MASNA, TSULASA DAN RUBAA ITU BUKAN PILIHAN

Terkadang kita membicarakan sesuatu tanpa melihat ide dasarnya, sehingga meluas dan  hanya didasarkan atas pertimbangan masing  orang yang tentu terbatas jagkauannya.  Bahkan seringkali juga dengan cara  seolah mengkiblat kepada seorang tokoh besar yang menjadi anutan umat, seperti Rasul Muhammad saw, tanpa  menelusuri aspek dibalik semuanya.  Jadilah kita hanya  mengambil sebagian  sisi saja, sehingga seringkali pula menimbulkan persoalan yang terus menerus tanpa henti. 

Tentu kita sangat yakin bahwa semua yang diperbuat oleh Rasul misalnya ialah pasti ada kebajikan di dalamnya, namun jika kita hanya mengambil satu sisi saja, sangat mungkin malah justru akan  tidak sesuai dengan keinginan baik kita.  Salah satunya ialah tentang  laki laki yang berpoligami yang hanya mengambil sisi poligaminya saja, tanpa mempertimbangkan aspek lainnya yang justru mendasarinya.  Akibatnya semua menjadi  tidak seimbang  dan bahkan mungkin malash terjadi masalah besar yang sulit dikendalikan.

Memang berpoligami itu tidk dilarang, asalkan memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan.  Sayangnya para  ulama yang menyusun fiqh munakahat tidak memberikan persyaratan atau tidak merumuska persyaratan yang secara garis besarnya  ditunjukkan oleh Tuhan sendiri.  Barangkali itulah salah satu sebab mengapa banyak umat muslim yang kemudian terjebak dalam sebuah kondisi yang  tidak menguntungkan, dan cenderung merugikan kepada kaum muslimah.

Syarat yang belum terumuskan dengan rinci tersebut ialah tentang keadilan, yang tidak saja  cukup diucapkan dalam lisan, melainkan  harus dipraktekkan dalam kehidupan keseharian sebelum  melaksanakan niatnya untuk berpoligami.  Disamping itu harus ada pula rinciana tentang keadilan itu sendiri,yang meliputi banyak aspek.  Dengan perumusan  tersebut diharapkan akan tertata rapi, sehingga siapapun yang memenuhi persyaratan tersebut pada saatnya tidak akan menemukan kesulitan yang berarti.

Pada  umumnya para yuris muslim yang kebetula berjnis kelamin laki laki,  lupa mempertimbangkan  aspek yang datangnya dari pihak perempuan.  Bagaimana  mereka  yang akan menjalani kehoidupan bersama dengan para madunya tersebut tidak didengar suaranya.  Mungkin diantara mereka ada yang  setuju dan sebagian lainnya menolak.  Namun tentu harus didasarkan atas pertimbangan rasional dan tidak menyalahi ketentuan syariat.

Kita menyaksikan saat ini, yang terjadi ialah adaya sebua pemaksaan atas nama agama yang seolah hal tersebut benar mutlak dan pihak perempan harus meneerima nasibnya tanpa  arus  dapat berpendapat.  Pemaksaan atas nama agama tersebut sebenarnya hanya  sebuah pemahaman yang  justru tidak seimbang dan sama sekali tidak meminta pendapat dari pihak perepuan.  Padahal dalam hal berpoligami tersebut yang akan mengalami secara langsun ialah mereka.

Bahka biasanya pihak laki laki  dalam eprtimbangannya juga hanya  sekedar untuk  menikmati kepuasan dala bidang seksual, sedngkan dalam hal pertanggung jawabannya   dalam ahl keadilan dan tuntutan untuk melakukan yang terbaik, malah terabaikan.  Memang tidak semua bentuk poligami seperti itu, tetapi kebanyakan yang kita saksikan di negeri kita,lebih banyak madlaranya ketimbang manfaanya.

Akan halnya poligmi yang dilakukan dan dipraktekkan oleh Rasul Muhammad saw, tentu bukan sekedar untuk mengumbar nafsu biologis, melainkan ada strategi dake=wah yang dimuat di dalamnya, disamping  juga dalam upaya menolong banyak janda yang  ditinggal mati oleh mantan suaminya yang berjuang di jalan Allah, dimana  bayak anak yatim yang membutuhkan pertolongan.

Adakah niat mulia seperti itu dalam praktek poligami yang dilakukan oleh masyarakat saat ini?.  Saya bukanya menghakimi, tetapi prediksinya  akan banyak yang tidak mempertimbangkan aspek tersebut ketimbang  mereka yang memikirkannya.  Karena itu wajar apabila kita  banyak mendengar keluhan dari mereka yang  haidup  dengan cara poligami ketimbang  kebahagiaannya.

Karena itu saya berkesimpulan bahwa  poligami itu sesungguhnya bukanlah sebua pilihan, melainkan sebua kondisi darurat yang  pada saat normal tidak perlu diptempuh.  Kita memang  pernah mendengar keluhan phak perempuan yang  hinga menjelang hari tuanya belum mendapatkan  jodohnya, disebabka banyaknya perempuan, sehigga mereka  mengeluhka kondisitersebut dan “menuntut” agar para kaum laki laki tidakhanya beristeri satu, melainkan  dapat menambahnya sehingga para perempuan tersebut dapat terjaga kehormatannya.

Kejadian tersebut mungkin hanya  keluha  segelintir perempuan saja, dan sebagian terbanyaknya ustru lebih memilih jika laki laki hanya memiliki satu isteri.  Kita tidak dapat menolak jika memang ada sebagia perempuan yang meginginkan diperiteri oleh suami, meskipun harus menjadi isteri kedua, ketiga atau bahkan keempat, namun itu hanya sedikit.  Karena itu apa yang saya katakan  bahwa poligami hanya sekedar darurat ialah bahwa hal tersebut memang boleh jika memenuhi persyaratan tertentu, dan bukan  boleh tanpa sayarat.

Sebagaimana kita tahu bahwa tujuan beruma tangga ialah untuk mendapatkanketenangan dalam hidup dan memelihra keturunan.  Nah, aspek itulah yang harus dipertimbangkan awal, sehingga tujuan  utama tersebut masih tetap terpelihara dan tidak  diabaikan.  Jika dalam pridiksinya  dan setelah bermusyawarah dengan piahk piahk terkait,  seseorang dapat merealisasikan  tujuan pernikahan tersebut, maka bolehlah  dia melangsungkan pernikahannya yang kedua, atau ketiga dan keempatnya.

Namun jika dalam prediksinya setelah mendengar dari pihak terkait, termasuk isteri dan keluarganya,  dia tidak dapat menjamin  tercapainya kondisi mawadah warahmah, maka  hal tersebut haruslah dihindari.  Sebab kalau tetap dilakukan, akibat yang akan diterimanya ialah bukannya ketenteraman, melainkan kekisruhan dan ketidak nyamanan, bahkan cenderung berantakan.  Inilah yang  seharusnya dirumuskan oleh para ahli fiqh saat ini.

Kalaupun para fuqaha masa lalu lupa  tidak membahas dan merusmuskannya, tetapi seharusnya para pelaku dan para pejabat yang terkit dengan hal ini harustetap mempertimbangkan  aspek ketenteraman dalam kehidupan rumah tangga, bukaan sekedar melegalisasi keinginan yang  akan menghancurkan kehidupan  banyak orang, atau mengantarkannya ke jurang yang  sanat menyedihkan.

Saya sendiri sangat yakn bahwa kebanyakan isteri yang saat ini mau dimadu, biasanya ditekan dengan  mengatas namakan agama dan menakutinya dengan  hukuman yang bakal diterima kalau tidak mengijinkan suami menikah lagi.  Padahal ijin yang diberikan tersebut bukan  kata hati mereka  yang sesungguhnya.  Kalau misalnya kita lakukan survey kepada para isteri dengan no name dan tidak akan dibocorkan jawaban mereka, maka  hampir seratus persen mereka pasti akan menolaknya danlebih  suka jika hanya bersuamikan  satu orang yang tidak berbagi dengan perempuan lain.

Sekali lagi, poligami bukan sesuatu yang dilarang secara mutlak, karena dalam kenyataannya Islam juga memperbolehkan, hanya saja  yang harus dicatat ialah bagaimana seseorang btersebut  berniat dan  berusaha untuk menciptakan kedamaian  bukan  untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk bayak orang, termasuk para isteri dan anak anak.  Untuk itu sekali lagi diperlukan persyaratan tertentu yang hingga saat ini belum dirumuskan, dan seolah dibiarkan demikian, yakni hanya  syarat berlaku adil yang tidak perlu dibuktikan.

Seharusnya kita bertanggung jawab atas keretakan rumah tangga merekayang berpoligami, karena  itu tidak terlepas dari ketidak pedulian kia terhadap aturan yang memungkinkan mereka dengan mudanya melaksanakan poligamitersebut.  Kita sangat berharap bahwa pada saatnya nanti akan ada orang yang dengan kerelaannya melakukan penelitian dan kemudian merumuskan persyaratan poligami bagi laki laki yang menginginkannya. Semoga.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.