JANGAN SISAKAN KEBENCIAN DI HATI KITA

Kalau kita mempercayai bahwa Islam itu damai sebagiamana namanya dan praktek yang telah dijalani oleh Rasul  dan para sahabat beliau, maka seharusnya kita tetap memelihara rasa cinta kepada sesama makhluk Tuhan, termasuk yang bukan manusia.  Rasa cinta akan sanggup untuk meyisihkan  rasa kebencian dan berbagai rasatidak nyaman lainnya.  Bayangkan bahwa  kalau kita sedang mencintai seseorang, maka semua  keinginan yang kita cintai, pastila akan kita usahaka, walaupun harus dicari ke ujung dunia sekalipun.

Rasa cinta juga akan dapat membangkitkan semangat yang menyala untuk  melakukan tindakan apapun.  Nah, kalau cinta tersebut berada dalam koridor yang benar, maka  cita cita  untuk membagun peradaban yang sangat sulitpun akan dapat dilakukan, bukan sekedar menjalninya saja, melainkan aka secara sungguh sungguh diupayakan  realisasinya.  Itulah cinta sejati yang memang harus kita pelihara dan kembangkan hingga memenuhi seluruh hati kita.

Dengan begitu kita tidak akan menyisakan tempat sedikitpun untuk rasa lain, seperti benci, dendam dan sejenisnya.  Alangkah  hebatnya kita  kalau sudah mampu  mengisi seluruh hati kita dengan rasa cinta tersebut, sehingga  apapun yang kita jumpai pastilah menyenangkan dan tidak ada satupun yang dapat membuat kita menyesal atau  susah.  Semuanya menjadi sangat mudah dan dalam mengerjalan apapun, kita pasti akan melakukannya dengan senyum dan penuh kesungguhan.

Biasanya  kecenderungan orang ialah melakukan sesuatu yang disetir oleh nafsu, karena  memang  dalam diri manusia  pasti ada dua kekuatan yang saling mempengaruhi, yakni kekuatan nafsu ammarah dan kekuatan nafsu mutmainah.  Nah, tinggal masing masing orang, apakah mampu mengendalikan nafsunya atauka tidak.  Bagi  mereka yang  tidak menyisakan tempat untuk selain cinta, maka  secara otomatis, kekuatan  positif, yakni nafsu mutmainnah akan berkuasa dan mendominasi.

Jadilah manusia tersebut akan selalu berbuat positif dan juga berpikirana positif.  Semua menjadi sangat indah dan menarik dan  rasa cintala yang akan memenuhi seluruh jiwanya.  Dengan kondisi seperti itu orang tersebut pastilah akan selalu terbimbing untuk melakukan sesuatu yang terbaik, tanpa dorongan nafsu ammarah yang anya cenderung untuk berbuat kejahatan dan menyimpang dari ajaran syariat.

Namun sebaliknya, bagi mereka yang masih menyisakan tempat, bahkan mungkin lebih luas di hatinya untuk sesuatu selain cinta, seperti rasa benci, dendam, iri dan sejenisnya, maka  seluruh sepak terjangnya pastilah akan dipengaruhi oleh kekuatan jahat tersebut.  Kalaupun ada sedikit ontrol dari kekuatan postitif, maka itu tidak akan mampu bertahan, terutama untuk hal hal yang sifatnya ringan.  Artinya mungkin untuk persoalan serius dan berat, kontrol tersebut masih bisa sedikit  berperan, namun untuk tingkatan di bawanya, pasilah akan selalu dikuasai oleh kekuatan negatif tersebut.

Sebagai contoh kongkritnya ialah jika seseorang dikuasai oleh nafsu yang cenderungnegatif, maka untuk sekedar  menyisakan  sebagia hartanya  demi kepentingan umat, pastilah akan enggan dan keberatan, tetapi bagi mereka yang seluruh hatinya dikuasai oleh rasa cinta pastilah akan dengan seang hati dan tulus dalam mengeluarkan sumbangan untuk kepentingan umat tersebut.

Namun jika terhadap persoalan yang berat, seperti untuk melakukan  sesuatu yang ada akiibat hukumnya dan mungkin akan berakhir di penjara misalnya, maka  sedikit kekuatan positif tersebut akan megontrolnya.  Dala hal ini  kekuatan positif tersebut juga akan menentukan apakah  akhirnya lebih kuat untuk mengatasi keuatan negatif, atau pada akhirnya kalah juga.  Semua tentu terpulang kepada seberapa besar kekuatan positif  yang ada dalam diri seseorang tersebut.

Rasa benci itu dapat menjadi  awal dari berkembangnya kekuatan negatif dalam diri kita.  Artinya, jika kita  memberikan ruang dalam hati kita untuk  tubuhnya rasa benci, apapun sebabnya, maka dari situ akan terus berkembang sifat jelek lainnya, seperti tidak meghormati, mengabaikan, mencela dan  pada saanya  akan terus berkembang menjadi besar, yakni rasa  benci tersebut akan mudah berubah menjadi rasa iri dan dendam.

Kalau diri kita sudah dikuasai oleh kekuatan  negatif tersebut, pada akhirnya kekuatan positif akan terpinggirkan dan pada saanya mungkin akan  terlempar juga.  Pada saat demikian kita dapat menyakskan betapa ada perubahan radikal dalam dirikita yang tadinya  santun menjadi sangat mudah tersinggung dan membenci pihak lain.  Bahkan sangat mungkin  kita akan mampu menggencet mereka yang sudah dalam kondisi tidak berdaya.

Rasa belas kasihan yang biasanya  selalu muncul jika menyaksikan penderitaan orang lain, berubah menjadi rasa cuek dan sama sekali tidak ada kepedulian terhadap nasib orang lain.  Sungguh ini merupakan malapetaka yang sangat dahsyat.  Karena itu sebelum selurunya menjadi kenyataan dalam  diri kita, mari kita beri ruang cnta dalam hati kita yang lebih luas, dan terus  berusaha agar rasa cinta tersebut tumbuh subur dan akhirnya tidak ada tempat yang tersisa bagi  rasa benci dan lainnya.

Rasa cinta tersebut bukan sekedar yang ditujukan kepada  salah satu obyek saja, melainkan rasa cinta dalam  arti yang luas, yakni  peka terhadap semua penderitaan pihak lain, dan rasa ingin menolong pihak lain yang  menderita atau  meraqsakan  ketidak adilan.  Jadi rasa cinta tersebut identik  dengan  kesenangan untuk selalu berbuat  baik kepada siapapun, dan tidak  akan merasa nyaman jika menyaksikan perbuatan yang tidak sejalan dengan  rasa cinta tersebut, seperti benci, marah, dan sejenisnya.

Sekali lagi kita harus berusaha dengan sekuat tenaga untuk  mengusir rasa benci dan sejenisnya dari dalam diri kita, terutama  dari hati kita dan menggantinya  dengan rasa cinta yang besar.  Terkadang kita memang belum dapat mengerti tentang arti cinta tersebut, sehingga tidak tertarik untuk mendapatannya dan menyemayamkannya dalamlubuk hati kita yang paling dalam.  Biasaya ketika mendengar kata cinta, akan tertuju kepada sebuah kondisi dimana seseorang akan mwerindukan  pihak lain, bahkan terkadang akan kontras dengan rasa cnta itu sendiri.

Sebagai sebuah contoh, ketika seseorang mencintai pihak lain, maka dia hanya akan terfokus kepada seseorang tersebut sebagai obyeknya,  tetapi  terkadang malahan  menyakitkan kepada pihaklain, terutama mereka yang  dianggap menghalangi  rasa citanya tersebut.  Nah, cinta yang demikian sesungguhnya secara substansial bukan rasa cinta yang sesungguhnya, melainkan bercampur dengan nafsu.

Sebab kalau cinta sudah berbicara dan menguasai seseorang, maka semua  akan menjadi obyeknya, sehingga tidak ada rasa apapun dalam menghadapi  dunia terkecuali hanya rasa cinta.  Dalam bahasa lain, ketika  kita bermahabbah kepada Rasul Muhammad saw, secara benar, maka kita juga  secara otomatis akan bermahabbah juga kepada semua hal yang dikaitkan dengan mahabbah Rasul, yakni mencintai seluruh umat, menghormati semua pihak, selalu melakukan yang terbaik dan meniggalkan semua yang tidak bermanfaat, dan lainnya.

Jadi mari kita  berusaha mendapatkan rasa cinta tersebut dalam diri kita, sehingga hidup kita akan bermakna dan  terjauhkan dari sifat rendah yang hanya akan mengikis  sifat kemanusiaan kita.  Namun  untuk mendapatkan rasa cinta yang sejati tersebut tidaklah mudah melainkan harus  diiringi dengan usaha yang sungguh sungguh serta niat yang tulus dalam semua  sikap kita. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.