KEMATIAN SELALU MENGINTAI

Ada banyak jenis menusia yang  sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya hanya sementara saja menghuni dunia ini, dan selebihnya akan segera kea lam barzah untuk selanjutnya menuju alam akhirat.  Karena itu manusia tersebut selalu mengejar dunia dan menumpuknya yang seolah  dunia dan hartanya akan mengekalkannya, tetapi Tuhan sendiri sudah mengingatkan bahwa  memang ada jenis menusia seeprti itu, dan sebagai orang yang beriman, tentu kita tidak boleh larut dalam situasi tersebut.

Menyadari bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara saja, tentu merupakan bekal dan modal berharga bagi kita untuk dapat melakukan sesuatu secara selektif. Ada kalanya kita berbuat untuk sesuatu  yang bermanfaat di dunia, dan ada kalanya juga kita harus bwerbuat sesuatu yang untuk kepentingan akhirat.  Kehidupan akhirat yang keal tentyu harus dipersiapkan dengan  sangat bai, agar nantinya kita tetap sejahtera  dalam alam kekekalan tersebut.

Hanya orang yang tidak beriman saja yang selalu menumpuk harta untuk dirinya sendiri, yang dianggapnya dapat menyelamatkannya, padahal sama sekali tidak benar.  Kematian  itu tidak dapat dihalangi oleh harta atau oleh apapun, karena ketika  kematian sudah  waktunya, siapapun tidak akan mampu menghalaunya, walaupun berkumpul  sejuta  dokter ahli untuk sekedar menundanya saja.  Dokter ahli mungkin saja dapat mengobati penyakit sesuai dengan bidangnya, tetapi kalau kematian sudah datang, maka dokter tersebut  tidak  akan mampu berbuat apa apa.

Kematian, sebegaimana juga jodoh, rizki dan lainnya sesungguhnya sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta, karena itu sebanyak apapun harta yang kita miliki, dan sebanyak apapun  dokter, tabib dan  manusia “sakti”, tidak akan dapat berbuat apa apa, jika keputusan Tuhan tersebut sudah datang.  Hanya saja  sikap kita memang tidak boleh menyerah terhadap semua hal, karena penyerahan seperti itu hanya akan menyengsarakan diri sendiri.

Artinya jika kita mengalami sakit,  wajib hukumnya bagi kita  berikhtiyar untuk mengobatinya, kita tidak boleh menyerahkan semuanya kepada takdir Tuhan, sebelum kita  mengetahuinya bahwa sesuatu tersebut sudah menjadi takdir Tuhan, yakni setelah menjadi kenyataan.  Bahkan kita harus meyakini bahwa takdir Tuhan tentang kematian  manusia, termasuk kita, sudah ditentukan, namun kita harus tetap berhusnudzdzan bahwa  sebelum semuanya terjadi, kita harus berusaha untuk menghindarinya.

Persoalannya ialah bagaimana kita menyikapi kematian tersebut?  Yang jelas kita tidak boleh beranggapan bahwa usia seseorang  menjadi patokan utama dalam hal kematian, sebab pada usia  muda orang  sangat mungkin  kedatangan mati, bahkan terkadang ada orang yang usainya sudah sangat lanjut, tetapi masih segar bugar.  Itulah rahasia Tuhan yang kita tidak boleh menebak nebak, tetapi harus siap kapan saja  menjemput kematian yang pasti akan datang, walaupun kita berusaha lari darinya.

Karena semua orang atau semua makhluk yang hidup dipastikan akan mati, maka  sebagai orang beriman kita harus siap menghadapi kedatangan maut tersebut.  Kesiapan tersebut bukan berarti identic dengan menentangnya, melainkan kesiapan bekal yang akan kita bawa pada saat menjalani kehidupan di alam lain yang pasti akan kita jalani.  Tuhan sudah mengingatkan kepada kita semua baha sebaik baik bekal bagi manusia ialah taqwa, bukan harta dan kedudukan.

Hanya saja modal harta sesungguhnya dapat kita jadikan andalan sebagai bekal untuk kehidupan akhirat, jika kita  pandai mengemasnya, yakni kita gunakan untuk kepentingan umat dan untuk menyantuni banyak orang yang membutuhkan, seperti anak yatim, orang jompo, para fakir dan mskin dan mereka yang sedang dalam kesulitan.  Kedudukan juga demikian, artinya dapat kita jadikan sebagai modal untuk kehidupan  akhirat, yakni jika kita manfaatkan untuk kepentuingan banyak orang dengan berlaku adil, santun dan senantiasa  berusaha mensejahterakan umat.

Masih banyak diantara umat muslim yang meskipun secara teoritik sudah paham dengan persoalan kematian tersebut, namun dalam kenyataannya, yakni dalam menjalni hidup, seolah lupa dengan kematian  tersebut.  Buktinya ialah  banyak diantara mereka yang enggan bersdekah,  menjalani ibadah Sunnah, dan justru malah sibuk dengan menumpuk harta untuk kepentingan duniawi semata.  Beruntunglah bagi mereka yang selalu ingat dengan kematian tersebut dan slalu pula  menyisihkan sedikit hidupnya untuk  menabung, demi kepentingan akhiratnya.

Berapapun rizki yang dia dapatkan dari usahanya, dapat dipastikan akan dibagi, untuk diri dan keluarganya dan juga untuk pihak lain sebagai sedekah.  Sekali lagi kematian itu dapat datang setiap saat, tidak mengenal usia, tuidak mengenal waktu, dan tidak harus ditandai dengan sebuah penyakit tertentu.  Boleh jadi memang sebelum kematian datang, seseorang akan didahului dengan  sakit, tetapi boleh jadi juga, kematian tersebut datang begitu saja tanpa harus terlebih dahulu  diawali dengan datangnya sakit.

Mengingat hal tersebut, seharusnya kita tetap dalam  kehidupan yang  baik dan tidak emncoba untuk  melakoni kehidupan maksiat.  Kita  sudah banyak disodori kenyataan bahwa  dalam sebuah  pesta, tiba tiba terjadi  musibah dan merenggut nyawa banyak orang.  Sebuah diskotik yang penuh dengan orang di dalamnya, tiba tiba terbakar dan puluhan mayat bergelimpangan.  Kita juga dihadapkan kepada kenyataan bahwa  dalam kondisi  suka cita  pada sebuah pesta dan juga keramaian umum, tiba tiba ada orang  mengebom dan menewaskan ratusan bahkan ribuan nyawa.

Nah, kita juga tidak tahu pada saat  kita berada di suatu tempat, tiba tiba ada musaibah yang menimpa dan  mengenai pula kepada kita.  Untung kalau ketika itu kita sedang menjalankan ibadah atau sedang melakukan hal yang baik, atau tidak sedang  melakukan kemaksiatan.  Karena  kalau ternyata  kita sedang melakukan maksiat, maka  kita akan mengakhiri kehidupan kita dengan kemaksiatan, naudzu billahi min dzalik.  Karena itu kita mestinya  tidak akan berani mel;akukan kemaksiatan dalam kondisi apapun, karena kematian akan dapat datang kapan saja.

Sudah barang tentu kita  juga harus sering memohon kepada Tuhan agar diberikan husnul khatimah dan  dijauhkan dari semua hal yang akan merugikan kita, di dunia dan akhirat.  Doa dan perbuatan kita memang harus  selaras serta saling memperkuat, sehingga cerminan niat kita semakin teguh dan kuat.  Artinya kalau perbuatan  yang kita jalani  kita setir untuk selalu  kea rah yang positif, juga disertai dengan permohona kepada Tuhan untuk senantiasa dijaga dan ditunjukkan ke jalan yang benar, maka insyaallah kita akan tetap berada dalam jalan-Nya serta  berakhir dengan husnul khatimah.

Apalah artinya kehidupan ketika  perbuatan kita banyak yang  cendrung ke maksiat, justru kehidupan tersebut akan semakin menyengsarakan diri kita.  Sebaliknya ketika  apa yang kita jalani ialah  kebajikan, maka kehiduopan tersebut akan sangat berarti bagi kita.  Bukankah sebaik baik orang ialah yang umurnya panjang dan semuanya digunakan untuk kebajikan?, sebaliknya ialah  sejelk jelek orang ialah orang yang usainya panjang tetapi hanya digunakan untuk mksiat.

Kalaupun usia kita ditakdirkan   pendek oleh Tuhan, tetapi seluruhnya kita pergunakan untuk kemanfaatna dan  perbuatan   baik, niscaya akan lebih bermakna ketimbang usia panjang tetapi  hanya untuk maksiat saja.  Mari kita berloba untuk menjadi manusia baik, yakni  berlomba  untuk melakukan hal terbaik, baik  agi diri dan keluarga, maupun untuk pihak lain dan juga lingkungan, semoga kita dapat memperoleh kebahagiaan ganda, di dunia dan sekaligus di akhirat. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.