KEMANTAPAN HATI

Seringkali kita dibingungkan oleh berbagai keterangan yang terkait dengan ajaran syariat, yang seolah tumpang tindih dan  menjadikan orang yang tidak mengerti, dapat  menjadi ragu, atau bahkan akan memanfaatkan hal tersebut sebagai upaya  mengakali sehingga seolah dirinya masih tetap akan mendapatkan  sesuatu yang sangat penting, seperti ampunan Tuhan dan sejenisnya.

Coba bayangkan jika pada bulan suci Ramadlan, ada pernyataan yang disandarkan kepada Nabi Muihammad saw, bahwa siapapun yang berpuasa Ramadlan dengan iman dan ihtisab, maka semua dosanya akan diampuni oleh Tuhan, dan di salah satu riwayat lainnya dengan pernyataan barang siapa yang mendirikan  ibadah di malam harui bulan Ramadlan maka seluruh dosanya akan terampuni.  Tentu masih anyak lagi hal serupa yang intinya menjanjikan ampunan seluruh dosa.

Nah, kalau kita hanya mengambil harfiyanya saja, sudah barang tentu akan terjadi  kesalahan fatal, karena  orang kemudian akan menganggap tidak apalah melakukan banyak dosa, toh setelah menjalankan ibadah tertentu tersebut semuanya akan hilang.  Inilah yang saya maksudkan dapat menjadi berbahaya, karena kalau pemikiran tersebut dikembangkan, maka  kerusakan akan lebih parah.

Bahkan  banyak pula  riwayat yang menyatakan bahwa siapapun yang mau berdoa sedikit saja  setalh mendengarkan adzan, utamanya adzan subuh, maka semua dosanya akan diampuni oleh Tuhan. Juga ada riwayat lainnya yang menyatakan siapapun yang mau berdzikir dengan bacaan tertentu pada saat tertentu, maka semua dosanya juga akan dimusnahkan oleh Allah swt.  Nah,  semua itu pastilah merupakan  sebuah  pernyataan yang dimaksudkan agar umat banyak melakukan kebajikan sebagaimana yang disebutkan.

Cuma persoalannya ialah apakah semdah itu untuk menghapuskan dosa yang sangat banyak dan besar?.  Bukankah untuk melakukan pertaubatan, membutuhkan persyaratan yang cukup berat?  Demikian pula banyak  informasi  yang terkait dengan ancaman Tuhan terhadap mereka yang berbuat dosa danmaksiat. Lantas semudah itukah untuk melenyapkan dosa yang diancam dengan siksaan berat tersebut?  Dan tentu masih banyak pertanyaan lainnya yang harus dijawab dengan bijak, sehingga tidak akan membingungkan numat.

Motivasi, itulah kata yang tepat untuk memaknai semua riwayat yang sangat banyak daba bervariasi tersebut.  Artinya dengan pemaknaan  bahwa semua  hal tersebut dimaksudkan untuk memberikan motivasi kepada umat, menjadikan kita  dapat mengerti bahwa  umat memang perlu dimotivasi untuk melakukan sesuatu yang baik.  Tentu janji ampunan tersebut akan benar benar  ada jika kita mampu melakukannya dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan, dan bukan sekedar untuk  mengejar ampunan dalam waktu yang singkat.

Jika kita  mampu melakukan kebajikan tersebut secara kontinyu dan tidak mengulang lagi dosa  sebagaimana yang sudah dimintakan ampunan tersebut, tentu janji ampunan  akan  didapatkan, namun jika  pelaksanaan pekerjaan tertentuntersebut hanya untuk tujuan sesaat, dan setelah itu kembali lagi melakukan kemaksiatan dan dosa, tentu ita akan berkeyakinan bawa  dia hanya mempermainkannya saja sehingga  sangat mungkin Tuhan bahkan akan mara kepadanya.

Keyakinan dan kemantapan hati memang dibutuhkan dalam setiap menjalankan ibadah kepada Tuhan, karena  kunci perbaikan diri melalui pertobatan dan perbuatan baik tersebut adalah konsisten dan keinginan kuat untuk berubah menjadi bagus, serta menyesali perbuatan maksiat yang sudah terlanjur dilakukannya.  Dengan kata lain bahwa  semua yang dilakukan oleh seseorang itu sangat  tergantung kepada niatnya, dan bukan sekedar  kepada perbuatan lahirnya.

Memang kita perlu secara terus menerus memberikan pencerahan kepada umat, agar mereka tidak  gampang dalam melaksanakan  apapun yang dianggap sebagai ajaran Islam.  Maksudnya  bahwa  perlu ada penjelasan  secara detail tentang maksud sesuatu ajaran, karena bagaimanapun tidak semua  ajaran Islam itu dapat  langsung dilaksanakan tanpa penjelasan, dan bahkan  terkadang juga dibutuhkan praktek, sehingga akan memudahkan umat untuk menjalankannya.

Nah, kita harus mengantisipasi sementara pihak yang  dengan  pemahamannya sendiri, kemudian melakukan ajarn tersebut, sebab boleh jadi pemahamannya tersebut sanat terbatas dan tidak disertai dengan konteks lainnya, sehingga  salah dan mungkin  kesalahan tersebut menjadi fatal.  Hal tersebut  disebabkan  hanya didasarkan kepada pemahamannya sendiri ats satu  ajaran yang memang tidak salah, tetapi kalau tidak dikaitkan dengan yang lain, dan hanya berdiri sendiri,pastilah akan salah.

Sebagai contoh kecil saja, bahwa memang ada  riwayat  yang menyatakan bahwa  menjalankan shata subuh secara berjamaah, itu nilainya sama dengan menjalankan shalat sunnah semalam suntuk.  Atau misalnya ada riwayat yang shahih bahwa  shalat dua rakataan sebelum shubuh nilainya lebih utama ketimbang dunia dan seluruh isinya. Dan tentu masih banyak riwayat motivatif seperti itu, namun kalau kemudian hal tersebut dibiarkan begitu saj tanpa  digandengkan dengan  dalil lain,  sangat mungkin akan dapat menyesatkan orang.

Jika seseorang kemudian  berpikir secara  metematik, bahwa  shalat dua rakaat sebelum subuh  nilanya lebih bagus ketimbang dunia dan sluru isinya, maka  cukuplah dia anya shalat dua rakaat tersebut saja,  dan tidak diperlukan lagi menjalankan kebaikan lainnya, termasuk shalat maktubah lainnya.  Alasannya kalau dua rakaat tersebut sudah lebih baik  ketimbang dunia dan seisinya, maka  untuk bekal di akhirat  sudah cukp, bahkan kalaupun ditambah dengan melakukan dosa sekalipun, tetaplah masih anyakkebajikannya.

Inilah yang saya maksud dengan  kesalahan fatal pemahaman yang tidak terpandu dengan  pemahaman  Islam secara lebih konperhensip.  Kefatalan tersebut terkadang juga dapat berpengaruh kepada pihak tertentu untuk tidak lagi dapat mempercayai ajaran Islam yang sungguh sangat hebat.  Hanya saja karena yang dilihatnya hanya  satu sisi tertentu saja, maka  akan  dapat menggiringnya kepada sebuah konklusi yang salah.  Maka wajar jika kemdian ada pihak tertentu yang justru saling menyalahkan dan bahkan mengkafirkan saudaranya sendiri.

Karena itu memang menjadi  kewajiban bagi kita untuk mendapatkan kemantapan hati dalam mencerna dan melaksanakan ajaran Islam.  Nah, untuk mendapatkan kemantapan tersebut memang harus diawali dengan komitmen untuk  mendapatkan informasi yang benar sebagaimana yang dahulu diajarkan oleh nabi Muhammad saw.  Tentu nurani kita akan turut  menentukan, yakni jika sebuah ajaran tersebut ternyata mengarah kepada sesuatu yang tidak dapat diterima  oleh nurani, maka itu sebuah isyarat bahwa ajaran etrsebut bukan  sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi.

Sebaliknya jika sebuah ajaran ternyata menjadikan nrani cocok dan tenteram, maka itu petunjuk bahwa ajaran tersebut memang sebagaimana yang  dahulu disampaikan oleh Rasul. Itulah pentingnya  kita selalu belajar dan  atau  mau mendengarkan mauidhah yang disampaikan oleh para dai yang memang ikhlas dalam menyampaikan dakwahnya.  Kita sangat  yakin bahwa semakin seseorang  mau mendengar dan  ada niat yang baik untuk memperdalam  dan mempertebal keyakinan kepada Tuhan, pastilah di sana ada jalan yang mudah untuk dilaluinya.

Kita juga berharap dengan  keyakinan yang mantap dan hati yang  tidak ada keraguan sedikitpun terhadap sesuatu, maka  pada saat kita menjalankannya, akan  terasa  puas dan  sama sekali tidak ada beban serta ganjalan dalam benak kita.  Semoga kita dapat memperoleh kemantapan hati tersebut sehingga apapn yang kita kerjakan dalam upaya pengabdian kita kepada Tuhan akan benar benar selaras dengan kepuasan nurani kita  dan tentu sesuai dengan syariat yang benar. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.