PENTING UNTUK MEMAHAMI PERSOALAN

Persepsi diri memang tidak salah, jika hal tersebut tidak ditindak lanjuti dengan sebuah tindakan yang menyangkut pihak lain, sebab penafsiran terhadap sesuatu itu memang lazim  sesuai dengan tingkat pengetahuan masing masing orang.  Namun penafsiran tersebut tidak boleh digunakan sebagai sebuah alasan untuk melakukan sesuatu  yang terkait dengan pihak lain, karena akan dapat memunculkan persoalan baru.  Akan lebih celaka, jika penafsiran terhadap sesuatu tersebut berbeda secara diameteral dengan penafsiran pihak lain yang kebetulan  bersinggungan dengannya.

Jadi meskipun menafsirkan sesuatu sesuai dengan pandangannya itu diperbolehkan, namun ketika diimplementasikan, tetap harus berusaha mengerti dan memahami tafsiran yang umum dan  tafsiran resmi.  Bahkan kalaupun tafsiran sendiri tersebut  kemudian dilaksanakan untuk dirinya sendiri, tetaplah berpotensi untuk salah, sehingga  tetap dibutuhkan pemahaman yang benar terhadap sesuatu tersebut.  Di sinilah letak pentingnya pengetahuan, dan bukan sekedar tafsir diri yang sangat mungkin berbeda dengan yang sesungguhnya.

Banyak contoh dalam masalah ini ang terkadang menjadi problem serius, seperti pada saat  ada seorang  tokoh menginstruksikan  kepada  anak buah untuk mengamankan seseorang.  Nah, anak buah yang tidak paham dan tidak mau bertanya  atau mencari informasi yang enar, kemudian  bertindak dengan penafsirannya sendri, yakni  menculik dan menyiksa orang tersebut dalam sebuah tempat tersembunyi.  Itu menjadi fatal, karena maksud  mengamankan ialah bukan seperti itu, melainkan justru harus dijaga dan diperlakukan dengan  baik, sebabnya ialah ada informasi bahwa orang tersebut diincar oleh pihak yang akan  berbuat  kejahatan kepadanya.

Salah paham tersebut juga dapat menimpa  pada seseorang, meskipun tidak separeah contoh tersebut, semisal apa yang terjadi di sebuah pesantren, dimana  sang kiai memanggil kepada pengurus, atau lurah pondoknya, dan kemudian menugasinya untuk mencatat santri santri yang nakal atau berkelakuan tidak semestinya.  Pesan selanjutnya ialah kalau memungkinkan dilakukan perangkingan, mulai santri yang ternakal, hingga yang hanya  sedikit nakalnya saja.

Nah, tanpa bertanya tentang maksudnya tersebut,lurah pondok menafsirkan bahwa sang kiai pastilah akan menghukum mereka atau bahkan mungkin akan mengeluarkannya dari pesantren, sebab pengurus atau lurah pondok tersebut sudah  sangat kewalahan dalam mengingatkan santri nakal tersebut.  Mereka sangat membandel dan sulit diingatkan, sehingga dengan  dimintanya daftar mereka yang nakal tersebut, lurah pondok menjadi terbantu dan sangan  senang.

Setelah selesai dalam menysusun daftar santri nakal tersebut sesuai dengan urutan raangkingnya, maka daftar tersebut segera disampaikan kepada sang kiai dengan  harapan optimis bahwa  para santri nakal tersebut akan segera merasakan sanksi tegas dari kiai.  Namun setelah beberapa hari, bahkan minggu, sang kiai belum juga bertindak menghukum para santri nakal yang daftarnya sudah  ditangan tersebut, lurah pondok mulai bertanya tanya “kok belum ada tindakan apa apa”.  Semakin lama  lurah pondok tersebut semakin penasaran dan pada akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada kiai.

Singkat cerita bahwa  lurah pondok tersebut bertanya  kepada kiai kenapa hinga saat itu  belum ada tindakan pemberian sanksi kepada para santri nakal tersebut?.  Dengan santainya dan penuh kasih sayang,  kiai tersebut menjelaskan  sambil bertanya balik, siapa yang akan menghukum mereka? Daftar para santri nakal tersebut diperlukan untuk memberikan prioritas dalam mendoakan mereka kepada Tuhan, bukan untuk diberikan sanksi, apalagi harus ditundung keluar pesantren, sama sekali tidak ada niat untuk itu.

Lalu kiai menjelaskan bahwa  kenapa  orang tua mereka memasukkan mereka ke pesantren,  ialah karena mereka itu anak nakal, agar  setelah di pesantren menjadi lebih bagus.  Nah, kalau mereka kemudian dihukum atau dikembalikan kepada orang tua mereka, tentu tidak akan ada perubahan dala  diri mereka.  Karena itu  kita harus mendoakan secara khusus bagi mereka yang nakal, supaya mereka diberikan kesadaran dan dibukakan pintu hatinya untuk melihat kebajikan dan kemudian  mereka dpaat berubah menjadi lebi baik.

Nah, itu merupakan salah satu bentuk  salah tafsir yang dilakukan oleh  pengurus pesantren terhadap titah sang kiai, walaupun tidak fatal, dan hanya sekedar salah tafsir saja.  Andai pengurus tersebut tahu sejak awal tentang maksud kiai, tentu dia tidak akan  bertanya seperti itu dan bahkan mungkin juga akan mendoakan kepada para santri nakal tersebut.  Pendidikan memang tidak harus  disertai dengan  sanksi tertentu, bila  ada  salah satu peserta didik yang  melakukan pelanggaran, tetapi dilakukan perbaikan melalui banyak cara yang lebih memungkinkan mereka dapat berubah tanpa harus menyakiti.

Tentu masih banyak contoh dalam kehidupan dan kenyataan yang kita alami setiap harinya, karena  masing masing orang akan memahami sesuatu sesuai dengan  tingkat pengetahuan masing masing.  Karena itu untuk mengurangi terjadinya salah tafsir sebagaimana tersebut, sebaiknya  para tokoh dan pimpinan haruis menjelaskan  secara tuntas semua ketentuan dan perintah yang disampaikan untuk dilaksanakan  oleh semua  anak buah.

Jika sesuatu yang disampaikan tersebut  berpotensi untuk ditafsirkan secara berbeda oleh banyak orang, semestinya ada penjelasan yang gamblang terhadap sesuatu tersebut, sehingga semuanya akan  memahami dengan pengertian yang sama.  Penjelasan  seperti itu biasanya dilakukan  dalam bentuk sosialisasi terhadap sebuah aturan atau ketentuan yang baru, meskipun perintah harian atau  pelaksanaan  terhadap sesuatu yang harus dilakukan oleh  staf atau anak buah, terkadang juga diperlukan penjelasan  singkat  agar tidak salah tafsir.

Dalam kehidupan rumah tangga, juga diperlukan pemahaman yang relatif sama diantara seluruh anggota keluarga untuk menghindari  salah tafsir yang  memungkinkan terjadinya perceksokan hebat.  Sangat boleh jadi ketika salah satu suami atau isteri ingin menyampaikan  sesuatu dengan maksud baik, kemudian disampaikan tanpa penjelasan ;ebih lanjut, lantas dipahami secara berbeda oleh pihak lainnya, tentu akan dapat mengakibatkan perpecahan atau setidaknya sikap kurang  bagus diantara  keduanya.

Sebagai contoh misalnya seorang suami menginginkan isterinya dapat  berdandan  rapi dan menarik dalam pandangan suaminya, tetapi cara menyampaikannya  terus terang dan dengan memberikan contoh pihak lain, maka isteri bukannya akan mengikuti keinginan suami, malahan akan  cemburu dan  membencinya. Cara yang diambil oleh suami tersebut ialah dengan menyebutkan bahwa seorang perempuan yang menjadi tetangganya yang selalu berpenampilan rapi atyau perempuan lain yang sudah dikenal oleh isterinya yang selalu  rapi.  Kata kata yang muncul darui mulut sang suami ialah “ alangkah senangnya ya kalau mempunyai isteri canrtik dan selalu berpenampilan rapi seperti si anu itu”.

Tentu sang isteri akan tersinggung dan  merasa diremehkan oleh suami, padahal maksud suami tersebut ialah  sang isteri mau selalu berpenampilan rapi dan tidak sembarangan sehingga  tuidak menarik. Coba  kalau  suamitersebut menyampaikan maksud tersebut dengan  cara lain yang tidak dikaitkan dengan perempuan lain yang justru akan membuat isterinya semakin bersemangat untuk melakukan  seauatu yang diinginkan oleh suaminya, pasti akan semakin mesra dan bukan salah tafsir.

Jadi intinya ialah setuiap hal yang multi tafsir sebaiknya  ada penjelasan tertentu yang akan menjauhkan dari  banyak tafsir.  Termasuk jika tidak ada penjelasan, harusnya  ada pihak yang meminta penjelasan kepada mereka yang memberikan sesuatu tersebut.  Hal ini  sepertinya sangat remeh, namun sejatinya sangat urgen, karena dari persoalan yang  dianggap remeh tersebut, akan berpotensi menimbulkan persoalan besar yang sulit untuk dikendalikan.  Semoga kita dapat meminimalisasi penafsiran terhadap sesuatu dan memahami sesuatutersebut sesuai dengan  tujuan yang sebenarnya. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.