HAKEKAT KAYA ITU BUKAN BANYAKNYA HARTA

Mungkin hampir semua orang  mengira bahwa kaya itu ialah banyak harta, sehingga dengan harta tersebut seseorang akan mampu berbuat sesuatu atau akan mampu membeli sesuatu, tanpa harus berpikir banyak.  Pemahaman seperti itu memang tidak terlalu salah, karena harta yang banyak merupakan salah satu unsur kekayaan yang  kasat mata.  Namun tahukah kita bahwa sesungguhnya kekayaan itu bukan berupa harta yang melimpah, melainkan ada di dalam hati kita masing masing.

Bisa saja ada orang yang mempunyai harta yang sangat melimpah, tetapi jiwanya tetap m,iskin, sehingga  dia  akan terus menerus diburu dan dikuasai oleh nafsunya untuk menumpuk harta yang lebih banyak, dan bahkan lupa atau memang sengaja untuk menahan hartanya sehingga orang lain tidak akan mendapatkan bagian dari hartanya tersebut.  Sifat kaya itu seharusnya tidak lagi membutuhkan atau kalaiupun butuh, maka itu bukan kemaruk atau menginginkan secara serakah, cukup sekedarnya saja, bahkan  sikap kaya itu akan senantiasa berbagai dengan yang lain.

Nah, kalau ada orang yang hartanya melimpah, tetapi tidak pernah sedekah dan berbagi hartanya tersebut dengan pihak lain, itu artinya jiwanya masih miskin.  Apalagi kalau kemudian dia juga masih  serakah merampas dan  merebut harta pihak lain, baik secara legal maupun secara tidak sah.  Jadi kalaupun ada  orang yang secara materi sangat sedikit, dan bahkan  menurut perkiraan banyak orang dia itu termasuk orang miskin, namun apa yang ada pada dirinya selalu dibagi dengan pihak lain, maka sesungguhnya dia itu sangat kaya.

Ada sebuah kisah yang cukup memberikan inspirasi bagi kita semua tentang  makna kaya dan miskin tersebut.  Suatu saat ada  orang bertetangga, salah satunya sangat berkecukupan, kendaraannya pun juga banyak, namun  tetangga sebelahnya  ialah keluarga yang pas pasan, bahkan  hampir semua orang menyebutnya sebagai keluarga miskin.  Namun demikian keluarga miskin tersebut tidak pernah ribut dan kehidupan kesehariannya selalu damai dan sangat sejuk dan menyenangkan.  Sementara tetangga yang disebut  sebagai kaya tersebut ternyata tidak pernah mendapatkan ketenangan dalam kehidupannya.

Nah, suatu saat di malam hari terjadi hujan lebat dengan disertai angin kencang, kebetulan tetangga yang kaya tersebut sedang pergi dan hanya tinggal anaknya perempuan  sendirian di rumah.  Pada saat huan mulai mereda, ternyata tiba tiba listrik mati dan padam seluruh kawasan teresbut, sehingga semuanya menjadi gelap gulita.  Hanya saja  anak orang kaya tersebut pastilah  tidak masalah, karena dia pasti menyimpan lilin sebagai cadangan ketika listrik padam.  Jadilah dia kemudian dengan bantuan HP nya  mencari lilin di dapur.

Namun dalam kondisi sedang mencari lilin tersebut tiba tiba anak tetangga sebelh yang miskin tersebut memanggilnya dengan mengetuk pintu depan sambil memanggil kakak, kakak,… kakak punya lilin tidak?.  Demi mendengar  panggilan yang dia tahu itu suara anak tetangga sebelah yang diangap miskin tersebut, maka pikirannya  langsung bersuudzdzan, bahwa kalau aku bilang punya, pastilah dia akan meminta,  enak saja, dan biasanya nanti akan  menjadi kebiasaan meminta , dasar orang miskin.

Karena itu anak orang kaya tersebut langsung menyahut, “tidak punya”.  Namun anak orang miskin yang masih berada di depan pintu tersebut langsung menyahut “ saya sudah menduga bahwa kakak tidak punyai lilin, ini saya punya dua, kakak dapat mengambil satu agar rumah kakak tidak gelap, nanti kakak takut sendirian”.  Demi mendengar jawaban anak kecil tetangga yang dianggap miskin tersebut, kemudian anak orang kaya tersebut lantas membukakan pintu dan memeluk anak kecil tersebut, seraya mengucpkan terima kasih kepadanya.

Namun setelah itu anak orang kaya tersebut  menangis dan merenung sendirian, bahwa ternyata dia  dan keluarganya yang berlimpah harta, ternyata sangat miskin, sementara tetangganya yang dianggap miskin tersebut ternyata sangat kaya, sehingga  mau berbagi dengan dirinya.  Saat itulah dia kemudian sadar bahwa kekayaan itu bukan terletak pada harta, melainkan pada hati dan  dirinya.  Dia lantas menangis lagi dan memohon ampuna kepada Tuhan, karena selama ini telah  melaupakan-Nya dan  mengira bahwa seolah harta itu segalanya.

Kekeringan  dirinya  serta  jauhnya dari ketanangan, tentunya disebabkan oleh sikapnya yang  kurang atau bahkan tidak bersyukur kepada Tuhan atas limpahan harta yang selama ini telah dikaruniakan kepada keluarganya.  Saat itulah dia kemudian berkomitmen untuk saling berbagi dengan orang lain.  Ajaib, bahwa dalam beberapa minggu  setelah itu dia  seslalu  mencari orang yang miskin harta dan diberikannya bantuan agar dapat merasakan  kebahagiaan menikmati harta Tuhan yang dititipkan kepadanya. Dan ajaib pula bahwa  anak  orang kaya tersebut kemudian  dapat merasakan kehidupan yang sesungguhnya, penuh ketenangan dan kedamaian.

Pada awalnya memang orang tuanya  tidak setuju dengan  langkah dan tindakan anaknya tersebut, tetapi dengan argumentasi yang disampaikan anak tersebut, kemudian orang tuanya dapat menyetujuinya dan bahkan kemudian juga mengikuti jejaknya.  Keluarga tersebut pada akhirnya menjadi kelarga yang  peduli kepada kepada sesama dan bahkan emnjadi sangat dermawan.  Mereka kemudian bersyukur bahwa dengan batuan anak kecil tetangga yang dianggapya miskin tersebut, ternyata mereka kemudian terselamatkan sehingga dapat menjalani hidup dengan penuh optimisme dan kegairahan yang luar biasa.

Kisah tersebut tentu bukan satu satunya yang membuktikan bahwa kekayaan itu bukan terletak di harta, melainkan di dalam hati kita masing masing.  Sejauh manakah kita dapat menyikapi hidup ini, apakah kita mensyukuri nikmat yang dikaruniakan oleh Tuhan kepada kita, seberapapun  yang kita dapatkan, dan kemudian kita membaginya juga dengan pihak lain yang membutuhkan, apakah sebaliknya, kita tidak pernah puas dan tidak pernah bersyukur kepada Tuhan, sehingga hidup kita selalu kekurangan.  Semua itu terpulang kepada kita masing masing.

Biasanya  sikap miskin itu akan selalu dibantu dan dikombinasi dengan sikap curiga dan suudzdzan kepada pihak lain, sehingga kemiskinan tersebut  justru akan semakin memperpuruk seseorang dengan  tumpukan dosa.  Dalam kisah tersebut akan orang kaya juga melakukan  kesalahan yakni suudzdzan kepada anak orang miskin, yang dianggapnya akan meminta lilin kepadanya.  Sikap suudzdzan tersebut dilarang oleh Tuhan dan harus dijauhakn dengan sikap seorang beriman.  Terkadang kita juga  melakukan suudzdzan tersebut kepada orang yang sesungguhnya berniat baik kepada kita.

Sebagai satu contoh ialah ketika ada orang lain  datang kerumahkita, kemudian kita  sudah menyangka bahwa orang tersebut pasti akan meminta sesuatu atau akan meminjam harta dan seenisnya, sehingga sikapnya dalam menerima orang tersebut sudah dilandasi oleh kecurigaan.  Padahal sangat mungkin bahwa kedatangan orang tersebut justru akan membawa keberuntungan bagi kita, seperti membawa berita penting yang harus diketahuinya, atau menyampaikan amanah dari seseorang yang harus disampaikannya, dan amanah tersebut ternyata  berupa sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya, dan lainnya.

Karena itubagi kita, orang orang beriman, seharusnya kita  memosisikan diri sebagai orang kaya, yang selalu ingin  berbagi dan menolong pihak lain.  Dengan sikap seperti itu, kita juga akan terjauhkan dari sikap suudzdzan dan berburuk sangka kepada siapapun, bahkan  akan selalu menaruh kepercayaan kepada semua orang dan berhusnudzdzan.  Semoga kita dapat  menjadi kaya  dalam arti yang sesungguhnya dan terjauhkan dari hidup miskin.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.