BERSIKAP JUJUR DAN ADIL

Barangkali persoalan kelompok yang ada  di negera kita  belum selesai, karena ternyata masih banyak pihak yang mencoba untuk saling menjelekkan dan menduh sesat kepada pihak lain.  Bahkan  terkadang dengaqn cara yang sangat menyakitkan dan tanpa dasar yang kuat. Padahal kampanye tentang  bagaimana kita harus saling menghormati sesama dan mereka yang berbeda keyakinan serta berbeda haluan.  Karena itu dibutuhkan sikap yang jujur dan adil untuk mengatasi persoalan tersebut.

Menegenai berbagai kejadian yang  merusak suasana kebersamaan sebagaimana yang kita saksikan di berbagai tempat, sunguh sangat memperihatinkan.  Kenapa mereka seolah yang paling benar dan  karena itu semua pihak yang tidak sama dengan keyakinannya harus dimusnahkan?.  Bukankah para pendiri negeri ini sudah sepakat bahwa rakyat Indonesia itu terdiri atas berbagai suku,  penganut agama, ras dan lainnya?

Rupanya hal tersebut menjadi PR bagi kita semua untuk  segera  mengatasi dan menyadarkan semua rakyat bahwa  meskipun  mereka harus meyakini bahwa kepercayaan dan agama mereka yang paling benar, tetapi bukan berarti boleh berlaku sewenag wenang dan  tidak mengijinkan  pihak lain yang berbeda, berada  di samping mereka.  Sebagaimana yang  sering saya sampaikan bahwa  seharusnya semua orang membatasi diri untuk tidak meneruskan kalimat, setelah  “agama kitalah yang paling benar”, yakni dengan  “karena itu agama lain salah dan sesat.”

Sebab kalau kita  berhenti pada  kalimat kita yang benar, maka kita tidak akan mengusik keyakinan lain, karena  mereka tentunya  juga mempunyai keyakinan yang sama, yakni keyakinan merekalah yang paling benar.  Karena pada dasarnya  ajaran agama  menghartuskan sebuah keyakinan yang total agar  kemudian mereka juga mampu melaksanakan syariat atau ketentuan yang diatur dalam agama tersebut.  Hanya saja  karena kita berada dalam negara yang dihuni oleh banyak penganut kepercayaan dan agama, maka kita tidak boleh menganggap yang lain  salah, setidaknya kalau ada pemikiran tersebut, cukup disimpan dalam hati saja.

Lebih jauh sesungguhnya saat ini ada bahaya yang mengintai disekitar kita,khususnya  adanya usaha mengidupkan kembali masalah khilafiyah yang kemudian ditamba dengan pengkafiran pihak lain.  Artinya sesama pemeluk  Islam, saat ini sudah banyak yang saling menghujat, hanya disebabkan oleh masalah perbedaan faham semata.  Kita dapat melihat tanda tandanya yang  semakin serius, yakni  munculnya beberapa pihak tertentu yang mencoba untuk membuat kelompok lain menjadi marah dan akhirnya  bermusuhan.  Bahkan tidak mustakhil kalau hal ini dibiarkan, akan  menjadi perang saudara.

Saat ini kita sudah sangat ngeri menyaksikan betapa sesama kaum muslim di negera negara Arab sudah mulai bertikai dan berperang. Padahal persoalannya hanyalah  khilafiyah semata.  Sangat mungkin  bahwa semua itu ada  pihak yang mensekanriokan agar umat muslim yang  semakin kuat tersebut menjadi lemah dan tidak berdaya.  Hanya saja  kita memang harus segera menyadari, terutama  kita yang berada di Indonesia, jangan sampai kita terpengaruh dengan  masalah tersebut.

Adu domba diantara kaum sunni dengan kaum syiah dan juga dengan whabi, saat ini mulai ditiupkan agak kencang dan merisaukan.  Kita santat sadar bahwa  dengan perbedaan sebagaimana yang ada, kita dapat tetap eksis tanpa ada yang memaksakan kehendak.  Masalah khilafiyah memang tidak akan pernah selesai, karena itu memang sebuah keharusan  disebabkan dinamika pemikiran umat.  Hanya yang harus disadari ialah bagaimana mereka yang mem[unyai pemikiran yang berbeda tersebut  saling menghormati dan  mengerti.

Ada  cerita provokatif yang sengaja disebarkan untuk menarik emosi sebagian umat muslim yang kiurang berjiwa adil, yakni seperti mengisahkan bahwa  para penganut syiah menuduh Aisyah sebagai pelacur dan  akan masuk neraka, termasuk Abu Bakar dan Umar.  Tentu tidak semua aliran syiah akan mengatakan dan mempercayai  hal tersebut.  Memang ada sebagian aliran syiah yang mempnyai  pemikiran seperti itu, namun tidak semua, dan  mereka tidak mempunyai argumentasi yang maton.

Nah, kalau cerita provokatif tersebut  ditangkap  secara sembarangan oleh  mereka yang mempunyai komitmen besar terhadap  para sahabat Nabi, maka emosional mereka akan segera memuncak, bahkan akan  menendang  dan mumukul, bahkan  membunuh orang yang mengatakan seperti itu.  Namun kita  harus mengingatkan pagi pagi, karena kalau kita terbawa oleh emosi, pastilah akan merugikan kita sendiri dan  juga Islam secara umum.

Sebagai orang yang  harus bersikap bijak, tentunya kita harus dapat memahami akar persoalan terlebih dahulu sebelum bertindak apapun.  Kita harus menjaga kondusifitas yang selama ini sudah terjalin, jangan sampai terkotori oleh tindakan kita, yang gegabah dan tidak sabar dalam melihat sesuatu.  Akan sangat banyak provokasi yang dilakukan oleh pihak pihak tertentu dan tanda tandanya sudah sangat jelas.

Untuk itu menjadi kewajiban bagi kita melakukan pencegahan secara dini dengan mengingatkan kepada sesama  kaum muslim agar tidak mudah tercabik oleh mereka yang sengaja ingin mengancurkan kita yang semakin solid.  Kita harus membuktikan  kepada siapapun bahwa godaan dan provokasi mereka  tidak akan berpengaruh  kepada keberadaan umat muslim yang sudah semakin dewasa dalam menagkap setiap persoalan.

Saya sendiri sudah mengingatkan kepada kawan kawan yang justru menyebar luaskan provokasi yang ada, dengan niat agar tidak terpengaruh dan dapat menangkal aliran tertentu.  Namun  dengan tidak menyadari akibatnya, seolah dengan  menyebarkan berita provkatif tersebut akan menguatkan kelompoknya, tetapi dalam kenyataannya justrui akan  memperlemah keberadaannya sendiri.  Kita harus mengingatkan kepada siapapun yang berusaha untuk mengadu domba dengan mengatas namakan agama  atau apapun.

Kita yang menganut ahli sunnah, sesungguhnya tidak akan  tergoyahkan, jika kita tetap tenang dengan serangan mereka yang mengatas namakan syiah ataupun wahabi.  Masyarakat kita sudah dapat bersikap dan memberikan respon, jika disodori dengan pemahaman yang sama sekali  berbeda dengan pemahaman para ulama selama itu yang menjadi rujukan mereka.

Nah, kalau kita sendiri yang  kemudian memunculkan persoalan, dan kemudian ada pihak lain yang  seolah menyerang dan kita tanggapi dengan serius serta memeranginya, maka kita akan menjadi  seperti umat di Timur tengah yang selalu bertikai dengan sesama  hanya untuk sebuah  pemikiran yang berbeda.  Biarlah kita berbeda pikiran dan aliran, karena  untuk urusan keyakinan memang masing masing orang mempunyai haknya.  Namun yang harus dijaga ialah bagaimana kita tetap mempertahankan kesatuan dan kerukunan.

Secara manusiawi kita memang harus bertindak dan bersikap jujur serta adil terhadap apapun yang kita hadapi dan lakukan.  Sikap jujur akan mengantarkan kita untuk tidak mudah menghakimi seseorang atau sebuah keyakinan, karena  secara jujur, semua orang mempunyai hak yang sama untuk meyakini  sesuatu, tentu atas dsar yang dibangunnya sendiri atau dibangun oleh pihak lain yang dipercayainya.

Sementara itu sifat adil, akan menambah kekuatan sikapnya yang jujur tersebut, yakni menjadi selalu mempertimbangkan  akibat yang bakal timbul setiap mengambil keputusan. Dengan demikian orang tersebut pastinya akan semakin bijak dan  tidak aka pernah memunculkan persoalan.  Bahkan  kalau pn ada persoalan, akan disimpannya  dalam hati, demi kebajikan  yang lebih luas dan kemaslahatan bagi semua pihak.  Itulah  yang harus kita lakukan untuk masa depan kita dan negara serta agama kita. Semoga.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.