela mereka mengumpulkan dana untuk  niat mulia mendirikan pusat kajian tersebut.  Padahal kita tahu  untuk membeli sebuah tempat di negeri Belanda, utamanya di Amsterdam tersebut tidak mudah dan bahkan harganyapun sangat mahal.

Namun kalau niat sudah bulat, maka  apapun rintangannya, termasuk mengenai biaya, seolah idak menjaid persoalan, walaupn harus merangkak dari nol, dan harus  mecari dana besar untuk mendapatkan tanah yang diidamkan tersebut.  Sampai saat ini, meskipun belum mencukupi, tetapi sudah menggembirakan, karena  sudah lebih separoh dana yang sudah terkumpul untuk pebelian sebuah tempat.

Sebagai seorang muslim yang kebetulan  berkunjung ke Amsterdam dan  bertemu dengan komunitas yang begitu antusias untuk mengembangkan  Islam tersebut, tentu sangat trenyuh dan  berniat untuk membantu sesuatu yang memungkinkan dilakukan.  Tentu bukan dana, karena  rasanya sangat sulit untuk membantu dalam bentuk dana tersebut.  Hal yang sangat mungkin dapat dilakukan ialah dengan mensupport SDM yang  handal untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat muslm di sana.

Kami sempat berdiskusi dengan  pengurus persatuan pemuda Muslim Eropa di Amsterdam yang menceritakan bahwa kebutuhan  dai yang  mumpuni sangat mutlak  dan karena itu kami dari perguruan tinggi berkewajiban untuk membantu dalam bidang tersebut.  Cuma persoalannya ialah teknis administratif.  Oleh karena itu dibutuhkan cara yang tepat agar semuanya menjadi  mudah dan tidak menimbulkan  pe3rsoalan di kemudian hari.

Dalam diskusi tersebut juga ditemukan beberapa teknis yang dapat ditempuh, yang salah satunya ialah dalam kemasan  riset dosen.  Atau yang paling aman ialah  pihak mperwakilan muslim di Amsterdam mengirimkan surat permohonan kepada menteri agama  untuk mengirimkan dai dan dosen untuk memberikan pencerahan dalam bentuk pengabdian masyarakat selama jangka waktu terentu dan dilakukan secara bergilir diantara  PTKIN yang ada.

Disampng itu kita juga dapat membantu untuk mengirimkan dai melalui lembaga swasta, seperti ormas yang ada.  Hal tersebut sangat memngkinkan, karena  Nahdlatul Ulama misalnya sudah sering mengirmkan dai untuk melakukan ceramah dan dakwah di beberapa negara barat dengan biaya  patungan, yakni NU membiayai tiket pulang pergi, sedangkan masyarakat muslim setempat memberikan akomodasi dan transport lokal.

Secara  pribadi saya sendiri sangat tertarik untuk membantu mereka, dalam hal pencerahan dan pengkajian Islam secara benar, yakni Islam yang rahmaan lil alamin, dan bukan Islam yang neko neko serta mudah untuk menghakimi pihak lain.  Cerita yang disampaikan oleh tokoh muslim di Amsterdam sungguh sangat menyentuh hati, yakni  adanya  paham yang masuk  di komunitas muslim yang kemudian justru memecah belah  kelompok muslim tersebut.

Paham yang  sangat ekstrim tersebut seolah paling benar sendiri dan selain pemahaman mereka itu salah dan sesat.  Bahkan sesama muslim saja mereka sudah berani memastikan bahwa selain mereka semuanya akan celaka dan masuk neraka.  Tentu paham tersebut menuai pro konra, ada sebagiannya yang  mengikuti dan sebagiannya lagi lari.  Nah, sebagai  penganut Islam yang rahmatan lil alamain, tentu tidak cocok dengan model Islam yang disodorkan tersebut, karena sama sekali tidak sesuai dengan karakter rahmatan lil alamin tersebut.

Saya sendiri telah mendapatkan berbagai informasi seputar paham tersebut dan juga sudah mulai menyebar di negeri kita tercinta.  Karena itu saya merasa   berkewajiban untuk membantu mereka agar tetap solid dalam  mengebangkan Islam yang  rahmatan lil alamin tersebut, dengan cara yang memungkinkan.  Tentu bukan saya secara pribadi yang harus melakukannya, karena sama sekali tidak mungkin, mengingat keberadaan saya sebagai pimpinan di perguruan tinggi negeri.

Salah satu alternatif yang mungkin dilaksanakan ialah dengan menyeleksi dosen yang  ada  untuk diberangkatkan ke negera tujuan dengan tugas utama memmberikan pencerahan, dan sekaligus melakukan kegiatan ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan.  Dsainnya dapat dicari  melalui berbagai format yang memungkinkan, seperti pengabdian masyarakat, riset, dan juga tugas khusus yang tentu harus diketahui oleh menteri sebagai misi perguruan tinggi Islam.

Apa yang saya saksikan  hari ini, sungguh sangat memberikan kesan  mendalam bagi saya bahwa  ternyata masih banyak umat muslim yang sangat membutuhkan uluran tangan kita, sementara  di negeri kita seolah tidak memerlukan  panggilan kita.  Bahkan  keberadaan dai sangat luiar biasa banyak dan bahkan ada yang sampai memerankan diri seperti selebriti.

Panggilan jiwa untuk berdakwah di Barat tentu tidak mementingkan persoalan materi, karena tuntutan jiwa dan syiar Islam itulah yang  memberikan dorongan kuat untuk melakukan dakwah tersebut.  Walaupun demikian kalau orang hanya  mengkhususkan diri untuk berdakwah dan tidak ada sponsor yang mensupportnya, maka  sebaiknya ada  sekedar bisyarah untuk menyambung hidupnya.

Hanya saja hal seperti itu seharusnya tidak terjadi, terkecuali memang dalam kondisi darurat.  Selebinya, kitalah yang harus mencarikan  support  finasial mereka.  Kalau memang yang kita kirim adalah salah seorang dosen yang terseleksi, tentu kita berkewajiban untuk mensupport keberadaan mereka,  baik tiket pilang pergi, maupun sekedar uang saku.   Karena persoalan akomodasi dan transport lokal, pastinya akan  menjaditanggung jawab pengurus PPME.

Salah satu hal yang mengagumkan diri saya ialah bagaimana solidaritas mereka dalam membantu  sesama muslim, terutama  mereka yang baru datang di Eropa.  Mereka  dengan tulus  menyambut dan mengantarkan  para tamu  yang datang.  Bahkan mereka diperlakukan seolah saudaranya sendiri, meskipun baru saja kenal.  Ini sungguh merupakan sebuah kondisi yang sangat menyenangkan.

Nah, pencerahan terhadap kaum muslim tersebut, sesungguhnya disamping untuk menambah pemahaman merka tentang Islam, juga sekaligus untuk membentengi mereka dari kemungkinan pengaruh buruk paham yang datang kemudian.  Kita tentu tidak akan rela menyaksikan mereka  yang sudah berada dalam jalan yang benar, kemudian terpengaruh dan terseret ke jalan yang kita anggap tidak sejalan dengan ajaran Islam rahmatan lil alamin.

Intinya, Islam di Barat, utamanya yang ada di Amsterdam  sebagaimana yang saya saksikan, masih membutuhkan uluran tangan kita, utamanya yang terkait dengan SDM dai yang mumpuni dan  dapat mengantarkan kepada Islam yang benar dan rahmatan lil alamin.  Demikian juga  mereka masih membutuhkan support, baik moral maupun material untuk lebih memperkuat keberadaan mereka  sebagai komunitas muslim di negeri minoritas.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.