KONSEP MENGIKUTI RASUL

Sebagaimana kita ketahui bahwa saat ini semakin marak  munculnya berbagai kelompok yang mengatas namakan Islam, namun terkadang sepak terjangnya sama sekali jauh dari ajaran Islam sebagaimana yang dipraktekkan oleh Rasul Muhammad saw.  Atas dasar itu, kita juga kemudian  meyaksikan betapa  banyak pihak yang kemudian  saling menuduh sesat, dan bahkan tidak segan segan untuk menuduh kafir kepada pihak lainnya.  Islam yang seharusnya mempersatukan semua umat dan golongan, berubah menjadi pemecah belah umat.

Sudah tentu umat muslim yang menydarai  persoalan tersebut sangat prihatin dan berusaha untuk mengembalikan kondisi tersebut kepada Islam yang  sudah dikenal pada zaman yang lalu sebelum munculnya berbagai aliran tersebut.  Kita tahu bahwa Islam pada  zaman para ulama aterdahulu hanyalah satu dan tidak terpecah hingga saling mengkafirkan.  Kalaupun ada perbedaan, itu semata  hanya persoala khilafiyah yang masih dalam batas toleransi.

Memang ada masanya persoala khilafiyah tersebut  mengembang dana hampir saja  memecah belah umat, akan tetapi dengan kesigapan para ulama dahulu untuk memberikan pengertian kepada umat, perpecahan tersebut tidak terjadi.  Bahkan  yaang kita saksikan ialah bagaimana  mat dapat hidup rukun dalam keberbedaan  amaliah, sebab mereka sangat mayakini bahwa masing masing mempunyai landasan  dalam melakukan amaliha tersebut.  Mereka kemudian  sangat paham bahwa perbedaan tersebut hanyalah persoalan  khilafiyah yang tidak mungkin disatukan, tetapi  masih tetap bersama.

Kondisi saling menghormati dan menghargai tersebut masih tetap terpelihara hingga saat ini dan mungkin juga akan tetap bertahan hingga  masa depan.  Contoh yang paling kongkrit ialah perbedaan paham antara  kelompok muslim yang menganut ormas Nahdlatul ulama dengan yang menganut  Muhammadaiyah.  Keduanya dianggap mempunyai paham ahlussunnah, namun dalam praktik ibadanya ada perbedaan yang tidak substansial, semisal  ada yang memakai doa qunut dalam shalat Subuh ada yang tidak memakainya.

Ada yang suka membaca tahlil, bershalawat, berdzikir dan lainnya, tetapi ada sebagiannya yang tidak menyukainya.  Namun semuanya dapaat berjalan dengan baik baik, tanpa harus  mendapatkan  sebutan sebagai sesat, bid’ah dan lainnya.  Bahkan kalaupun  ada diantara  mereka yang menyebutnya sebagai hal yang masuk dalam ketegori bid’ah, namun hal tersebut tidak akan  bergitu keras dan menyinggung pihak lain.

Nah, yang saat ini terjadi sangat lain, karena  kelompook yang ada dengan gencarnya menyerang kelompok lain dan menuduh, bahkan mengecap kelompok lain sebagai bid’ah, sesaat, dan bahkan kafir.  Anehnya  mereka justru ingin memurnikan syariat dan kembali kepada ajaran Islam yang  benar sebagaimana  diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.  Padahal  semua kelompok yang  dituduh kafir tersebut juga  mengikuti cara dan praktek yang dilakukan oleh Rasul.

Lantas  dimana  yang benar? Kalaim  mengikuti Rasul tersebut harus segera dijelaskan agar semua umat dapat melihatnya sendiri, lantas dapat menentukan  kelompok manakah yang sesungguhnya benar benar memperjuangkan  ajaran Rasul?.  Tidak  mudah memang untuk memberikan penjelasan kepada umat tentang hal tersebut, karena  pijakan mereka  juga suda berbeda.  Namun dengan  wujud al-Quran yang masih orisinal kita  tentunya mampu untuk  melakukan kajian dan menelaskan  apa yang sesungguhnya disampaika oleh Rasul.

Al-Quran jelas  menyatakan bahwa kita harus mengikuti dan taa kepada uhan dan juga taat kepeda Rasul, jika kita memang  benar benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.  Ini menjadi titik tolak penting untuk perjalanan kajian selanjutnya.  Kita juga  telah sepakat dan  meyakini bahwa Rasulullah yang dimaksud oleh ayat ayat di dalam kitab suci kita, al-Quran, ialah Muhammad bin Abdullah sebagaimana yang kita  kenal  selama ini.

Nah, ini sesungguhnya awal dari pokok keyakinan yang kita bangun, jangan sampai ada pemikiran bahwa  ada kekeliruan oleh malaikat dalam  menyampaikan  wahyu yang seharusnya bukan kepada  Muhammad saw, melainkan kepada  pihak lain, seperti Ali bin Abi Thalib misalnya.  Kalau  ini  muncul, sudah barang tentu sudah berada dalam koridor lain dan tidak dapat dibenarkan, karena tidak memunyai rujukan referenci yang dapat dipertanggung jawabkan.

Bahkan Ali sndiri sesungguhnya merupakan salah seorang sahabat Nabi yang sangat loyal kepada  nabi Muhammad saw, sehingga beliau kemudian dijadikan menentu oleh Rasul.  Lantas bagaimana ada pemikiran yang  tidak rasional bahwa  sesungguhnya Ali adalah yang dituju untuk menjadi Rasul?.  Bahkan dalam referensi yang valid bahwa Ali juga setia dan membaiat kepada Abu Bakar , Umar  dan juga Utsman, pada saat mereka  diangkat oleh masyarakat menjadi khalifah setelah Rasul wafat.

Lantas bagaimana pula kemudian muncul pemikiran yang sangat menyudutkan para sahabat Nabi yang mulia tersebut, atau bahkan menuduh  dengan tuduhan yang sangat menyakitkan.  Sejarah tidak akan dapat diuba bahwa  kejadian setelah Nabi wafat memang  Abu Bakrlah yang kemudian diangkat oleh umat untuk menggantikan Rasul, meskipun  beliau pada awalnya sangat berkeberatan, namun akhirnya dengan pertimbangan keselamatan umat,  beliau menerima amanah tersebut.

Demikian juga dengan proses keterpilihan  Umar dan juga Utsman, yang meskipun berbedaa cara, namun dapat dilihat dari  latar belakangnya, sehingga semua khalifah tersebut sangat berat menerima amanah menjadi khalifah.  Mereka bukannya  semakin enak dalam hidupnya, melainkan malahan bertambah beban, karena harus juga mempertanggung jawaabkan semuan amanah tersebut kepada Allah swt.

Nabi Muhammad saw sendiri juga begitu menyayangi  para sahabat beliau tersebut dan bahkan dalam salah sebuah hadisnya, mereka  termasuk diantara sepuluh orang yang ditanggung akan masuk surga.  Lantas bagaimana  ada kelompok yang kemudian  menuduh  bahw a para sahabat tersebut nista dan makar, sehingga mereka kemudian  diancam akan masuk nerak oleh kelompok tersebut.   Apakah mereka yang menentukan ataukah Tuhan?  Apakah kita lebih mempercayai  tuduhan mereka ketimbang pernyataan Rasul yang mulia?

Sebagai  muslim yang  sangat  menghormati semua sahabat Nabi, kita tentu tidak akan rela dengan  usaha kelompok tertentu tersebut yang selalu menyudutkan para sahabat terbaik Nabi. Bahkan kemudian juga muncul tuduhan yang sangat keji terhadap isteri Nabi Muhammad saw., yakni Aisyah bint Abu Bakr, bahwa beliau ermasuk perempuan yang melacurkan diri, berzina dan  lainnya.  Sungguh sebuah tuduhan yang begitu sadis dan menyesakkan dada  kita semua.  Beliau itu merupakan isteri kesayangan  Rasul, sebagaimana  dapat dilihat dalam hadis hadis yang shahih.

Bahkan konon sampai akhir hayatnya, Nabi selalu menyayangi nya  dan begitu pula sebaliknya, sehingga saat beliau wafat berada dalam pelukan dan pangkuannya.  Lantas bagaimana  kelompok tersebut dapat menuduh keji seperti itu?. Apakah kelompok tersebut yang lebih tahu tentang  Aisyah yang sebenarnya ataukah Rasul yang idup serumah?.

Mengikuti Rasul seharusnya dilakukan dengan menelusuri sejarahnya yang benar, dan bukan dengan menduga duga  tanpa bukti dan referensi yang dapat dipertanggung jawabkan.  Nah, dengan menelusuri sejarahnya, kita akan  melihat  gambaran yanag sangat jelas bagaimana dengan Nabi itu sendiri, dan bagaimana pula  sikap Nabi terhadap para sahabat beliau yang  sangat mulia dan juga para isteri beliau yang menjadi ibu bagi seluruh orang mukmin. 

Kalau  kemudian kita dapat menyaksikan dengan jelas gambaran tersebut, tentu  konsep mengikuti rasul ya kita meniru dan mengamini apa yang telah diperbuat oleh Rasul.  Jika rasul menyayangi para sahabat beliau, kita  seharusnya berkwajiban untuk menghormati mereka tanpa  harus mencari kesalaan atau hal yang aib bagi mereka. Demikian juga kalau Rasul santat mencintai para isteri beliau, maka kita harus tetap menghormati mereka, bahkan kita harus memperlakukan mereka sebagai ibu yang sangat terhormat.

Semoga  ke depan kelompok yang berusha memecah belah umat yang saat ini sudah mulai muncul di sekitar kita, dapat kita tangkal dengan  penjelasan yang gamblang kepada umat.  Dengan begitu umat nantinya tidak akan tertarik mengikuti mereka dan mereka dengan sendirinya pula akan tidak mendapatkan pengikut dan ajaran mereka akan  menghilang dengan sendirinya.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.