KEBAHAGIAAN ITU ADA PADA DIRI SENDIRI

Banyak orang menginginkan  sebuah kebahagiaan, bahkan kalaupun ada  toko yang menjual kebahagiaan, pastilah banyak orang yang antri untuk membelinya, meskipun sangat mahal.  Rupanya  ada sebagian orang belum tahu bahwa sesungguhnya kebahagiaan itu sangat dekat dengan dirinya.  Jadi tidak perlu menarinya jauh jauh atau hanya sekedar  mengikuti kata orang yang belum tentu kebenarannya.

Kita memang sering mendengar sebuah pernyataan bahwa kebahagiaan itu ada pada kepemilikan harta yang banyak, karena semuanya akan dapat dilakukan dan dimiliki.  Namun sudah berapa banyak orang yang berlimpah harta, tetapi hidupnya menderita?.  Ada orang yang tetap meyakininya demikian, sehigga  orang tersebut harus bekerja siang malam, demi mendapatkan harta yang akan mengantarkannya menjadi bahagia tersebut.  Namun pada kenyataannya kebahagiaan itu tidak pernah didapatkannya.

Ada pula yang dengan keyakinan kuat, kemudian melakukan apapun, termasuk  harus menyimpang dari aturan yang berlaku, seperti melakukan penyelewengan, korupsi, menggarong dan lainnya, tetapi kebahagiaan tersebut ternyata semakin menjauh darinya.  Harta banyak ternyata sudah terbukti tidak menjamin  adanya kebahagiaan.  Barangkali mungkin ada sebagian orang yang berharta, dan kehidupanya bahagia, tetapi bukan harta tersebut yang menjadikannya bahagia, melainkan aspek lain yang ada pada diri setiap orang. Apa itu?

Pangkal dan sumber kebahagiaan itu ada pada hati kita, bukan  terletak pada harta.  Setiap orang yang dapat mengendalikan dan menata hatinya dengan baik, tentu akan menemukan kebahagiaan tersebut. Dasar kepercayaan yang kokoh kepada Allah swt merupakan hal mutlak yang harus dikuasai, sehingga  kesadran untuk menerima keputusan apapun dari Tuan tersebut akan menjadi modal sangat berharga bagi terbentuknya sebuah rasa puas dan tidak menuntut.

Semua ketentuan Tuhan itu sudah didesain dengan begitu hebatnya dan adilnya, meskipun terkadang bagi seseorang yang belum  mantap kepercayaannya, dipandang tidak adil.  Bagimana  dikatakan adil, kalau ada dua orang yang sama  sama berusaha dalam bidang yang relatif sama, tetapi salah satunya  berhasil sukses dan yang lain justru terpuruk?.  Nah, pandangan tidak menggunakan hati yang tertata bagus, memang akan menyimpulkan demikian, tetapi jika hati sudah demikian tulus, pastilah akan melihat sisi lainnya, sehingga semuanya akan tampak adil.

Ada kalanya kita tidak hanya melihat sesuatu yang tampak kasat mata semata, melainkan  apa yang ada dibalik sesuatu tersebut.  Dan tidak semua orang dapat melakukannya terkecuali  telah ditata hatinya sedemikian rupa dengan penuh keyakinan kepada Tuhan.  Kita harus dapat mengembangkan imajinasi kita untuk menyempurnakan kepercayaan kita kepada semua keputusan Tuhan.

Ada banyak contoh yang  dapat dijadikan sebagai penambah keyakinan, bahwa semua keputusan Tuhan itu pasti bagus untuk manusia, termasuk yang diaggap jelek oleh manusia itu sendiri.  Pada saat pesawat terbang Air asia jatuh ketika dalam penerbangan Surabaya ke Singapura beberapa waktu yang lalu, ada beberapa penumpang yang sebelumnya mengumpat dan memaki maki maskapai, karena  terlambat sedikit saja sudah ditinggal.  Dia mengira diperlakukan tidak adil dan  kejengkelannya tersebut terus diungkapkan kepada smeua orang.

Namun begitu dia mendengar bahwa pesawat yang sedianya akan dinaikinya tersebut naas dan jatuh, maka  dia baru dapat menyadari dan bersyukur kepada Tuhan bahwa justru dia diselamatkan oleh ketertinggalannya sedikit tersebut. Ada juga orang yang  sangat bersedih disebabkan sakit sehingga tidak dapatmenonotn pertunjukan konser di sebuah  tempat, dan dia merasa  orang yang paling tidak beruntung, karena harus melewatkan momen yang sangat hebat tersebut, hanya disebabkan sebuah penyakit.

Tetapi  sakit yang dideritanya tersebutlah yang justru telah meyelamatkannya  sehingga masih tetap dapat menghirup udara dunia.  Itu disebabkan pada pertunjukan konser tersebut ada teroris yang membantai semua orang yang menyaksikannya.  Beruntung dia sedang sakit dan tidak dapat mendatanginya.  Coba  manakala dia juga berada di tempa tersebut, maka tamatlah riwayat hidupnya. 

Jadi kalau semua itu dicermatai dengan hati yang penuh kepercayaan  tentang rencana dan desain Tuhan, maka  apapun yang kita lakukan dan alami, harus kita syukuri, kaena pastilah semua itu merupakan hal terbaik bagi kita.  Hanya saja terkadang kita belum dapat memahami dan merasakannya.  Karena itu kebahagiaan belum  hinggap dalam diri kita. Kunci kebahagiaan itu ada pada hati kita masing masing untuk mensyukuri semua pemberian dan keputusan Tuhan.

Jika kita  belum sukses dalam menjalani hidup dan hati kita masih terus memberontak, tentu kebahagiaan akan menjauh, termasuk kalaupun kita sudah mendapatkan kesuksesan, tetapi masih ingin yang lain lagi, tanpa  dapat mensyukuri nikmat yang sudah ada, maka  kebahagiaan juga akan sangat jauh dai kita.  Ini bukan berarti kita tidak boleh mempunyai ambisi dan keinginan untuk lebih mauu dan berhasil, melainkan sikap kita saja. 

Artinya  ketika kita berusaha untuk mendapatkan sesuatu namun belum berhasil, bukannya kita mengumpat dan bersedih, melainkan apa yang sudah didapatkan harus disyukuri, sambil terus berusaha.  Menikmati apa yang ada di hadapan kita tentu  merupakan sebuah kebahagaiaan tersendiri.  Mendapatkan sesuatu yang sedikit dengan mensyukuri serta menikmatinya adalah sebuah keputusan yang jenius dan akan membawa diri kita merasa sangat bahagia, termasuk jika kita  mendapatkan sesuatu yang banyak tentunya.

Sebab biasanya jika kita mendapatkan sesuatu yang banyak,  dan kita melihat peluang yang lebih lagi, kita akan mengejarnya  tanpa harus mensyukuri yang sudah ada.  Dengan begitu hati kita tidak terlati untuk mensyukuri apa yang telah kita dapat.  Akibatnya tentu ketidak puasan lah yang akan terus mengiringi kehidupannya.  Untuk terus melakukan  usaha dan berambaisi mendapatkan sesuatu yang lebih baik dan banyak tentu tidak dilarang, tetapi jika kita tidask mampu mengendalaikannya, maka  justru akan menjadi bumerang bagi kita.

Berbahagialah merka yang mampu mengendalikan dirinya dan menata hatinya sehingga keberhasilan yang dicapai justru akan  bermanfaat bagi sesama dan dipergunakan untuk kepentingan  yang lebih luas.  Pada  kondisi tersebut, orang itu akan menjadi puas apabila sudah be4rsedekah kepada pihak lain, bukan sebaliknya akan puas setelah dapat merebut bagian pihaklain.  Kalau demikian kepuasan yang dicapai bukanlah kepuasan yang sesungguhnya, tetapi hanya kamulflase saja dan waktunya hanya sangat sebentar, lalu hilang.

Jadilah manusia yang yang  benar benar  memahami fungsi hidup di dunia yang harus mempersiapkan bekal untuk kehidupan  kekal di akhirat nanti.  Ketika kita  mampu  mempraktekkan hal tersebut, maka  hati akan terbiasa untuk bahagia jika dapat berbagai dengan sesama, dan itulah kebahagiaan sejati yang selama ini  banyak dicari orang tetapi jarang yang dapat menemukannya.

Setidaknya melalui tulisan ini, saya hanya mengigatkan saja kepada semua bahwa kita tidak perlu mencari kebahagiaan tersebut kemana mana, karena kebahagiaan itu ada   pada diri kita masing masing.  Cuma persoalannya ialah mampukah kita mengeluarkannya sehingga  dapat kita rasakan ataukah kita tetap menyimapnnya dan beralih kepada  yang lain sehingga sampai ajal menjemputpun tidak akan pernah ditemukan.

Semoga kita  dapat  menata hati dan mendapatkan kebahagiaan sejati tersebut, meskipun harus melalui latihan yang  berat dan panjang. Amin.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.