BERGURU DARI SEORANG ANAK KECIL

Mungkin peribahasa yang mengatakan” ambillah mutiara walaupun  di kotoran”,  ada benarnya dan bahkan mungkin harus tetap dipertahankan, karena kalaupun sesuatu itu baik, dan bercampur dengan sesuatu yang hina, pastilah sesuatu yang baik tersebut akan tetap baik jika kita keluarkan dari kejelekan tersebut.  Kalau ada sebuah kebajikan  dalam lingkran kemaksiatan, maka kebajikan tersebut tetap akan kelihatan, asalkan kebajikan tersebut tetap dapat dipertahankan dan tidak terkalahkan atau terkontaminasi oleh kemaksiatan tersebut.

Atas dasar itulah kemudian kita dapat mengambil sesuatu yang baik dari mana saja dan dari siapa saja, termasuk dari mereka yang kita anggap sebagai orang hina sekalipun.  Suatu pelajaran kebajikan tidak perlu harus ditunjukkan di depan mata kita, tetapi kita  dapat menyaksikannya sendiri, terhadap kondisi apapun.  Terkadang kebajikan tersebut dapat dimunculkan dari kerumunan orang tergusur pada saat mereka makan, atau saat mereka sedang bersenda gurau atau pada saat mereka sedang tidur di atas sebuah kardus dan lainnya.

Pada saat mereka sedang makan misalnya dengan hanya sekedar lauk dan mereka  makan dalam satu buah piring besar atau nampan  dikelilingi oleh lima  orang.  Mereka saling berbagi nasi dan lauk yang ada dan kebersamaan yang begitu  akrab.  Kalau kita jeli dalam memperhatikan  kejadian tersebut, tentu kita dapat mengambil pelajaran darinya, yakni  kebersamaan yang tulus dan dapat menerima rizki dari Tuhan apa adanya  dan dinikmati dengan begitu hebat.  Sementara kita  terkadang  mempunyai makanan berlebih dengan lauk yang juga mewah, tetapi kita tidak dapat  menciptakan kebersamaan dengan keluarga dan mungkin tidak dapat merasakan nikmat sebagaimana mereka rasakan.

Pada saat mereka tidur dengan alas  seadanya, ternyata mereka dapat menjalninya dengan begitu pulas, seakan tanpa beban dan masalah, padahal dalam keseharian, mereka senantiasa  berbalut dengan masalah.  Sekali lagi, kita yang  tidur di kasur yang empuk dan dengankebersihan  serta pendingin yang cukup, tetapi terkadang kita susah tidur, entah sebabnya, mungkin terlalu banyak masalah yang terbawa tidur, entah disebabkan oleh  kekurang syukuran kita terhadap pendapatan hari itu dan lainnya.

Nah,  disamping banyak hal sebagaimana  yang disebutkan di atas, kiranya akan sangat penting bagi kita untuk mengaca dan berguru kepada anak kecil yang sunguh mempunyai perilaku luar biasa, serta tulus dalam berbuat.  Anak kecil tersebut, sebut saja namanya muhlis, dia  anak seorang yang cukup dalam hal ekonomi, sehingga setiap harinya ketika berangkat sekolah di sebuah  SD  di dekat rumahnya, dia mendapatkan  bekal atau sangu dari orang tuanya sebanyak 10.000 rupiah.  Namun dia  merupakan anak yang tidak suka jajan, melainkan lebih suka  berbekal makanan dan minuman dari rumah.

Lantas untuk apa sangu uang yang  setiap hari diberikan oleh orang tuanya tersebut?.  Itulah yang mencengangkan kita semua, ternyata  uang Rp 10.000,- tersebut ditabungnya  dan setiap hari jumat kemudian dia sedekahkan kepada mereka yang  membutuhkan.  Jadi terkumpul Rp 50.000,- setiap jumatnya, anak kecil tersebut menyedekahkan nya kepada orang lain.  Itupun dengan niat yang sungguh luar biasa mengharukan, yakni  pahalanya  untuk ibundanya tercinta yang sudah wafat mendahuluinya.

Suatu saat dia memang menghampiri seorang ibu ibu tua yang menjajakan dagangannya dan kemudian anak kecil, Muhlis tersebut bertanya tentang berapa harga kue yang sudah dibendeli dalam plastik tersebut,  Ibu setenga baya tersebut menyahuti bahwa harganya Rp.5.000, lantas  Muhlis mengatakan saya beli 10 bu, ini uangnya , sambil mengacungkan uang lima puluh ribuan, tetapi kemudian disusul dengan pernyataannya lagi, kuenya untuk ibu saja, kan dapat dijual kembali.

Betapa berkaca kaca ibu ibu tersebut mendengarkan  seorang anak kecil yang bersedekah dengan begitu tulusnya.  Lantas ibu tersebut tidak luipa mengucapkan terima kasih, walaupun  Muhlis telah menjauh darinya.  Ibu itupun juga mendoakan kepada Muhlis agar diberika kerunia dan kesehatan serta kesejahteraan oleh Tuhan.  Apalagi ibu tersebut emang sedang membutuhkan uang untuk menebus  obat untuk anaknya yang sedang sakit.

Sungguh sebuah pemandangan yang mengharukan dan memberikan inspirasi bagi kita semua bahwa, masih ada kebaikan di kolong langit ini dan ternyata yang melakukan adalah anak kecil yang masih di sekolah dasar. Namun kenapa  kita yang sudah mampu mencari uang sendiri dan bahkan terkadang  bisa mendapatkan uang  sangat banyak, tetapi tidak  pernah menyisihkan sekedarnya untuk bersedekah atau berbagai dengan mereka yang miskin?.  Bahkan kita justru seringkali membaca ayat tentang  kebaikan bersedakah, lantas dimana nurani kita, dimana jiwa kita dan di mana muka kita di hadapan Allah swt?.

Perbuatan Muhlis, si anak SD tersebut, sungguh mulia dan hanya akan muncul dari mereka yang dididik dengan sebuah didikan yang luar biasa mencintai sesama dan gemar berbagi.  Kita harus salut dan berguru kepada Muhlis, meskipun kita sudah  sangat dewasa, tetapi belajar itu tidak terbatas  pada usia dan  siapapun yang  mau belajar dan meneldani setiap kebajikan,  dialah yang akan meraih kebahagiaan sejati.

Kisah lainnya ialah saya pernah menyaksikannya sendiri, yakni  ada seorang anak kecil perempuan yang menenteng koran atau surat kabat untuk dijual kepada siapapun yang lewat di dekatnya.  Karena dengan pakaian yang lusuh, banyak orang mengira bahwa dia adalah anak yang tidak sekolah dan hanya  bermain main saja serta untuk menutupi kebutuhannya, dia harus emnjual koran.  Namun siapa kira bahwa anak kecil tersebut ternyata anak yang sangat rajin dan tidak pernah absen  masuk sekolah.

Sehabis sekolah biasanya dia makan, shalat dan kemudian menjual koran.  Suatu saat saya memang  berniat membantunya, meskipun saya sedang tidak ingin membaca koran, sehingga saya acungkan uang Rp 50.000,- an untuk dia, namun setalah dia menyodorkan koran dan saya jelaskan maksud saya, dia, ternata menolanya, karena dia bukan pengemis dan dia hanya menjual koran.  Saya menjadi tersentak dan merasa bersalah karena telah menuduhnya demikian, saya kemudian meminta maaf, dan saya pun menjelaskan bahwa bukan saya bermaksud untuk menganggapnya sebagai pengemis.

Setelah itu terjadilan obrolan antara dirinya dengan saya dan kemudian sya baru tahu bahwa dia itu adalah anak yang rajin sekolah dan bahkan  prestasinya di sekolah sangat bagus, meskipun bukan rengking satu.  Dia mempunai prinsip bahwa bahwa kalau dia teriam sesuatu dari orang lain, haruslah ada imbalannya, seperti koran yang dia jual, dan dia tidak akan  mau mengambil sesuatu yang bukan haknya, meskipun dikasih secara gratis.  Fia tidak ingin terbiasa menerima sesuatu secara gratis, karena hal tersebut, katanya, akan  mengajarinya sebagai seorang pemalas.

Sungguh luar biasa pelajaran yang dapat saya petik dari seorang anak perempuan kecil yang ternyata sudah berada di bangku SPM tersebut.  Terus terang saya menjadi sangat terharu dengan kisahnya dan ingin sekali memberikan sesuatu yang dapat membantu bebannya, tetapi dengan keteguhan hatinya, dia tetap menolak.   Saya hanya dapat menyalaminya dengan ulurang tangan  ketulusan dan kebanggan kepada dirinya.  Semoga kelak dia akan menjadi manusia yang hebat dan mendapatkan kesejahteraan dalam hidupnya. Amin.

Ternyata kita  dapat menjumpai banyak orang yang dapat kita jadikan sebagai guru untuk perjalanan hidup kita.  Artinya pelajaran baik tidak semata mata  dapat kita  peroleh dari mengaji atau belajar di sekolah, melainkan justru dalam hidup di masyarakat dan dalam kenyataan keseharian kita.  Semoga Tuhan senantiasa membukakan pinti idyah kepada kita untuk dapat memetik hikmah setiap kejaidan yang kita saksikan, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.