TOLERNASI

Dalam kehidupan umat manusia, persoalan toleransi menjadi sangat penting jika ada keinginan untuk dapat hidup rukun diantara  sekian banyak kepentingan masing masing pihak.  Kita dapat membayangkan bagaimana sebuah komunitas dapat berjalan dengan seimbang, baik dalam kehidupan masing masing maupun dalam saling hubungan diantara mereka, jika  diantara mereka tidak ada  tenggang rasa dan toleransi.  Benturan demi benturan sudah pasti akan terjadi, karena keinginan masing masing orang pastilah berbeda, walauipun sesekali dapat sama.

Kita akan menyaksikan sebuah pertengkaran yang akan selalu muncul dalam komunitas tersebut, baik dalam skala kecil maupun besar.  Ketika ada  satu pihak menginginkan sesuatu, namun  pihak lain sama sekali tidak menginginkannya, padahal sesuatu tersebut akan mempengaruhi pihak lain, pastilah akan terjadi konflik.  Sebagai sebuah contoh jika seseorang menginginkan keramaian dalam pesta yang diselenggarakannya, tetapi tetangganya sama sekali menolak keramaian tersebut, bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi.

Pastinya  sikap toleransi tersebut sangat dibutuhkan, sehingga hak dan kewajiban masing masing pihak dalam dijalankan dengan baik.  Satu pihak yang kebetulan kepentingannya dapat terganggu, harus dapat memberikan kesempatan kepada [ihak lain yang sedang mempunyai gawe, demi kepetingan yang lebih besar, sehingga dia akan merelakan keinginannya tersebut terganggu.  Begitu juga dengan  dengan kondisi lainnya yang membutuhkan “pengorbanan” ihak lain.  Itulah toleransi yang memang harus dikembangkan dalam kehidupan kita.

Dalam skala yang lebih besar, yakni dalam kehidupan masyarakat, toleransi jauh lebih penting dan menentukan keamanan dan ketenteraman dalam  kehidupan, karena hal tersebut akan sangat membantu terciptanya suasana yang diinginkan bersama. Apalagi jika  sebuah masyarakat tersebut terdiri atas banyak suku, penganut kepercayaan dan agama  serta perbedaan lainnya, sehingga akan banyak sekali kepeningan yang mesti dijalankan oleh pihak lain dan mengharuskan pihak lainnya lagi dapat mengerti dan memahami.

Sebagai satu contoh jika masyarakat terdiri atas  amsyarakat yang ebrbedea agama dan keyakinan, pastilah disitu akan  ada  aktifitas  menjalankan ibadah menurut agama mereka, Nah, dalam menjalankan ibadah tersebut sudah pasti akan tidak sama dengan agama lainnya, karena itu dibutuhkan pengertian, seperti, tidak boleh mengganggu  mereka yang sedang beribadah, atau sebaliknya mereka yang beribadah juga tidak boleh berlebihan sehingga akan mengganggu umat lainnya, dan seterusnya.

Masing masing pemeluk agama tentu juga akan berushaa auntuk mendirikan rumah ibadah, katakanlah bagi umat muslim akan mendirikan masjid atau mushalla, sedangkan bagai umat kristiani akan mendirikan gereja.  Untuk  dapat terciptanya sebuah kehidupan yang damai, tentulah dibtuhkan pegertian dan toleransi dari semua pihak, yakni  biarlah masing masing pihak mendirikan rumah ibadahnya dan tidak saling mengganggu.  Tentu jika  hal tersebut memenuhi persyaratan sebagaimana telah diatur dalam ketentuan yang berlaku.

Karena itu yang harus dicatat ialah bagaimana masing masing pihak tidak memaksakan kehendak dan melnggara aturan main yang sudah ada.  Jika misalnya komnitas dalam masyarakat tersebut seimbang antara mereka yang muslim dan yang nasrani, maka masing masing pihak memang harus tetap menjaga kondisi agar tetap kondusif, semisal tidak ada gangguan dari salah satu pihak, terutama dalam menjalankan kegiatan ibadah yang rutin.

Artinya  masing masing pihak harus mengekang  atau menahan diri untuk tidak melalukan hal hal yang dapat memancing  ketidaka nyamanan atau keresahan.  Babi umat muslim tidak perlu mekqaksakan  adzan di masjid dengan menggunakan  pengeras suara yang dapat mengganggu umat lainnya.  Terkecuali kegiatan ibadah yang insidental, seperti merayakan  hari besar, dan umat lainnya bahkan diharapkan akan membantu keamanannya.

Barangkalai hal tersebut sedikit akan mengurangi kebebasan  umat dalam menjalankan ibadahnya, karena  bagi umat muslim berkeyakinan bahwa adzan dengan pengeras suara adalah sebuah kelaziman untuk syiar Islam dan untuk memanggil umat untuk datang ke tempat shalat.  Tetapi itulaha yang harus dilakukan demi toleransi, yakni adzan tetap dikumandangkan tetapi cukuplah di dalam masjid atau mushalla saja tanpa harus dengan pengeras suara, sebagaimana  ketika adzan tersebut dilakukan  pada komunitas  muslim saja.

Nah, jika umat muslim emmaksakan kehendak untuk tetap mengumandangkan adzan dengan pengeras suara, di lingkungan umat yang bukan muslim, tentu akan menimbulkan keresahan, dan kita harus dapat mengerti bahwa mereka tentu akan memprotes hal tersebut. Dan kalau masing masing bertahan dengan pendiriannya, pastilah akan terjadi ketidak nyamanan dan konflik yang bahkan akan membahayakan persatuan di masyarakat tersebut.

Demikian juga sebaliknya jika umat kristiani menjalankan ibadahnya juga harus tidak boleh mengganggu umat lainnya, melainkan harus dijalankan dengan penuh kehidmatan di dalam rumah ibadah.  Termasuk memaksakan kehendaknya ialah  ketika ada keinginan  kuat untuk mendirikan ruma ibadah atau gereja di kampung yang disitu belum ada umat kristianinya atau ada tetapi belum memenuhi persyaratan sebagaimana diatura dalam ketentuan perundangan, sehingga akan menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat setempat.

Itulah beberapa gambaran betapa pentingnya  sebuah toleransi dalam sebuah omunitas.  Bahkan  kita dapat mencontohkan bahwa toleransi tersebut sangat dibutuhkan  dala kondisi apapun, seperti di dalam sebuah pesawat, dimana  semua orang berkepentinagn untuk menggunakan  fasilitas toilet misalnya.  Nah, jika  para penumpang tidak mempunyai  rasa toleransi, sudah apsti akan terjadi  kegaduhan.

Pada saat tertentu  dimana banyak penumpang yang ingin buang air, namun  ada seseorang yang  dalam menmggunakan kamar kecil tersebut tidak memikirkan bahwa masoh banyak penumpang lainnya yang membutuhkan, dan berlama lama di dlaamnya, maka akan muncul kegaduhan.  Demikian juga  penumpang yang antri sehar8snya juga sedikit mempunyai ras atolernasi, seperti ketika orang yang sedang menggunakan kamar kecil tersebut memang lagi sakit perut dan membutuhkan  waktu lebih lama, maka  semuanya juga harus bersabar dan dapat memehaminya.

Tidak cuma  dalam penggunaan fasilitas toilet sja, melainkan juga dalam sikap, semisal pada saat berada dalam satu tempat duduk yang memanbg penuh, jangan sampai kemudian mengeluarkan angin yang baunya pasti akan mengganggu kawan di sebelahnya.  Artinya ketika amerasa akan membuang angin, diusahakan agar  menjauh sebentar dengan berjalan menuju belakang dan  lainnya.  Itu  hal kecil yang penting demi  tetap menjaga hubungan baik diantara sesama penumpang.

Bahkan hanya sekedar penempatan bagasi kabin saja, kita harus saling memahami, seperti misalnya tidak memaksakan kehendak untuk menempatkan barang di kabin di atas, karena kalau memang sudah idah muat, maka penempatannya dapat dilakukan di bawah kursi di depan tempat duduk kita, sebagaimana telah diataur oleh awak kabin dan ketentuan yang berlaku.  Nah, jika semuanya ingin menempatkan bagasi di atas, sedangkan tempatnya sduah penuh, maka akan terjadi kericuhan dan mungkin pertentangan.

Itulah pentingnya  tetap memelihara dan mengembangkan sikap toleransi dalam semua aktifitas kita.  Selama kita mampu untuk bertoleransi, insyaallah  kehidupan akan menjaid terasa nyaman dan  damai, jauh dari konflik dan permusuhan yang memang  sangat kita hindari.  Semoga.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.