KONSISTEN DALAM MENJALANI HIDUP

Sikap konsisten itu sangat diperlukan bahkan mutlak harus dipertahankan, jika kita ingin istiqamah dalam hal apapun. Sebagai hamba Tuhan yang mesti menjalani  ritual peribadatan, misalnya, dalam kondisi bagaimanapun harus tetap dilaksanakan sebagai konsekwensi kita agar tetap menjadi hamba yang baik dan taat.  Memang ada kalanya sebuah ritual peribadatana itu dapat dilakukan denganmengambil dispensasi, semisal  dalam menjalankan ibadah shalat, kita dapat melakukan nya  dengan cara dijamak atau dikumpulkan pada waktu tertentu sebagaimana yang diataur dalam syariat.

Namun bukian berarti tidak konsisten dalam menjalani ibadah tersebut, melainkan hanya sekedar menjalankannya  dengan mengambil dispensasi yang diberikan.  Konsistensinya ialah tetap menjalankan ritual tersebut, walaupun dalam pwerjalanan agau sedang dala kesdibukan yang luar biasa, atau dalam kondisi yang sangat senang atau sebaliknya dalam kondisi yang sangat susah.  Konsistenti tersebut diukur  dari kepedulian kita dan rasa tanggung jawab kita terhadap posisi kita sebagai hamba yang memang harus mengabdikan diri kepada Tuhan.

Bahkan ketika kita tidak konsisten dalam hal apapun,  kecenderungannya ialah  pelanggaran terhadap sesuatu yang seharusnya.  Dalam shalat tentu akan sangat jelas dan mudah dipahami bahwa dengan meninggalkannya, berati kita  sudah melanggar aturan syariat yang mewajibkan seluruh hamba yang taat untuk tetap shalat.  Sedangkan dalam hal tidak konsisten dalam ucapan atau tindakannya, berati juga telah melanggar terhadap aturan yang dikeluarkanna sendiri.

Jika suatu ketika kita mengatakan bahwa  akan senantiasa menghormati semua keputusan yang ada, namun kemudian suatu saat lainnya justru dia menentang sebuah keputusan, maka sikap tidak konsisten tersebut merupaka bentuk pelanggaran terhadap aturan yang telah disampaikannya sendiri.  Tentu akan lain halnya jika sikap tersebut justru untuk mempertahankan  konsistensinya, seperti  pada saat tertentu seseorang mengatakan bahwa dia akan  mendukung semua keputusan yang berpihak kepada rakyat, namun  suatu saat terjadi sebuah keputusan yang tidak pro rakyat, maka sikap konsistensinya ialah justru menolak keputusan tersebut.

Sikap tidak konsisten  tersebut sesunguhnya menujukkan  ketidak stabilan dan ketidak gentelan seseorang, karena bagaimanapun inkonsistensi adalah sikap berpaling dari sebuah janji atau ketetapan, disebabkan oleh sesuatu yang datang kemudian atau pengaruh lain yang  mengubah pendirian.  Sikap inkonsisten tersebut akan berbahaya, jika  berhubungan dengan sebuah kesepakatan yang besar dan menyangkut kepentingan yang besar pula.

Bahkan kalau dalam kehidupan rumah tangga saja ada inkonsistensi salah satu pihak diantara suami atau isteri, pasti akan menjadi sebuah masalah besar.  Pada saat awal berjanji untuk sehidup semati dalam suka maupun duka, tetapi dalam perjalanan waktu, kemudian salah satu pihak tertarik  dengan pihak lain, kemudian tidak konsisten dengan janjinya tersebut, pastilah  akan membuat suasana menjadi sangat tidak kondusif dan bahkan  dapat berantakan.

Memang ada kalanya sikap yang nampaknya tidak konsisten tetapi mempunyai nilai baik, dan itu akan bagus jika  dilakukan, seperti adanya keinginan bersama  diantara  suami atau istehidup di sebuah  kampung tertentu, tetapi kemudian ada  gambaran yang  lebih jelas mengenai harapan hidup yang lebih bagus di lain tempat, semacam transmigrasi, dan kemudian keduanya meutuskan untuk berpindah ke daerah lain tersebut, maka keputusan yang meralat keputusan sebelumnya tersebut nampak sepeerty tidak konsisten, namun sesunggunya itu tidak termasuk  inkonsistensi, karena menyanhkut kehidupan yang lebih bagus dan menjanjikan.

Jadi sesungguhnya sikap konsisten atau tidak konsisten tersebut ialah  yang menyangkut sesuatu yang prinsip dan jika berubah akan dapat merugikan pihak tertentu.  Namun jika  sebuah keputusan  yang kemudiaan diubah dan perubahan tersebut justru akan bertambah bagus, maka  sesungguhnya  haltersebut tidak termasuk inkonsistensi, meskipun secara harfiah  memang tidak konsisten.

Nah, menyangkut persoalan kehidupan seseorang dalam hubungannya dengan Tuhannya, sudah pasti orang tersebut harus tetap konsisten dalam kondisi apapun, karena itu merupakan sikap yang memang harus terus dipelihara dan tidak boleh ditingalkan.  Kewajiban dalam menjalankan ibadah tentu akan sangat berpengaruh jika  suatu saat  dijalankan dan pada saat lainnya ditinggalkan, baik dengan alasan maupun tanpa alasan, terkecuali alasan yang dibenarkan oleh syariat sendiri.

Kalau seseorang berada   pada daerah yang sulit untuk tetap konsisten menjalankan  ajaran agamanya, sekalipun, tetap harus diusahakan dengan cara bagaimanapun. Apalagi kalau hanya sekedar kesulitan tempat atau waktu, pastilah hal tersebut tetap harus diusahakan.  Untuk persoalan tersebut sesungguhnya  terletak pada  kadar keimanan seseorang, karena keimanan sudah sedemikian kuat, maka halangan apapun tidak akan menjadi persoalan.

Memang arah dari tulisan ini ialah bagaimana seseorang masih tetap konsisten dalam memagang ajaran agamanya, khususnya Islam dalam kondisi  apapun, karena  sikap konsisren tersebut  merupakan cermin keimanan yang sesungguhnya.  Jika seseorang sangat mudah meninggalkan kewajibannya, hanya disebabkana oleh persoalan duniawi yang sepele, maka itu menandakan keimanan seseorang sangat tipis, sebaliknya  jika dalam kondisi yang sangat sulit sekalipun, seseorang masih tetap konsisten menjqalankan ibadah, maka itu meunjukkan keimanannnya sangat kuat.

Memang itu hnya menunjukkan  salah satu indikasi saja, dan tidak akan menjamin kebenaran yang sesungguhnya, karena keimanan tersebut  asesungguhnya tercermin dalam keseluruhaqn kehidupan, baik menyaqngkut hubungannya dengan Tuhan, maupun dalam berhubungan  dengan sesama makhluk Tuhan dan alam lingkungan sekitar.  Jadi apa yang  diceritakan tersebut hanya untuk menggambarkan  sebuah  sikap konsisten  atau tidak konsisten semata.

Terkadang dlam menjalani kehidupan ini, sikap tidak konsisten akan sangat menyakitkan, karena sikap tersebut sama dengan pengingkaran terhadap sebuah komitmen.  Jika  dalam sebuah kehidupan ada  komitmen bersama untuk mempertahankan sesuatu, dan kemudian ada salah satu diantara yang mengambil komitmen tersebut ingkar dan  tidak konsisten dengan komitemennya tersebut, maka itu pastil;ah akan malukai banyak pihak yang merasa dikibuli, meskipun mungkin tidak akan sampai merusak komitmennya tersebut secara keseluruhan.

Apalagi jika  pengingkaran dalam sikap inkonsisten tersebut justru akan merugikan banhyak pihak, pastilah akan  dapat merusak komitmen dan bahkan menjadi persoalan yang sangat besar.  Bahklan sangat mungkin dengan sikap inkonsisten tersebut akan  menjalar ke jalur hukum dan berakhir dengan sangat tidak nyaman.

Dalam ajaran agama Islam sikap konsisten tersebut merupakan sikap yang snagat baik dan bahkan sangat dianjurkan untuk terus dipelihara dan dipertahankan dalam kondisi apapun.  Ketika seseorang sudah  berkomitmen untuk menjalani sesuatu, seperti  melaksanakan shalat sunnah malam, kemudian dia konsisten, maka akan banyakkeuntungan yang bakal didapatkannya,   Walaupun kelau kemudian tidak konsisten tidak ada sanksi apa apa.

Demikian juga ketika seseorang telah berjanji dalam dirinya untuk hidup sederhana dan terus berbagi atas rizki yang diberikan oleh Tuhan, maka ketika  dia konsisten dengan jinjainyantersbeut, sudah pasti dia akan memperoleh banyak kebajikan, tetapi kalau kemudian berhenti dan tidak lagi menjalaninya, maka  secara kasat mata  tidak ada sanksi apapun, terkecuali mungkin sanksi dari Tuhan yang kita tidak dapat melihatnya secara langsung.

Jadi sebaiknya kita emmang  konsisten dalam hal apapun, agar kenyamanan hidup dapat kita rengkuh dan  pihak lain juga akan merasa nyaman dengan tidakan kita.  Dengan begitu pastilah kita akan mendapatkan banyak keuntungan, baik secara lsngsung maupun tidaklangsung. Semoga.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.