KESADARAN ATAS DIRI MERUPAKAN AWAL KESUKSESAN

Mungkin masih banyak orang tua yang belum menyadari bahayanya memanjakan anak, dan  pada umumnya mereka justru menginginkannya.  Artinya para orang tua biasanya berkeinginan bahwa anak anaknya harus lebih enak hidupnya ketimbang dirinya pada saat masih kecil.  Dengan begitu mereka  ingin agar anak anaknya tidak usah bekerja atau ikut melakukan pekerjaan rumah tangga sekalipun.  Tujuannya agar anak anak hidup  nyaman dan tinggal fokus kepada belajar dan belajar.  Mereka pada umumnya telah merasakan begaimana hidup  kekurangan,  harta untuk biaya pendidikan, kesehatan dan juga kekurangan gizi, namun tetap harus belajar.

Nah, tas dasar pengalaman tersebutlah kemudian  kebanyakan orang tua kemudian mempunyai keinginan bagaimana anak anaknya dapat hidup lebih  enak ajpa harus  kekurangan  makan, gizi, biaya dan lainnya.  Anak anak cukuplah  belajar dan smeuanya akan dicukupi.  Barangkalai niat baik tersebut dapat dibenarkan, agar anak anaknya tidak mengalami hal yang pernah dialaminya, sehingga  belajarnya harus terganggu oleh pekerjaan dan  hal lain yang seharusnya dapat digunakan untuk fokus belajar.

Ada dua kemungkinan anak yang diperlakukan seperti itu, yakni satu  anak anak  mengikuti keinginan orang tua, sehingga mereka  cukup fokuskepada belajar dan belajar.  Hasilnya memang memuaskan, yakni anak mendapatkan prestasi yang sangat bagus di sekolah.  Hanya saja  anak tersebut sama sekali tidak mempunyai pengalaman pahit dalam hidupnya, sehingga  akan sangat berbahaya jika suatu ketika  hidupnya tuidak nyaman, pasti akan menderita luar biasa.  Bahkan kalaupun  anak tersebut selalau dalam kesuksesan, dia tidak akan mempunyai  sensitifitas atas penderitaan yang dialami oleh orang lain, sehingga anak tersebut akan tumbuh sebagai dirinya sendiri yang tidak peduli kepada pihak lain.

Keduanya, ialah anak tersebut terlalu manja dan pada akhirnya sama sekali tidak  berpresatsi, karena semuanya serta tercukupi dan tidak penah  kesulitan dalam hal apapun.  Sudah barang pasti anak tersebut tidak akan siap menghadapi hidup yang penuh dengan kompetisi.  Anak yang tidak terbiasa dilatih untuk  berusaha  dalam mendapatkan keinginannya,  pasti akan  sangat malas melakukan  hal hal penting yang menentukan hidup dan masa depannya.  Nah, kemungkinan  seperti ini akan sangat menyusahkan banyak pihak, termasuk orangtuanya sendiri.

Karena itu pandangan sebagain orang tua tersebut sangat perlu dikoreksi ulang sehingga anak anaknya tidak akan menjadi korban.  Niat baik  untuk membahagiakan anak, memang tidak salah, tetapi dengan  menjadikan mereka hanya menerima dan tidak perlu usaha itulah yang salah.  Bukankah keberhasilan orang tua tersebut disebabkan oleh keuletan mereka dalam memperjuangkan hidup dalam kesusahan?.  Mentyalitas yang kuat dalam menghadapi setiap tantangan itulah yang mengantarkan mereka  menjadi sukses seperti saat ini.

Namun kenapa mereka justru lupa dengan apa yang mereka alami sendiri dan tidak menularkannya kepada anak anak.  Mengapa justru mereka malah  mengantarkan anak anaknya untuk menuju jurang berbahaya yang akan menghancurkan masa depan mereka sendiri?.  Kalau hanya sekedar  membersihakn rumah atau hanya sekdar mencuci piring sehabuis makan  atau mencuci baju sendiri, semunaya  diserahkan dan hanya mengandalkan pembantu, maka  anak anak tidak akan pernah merasakan betapa  seseorang itu harus melakukan kewajiban untuk dirinya sendiri.

Kalau semua kebutuhan anak anak  tercukupi tanopa harus berusaha, maka sesungguhnya mereka sudah berada dalam  jurang yang dalam untuk kehancuran, walaupun mereka anak orang kaya dan serba ada.  Memang kita harus memenuhi kebutuhan mereka untuk menunjang belajar  mereka, tetapi yang tidak boleh kita lupakan ialah bagaimana kita juga mendidik moral mereka, karakter mereka, sehingga mereka mempunyai karakter baik dan juga integritas untuk bekal kehidupan mereka selanjutnya.

Semua pembelajaran  karakter, moral dan integrity tersebut tidak akan pernah didapatlkan, terkecuali dengan pembiasaan dan praktek nyata.  Karena itu orang tua harus memahami hal ini, sehingga meskipun mereka dapat membelikan lap top untuk anak anaknya, tetapi mereka juga harus mengontrolnya sedemikian rupa agar  mereka tidak larut dalam permainan laptop tersebut.  Kewajiban menjalankan  shalat tepat waktu misalnya harus tetap diperhatikan.  Demikian juga tentang tanggung jawab mereka  dalam  ahal hidup berkeumpul dengan orang lain, seperti harus menjaga  ketertiban, saling menghormati dan menghargai serta lain serta sikap lainnya.

Karena itu, meskipun ada pembantu yang dapat membereskan seluruhnya, orang tua sangat perlu memberikan pengajaran kepada anaknya untuk sesakali mencuci bajunya sendiri, sesakali ikut mengepel rumah dan membersihkannya, dan setiap kali habis makan harus mau mencuci piring dan perabut makanannya swendiri dan  lainnya.  Dengan begitu sesungguhnya orang tua telah mendidik anak anaknya dengan bekal yang sangat berharga untuk masa depan mereka.

Ada ebuah cerita yang sangat menarik terkait dengan persoalan ini, yakni ada  seorang anak yang sejak kecil dimanjakan oleh orang tuanya, meskipun orang tuanya  tergolong miskin, dan hanya bekerja mencuci baju tetangga dengan imbalan yang pas pasan.  Nah, dengan  modal itulah orang tua tersebut ingin agar anak anaknya tidak  sepertyi dirinya sehingga dia memacu anaknya untuk terus belajar dan tidak perlu memikirkan yang lainnya.

Singkat cerita anak tersebut tumbuh menjadi besar dan kemudian juga lulus dari sebuah peruruan tinggi dengan nilai membanggakan.  Nah, suatu hari dia melamar kerja di sebuah perusahaan.  Sebagaimana  calon lainnya, anak itupun juga mengikuti test tertulis, dan  pada saat pengumuman, dia  dinyatakan lolos dan akan dilanjutkan dengan test wawancara.  Sampai saat itu sesungguhnya  anak tersebut sama sekali tidak pernah hidup sulit, meskipun kedua orang tuanya sangat kesulitan dalam mengongkosinya.

Tibalah  saat  wawancara dan langsung dilakukan oleh direktur perusahaan tersebut, karena direktur tersebut ingin mendapatkan seorang calon yang benar benar dapat diandalkan.  Setelah melihat CV dari anak tersebut, direktur tersebut sangat kagum dengan prestasinya, maa  pada saat wawancara dia kemudian  bertanya kepada anak tersebut “apakah ketika  kuliah, saudara mendapatkan bea siswa?”.   Anak tersebut menjawab  “tidak”.  “lantas siapa yang emmbiayaimu selam studi?” lanjur direktur tersebut. Dan langsung dijawab “orang tua saya”.

Direktur tersebut  bertanya lagi “apa pekerjaan orang tuamu”, dan dijawablah bahwa kedua orang tuanya adalah buruh cuci baju.  Direktur tersebut semakin penasaran dan kemudian melanjutkan pertanyaannya lagi “apakah saudara pernah membantunya dalam pekerjaan tersebut?” pemuda tersebut menjawab  “tidak”.  Dengan jawaban tersebut drektur tersebut merasa bahwa wawancaranya sat itu dianggap cukup dan  dia hanya berpesan kepada anak muda tersebut agar pulang dan kemudian mencuci tangan orang tuanya dan esok paginya datang kembali untuk meneruskan wawancara.

Anak muda tersebut tentu tidak mengerti dengan pesan tersebut, namun karena  ia berkeinginan mendapatkan pekerjaa tersebut, maka apa yang dipesankan oleh direktur tersebut dijalaninya dengan  penuh pertanyaan.   Seaampai di rumah dia memang benar enar meminta ijin kepada orang tuanya untuk mencuci tangannya, dan meskipun orang tuanya juga merasa aneh dan terharu, tetapi mengiyakan juga tanggany dicuci oleh anaknya tersebut.

Nah, pada saat  mencuci itulah  anak tersebut baru mengetahui bahwa selama ini orang tuanya ternyata  merahasiakan kesengsaraannya untuk membahagiakan dirinya.  Bahkan tanggany sampai lecet dan luka sedemikian hebatnya tetapi tidak pernah mengeluh.  Anak itupun baru meyadari pula bahwa  selama ini dia ternyata hanya  berada dalam penderitaan orang tuanya, karena itu dia kemudian berjanji  untuk membahagiakan orang tuanya tersebut, salah satunya yang bisa dilakukan saat itu ialah membantu menyuci pakaia yang masih menumpuk.

Keesokan harinya, anak muda tersebut memenuhi  wawancara lanjutan dan  pertanyaan pertama dari ang direktur ialah  bagaiman apa sudah  mencuci tangan orang tuamu?.  Anak muda tersebut  sesenggukan dan bercerita tentang perasaannya yang  menyesal dan  harus bertanggung jawab untuk melakukan kebajikan, bukan saja untuk kedua orang tuanya, melainkan untuk semua orang.  Tenryata keberhasilannya tersebut tergantung ekpada bantuan orang tuanya, sehingga dia berkesimpulan bahwa  harus ada kerjasama untuk sebuah kesuksesan.

Cerita  yang merupakan jawaban itulah yang kemudianmengantarkannya untuk diterima sebagai bagian dari perusahaan tersebut dan  pada akhirnya dia menjadi menejer  dan karirnya  cukup mulus dan  cepat.  Kuncinya ialah kesadaran diri atas semua yang  dilakukan oleh orang lain untuk mengantarkan dirinya menjadi sukses.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.