PARA PROFESOR BERKUMPUL

Pada hari ini Minggu 29 Nopember 2015 merupakan peristiwa langka yang sebelumnya tidak pernah terjadi, yakni berkumpulnya  para profesor di lingkungan PTKIN di Jakarta.  Pertemuan tersebut sendiri dikemas dengan tajuk konferenci para  profesor.  Gagasan tersebut memang disengaja untuk mendapatkan  berbagai informasi terkait dengan pengembangan PTKIN secara umum, karena dengan jumlah profesor yang mencapai 415 orang sampai dengan  saat ini, tentu kelau mereka diberdayakan dengan baik, tentu akan ada peningkatan yang signifikant terhadap kemajuan PTKIN.

Sebagaimana kita tahu bahwa beberapa waktu yang lalu banyak kritikan  muncul dalam mempertanyakan keberadaan para profesor di negeriini yang kalah pamor dengan para profesor di negera lain, utamanya di Barat.  Meraka seharusnya dapat menghasilkan karya orisinal terhadap berbagai penemuan atas hasil riset mereka, dan kemudian dipublikasikan  sehingga  menjadi referensi bagi dunia akademik di dunia.

Namun sayangnya, sebagaimana kritik tersebut yang beberapa kali muncul di kompas bahwa para profesor kita nampak lesu dari karya yang diharapkan dari status mereka sebagai profesor.  Barangkali itulah salah satu yang melatar belakangi berkumpulnya para profesor yang digagas dan diselenggarakan oleh kementerian agama ini.

Setidaknya ada  dua hal yang ingin didapatkan dari konferensi para profesor kali ini, yakni keinginan bahwa Indonesia sebagai negera dengan mayoritas umat Islam dan bahkan sudah dikenal  sebagai Islam yang moderat dan nantinya diharapkan akan dapat menjadi  model yang dapat diterapkan di seluruh dunia, ternyata belum  sebagaimana yang diharapkan, yakni  kurangnya informasi tentang berbagai kenyataan Islam yang  moderat tersebut, khususnya yang terkait dengan  buku ilmiah hasil riset yang kemudian dapat dibaca oleh dunia internasional.

Banyak umat di dunia  sudah mendengar sedikit tentang Islam di Indonesia, namun karena tidak adanya  karya karya yang dapat mereka dapatkan sebagai referensi, maka mereka toidak dapat mengenal dengan lebih baik terhadap kenyataan di negeri kita.  Nah, atas dasar itu, tentu hanya sebagaiannya saja, maka  kementerian agama, dalam hal ini direktorat jenderaal pendidikan Islam kemudian mengundang para profesor untuk berkonferensi dan  harapannya akan muncul semacam deklarasi untuk  memulai kiprah nyata para profesor dalam dunia internasional.

Tentu harapan tersebut tidak terlalu muluk muluk, karena  tugas profesor semestinya memang melakukan riset dan kemudian mempublikasikan hasilnya kepeda dunia sehingga akan dapat juga dinikmati oleh masyarakat banyak.  Harapan lebih jaunnya tentu negara kita sebagai  negara yang berpenduduk muslim terbesar, nantinya akan menjadi referensi bagi dunia akademik dunia, dan paling tidak  akan menjadi negara tujuan  dalam kajian keislaman.

Kenapa  saat ini  justru yang menjadi tujuan kajian keislaman malah di negeri Barat, seperti Belanda dengan Leidennya, juga McGill dan lainnya, yang notabene  negara tersebut  sangat minim umta muslimnya.  Masalahnya  disana ada profesor yang ahli dalam bidang kajian keislaman dengan metode dan pendekatan yang dianggap sebagai  meyakinkan.

Mesir dan beberapa negara Timur Tengah, meskipun kaya  dengan karya para ulama tentang keislaman, namaun  hanya sedikit yang tertarik untuk mengunjunginya sebagai tujuan untuk studi, terkecuali mereka yang memang mempunyai keyakinan bahwa  di sanalah Islam itu berada.  Namun dunia justru malah lebih mempercayai beberapa  perguruan tinggi bukan muslim  namun disana ada profesor yang  mengkhususkan  diri untuk mengkaji  tentang keislaman.

Nah, karena itulah negara kita yang sudah mempunyai modal cukup bagus, diperlukan pemberdayaan, sehingga mereka dapat menghasilkan karya  terbaik dan pada akhirnya nanti akan menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan dalam studi Islam, bukan saja  bagi rakyat Indonesia ataupun negara di kawasan Asean, melainkan juga  dunia.

Hal kedua yang ingin diraih dalam pertemua para profesor  ini ialah bagimana konsep integrasi ilmu yang selama ini sudah didengungkan, dapat segera  dipahami dan direalisasikan dalam dunia nyata.  Bagaimana pola hubungan anatara keilmuan umum dan ilmupengetahuan serta teknologi dengankeilmuan agama  yang masih terus dipahami secara dikotomis.

Nah, menjadi  tugas para profesor kiranya untuk dapat  segera merumuskan  integrasi tersebut dalam entuk yang mudah dipahami.  Memang saat ini sudah ada beberapa konsep yang dirumuskan oleh beberapa kampus, namun  belum tuntas dan dapat dipahami  semua orang dengan mudah.  Kalau para profesor  melakukannya  dengan  serius, tentu akan  dapat segera diwujudkan dan  hasil dari integrasi ilmu tersebut akan dapat dinikmati.

Tentu secara umum ada keinginan yang lebih dari sekdar apa yang  sudah disampaikan di atas, yakni pemberdayaan profesor secara lebih nyata, karena saat ini harus diakui bahwa  para profesor belum menunjukkankarya nyata mereka dalam hal keilmua.  Kalau  di lingkungan kementerian agama, saat ini sudah ada  415 profesor, tentu akan sangat hebat negeri ini jika setiap tahun mereka menghasilkan satu buah karya ilmiah yang didasarkan atas penelitian serius dan kemudian diterbitkan  serta dipublikasikan secara  besar besaran.

Dapat dibayangkan kalau setiap tahun ada  400 an lebih hasil penelitian para profesor yang handal, sudah barang tentu Indoensia akan benar benar menjadi rujukan  dalam hal studi Islam di dunia.  Belum lagi karya  para dosen lainnya yang juga  sangat bagus dan berbobot.  Nah, itulah idelaisme yang  tersembur dalam  pertemuan ini yang sampai detik ini belum terjadi.

Ada beberapa kemungkinan yang dapat dianalisa  kenapa para profesor kita nampak lesu dan tidak menghasilkan karya ilmiah hasil penelitian?.  Barangkali salah satunya ialah kuirangnya motivasi dari mereka sendiri disebabkan persoalan diluar tugas sebagai profesor.  Ada juga kemungkinan persoalan klasik, yakni tidak tersedianya dana yang cukup untuk melakukan penelitian sebagaimana yang dimaksud.

Memang para profesor mendapatkan tunjangan sebagai profesor, namun hal itu  tentu belum cukup untuk membiayai riset yang  serius. Lihat saja di kementerian lain, dimana dana riset mencapai milyaran, tetapi   di lingkungan kementerian kita, masih ada riset yang dibiayai dengan  kurang dari sepuluh juta rupiah.  Lantas sampai dimana  uang sebesar itu.

Nah, dengan  keinginan  yang besar tersebut, seharusnya kementerian agama juga konsisten dengan menyediakan dana untuk riset tersebut lebih besar, baik yang disalurkan melalui masing masing PTKIN, maupun  yang dipusatkan di Jakarta.  Artinya ada dana besar yang dikompetisikan melalui  hibah untuk penelitian besar dengan target yang jelas.  Barangkali dengan melakukan terobosan tersebut, niat untuk menghasilkan riset berkualitas, akan dapat dicapai.

Bagaimana mungkin kalau ada harapan mencapai sesuatu nyang lebih, tetapi hanya harapan semata, tanpa  mensupportnya dengan berbagai fasiloitas yang diperlukan.  Kita dapat membayangkan bagaimana PTKIN dapat menghasilkan karya hebat, kalau setiap harui harus berpikir tentang persoalan asar yang belum terpenuhi, seperti  kebutuhan dosen, ruang kelas, laboratorium dan leinnya.

Sesungguhnya hanya kemauan dan realisasi saja itu modalnya, sebab  potensi untuk itu sudah tersedia.  Lihat saja anggaran kementerian agama sudah cukup banyak, mencapai 54 triliyun, namun yang dipergunakan untuk perguruan tinggi hanya  sedikit, sekitar 4 triliyun saja atau secara keseluruhan  mungkin mencapai sekitar 7 triliyun.  Bandingkan dengan kementerian ristekdikti yang untuk perguruan tinggi hingga mencapai 40 triliyun.

Karena itulah kita berharap bahwa pemberdayaan profesor memang diperlukan, namun  support dana  juga sangat diperlukan untuk lebih memberikan tanggung jawab moral bagi mereka  dalam menghasilkan karya ilmiah berbobot sebagimana yang kita inginkan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.