SUMPAH PEMUDA MASA KINI

Peringatan hari sumpah pemuda memang sudah dilakukan, meskipun tidak sehebat pada zaman dahulu, namun dengan kondisi masyarakat kita yang seperti saat ini, masih diadakannya peringatan sumpah pemuda tersebut sudah cukup bagus.  Sumpah pemuda yang diucapkan oleh para pemuda saat itu, yakni pada tanggal 28 Oktober 1928 memang begitu bermakna untuk membangkitkan semua  orang untuk bersatu  menuju Indonesia merdeka.  Sumpah pemuda saat itu merupakan janji dan teket seluruh anak bangsa untuk hanya bertanah air satu, yakni Indonesia, untuk berbangsa  yang satu, yaitu Indonesia, dan hanya berbahasa satu, ialah bahasa Indonesia.

Sumpah pemuda tersebut telah berhasil menyatukan  berbagai perbedaan pandangan pada sat itu dan  damapknya sangat luar biasa.  Kita sangat paham bahwa bahasa daerha di negeri ini sangat luar biasa banyak, bahkan  antara satu daerah  yang terdekat saja, terkadang tidak saling memahami bahasa daerahnya masing masing.  Nah, dengan bahasa Indonesaia tersebut semuanya dapat berkomunikasi dengan bagus.  Sebuah misal apa yang terjadi di Papua yang begitu banyak bahasa daerahnya, namun semuanya dapat berhasa Indonesia.

Kalaupun tunjuan sumpah pemuda saat itu lebih ditekankan untuk mempersatukan seluruh  bangsa dalam mencapai kemerdekaan, namun kenyataannya  sampai saat ini masih terus dibutuhkan kesatuan tersebut, untuki mempertahankan NKRI.  Sebagaimana kita tahu bahwa  negara kita terdiri atas banyak suku dan  etnis yang sangat mudah tercabik, hanya disebabkan sedikit persoalan.  Karena itulah dibutuhkan sebuah  kesatuan yang kuat, agar  semua persoalan dapat disisihkan dan lebih mengedepankan kebersamaan.  Dengan begitu negara kita akan tetap utuh dan tidak pernah tercabik serta bercerai berai.

Hanya saja kiranya  saat ini diperlukan pemaknaan kembali sumpah pemuda  tersebut, yakni bukan  lagi ditekankan untuk mencapai kemerdekaan, karena kemerdekaan tersebut sudah terealisasi, dan bukan sekedar untuk mempertahankan  keutuhan NKRI, yang itu memang sudah menjadi  kesepakatan nasional, melainkan juga seharusnya kita mampu memberikan tekanan kepada persoalan kekinian yang  seharusnya dilakukan oleh bangsa ini.

Kita  sangat menyadari bahwa persoalan bangsa saat ini sungguh sangat kompleks dan membutuhkan penanganan serius dari para pemimpin dan tokoh umat.  Masalah kemiskinan yang sejak dahulu  sudah didiberikan perioritas penanganannya, masih juga belum selesai secara tuntas.  Demikian juga dengan persoalan kebodohan, persoalan  kesempatan kerja, persoalan kesejahteraan dan juga persoalan keadilan.  Bahkan alhir akhir ini muncul lagi persoalan asap yang  mengepung sebagian wilayah  di negeri kita.

Semuanya itu sesungguhnya bermuara  pada persoalan  kebodohan dan kesadaran untuk berbuat kebajikan.  Kemiskinan sudah barang tentu sangat berkitan erat dengan pendidikan yang tidak standar.  Artinya semakin sebuah  masyarakat tidak berpendidikan, maka semakin kehidupannya menjadi sengsara.  Dalam bahasa lain dapat dinyatakan bahwa kebodohan itu sangat dekat dengan kemiskinan, karena itu  yang dibutuhkan saat ini ialah sumpah para pemuda untuk memberantaqs kebodohan melalui berbagai langkah kongkrit, baik secara formal maupun non formal.

Mungkin bagi kita yang berada di perkotaan sama sekali tidak pernah menyaksikan betapa masih ada anak bangsa ini yang tidak dapat bersekolah, disebabkan kemiskinan itu sendiri, atau disebabkan ketiadaan motivasi dari orang orang terdrekat, seprti orang tua.  Nah, itulah pentingnya para pemuda berjihat untuk memastikan bahwa seluruh anak usia sekolah harus bersekolah dengan  tanpa memikirkan  pembiayaan.  Hal tersebut tidak cukup hanya diungkapkan oleh para petinggi negeri ini dari pusat, melainkan juga harus ditindak lanjuti oleh para pemuda di daerah.

Pemerintah memang sudah mengalokasikan anggaran 20% dari APBN dan itu sudah cukup lumayan banyak, namun  dalam kenyataannya, masih banyak anak yang tidak sekolah, atau putus di tengah jalan, karena  ketiadaan biaya dan lainnya.  Sungguh ironis dengan apa yang diinginkan oleh ara pimpinan negeri ini agar anggaran yang besar dalam pendidikan tersebut dapat mengangkat  martabat dan kedukuna  anak bangsa yang selama ini berada dalam  titik terendah, dan miskin.

Nah, jika semua anak bangsa  dapat mengenyam pendidikan setidaknya sampai di sekolah menengah, niscaya akan banyak orang yang  mampu mengembangkan kreatifitasnya  serta berusaha, tanpa harus  menunggu kesempatan kerja yang disediakan oleh pihak lain.  Memang kita juga menyadari bahwa pendidikan kita tidak mampu  membangkitkan semangat untuk berusaha,  dan lebih banyak melahirkan para  calon birokrat yang malas.  Untuk itulah diperlukan  perubahan orientasi pendidikan kita  ke arah penciptaan kreatifitas  anak didik, sehingga pada saatnya mereka akan mampu melakukan sesuatu untuk diri mereka sendiri.

Disamping persoalan pendidikan yang masih harus dipacu agar dapat merata dan melahirkan generasi yang kuita dalam berusaha,  juga diperlukan sebuah kondisi masyarakat yang gemar melakukan kebajikan dalam arti luas.  Kebajikan tersebut akan  memungkinkan semua orang melakukan sesuatu yang sesuai dengan aturan main, seperti taat  asas dalam semua aspek, sehingga tidak lagi ada kecurangan dalam pelaksanaan tugas, tidak ada penyeleweangan, penyimpangan dan sejenisnya.

Dengan kondisi seeprti itu tentu  berbagai persoalan yang saat ini  sangat memusingkan kita semua, seperti semakin maraknya korupsi,  semakin meluasnya perdaran narkoba, semakin menggilanya para pembuat keonaran, dan semakin beraninya para penjahat dalam melakukan aksi kejahatannya,  akan dapat teratasi.  Setidaknya para pejabat yang diberikan amanah untuk  memimpn negeri ini, dari pusat hingga daerah.  Mereka harus memrankan diri mereka sebagai teladan dan contoh yang baik, untuk sleuruh masyarakat.

Kalau para  pejabatnya  mampu menerapkan  kedisiplinan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, maka secara otomatis, masyarakat  akan turut melakukannya, meskipun pada awalnya  dapat saja  melakukan semua itu secara terpaksa.  Ambil contoh kalau seluruh aparat penegak hukum menjalankan tugasnya dengan bagus dan konsisiten, niscaya  semua oarang akan berpikir dua kali sebelum melakukan kejahatan, karena  para aparat yang jujur dan tidak dapat diajak kompromi, serta  para penjahat akan  mendapatkan  sanksi setimpal sesuai dengan perundangan yang ada.

Jadi persoalan keadilan yang selama ini selalu dikeluhkan oleh  sebagian besar rakyat, akan semakin  dapat dirasakan serta keamanan dan ketenteraman juga akan mudah diciptakan.  Demikian juga persoalan lainnya yang selalu muncul dengan bentuk yang beraneka ragam.  Salah satu contohnya ialah persoalan asap yang  itu tidak mungkin  merupakan musaibah tanpa campur tangan manusia.  Dengan adanya manusia yang rakus dan ingin menguasai  banyak lahan untuk kepentingannya sendiri, lalu membakar hutan  dan saeterusnya, tentu  semua itu akan berakibat pada  kesengsraan pihak lain, yakni masyarakat luas.

Nah, kalau para aparat dapat melakukan  pekerjaanya dengan sangat abgus, yakni mereka yang membakar hutan tersebut segera ditangani dan diberikan sanksi berat, termasuk  menghentikan seluruh  aktifitas serupa  dengan pembakaran hutan, niscaya semua yang kita alami saat ini tidak akan terjadi.  Kita sudah  tahu bahwa persoalan asap tersebut sudah sangat lama dan tidak kunjung berhenti, sehingga dapat dipastikan bahwa aparat tidak  bekerja maksimal sebagaimana harapa masyarakat.

Itulah  pamaknaan sumpah pemuda saat ini yang meniscayakan seluruh pemuda harus terlibat dalam  memerangi kebodohan, dan meningkatkan kualitas pendidikan anak bangsa, serta  megubah arah pendidikan  agar  menuju penciptaan kreatifitas  lulusan.  Demikian juga pemuda harus terlibat langsung dalam penci[taan kondisi  bahwa masyarakat cenderung melakukan kebajikan yang diawali dan diberikan contoh oleh para pejabat yang  mendapatkan amanah dari negara.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.